
Selepas mereka pergi dari kediaman Eland, Daffa mengantarkan Anggia kekediamannya. Setelahnya ia segera pulang ke rumah untuk secepatnya mengurus pernikahan mereka yang di rencanakan akan dilaksanakan 3 minggu lagi.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Rahiyang menyambut kedatangan putrinya.
"Iya ma," sahut Anggia. Ia duduk tepat dihadapan ibunya.
"Bagaimana perkembangan hubunganmu bersama Daffa hari ini?" Tersenyum sambil tangannya membelai rambut panjang anaknya dengan sayang.
"Kami akan segera menikah ma. Kemungkinan dalam 3 minggu kedepan. Tapi aku belum juga menemui kedua orang tuanya," sahut Anggia mengubah wajahnya seketika menjadi dingin. Tatapannya sedikit kosong, ada jiwa yang tidak rela saat ia menjalani semuanya.
"Bagus. Kamu bujuk saja Daffa agar secepatnya menikahi dirimu." Rahiyang merasa puas dengan kabar yang baru di dengarnya. Tidak sia-sia ia membesarkan anaknya dengan kasih sayang kalau pada akhirnya ia bisa mengambil keuntungan darinya. Dan ia yakin kali ini rencana pasti akan berhasil.
Ia berdiri dan berjalan kearah anak tangga pertama. Kembali berpaling pada Anggia yang tampak terpaku menatap ke arah lantai yang dipijaknya.
"Jangan coba-coba untuk mengubah siasat!"
Kepala Anggia terangkat dan matanya beralih menatap kearah ibunya yang kembali meneruskan langkahnya menuju kearah atas tangga. Ucapan ibunya adalah titah baginya yang wajib untuk di patuhi olehnya.
Ia mendesah sesaat sebelum berdiri dan melangkah meninggalkan ruang tamu.
Drt drt drt
Handphone yang ada di tangannya tampak bergetar, nama 'Sayangku' tampak muncul di latarnya. Senyum Anggia langsung terbit, ia seperti mentari di pagi hari yang cerah tanpa ada awan sedikitpun.
Belum sempat ia meletakkan handphone tersebut di telinganya, handphone tersebut sudah melayang dari tangannya. Anggia berpaling dan ingin memaki orang yang sudah berani mengganggu kegiatannya. Tetapi urung setelah melihat raut tidak suka dari Rahiyang yang menatapnya dengan marah dan dingin.
"Mama tidak suka kamu berhubungan dengannya kalau rencana pernikahanmu belum di gelar. Ingat! Apa yang sudah menjadi tujuan kita semula," Rahiyang menatap Anggia dengan datar.
"Iya, ma. Anggia tahu apa yang harus Anggia lakukan," sahutnya setelah menyadari kemarahan dari ibunya. Ia sedikit tertunduk.
Rahiyang kembali menyerahkan handphone milik Anggia setelah ia mematikan panggilan masuk terlebih dahulu.
"Ibu akan selalu memantaumu, ingat itu!" peringat Rahiyang.
Anggia hanya mengangguk saja mendengar penuturan ibunya. Ia berjalan melewati wanita yang menatapnya tajam seperti hunusan pedang yang mengiris jantungnya.
Anggia bersandar di pintu kamarnya setelah ia menutupnya. Ada perih yang ia rasakan saat menjalani hidup yang di skenariokan oleh ibu kandungnya sendiri. Ia merasa sangat tertekan dengan hidup ini kecuali saat ia bersama dengan kekasihnya. Hanya dia yang bisa mengerti keadaannya.
Bergegas Anggia melepaskan pakaiannya, melemparkan handphone yang sudah mati keatas ranjang miliknya. Ia berjalan kearah kamar mandi miliknya. Hidup yang tidak menyenangkan memang selalu di takdirkan untuknya, begitulah yang ia rasakan. Beban dan rasa perih adalah makanannya setiap hari.
Apalagi sejak kehancuran keluarganya di masa lalu dan penyebab semua itu adalah Angga dan ia harus membayar lunas semua hutang dendam itu.
Anggia mengguyur badannya di bawah aliran shower yang mengalir deras, sambil memejamkan matanya. Mengingat semua pengorbanan yang ia lakukan untuk semua itu. Bahkan pengorbanan yang teramat besar, hanya akan membuatnya semakin emosi saja.
__ADS_1
Tok tok tok
"Anggia!" teriak Rahiyang dari luar pintu kamar mandi.
Anggia mematikan shower miliknya. Bergegas ia meraih handuk dan menyampirkannya di badannya. Dengan gerakan cepat ia membuka pintu kamar mandinya dan mendapati ibunya yang berdiri dan menantikan dirinya keluar.
"Ada apa ma?" tanya Anggia. Ia meraih hairdrayer yang ada di meja riasnya dan menghidupkannya. Suara bising mengisi kesunyian diantara mereka.
"Ada Akhmar mencarimu!" ucap Rahiyang.
Anggia hanya mendesah saja mendengarnya. Ia begitu malas meladeni pria yang tidak kenal menyerah tersebut.
"Suruh saja dia pergi ma, aku capek mau istirahat," ucap Anggia masih sibuk dengan kegiatannya mengeringkan rambut.
"Temui saja sebentar. Tidak baik menolak dan mengusir tamu yang sudah secara baik-baik datang kerumah," jawab Rahiyang.
"Iya," sahut Anggia dengan malas. Ia bergegas kearah lemari pakaiannya dan mencari stelan santai miliknya.
Dengan langkah malas Anggia menuruni tangga dan menatap kearah Akhmar yang sudah duduk di kursi tamu dengan secangkir teh di tangannya.
"Anggia!" Akhmar berdiri dan bergegas menghampiri Anggia yang sudah berada di anak tangga yang terakhir.
"Ada apa!?" Sahut Anggia dengan ketus. Ia menatap tidak suka kearah Akhmar yang berada di hadapannya dengan senyum idiotnya.
"Aku tidak bisa," sahut Anggia dengan tegas.
"Kenapa?" Ada raut kecewa yang tergambar di wajah Akhmar saat mendengar penolakan Anggia untuk kesekian kalinya.
"Karena aku tidak mau!" sahutnya dengan ketus lagi.
"Ya ya ya, aku tahu kalau kamu sekarang sedang sibuk. Atau juga kamu sedang capek. Kita tadi sempat bertemu bukan di resto?" Akhmar masih menatap Anggia dengan hangat.
"Itu bukan urusanmu!" Anggia menatap nanar Akhmar.
"Ok. Aku tau. Dan aku minta ma'af apabila mengganggu waktumu. Tapi aku akan datang besok lagi," jawabnya masih mengukir senyumnya. Akhmar berdiri dan melangkah keluar.
"Tunggu!" Anggia berseru hingga menghentikan langkah Akhmar.
Lelaki berperawakan tinggi itu menoleh padanya dengan seulas senyum yang lebih manis lagi. Ia pikir kalau Anggia akan berubah pikiran dan mau menerima ajakannya untuk keluar dan jalan-jalan.
"Sebaiknya kamu jangan datang lagi padaku. Karena aku akan menikah dengan kekasihku!"
Senyum Akhmar langsung raib dari wajah putihnya. Tatapannya berubah menjadi lebih dingin lagi setelah mendengar pernyataan Anggia tersebut.
__ADS_1
"Siapa yang akan menikah denganmu? Siapa lelaki yang kamu sebut sebagai kekasih? Apakah Daffa si lelaki bodoh itu!?" tunjuk Alfa pada pintu utama kediaman Anggia.
"Apa kamu yakin akan menikah dengannya? Bukankah selama ini kamu tidak pernah mencintainya, menyukainya pun kamu sama sekali tidak, bukan?" Akhmer berdesis tepat didepan wajah Anggia.
"Siapa bilang aku tidak mencintainya? Aku sangat mencintai dirinya, bahkan melebihi cintaku pada diriku sendiri!" jawab Anggia dengan nada rendah.
Anggia berpaling dari hadapan Akhmar. "Silahkan kamu keluar dari rumah ini!" Anggia kembali mengusir Akhmar masih dengan nada dinginnya.
Akhmar tampak geram mendengarnya. Ia mengepalkan tangannya hingga jarinya tampak memutih.
"Aku akan lihat seberapa kuat kamu bertahan bersama lelaki bodoh tersebut. Karena aku tahu hubungan apa yang kamu miliki," bisik Akhmar hingga membuat bulu kuduk Anggia merinding. Ia membelalakkan matanya, menatap tidak percaya pada lelaki yang membingkai wajahnya dengan seulas senyum miring di bibirnya.
"Kamu!" Geram Anggia. "Kamu menguntitku!" ucapnya dengan nada tajam.
"Hahaha... nikmati saja kesenanganmu sesaat. Suatu hari nanti aku yakin kalau aku pasti akan mendapatkanmu. Tidak hanya tubuhmu tapi juga hatimu!"
Akhmar melangkah meninggalkan kediaman Anggia dengan raut wajah sangat kesal dan kecewa. Tapi ia merasa puas setelah melihat kekesalan Anggia mendengar ancamannya.
Ia membanting pintu mobilnya dengan keras dan memukul stir mobilnya hingga membuat bunyi klakson yang nyaring.
"Sial! Gadis itu terlalu angkuh padaku. Jangan salahkan aku kalau aku tidak menghancurkan hubunganmu dengan lelaki yang kamu anggap sebagai kekasih!" gumam Akhmar masih dengan sisa-sisa amarahnya.
"Anggia! Apa yang sedang kalian bicarakan?" Rahiyang datang dan menghampiri Anggia yang masih terpaku pada tempatnya.
Anggia segera merubah raut wajahnya menjadi biasa.
"Bukan apa-apa ma, dia seperti biasanya. Tidak mau menyerah untuk mendapatkanku," sahut Anggia dengan tenang.
"Baguslah kalau dirimu menolaknya. Jangan sampai rencana kita gagal!" Rahiyang kembali mengingatkan.
Anggia mengangguk mendengar ucapan ibunya. Ia kembali duduk pada sofa yang ada disana.
"Sebenarnya Akhmer itu anak siapa?" Rahiyang tiba-tiba membicarakan tentang lelaki muda tersebut setelah mengingat wajahnya yang mirip dengan seseorang di masa lalu.
"Ma, jangan tanyakan hal itu padaku. Karena aku sama sekali tidak mengenalnya. Bahkan mendengar namanya saja aku tidak suka," sahut Anggia.
Rahiyang terdiam mendengarnya, menatap kearah pintu utama. Ingatannya memacu pada masa lalunya yang kelam.
•
•
•
__ADS_1
*****