
Kau bagaikan aliran listrik yang menghantarkan gelenyar-gelenyar aneh dalam dadaku sesaat dan menimbulkan sebuah euforia di dalam khayalku serta benakku
______________________________________
Rika menatap sedih kearah Angga yang sejak kemarin belum membuka matanya. Ini sudah hari ketiga setelah kejadian waktu itu. Ia juga di rawat di rumah sakit tempat Angga di rawat sekarang, bahkan mereka meminta pada pihak rumah sakit agar Angga dan Rika berada dalam satu ruangan.
Namun, Rika sudah di lepaskan infusnya sejak pagi tadi karena keadaannya yang jauh sudah lebih baik.
"Sayang! Kenapa kamu menangis?" tanya Angga tiba-tiba saat ia membuka mata dan mendapati Rika yang menatap dirinya dengan sedih dan mata yang memerah.
Entah kenapa selama beberapa hari belakangan ini, Rika selalu merasa rindu dengan Angga apalagi saat mendapati dirinya yang hanya memejamkan mata sejak kemarin. Ia merasa sangat ketakutan kehilangan sosok yang selalu menemaninya selama setahun belakangan ini.
Rika tersenyum senang, tapi ia tidak dapat membendung tangis harunya saat mendapati Angga yang sudah sadar dari pingsannya.
Baru saja jemarinya bergerak ingin menekan tombol yang ada di ranjang Angga tersebut untuk memanggil dokter, ia sudah dicegah oleh Angga.
"Jangan di panggil. Aku masih ingin berduaan sama kamu." Angga meraih tangan Rika dan mengecupnya sayang sambil menatap wajah Rika yang tersipu.
"Mas, jangan seperti itu. Kesehatanmu lebih penting dari segalanya," jawab Rika. Ia menarik tangannya kembali.
"Aku sudah sehat. Dengan melihat kamu berada di hadapanku saja sudah membuatku sangat sehat." Angga mencoba bangun dari tidurnya. Menggerakkan sedikit tangannya.
"Aduuuhhhh!!" ringisnya sambil memegang bahunya yang terasa sedikit sakit. Dan dalam keadaan di balut perban.
"Dimana sakitnya?" tanya Rika panik. Ia segera beralih duduk ke tepi ranjang Angga. Menatap dan meraba setiap bagian tubuh Angga untuk mencari bagian yang di maksud oleh Angga.
"Disini!" tunjuk Angga pada bibirnya. Ia menatap Rika dengan sendu. Mengulum senyumnya karena bahagia melihat Rika yang sudah bisa menerimanya tanpa menolak sentuhannya.
"Hmm." Rika berdehem. Ia memerah dan mengalihkan tatapannya kearah lain. Rupanya ia baru saja di permainkan oleh Angga.
Dengan gerakan lambat, Angga meraih tangan Rika. Membawanya kedalam pangkuannya. Menatap Rika dengan penuh rindu.
"Sayang, ma'afkan aku karena sudah menyia-nyiakan dirimu. Aku menyesal___."
"Ssttt." Rika menutup mulut Angga dengan telunjuknya dan menggelengkan kepalanya, menyuruhnya untuk diam. Apapun yang sudah terjadi, dia ikhlas untuk menerimanya karena ia yakin kalau Allah begitu sayang padanya hingga di beri ujian penuh cinta seperti itu.
"Aku sudah mema'afkan kesalahan Mas yang sudah lalu. Jadi, jangan di ungkit lagi semua itu. Kita akan mulai membuka lembaran baru!"
Senyum Angga mengembang mendengarnya. Ia merasakan debaran hebat berdentum di dadanya,serasa menggoyahkan seluruh aliran darahnya. Bahkan rasa itu terasa sangat membuat jantungnya ingin lepas dari tempatnya.
__ADS_1
"Apa? Coba ulangi sekali lagi. Aku tidak mendengarnya," pinta Angga yang merasa tidak percaya dengan semua yang baru saja di ucapkan oleh Rika. Ia mengulum senyumnya.
Rika merasakan panas pada wajahnya, ia berusaha mengendalikan hatinya yang tiba-tiba terasa menggila.
"Kita akan membuka lembaran baru." Rika menunduk setelahnya. Ia tidak ingin mempermalukan dirinya di depan Angga dengan menyatakan kalau dirinya begitu menggilai suaminya. Tapi itulah kenyataannya, ia tidak mampu menepis semua pesona yang dimiliki oleh Angga.
"Jangan lagi berbuat seperti ini, aku sangat takut kehilanganmu."
Angga tersenyum. "Aku lebih takut lagi saat mendengar dirimu menghilang. Karena kamu akan membawa sebagian hatiku ikut menghilang."
Rika mengangguk dan tersenyum manis. Begitupun dengan Angga, ia terlihat benar-benar bahagia. Tidak dapat di pungkirinya rasa bahagia itu menghantam dirinya hingga rasanya ia sulit untuk muncul di balik rasa tenggelamnya. Tangannya terulur meraih dagu Rika. Ia menatap mata istrinya yang meneduhkan dengan sorot yang hangat. Menatap kearah pipinya yang tampak merona. Dan terakhir menatap kearah bibirnya yang merah merekah.
Dengan gerakan lambat ia meraih tengkuk Rika dengan sebelah tangannya yang tidak di infus. Menariknya dan mendekatkan bibirnya kearah bibir Rika yang menggoda. Baru saja bibir mereka bersentuhan dan ia membuka bibirnya, ingin mengulumnya, suara deheman terdengar di belakang mereka.
"Hmmmm!"
Rika segera menarik kepalanya, menunduk malu dengan rona yang menjalar hingga ke daun telinganya. Suara deheman itu terdengar di panjang-panjangkan. Sedangkan Angga mendengus tidak suka pada pengganggu yang baru saja masuk ruangannya tanpa mengetok terlebih dahulu.
"Kenapa!? Kamu mau marah sama papa, anak bodoh?" tanya Eland yang menatap wajah Angga yang terlihat kesal, menatap kearahnya.
Dengan cepat Angga menggelengkan kepalanya saat menyadari kalau yang memasuki ruangannya adalah ayahnya.
"Anak kurang ajar. Papa ingin melihat keadaanmu yang pingsan selama 3 hari lamanya."
"Bahkan selama 3 hari lamanya, istrimu selalu menangis karena melihat kamu tidak ada tanda-tanda membuka matamu."
Ada rasa senang setelah mendengar penuturan ayahnya mengenai istrinya. Angga beralih menatap Rika yang memainkan jemarinya. Ingin rasanya ia mendekap dan menciumi istrinya dengan sayang.
"Ternyata setelah ayah kesini, papa dianggap sebagai pengganggu karena berada di waktu yang tidak tepat." Eland pura-pura sedih. Ia menatap Rika yang sudah turun dari ranjang yang di tempati anaknya.
Ada perasaan yang teramat bahagia saat mendapati Angga yang mulai memperlakukan Rika dengan baik, bahkan ia terlihat mulai merindukan istrinya tersebut.
"Kalau papa tahu, papa sedang mengganggu, kenpa papa tidak pulang saja."
Eland melotot mendengar ucapan Angga yang terdengar kesal padanya.
"Anak bodoh kamu. Papa mengkhawatirkan keadaanmu. Kamu justru mengusir papa," sahut Eland. Ia beranjak ingin pergi.
"Tunda dulu acara bersenang-senangnya, kondisimu tidak memungkinkan untuk melakukannya!"
__ADS_1
Angga hanya melirik kearah Rika yang kembali tertunduk dan tersipu malu mendengar ucapan Eland yang blak-blakan.
Pintu kembali berdentum dan tertutup setelah Eland keluar. Angga beralih menatap wajah Rika yang terlihat lebih cantik dari sebelumnya. Dengan gerakan perlahan, ia menyuruh Rika agar mendekat padanya.
Dengan malu-malu Rika berjalan kearah Angga. Ia merasa seperti mengalami kejadian yang sama persis seperti awal-awal pernikahan mereka. Ia menjadi gugup kembali dan canggung.
"Sayang. Tatap mataku!" Pinta Angga sambil meremas tangan Rika. Matanya sejak tadi tidak pernah melepaskan bibir Rika yang sejak tadi selalu di gigitnya.
Wanita yang berada dihadapannya mengangguk dan menurut saja permintaan suaminya. Ia mengalihkan tatapannya kearah mata suaminya, masih dengan menggigit bibirnya. Mata yang tajam namun meneduhkan dan mata yang penuh gairah. Rika menyadari itu.
Ia semakin gugup saat mekihat Angga yang sudah menutup matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rika. Rupanya Angga sudah tidak tahan lagi untuk tidak menyambarnya.
Dengan perasaan berdebar, Rika ikut memejamkan matanya untuk menyambut ciuman suaminya yang sangat dirindukannya. Baru saja hidung mereka saling menempel, suara ketokan pintu kembali terdengar.
Tok tok tok
Lagi, ciuman mereka harus di tunda padahal tinggal selangkah lagi ia mendapatkannya. Angga terlihat frustasi karena kegiataannya selalu tertunda. Ia menatap kearah pintu. Disana, Eland tampak tertawa cekikikan setelah puas mengerjai anaknya.
Ingim rasanya Angga marah pada ayahnya karena selalu mengganggu waktunya berduaan bersama istrinya. Ingatkan dirinya untuk mengunci pintu terlebih dahulu agar nantinya tidak akan ada yang mengganggu lagi.
"Papa bawakan dokter untuk memeriksa kondisimu. Bagaimana kamu bisa melakukannya kalau kondisimu saja sedang sakit begitu?" Ledek Eland sambil menatap Angga yang masih kesal padanya.
Dokter dan suster yang berada disana hanya tersenyum-senyum saja. Mereka juga melihat kejadian barusan.
Sedangkan Rika. Ia senakin menunduk malu dan tidak dapat berkutik dari tempat duduknya. Mereka seperti pasangan mesum yang sedang tepergok di hotel.
Dokter segera memeriksa keadaan Angga. Ia memberikan keterangan pada susternya yang di catatnya di dalam sebuah catatan.
"Bagaimana kondisinya dok?" Tanya Eland mewakili keduanya.
"Kondisinya mulai membaik. Jahitannya juga sudah mulai mengering. Sebaiknya tuan Angga lebih banyak beristirahat dan jangan terlalu banyak bergerak terlebih dahulu."
Angga mengangguk saja mendengar ucapan dokter tersebut. Ia merasa senang sekarang karena Rika akan selalu berada di sampingnya, merawatnya. Dan mereka akan selalu berduaan tanpa ada lagi yang bisa mengganggunya.
•
•
•
__ADS_1
********