Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Malam Pertama


__ADS_3

"Selamat ya Bu Dokter!" Bella memeluk Aina dan mengecup sekilas pipi kanan dan kirinya.


"Makasih ya," sahut Aina.


Bella meninggalkan Aina setelah mengucapkan do'anya untuk kelangsungan perkawinan mereka. Aina masih menatapnya.


Tiba-tiba Bella berbalik padanya dan kembali menghampirinya.


"Bu Dokter, ceritakan padaku malam pertamamu nanti malam ya, hitung-hitung sebagai pelajaran untukku dan berbagi pengalaman," bisik Bella tepat di telinga Aina.


Aina mencubit pelan tangan Bella dengan mata menatap tajam. Ia merasakan panas sepanjang wajahnya, melirik kearah Daffian yang masih sibuk berbincang dengan pacarnya Bella.


Untunglah Daffian tidak melihat wajahnya yang memanas. Kalau tidak, entah bagaimana ia akan menghadapi Daffian nanti malam.


"Cie... merah!" ledek Bella. Ia berlari menuruni pelaminan setelah Aina kembali melirik kearahnya dan ingin menjangkaunya.


"Kenapa? Apakah kamu kepanasan atau kehausan?" Daffian memperhatikan perubahan wajah Aina.


Dengan cepat Aina menggeleng, ia kembali duduk di atas pelaminan. Ternyata Daffian sangatlah peka melihat perubahan warna wajahnya. Untunglah dia tidak tahu asal masalahnya.


Aina menarik napas lega, setidaknya ia masih mampu menatap Daffian nanti malam.


***


Selesai acara resepsi, Aina segera memasuki kamar hotel tempat dimana mereka mengadakan resepsi perkawinan. Rasanya ia begitu kelelahan karena berdiri sepanjang hari menggunakannya Hells bahkan terus-menerus menahan beratnya gaun pengantin yang di kenakan olehnya.


Sedangkan Daffian masih ada beberapa urusan yang sedang dilakukannya di luar bersama Daffa dan juga Angga.


Aina menghentakkan tubuhnya di atas ranjang, merebahkan badannya sejenak untuk menghalau rasa lelahnya sesaat. Memejamkan matanya sesaat untuk membuang rasa kaku yang menempel di seluruh tubuhnya. Rasanya seluruh uratnya seperti tali gitar, setiap di sentuh akan mengeluarkan bunyi.


Pintu kamar terbuka, Aina melirik perlahan. Daffian berjalan kearahnya dengan wajah tersenyum cerah. Tidak terlihat sedikitpun lelah di wajahnya.


Ah, Aina jadi iri melihat Daffian yang begitu masih enerjik malam ini.


"Sayang, mandi dulu. Agar tidurnya nyenyak malam ini." Daffian melepaskan jas pengantin yang masih menempel di tubuhnya, meletakkannya di ujung tempat tidur.


"Atau kamu tidak ingin tidur satu malam penuh malam ini bersamaku?" goda Daffian. Ikut duduk di sisi Aina. Tersenyum dengan sangat manis.


Dengan cepat Aina segera mendudukkan dirinya. Memijat pundaknya sesaat. Menatap kearah Daffian dengan tersipu malu.


"Iya. Sebentar lagi aku akan mandi, tapi kakiku pegal sekali," sahut Aina sambil tangannya beralih memijat kakinya dengan perlahan.


"Apa kamu sedang berusaha untuk menggodaku? Ataukah ini sebuah kode untukku?"


Aina terkejut mendengarnya, menggeleng dengan cepat.


"Tidak. Aku benar-benar merasa urat kakiku kencang semua!" sahut Aina menunduk mempermainkan jemari tangannya.


Daffian tertawa ringan mendengarnya, menatap ekspresi Aina yang menggemaskan.


"Berendam sebentar dengan air hangat itu lebih bagus! Bagaimana kalau kita mandi bersama saja?" tawar Daffian kembali menggoda Aina. Tangannya terulur mengacak-acak rambut Aina yang memang sudah sedikit berantakan.

__ADS_1


"Sayang. Kita mandinya tidak perlu bersama, yang ada justru kita tidak jadi mandi. Besok saja, bagaimana?" tawar balik Aina.


Daffian terkejut mendengarnya, menatap kearah Aina yang mengerling nakal padanya. Ternyata Aina juga bisa menggoda dirinya.


"Kamu sedikit nakal ya!"


Daffian meraih tubuh Aina dan menggelitiknya perlahan. Aina yang memang dasar tidak pernah di sentuh sama sekali merasa kegelian. Bahkan mereka tidak sadar kalau posisi Daffian sudah berada di atas tubuh Aina yang sudah telentang di atas ranjang.


Keduanya seketika langsung terdiam, merasakan degup jantung yang makin menggila dan debaran dada yang makin tak terkendali.


Tangan Daffian terulur membelai wajah Aina, menelusuri rahangnya bahkan menyentuh bibirnya dengan hati-hati. Menatap Aina cukup dalam meminta persetujuan darinya.


Aina terpaku sesaat menatap wajah Daffian yang terlihat samar-samar di bawah terangnya lampu neon. Ia mengangguk perlahan tanpa sadar dengan wajah merah merona.


Daffian menundukkan kepalanya meraih bibir Aina, menyesapnya sesaat. Mencecapi setiap sudutnya bahkan tanpa sadar Daffian memperdalam ciumannya. Ia merasakan gejolak hebat dalam dirinya. Darahnya terasa berdesir, dengan cepat ia mengakhiri ciumannya. Menarik napas sebanyak yang ia bisa. Menatap Aina yang juga tersengal-sengal.


"Lebih baik kita mandi sekarang dari pada lama-lama begini maka yang ada kita akan bergumul lebih lama dalam keadaan badan sudah bau keringat!" ucap Daffian. Tangannya terulur membelai kembali bibir Aina.


"Kamu benar. Yang ada justru kita akan panuan," Aina terbahak dan segera duduk disisi Daffian.


"Bantu aku membuka resleting gaun ini. Aku tidak bisa menjangkaunya."


Aina berbalik dan membelakangi Daffian memperlihatkan punggung mulus dan putih miliknya.


Daffian kembali meneguk ludahnya kasar, kembali merasakan gejolak hebat dalam dirinya. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar untuk menghalau bom yang ada dalam dirinya.


Dengan cepat ia menurunkan resleting gaun tersebut, matanya memilih untuk menatap kearah lain. Rasanya ia tidak tahan kalau di beri cobaan seperti ini terus-terusan. Tanpa sadar tangannya terulur menelusuri kulit mulus Aina, membelainya dengan lembut.


"Daffian. Kenapa lama?" Aina memalingkan wajahnya setelah sadar, ia merasakan sesuatu yang terasa basah di pundaknya. Ia terkejut saat mendapati Daffian yang sudah menempelkan mulutnya di pundaknya.


"Sebaiknya kamu juga siap-siap untuk membersihkan badanmu!"


Daffian tersadar dari kegiatannya. Ia segera melepaskan Aina dan mengusap wajahnya frustasi setelah Aina masuk ke kamar mandi. Aina begitu menggoda baginya hingga membuatnya lupa diri.


Aina keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. Ia lupa membawa pakaian ganti. Daffian terlihat memejamkan matanya di atas tempat tidur. Aina segera berlari kearah lemari, mencari-cari pakaiannya.


"Kenapa hanya baju dalaman yang ada, bukan. Ini adalah lingeria?" gumam Aina membolak-balik isi lemari. Ia memijat kepalanya, berbalik dan menatap kearah Daffian. Lelaki itu sudah tidak ada di tempatnya.


"Pasti kerjaan mama dan juga mama Rika mengganti seluruh pakaianku dengan lingeria," gumam Aina.


Aina masih berdiri di depan lemari saat Daffian keluar kamar mandi.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang membuatmu khawatir?"


Aina menggeleng cepat, menatap Daffian yang hanya mengenakan boxer. Wajahnya kembali memerah.


"Kenapa masih memakai jubah mandi? Apakah kamu ingin melakukannya sekarang?"


Aina melotot mendengarnya, ia mengangguk kemudian menggeleng cepat. Membuat Daffian terkekeh senang.


"Kenapa kamu tidak pakai baju. Nanti kamu akan masuk angin."

__ADS_1


Aina kembali menunduk saat Daffian kembali menatapnya intens.


"Apakah waktunya sekarang? Aku harus siap". Aina membatin.


"Aku tidak memerlukan baju, aku akan merasa hangat kalau tidur sambil memelukmu!"


Daffian meraih tangan Aina dan menariknya kearah tempat tidur.


"Hei. Tapi aku...."


"Apa?" tanya Daffian langsung mengungkung Aina.


Aina terdiam setelahnya, tidak mungkin ia mengatakan kalau ia masih belum mengenakan apapun di balik jubah mandinya. Aina menghembuskan napasnya untuk menghalau rasa gugupnya.


"Tidak apa-apa kalau kamu belum siap melakukannya malam ini. Kita akan melakukan di tempat lain. Bukankah lebih berkesan saat kita pergi berbulan madu?"


Daffian mendekap erat tubuh Aina. Menyilangkan kakinya di atas kaki Aina. Membuat wanita itu semakin terlihat kaku karena merasa terkunci. Terlebih lagi tangan Daffian tepat berada di atas dadanya dengan jubah mandinya yang sedikit terbuka.


Daffian terdiam sesaat, tangannya kembali meraba sesuatu yang sempat di sentuhnya tadi, terasa kenyal. Ia kembali terdiam, dengan tangannya yang kaku.


"Kamu.... Apakah kamu tidak memakai dalaman?"


Aina memejamkan matanya membeku menahan malunya. Tadi ia ingin bilang seperti itu tetapi Daffian sudah memeluk erat dirinya.


"Tidak apa-apa. Aku masih sanggup untuk menahannya!"


Daffian menghembuskan napasnya berulang kali untuk menahan gejolak dalam dirinya setelah menyentuh akses berharga milik Aina tanpa penghalang sedikitpun. Ia mengalihkan tangannya yang terasa bergetar.


"Apakah sakit?" Aina mengintip di balik lengan Daffian. Merasakan tubuh Daffian yang bergetar seperti menahan sesuatu yang sakit.


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Tidurlah!" Daffian kembali merengkuh dirinya dan berusaha menetralkan napasnya yang memburu. Rasanya ia benar-benar tidak tahan. Sakit sekali.


"Daffian...." lirih Aina. Ia merasakan sensasi geli saat napas Daffian menghembus lehernya dengan kencang.


Daffian menarik wajah Aina, langsung membungkam mulutnya, ia menyerah dengan keadaan. Tangannya meraih tengkuk Aina dan memperdalam ciumannya. Mencecapi setiap sudut mulut Aina yang terasa manis baginya.


Melepaskan ciumannya dengan napas yang sama-sama memburu. Menatap dengan penuh kabut gairah.


"Ai...." suara Daffian terdengar bergetar.


Aina mengangguk perlahan, membiarkan Daffian menguasai seluruh tubuhnya yang terasa memanas dan merinding. Mungkin malam ini Daffian akan menjadikan dirinya milik Daffian seutuhnya.


Daffian kembali melanjutkan ciumannya, sesekali tangannya bergerak bebas melepaskan semua penghalang yang melekat diantara mereka.


Dan seterusnya jangan di bayangkan lagi. Pasti tahulah malam pertama, pecah telur atau pecah duren. Berudu berenang bebas.




__ADS_1


****


__ADS_2