
"Mang kita ke makam orang tuaku!" pinta Azza pada mang Udin.
"Baik, non!" sahut mang Udin.
Mobil mereka melaju kearah pemakaman yang di maksud oleh Azza.
Sesampainya disana ia segera turun dari mobil dan berjalan cepat kearah makam milik orang tuanya.
"Kenapa? Kenapa aku harus pura-pura kuat di depannya!!?" raung Azza setibanya ia di pemakaman. Ia menangis sesenggukan di depan makam orang yang teramat dia cintai, orang yang selama ini mengasuhnya dengan penuh kasih sayang walaupun wanita tersebut bukanlah ibu kandungnya sendiri.
"Ma, coba mama lihat aku disini. Aku hidup dalam kesengsaraan, bahkan aku harus hidup bersama lelaki bejat itu ma dan dia menjadikanku sebagai istri keduanya. Sebagai pelakor dan perusak rumah tangganya," isak Azza.
Tangannya meraup tanah makam yang ada didepannya, menatap nanar batu nisan yang berdiri kokoh didepannya.
Hanya helaian ujung rambutnya yang ditiup angin sore dan melambai menutup sebagian wajahnya.
"Harusnya aku mati saja, bukannya harus menerima lamarannya dan menikah dengannya."
"Justru menambah aib bagiku. Apapun kesalahan istri pertamanya, tetaplah aku yang hina di mata orang lain karena di cap sebagai perusak rumah tangga orang lain!"
"Apa aku sanggup harus menatap setiap hari, wajah orang yang sudah merusak masa depanku. Dan sekarang dia menambahkan lagi beban untukku!" Azza masih terisak di tempatnya. Ia tidak berkeinginan untuk pulang kekediaman Angga.
"Nona. Sebaiknya kita pulang sekarang karena Tuan sudah menunggumu di rumah," seorang pengawal tiba-tiba menghampiri dirinya. Membuat wanita rapuh tersebut terkejut.
"Kamu siapa?" tanya Azza.
"Aku pengawal yang di kirim tuan Daffa untuk mengawal nona," sahutnya.
Rupanya dirinya sedang di ikuti oleh anak buah pria laknat tersebut.
"Pergi! Biarkan aku sendiri disini. Katakan pada tuanmu kalau aku tidak ingin pulang ke rumahnya!" Azza berdesis dengan suara paraunya.
"Ma'af nona, kami tidak bisa meninggalkan nona sendirian disini. Kami tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak di inginkan," jawab pengawal tersebut. Ia memundurkan langkahnya kebelakang dan berdiri tepat di belakang Azza. Menunggunya dengan sabar sesuai dengan perintah tuannya.
Azza tidak perduli dengan keberadaan mereka. Ia tidak menangis lagi, ia hanya diam saja memandangi makam ibunya dengan nanar.
"Nona, sudah 2 jam nona hanya memandangi makam tersebut. Apakah nona tidak bosan seperti itu?"
Azza segera berpaling saat pengawal milik Daffa menyindir dirinya. Ia merasa kesal dengan mereka yang mengganggu dirinya.
Andaikan saja malam itu ia tidak menghampiri lelaki mabuk tersebut, maka kejadian laknat tersebut tidak akan pernah terjadi. Dan pastinya ia masih akan bebas seperti sahabatnya, bekerja di toko bunga.
"Sudahlah. Penyesalan tidak ada gunanya. Semua juga sudah terjadi. Tinggal aku saja yang harus memutuskan seperti apa," Azza membatin.
Ia berdiri dan melangkah menghampiri mobil dan mang Udin yang sudah menunggunya.
"Mang. Aku ingin melihat sebentar rumahku. Aku rindu mang!" pinta Azza lagi.
Mang Udin tampak ragu untuk mengabulkan keinginan Azza. Ia takut sesuatu akan terjadi pada wanita muda itu. Keadaannya sepertinya tidak baik hari ini.
"Sebentar saja, Mang!" pinta Azza.
Mang Udin menjadi tidak tega saat melihat tatapan memelas dari Azza. Ia mengangguk setuju tetapi nanti dia akan mengabarinya pada tuannya. Lagi pula mobil pengawal sedang mengikuti mereka di belakang.
***
Daffa tampak gelisah saat menyadari kalau Azza sudah sangat lama berada di luar. Entah apa yang dilakukannya di makam kedua orang tuanya hingga memakan waktu berjam-jam.
Setelah Daffa menghampiri Aina tadi dan Aina membeberkan semua video yang di dapatnya. Daffa langsung pulang kekediaman orang tuanya. Ia merasa semakin frustasi menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Handphone miliknya berdering. Mang Udin menelponnya. Perasaan Daffa semakin tidak enak.
"Halo mang Udin, ada apa? Apakah terjadi sesuatu pada Azza?" tanya Daffa.
"Nona Azza baik-baik saja Tuan. Hanya saja dia sedang berada di kediamannya. Dia tidak ingin pulang ke rumah tuan!" sahut mang Udin.
"Iya mang. Tolong jaga Azza ya mang. Takut hal yang tidak di inginkan terjadi padanya."
"Baik tuan."
Daffa mematikan handphone miliknya. Ia berjalan kearah kamar yang di tempati oleh Azza. Saat pintu terbuka, tercium aroma lavender yang khas dari kamar itu.
Daffa merebahkan tubuhnya sambil mengusap bantal milik Azza.
Daffa sudah berdiri di depan pintu miliknya dan juga Anggia, menatapnya sekilas.
Tanpa mengetok pintu terlebih dahulu, Daffa langsung masuk kedalam rumahnya. Tanpa sengaja, ia mendengar Anggia yang sedang bercakap\-cakap dengan seseorang melalui telpon miliknya.
__ADS_1
"Aku sudah menuruti semua keinginan mama, untuk membujuk Daffa agar kembali padaku. Tetapi dia tetap menolak diriku, ma!" ucap Anggia.
"Rayu dia Anggia!" sahut Rahiyang.
"Tapi, ma. Aku tidak bisa. Karena aku benar\-benar tidak mencintainya!" sahut Anggia.
Daffa terkejut mendengarnya. Jadi benar kalau selama ini Anggia hanya mempermainkannya saja. Bahkan airmatanya siang tadi hanyalah airmata buaya saja.
Kenapa kamu lakukan ini padaku Anggia? Kenapa!!?" Daffa menatap kecewa kearah istrinya yang sudah mematikan telponnya. Ia tidak menyangka kalau istrinya selicik ini.
"Mas... kamu pulang kerumah? Aku sangat senang mas!" Anggia berjalan cepat.
"Jangan mendekat padaku. Jangan berpura\-pura di hadapanku Anggia, seolah\-olah kamu sangat mencintaiku. Aku sudah mendengar semuanya."
"Kenapa kamu lakukan padaku? Pura\-pura ingin memperbaiki hubungan tetapi kamu hanya menjadi duri dalam daging."
Dengan langkah santai Anggia berjalan menghampiri Daffa. Tangannya terlipat didepan dada, senyum sinis tersungging di bibirnya.
"Kenapa? Apa kamu ingin tahu jawabannya?" Masih bernada santai.
"Karena aku membencimu. Karena aku menginginkan kehancuran keluargamu!!" sahut Anggia dengan nada tinggi.
Anggia tertawa terbahak\-bahak. "Cinta kamu bilang?" menarik nafas. "Tidak ada cinta yang selalu memaksa dan tidak ada cinta yang selalu egois!" Mata Anggia tampak memerah.
"Mari kita bercerai sekarang!"
Daffa terhenyak mendengarnya, seperti inikah rasanya saat Anggia yang meminta cerai darinya. Matanya menatap nanar wanita yang begitu dicintainya, sehingga ia buta membedakan wanita baik dan wanita jahat.
"Apa kamu bilang!!?" Daffa tampak emosi.
"Bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandunganmu!!?" Masih berteriak marah.
"Anak kamu bilang?" tersenyum sinis. "Ini bukan anakmu, tapi dia anakku!" ucap Anggia dengan menusuk.
"Itu juga anakku. Tidak mungkin ia bisa ada didalam sana tanpa peran dariku. Aku yang menyumbangkan benihku untukmu. Dan sekarang kamu masih mengelak dan mengatakan itu anakmu!" Daffa menyeringai. Ia masih menolak kenyataan yang sudah di dapatnya dari Aina.
"Apa kamu ingin aku beberkan sesuatu yang lebih sakit lagi?" Anggia menatap Daffa dengan senyum miringnya.
Sekarang mereka berhadapan layaknya sepasang musuh bukan sepasang suami istri.
"Tidak perlu mencari alasan agar aku mau menceraikanmu. Sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi istriku kecuali aku yang akan memutuskan untuk menceraikanmu!"
__ADS_1
Daffa terkejut, ia duduk dengan cepat. Mengusap keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya.
"Hah. Hanya mimpi," gumamnya sambil meraih air putih yang ada di atas nakas.
"Tapi aku rasa itu tadi seperti nyata," ucapnya. Ia menatap sekelilingnya, rupanya ia tertidur di kamar milik Azza.
"Wanita itu!" setelah teringat dengan Azza. "Kenapa belum pulang juga!" gumam Daffa.
Daffa meninggalkan kediaman Angga dengan perasaan gelisah. Ia melangkah kearah mobil Ferrari miliknya. Dengan perasaan kacau ia menyetir dan menuju ke sebuah rumah sederhana yang bercat hijau tua.
Tok tok tok
Daffa mengetuk pintu dan menunggu si pemilik rumah untuk membukakan pintunya. Tidak berapa lama pintu terbuka.
"Ada apa kamu kemari!?" Azza menatap Daffa dengan dingin.
Daffa memaksa masuk kedalam dan melewati Azza yang menghalangi jalannya.
"Hei! Kamu masuk kerumahku tanpa izin dariku!" teriak Azza dengan emosi. Ia sangat membenci lelaki yang ada didepannya ini.
"Ini juga rumahku. Dan kamu adalah istriku!" Sahut Daffa.
"Istri kamu bilang? Istri yang terpaksa menikah denganmu karena kelakuan bejatmu! Tidakkah kamu mengingatnya kalau kamu memperkosaku malam itu dan merusak hidupku!?" Azza menatap Daffa dengan marah.
"Dan sekarang kamu menjadikanku sebagai aib, sebagai perusak rumah tanggamu dan sebagai pelakor."
"Ma'afkan aku. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku mohon duduklah didekatku. Aku ingin memelukmu," Daffa menatap Azza sesaat, membuat Azza memundurkan langkahnya. Ia takut kalau Daffa akan melakukan sesuatu yang tidak di inginkannya.
"Aku hanya ingin memelukmu!" Daffa terlihat frustasi. Bahkan ia mengacak-acak rambutnya sendiri.
Melihat keadaan Daffa, Azza merasa prihatin. Ia memberanikan diri untuk mendekat kearah Daffa walaupun keadaan badannya sangat bergetar hebat karena ketakutan. Ia masih trauma dengan sikap Daffa dulu yang sempat memperkosanya. Bahkan bayangan itu tidak pernah bisa hilang dari ingatannya.
Dan sekarang istri tuanya menuduh dirinya merebut Daffa darinya. Bahkan wanita itu juga menuduh dirinya yang mengubah Daffa sehingga berubah sikap darinya.
Ia memang tidak tahu permasalahan mereka. Ia hadir diantara mereka juga karena keadaan yang tidak disengaja, kecelakaan lebih tepatnya.
Tanpa sadar Azza mendekat dengan perlahan kearah Daffa hingga tinggal 1 meter lagi. Daffa langsung menyentak tangannya hingga membuat Azza membelalakkan matanya terkejut. Tapi ia tidak mampu memberontak karena Daffa begitu erat memeluknya.
Hangat. Rasa hangat menjalar hingga kerelung hatinya. Lelaki ini terlihat begitu kesepian. Dan Azza membiarkan saja Daffa memeluknya seperti ini.
Benar yang dikatakan oleh Rika kalau Daffa sangatlah menderita tapi tidak terlihat pada dirinya.
"Apa salahku?" Gumam Daffa tepat di telinga Azza. Menimbulkan sensasi geli bagi Azza. Ia bergerak gelisah di dalam pelukan Daffa.
"Diamlah! Kalau tidak aku akan melakukan lebih padamu!" ucap Daffa.
Azza terkejut mendengarnya. Ia menurut dan diam saja, padahal jantungnya sudah berpacu dengan kuat karena gugup.
"Apa yang kamu rasakan saat seperti ini?"
Azza mengangkat kepalanya hingga wajah mereka hanya tinggal beberapa centi saja bahkan hembusan nafas Daffa sudah begitu terasa.
"Jangan pernah untuk meninggalkanku, walau bagaimanapun keadaanku!" ucap Daffa lagi.
Deg.
Tatapan itu, tatapan penuh kesakitan. Ada apa dengan pria ini. Azza tidak menganggukkan kepalanya. Ia hanya menatap Daffa dengan intens hingga tidak menyadari kalau bibir Daffa sudah menyentuh bibirnya dan **********.
Sekuat tenaga Azza mendorong tubuh Daffa tapi ia bergeming sedikitpun. Akhirnya ia membiarkan saja Daffa menikmati semua itu walaupun Azza merasakan perih luar biasa direlung hatinya.
Daffa menyudahi ciumannya saat Azza kembali memukul dadanya karena kehabisan nafas. Senyum Daffa terbit di bibirnya, bahkan tangannya bergerak menyeka bibir merah nan mungil tersebut.
"Manis," ucap Daffa.
Azza tertunduk malu dan sialannya wajahnya merona karena saking malunya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena sudah menikmati ciuman lelaki brengsek tersebut dan melupakan kebejatannya.
Dengan gerakan cepat Daffa kembali melum*t bibir Azza dan memperdalam ciumannya. Entah kenapa bibir Azza terasa candu baginya.
Azza tampak terbuai dengan ciuman Daffa hingga ia tidak meyadari kalau tangan suaminya sudah masuk kedalam bajunya. Ia terlihat begitu menikmati.
Tanpa meminta persetujuan dari Azza, Daffa merengkuh tubuh mungil tersebut dan membawanya ke kamar tanpa melepaskan ciuman tersebut.
Keadaan mereka sudah tanpa sehelai benang pun. Daffa menatap penuh gairah kearah Azza. Sedangkan Azza memalingkan wajahnya, ia merasa malu karena begitu murahan sekarang ini. Tapi ia tidak mampu lagi menolaknya karena kepalang tanggung.
Azza mengangguk samar menyetujui apa yang di inginkan Daffa hingga terjadilah penyatuan mereka untuk yang pertama kalinya tanpa pemaksaan.
•
•
•
__ADS_1
*****