
"Ai...memangnya kita mau kemana?" tanya Daffi di sela perjalanan mereka.
Aina menatap sesaat kearah Daffi.
"Ke desa. Ke rumah saudara mama yang ada di desa!" sahut Aina.
"Memangnya ada perlu apa kamu kesana? Apakah ada acara keluarga?" tanya Daffi.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengunjungi mereka saja. Karena sudah sangat lama sekali aku tidak berkunjung kesana."
"Bahkan sejak beberapa tahun yang lalu, saat hari perayaan besar pun aku sangat jarang di rumah sehingga tidak sempat bertemu dengan mereka!" ucap Aina sendu.
"Jangan terlalu di pikirkan. Mereka juga akan mengerti dengan keadaanmu yang sangat di tuntut oleh pekerjaan. Apalagi pekerjaanmu adalah menolong banyak orang."
Aina mengangguk.
"Sebaiknya kamu istirahat saja Ai...." Daffi sesekali melirik kearah Aina yang terlihat lesu.
"Aku tidak capek Daffian. Justru kamu kesepian kalau aku tidur. Bisa-bisa kamu juga tertidur," sahut Aina.
"Apakah ini kode untukku Ai agar kita tidur bersama?" goda Daffian.
"Kamu apaan sih, menikah saja belum ingin tidur bersama ya," sahut Aina memalingkan wajahnya kearah jendela mobil.
"Apakah itu ajakan untukku agar menikahimu?" goda Daffi lagi.
"Jangan bercanda Daffian!"
"Aku tidak bercanda Ai... . Aku serius!"
Aina terdiam mendengarnya. Daffi melirik sesaat kearahnya dengan senyum manisnya.
"Kenapa? Sepertinya kamu gelisah Ai... Apa aku membuatmu tidak nyaman?"
Aina berbalik cepat kearah Daffi.
"Tidak. Aku tidak pernah mengatakan hal itu padamu. Aku hanya ingin melihat pemandangan di luar saja!" sahut Aina mengelak.
Ia tidak ingin mengatakan kalau ia sebenarnya salah tingkah karena godaan dari Daffi. Dan ia sebelumnya tidak merasakan hal seperti ini.
"Kamu kenapa melamun? Apa ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu?"
"Hanya kepikiran tentang Azza!" sahut Aina.
"Jangan memikirkan orang lain. Apalagi dia sekarang sedang bersenang-senang. Sebaiknya kamu istirahat saja Ai, sepertinya kamu juga sangat capek."
Aina tersenyum mendengarnya.
"Makasih ya kamu masih perhatian padaku!" sahut Aina.
"Iya. Aku akan tetap perhatian padamu. Bukankah sesama saudara itu harus saling memperhatikan. Apalagi kamu juga sudah menganggapku sebagai adikmu. Jadi wajar kan kalau perhatian adik seperti itu pada kakaknya."
Deg.
Aina terdiam mendengarnya. Ada rasa sakit menghantam dadanya. Secepat itukah Daffa berubah pikiran. Bukankah Daffa mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah mau menganggap Aina sebagai seorang kakak. Lalu sekarang, kenapa dirinya begitu cepat berubah pikiran.
"Aku istirahat dulu Daff, kamu benar kalau aku sedang kelelahan!"
Aina tersenyum, lebih tepatnya senyum hambar.
Daffi hanya melirik sekilas kearah Aina yang sudah memalingkan wajahnya kearah samping jendela mobil.
Daffi kembali tersenyum melihat perubahan Aina tersebut. Ia yakin kalau yang di katakan Oma adalah benar.
Bukannya tidur, Aina justru memikirkan soal perasaannya yang begitu takut kehilangan Daffi. Bahkan ia juga selalu memikirkan ucapan Daffi barusan hingga membuat dadanya terasa nyeri.
"Tidak mungkin kalau yang aku rasakan ini adalah perasaan cinta. Aku pasti hanya merasa kesepian saja kalau Daffi jauh dariku," monolog Aina dengan dirinya sendiri. Ia perlahan memejamkan matanya dengan dada yang terasa menghimpit.
"Aina... Kita sudah sampai!" Daffi menggoncang bahu Aina lembut tetapi tidak ada pergerakan sama sekali dari gadis itu.
"Aina, kita sudah sampai!" Lagi, Daffi mencoba kembali membangunkan Aina yang benar-benar tertidur.
__ADS_1
Tepukan halus hinggap di pipi Aina saat ia tidak merespon sama sekali ucapan dan pergerakan Daffi.
"Ai...," wajah Daffi mendekat dan meniup mata Aina lembut. Membuat gadis manis tersebut membuka matanya dengan perlahan.
"Aaaa... !!!! Apa yang kamu lakukan Daffian!!?" Aina mendorong Daffi hingga terantuk pintu mobil. Ia tidak sengaja melakukannya, hanya kaget saja karena jarak mereka terlalu dekat.
"Aduh...!!" Daffi kaget. "Memangnya apa yang kamu pikirkan? Aku hanya mencoba membangunkanmu karena kita sudah sampai di tempat tujuan!" sahut Daffi.
Matanya bergerak menatap Aina yang terlihat serba salah.
Mata Aina menatap ke sekeliling mereka, benar ternyata mereka sudah sampai. Rupanya ia benar-benar ketiduran.
"Ma'afkan aku. Aku pikir kamu tadinya---,"
"Mau mencium dirimu?" sahut Daffi cepat di iringi dengan senyum khasnya.
Aina menunduk, merasa malu dengan pikiran negatifnya.
"Kalau kamu menginginkannya maka dengan senang hati aku akan melakukannya," goda Daffi. Ia kembali mendekatkan dirinya kearah Aina. Membuat gadis itu gelabakan.
"Daffi, jangan berpikiran seperti itu. Tadinya aku tidak ingin mengatakan hal itu," elak Aina.
"Lalu ingin mengatakan apa?" goda Daffian, ia menghimpit tubuh Aina pada sandaran kursi.
"Aku hanya bilang kalau kamu ingin menjahiliku!" sahut Aina cepat.
"Benarkah?" tanya Daffi memperhatikan Aina.
"Sepertinya ucapanmu itu hanya sedikit benarnya."
Aina menunduk saat jarak diantara mereka begitu dekat.
"Daff, ayolah. Jangan menggodaku seperti ini," ucap Aina lembut dan salah tingkah.
Ia menatap Daffian yang sejak tadi menatapnya. Mata mereka berpaut hingga beberapa saat lamanya. Aina merasakan debaran di dadanya bahkan jantungnya terasa melaju, apalagi saat Daffi mendekatkan wajahnya ke wajah Aina.
Dengan cepat Aina menutup matanya, namun setelah sekian lama ia tidak merasakan apa-apa. Aina kembali membuka matanya dan menatap Daffi yang masih berjarak seperti semula dengannya dengan senyum kemenangan di bibirnya.
"Aku sangat suka kamu yang seperti ini Ai, polos dan jujur. Bahkan pipimu tampak sangat cantik dengan blos on alami." Daffi bergerak perlahan mengecup pipi kanan Aina. Membuat gadis itu terdiam membeku. Ia tidak mampu berkata apa-apa lagi.
"Aku tidak akan menciummu di bibir, nanti setelah kita ke penghulu baru kita mulai hal itu!"
Daffa menjauhkan dirinya dan berdehem sesaat untuk menetralkan perasaannya.
Aina segera membuka pintu mobil. Ia benar-benar malu pada dirinya sendiri. Selalu menolak cinta Daffi tapi dirinya mengharapkan ciuman itu. Benar-benar memalukan.
"Ayo kita temui mereka!" ucap Aina mengalihkan suasana yang benar-benar membuatnya malu.
"Aina!!" Anindia sudah berdiri di pojok teras rumahnya saat ia melihat mobil yang datang ke rumahnya.
"Sayang. Apa kabar?" ucapnya sambil memeluk gadis yang lama tidak di temuinya. Matanya beralih menatap kearah Daffi.
"Apakah kalian datang kesini membawa kabar gembira?" tanyanya lagi, melepaskan pelukan mereka.
"Aku hanya merindukan Tante saja," sahut Aina.
"Kita masuk dulu ke dalam." Anin membukakan pintu untuk mereka. Ia berjalan kearah dapur untuk membuatkan mereka minum.
"Ma'af ya, keadaan rumah sedang sunyi saat kalian kemari. Om sedang di luar. Aldi juga masih kerja dan belum pulang." Anin meletakkan teh panas bersama cemilannya.
"Tidak apa-apa Tante, kami juga yang salah. Datang kemari secara dadakan, tanpa memberikan kabar terlebih dahulu," sahut Aina.
"Bagaimana kabarnya Tante sekeluarga?" tanya Aina.
"Baik. Kami semua baik-baik saja."
Aina mengangguk.
"Apakah dia calon suamimu, Aina. Kalian sepertinya tidak hanya sekedar teman!" Memperhatikan Daffi dengan seksama.
Aina terkekeh mendengarnya. "Kami hanya sahabat Tante, bahkan kami layaknya saudara."
__ADS_1
"Tapi aku lihat kalian tidak seperti itu, bahkan kalian lebih cocoknya di sebut sebagai sepasang kekasih."
Aina menggeleng.
"Kapan kamu menikah Aina, kami selalu menunggu kabar gembira darimu."
Aina terdiam mendengarnya.
"Jangan terlalu di pikirkan masalah pekerjaan sehingga kamu lupa dengan kehidupanmu sendiri. Yang semakin hari semakin menua. Tidak ada kebahagiaan Aina, sebelum kamu merasakan yang namanya menikah."
Aina tersenyum tipis.
"Kalau ada jodoh Tante, Aina akan segera menikah. Aina janji!!"
Anin mengangguk.
"Aku kesini hanya ingin mengunjungi Tante saja sekaligus ingin menanyakan sesuatu."
"Sesuatu apa?" tanya Anindia.
Aina mengeluarkan handphonenya, membuka galeri dan memperlihatkan pada Anindia.
"Siapa dia? Kenapa dia sangat mirip dengan ibumu? Apakah dia adikmu?" gumam Anindia.
"Itulah yang ingin aku tanyakan pada Tante."
Anin terdiam.
"Apakah Tante punya saudara yang lain selain mama?" tanya Aina.
Anindia berusaha mengingat-ingat tetapi ia sama sekali tidak mengingatnya. Ia hanya ingat kalau dirinya dan Nadia adalah saudara kembar dan sudah tinggal di panti asuhan sejak mereka kecil.
"Tante tidak tahu mengenai itu!" sahut Anindia.
"Apakah mungkin dia adalah adikku?" gumam Aina lagi. Matanya beralih menatap Daffi yang sejak tadi hanya bungkam saja.
"Kenapa kamu berkesimpulan begitu?" tanya Daffi.
"Karena beberapa saat yang lalu, papa terlihat sangat gelisah. Bahkan dia kerap menangis sendirian di ruang kerjanya. Aku yakin kalau di keluarga kami sudah terjadi sesuatu sebelumnya."
"Bukankah adikmu yang dulu sudah meninggal Aina. Bahkan jenis kelaminnya juga laki-laki, bukan perempuan!" sahut Anindia.
"Dari itu Tante, aku curiga kalau sebenarnya ada sesuatu yang salah disini!" sahut Aina.
"Apakah mungkin?"
Aina mengangguk dengan cepat.
"Tepat sekali seperti yang Tante pikirkan barusan. Aina juga berpikir yang sama."
"Lalu, bagaimana kabar ibumu sekarang?" tanya Anindia.
"Mama baik-baik saja. Hanya beberapa hari ini mereka sedang jalan-jalan keluar negri. Mungkin sedang berbulan madu!" Aina terkekeh.
"Mereka memang pasangan yang romantis!" sahut Anindia.
"Iya Tante, mereka selalu romantis!" ulang Aina.
"Mengenai masalah ini sebaiknya kamu tanyakan baik-baik pada kedua orang tuamu. Itu akan mudah untuk kamu mencari informasinya!" sahut Anindia.
"Iya Tante, Aina pasti akan menanyakannya!"
"Tante tunggu kabar selanjutnya!"
Aina mengangguk.
•
•
•
__ADS_1
*****