
Matahari yang mulai beranjak ke pusar-pusar langit, membuat udara terasa semakin panas. Apalagi jalan yang mereka lewati belum semulus wajah Khaula. Khalid menghapus keringat di dahinya yang mulai mengucur. Tiba-tiba saja Khaula oleng, karena tumit selopnya terjepit kerekel. Untung Khalid ada tepat di sampingnya. Lelaki itu langsung menangkap tubuh Khaula yang hampir saja jatuh.
“Nah, ‘kan … makanya berpegangan,” kata Khalid, setelah posisi Khaula benar-benar tepat.
“Nggak mau,” tolak Khaula berbisik.
“Nggak mau melepaskan lagi,” timpal Khalid.
“Apaan, sih?” tanya Khaula datar.
Khaula segera menepis tangan Khalid, berjalan kembali sendiri. Khalid sebenarnya bingung dengan sikap Khaula yang kadang baik, kadang jutek. Benar-benar seperti mengejar merpati saja.
***
Sebenarnya, Khaula bukannya tidak mau digandeng Khalid. Tetapi di dalam dada Khaula sedang bercampur segala rasa yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Orang yang dulu sangat ia kasihi, ia rindu di setiap waktu ini resmi menghalalkannya. Namun, rasa sakit yang pernah ia torehkan masih membekas, luka di jiwa Khaula belum kering. Sehingga belum bisa menjadikan Khalid sebagai sandaran. Apalagi kehadiran Juki membuat angannya melayang jauh.
“Ayolah, Khaula. Kaliankan sudah halal,” bisik Nazima, kemudian gadis itu, menautkan jemari Khaula dan Khalid.
***
Iring-iringan Khaula dan Khalid, hampir mendekati rumah gadis itu. Suara serunai dan musik tari galombang menyambut kedatangan mereka. Meriah dan semarak.
__ADS_1
Tiga orang anak kecil tampil di tengah para penari, diikuti dua orang laki-laki berbaju pandeka yang sedang membawakan silek bungo. Anak-anak itu membawa carano yang berisi sirih, pinang, sadah dan gambir, juga sugi yang ditutup dengan dalamat. Luar biasa penyambutan yang dilakukan keluarga Khaula untuk tamu agung yang kini resmi mereka himbau sumando. Ketika mereka sudah berhadapan, anak-anak tersebut membuka tutup carano, dan menyodorkan sirih pinang ke pada Khalid.
“Putiah mato bakaadaan, putiah hati batampakkan. Kinyamlah siriah dalam carano, Tando kito samo bakarilahan. Salamaik datang di rumah tangga kami, Khalid,” sapa seorang tetua yang sengaja menyambut rombongan dengan pantun adat Minangkabau.
Tak lama terdengar pula sahutan dari Etek Samsida.
“Cubadak tumbuah di laman. Dijuluak jo ampu kaki. Usah lamo tagak di halaman, itu cibuak basuahlah kaki!”
Khaula membuka selop, begitu juga Khalid. Kaki mereka dibasuh dengan air dari kendi, sebelum naik ke pelaminan. Hari ini, Khaula dan Khalid menjelma jadi Raja dan Ratu sehari. Tamu dan undangan datang menyalami mereka untuk memberi doa restu. Ketika tamu mulai lengang, Khalid dan Khaula duduk berdampingan tapi tanpa kata yang terucap. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Khaula enggan menyapa Khalid yang kini teramat dekat. Ia merasa ada sekat di antara mereka yang sulit dijabarkan, tinggi dan kuat untuk diterobos.
“Kamu menyesal menikah denganku, Khaula?” tanya Khalid yang membuat Khaula mengalihkan tatapan kepada laki-laki tersebut. Wanita cantik itu terkesiap, pertanyaan Khalid sungguh menohok.
“Aku melihat keraguan di matamu,” jawab Khalid pelan.
“Iya, aku ragu. Apakah kamu benar-benar telah melupakan Nazima?”
“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Nazima, Khaula.”
Jawaban Khalid membuat Khaula melebarkan mata. Menatap tajam bola mata suaminya.
__ADS_1
“Kamu lupa, Khalid. Lupa bahwa kamu pernah mengatakan lebih memilih Nazima dari pada aku? Kamu ingat tidak?” Khaula mulai emosi.
Wajah Khaula berubah merah, matanya tetap menatap Khalid lekat. Deburan kemarahan dalam dada membuat darahnya memanas. Wanita itu semakin gelisah duduk di sebelah laki-laki tampan itu.
“Bisakah kamu sedikit memelankan suaramu, Khau?”
“Aku tidak bisa Khalid. Kamu pernah menyakitiku. Andai saja Ayah tidak pernah meninggalkan amanah. Aku tidak ingin kita menikah,” jawab Khaula ketus.
Untung suara musik terdengar riuh, kalau tidak bisa menjadi pergunjingan lagi pertengkaran kedua pengantin itu.
“Apa karna Juki?”
Pertanyaan Khalid membuat Khaula harus mengernyitkan kening.
“Salah satunya karna itu. Juki mencintaiku, ia yang selalu ada ketika aku butuh perhatian. Butuh tempat bicara. Bahkan ia yang mengangkat ketika aku terpuruk karenamu!”
Khalid harus menelan kata-kata pahit yang diurai Khaula.
“Aku mencintaimu karna Allah, Khaula. Aku hanya ingin kamu hijrah seperti Nazima. Menutup auratmu, menjaga sikapnya sebagai seorang perempuan. Bukannya aku mencintai Nazima. Aku tidak pernah memberikan hatiku pada orang lain, selain kamu, Khaula!” Kali ini Khalid sungguh-sungguh.
Karena memang di antara ia dan Nazima tidak ada apa-apa. Hanya sebatas teman dan anggota Komunitas Remaja Masjid, tidak lebih.
__ADS_1
Khaula menarik napas. Cemburu yang dulu ia tanam sekarang semakin lebat. Tapi, Bukan cemburu karena cinta. Kebenciannya pada suaminya telah mendarah daging. Apa yang harus ia lakukan?