Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Calon Mertua vs Calon Menantu


__ADS_3

Sudah sejak 5 menit yang lalu, Angga menatap kearah Anggia dalam diam. Ia tidak pernah melepaskan tatapannya walau sedetikpun dan tidak juga membuka suaranya.


"Apa tujuanmu menikahi anakku!?"


Anggia refleks mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan Angga yang tiba-tiba. Ia tersenyum manis menatap calon mertuanya.


"Aku tidak punya tujuan, om. Hanya perasaan cinta yang besar lah sebagai jawabannya," sahut Anggia tenang.


"Aku tau kamu memang mempunyai semuanya, termasuk materi yang melimpah. Tapi pernyataanmu mengenai cinta pada anakku. Aku meragukanmu." Angga menjeda.


"Tapi kamu tidak bisa menipu diriku. Aku tahu mana orang yang tulus saling mencintai dan mana yang menikah hanya demi suatu tujuan tertentu."


Anggia menggenggam tangannya erat di bawah meja. Ia merasa geram dengan sikap Angga yang seenaknya saja berbicara. Bahkan secara gamblang di depannya tapi ia hanya bisa mengukir senyumnya saja.


"Om, jangan mengujiku dengan kata-kata om seperti itu. Apa aku terlihat jelek di mata Om? Ataukah Om merasa kalau aku tidak pantas untuk bersanding dengan anak, Om?" Anggia masih tersenyum tipis dan tenang.


Angga mendesah, ia mengukir senyum di bibirnya. Mungkin hanya kecurigaannya saja tapi nyatanya Anggia memang tidak seperti kelihatan diluarnya.


"Tidak. Kamu memang sempurna di mata putraku. Dan aku juga tidak akan ikut campur mengenai keputusan Daffa. Dia sudah dewasa." Sahut Angga melunak.


"Jadi? Apa maksud pertanyaan Om yang meragukanku tadi? Jangan bilang kalau Om sedang mengujiku!" sahut Anggia.


Angga terkekeh mendengarnya. Ia menyipitkan kedua matanya menatap Anggia yang pembawaannya terlihat selalu tenang.


"Kamu persis seperti ibumu, wanita yang tangguh dan tidak goyah oleh apapun juga!"


Senyum Anggia semakin manis saat ia mendengar pernyataan Angga.


"Kamu tidak tahu saja, setangguh apa ibuku dalam menanggung penderitaannya karenamu," gumam Anggia didalam hatinya.


"Anggia, kamu mau pesan apa?" Angga meraih buku menu yang sejak tadi ada di hadapannya.


"Samakan saja seperti pesanan Om," sahut Anggia.


"Jangan panggil om, panggil papa saja seperti Daffa memanggilku. Karena sebentar lagi kamu akan menikah dengan Daffa dan itu artinya kamu juga anakku!"


Anggia mengangguk saja.


"Bagaimana kabar ibumu? Sudah lama sekali aku tidak pernah bertemu dengannya."


"Sama seperti dulu Om, Pa maksudku. Dia baik dan juga tidak berubah sama sekali," sahut Anggia.


Angga tertawa mendengarnya. Ia terdiam setelah pramusaji datang menghidangkan makanan mereka.


"Ya, ya, ya. Aku cukup mengenal ibumu walaupun tidak terlalu akrab. Tapi akan menjadi akrab setelah kita menjadi besan," sahut Angga.

__ADS_1


Anggia kembali menggenggam tangannya mendengar ucapan Angga barusan. Entah kenapa ia sangat membenci pria tua yang ada dihadapannya. Dia boleh tertawa senang sekarang, tapi nanti dia akan tahu seberapa berat penderitaan yang akan di tanggung olehnya karena kesalahannya di masa lalu.


"Sebaiknya cepat habiskan makananmu. Setelah ini papa ada rapat di kantor," Angga menatap kearah jam di pergelangan tangannya.


Anggia hanya mengangguk saja sembari menikmati makan siangnya bersama calon mertuanya.


***


"Kenapa sejak tadi kamu terlihat mendung Daffi? Apa ada hal yang sedang mama lewatkan?" Rika menatap putra keduanya.


Saat ini mereka sedang berada di sebuah restoran yang dekat dengan kantor ayahnya.


"Tidak ada ma," sahut Daffi sambil meraih gelas jus yang ada dihadapannya. Meneguknya dengan perlahan dan kembali meletakkannya.


"Makanya kalau mencari pacar itu jangan yang tua. Yang seumuran dong seperti aku. Di tolak teruskan jadinya," sahut Daffa.


"Dia tidak menolakku, hanya saja dia sedang belum memahami kalau aku mencintainya," sahut Daffi. Matanya mengedar keseluruh ruangan restoran.


"Itu sama saja dengan kamu di tolak Daffi."


"Tunggu. Tunggu. Kalian sedang membicarakan siapa sih? Kok mama tidak diberitahu?" Rika menatap satu persatu anaknya.


"Itu ma, anak kesayangan__."


Belum sempat Daffa menyelesaikan ucapannya, Daffi sudah membekap mulut saudaranya. Ia berjalan meninggalkan mereka berdua hingga menimbulkan tanya dibenak Rika dan kembarannya.


"Siapa wanita yang didatangi oleh Daffi itu?" tunjuk Rika.


"Mama akan tahu sendiri," sahut Daffa acuh.


Rika membelalakkan matanya saat melihat gadis itu berpaling.


"Aina!!?" membekap mulutnya, menatap Daffa.


"Iya ma," sahut Daffa.


"Jadi, adikmu menyukai Aina?" Masih syok mendengar kenyataannya.


Daffa hanya mengangguk saja. Ia kembali menyuap makan siangnya. Sedangkan Rika sesekali matanya menatap kearah anaknya dan Aina. Sudah sangat lama sekali ia tidak bertemu Aina. Bahkan sejak 6 bulan yang lalu saat Aina kembali keluar negri untuk menyelesaikan pendidikan terakhirnya.


Sedangkan Daffi sudah duduk dihadapan Aina, bahkan sejak tadi ia terus menatap wajah Aina dengan sendu.


"Ada apa? Apa ada yang salah dengan wajahku sehingga kamu melihatku begitu?"


"Tidak ada. Aku hanya suka memandangimu saja." Daffa menghela nafas.

__ADS_1


"Bagaimana tentang pernyataanku semalam. Apakah sudah kamu pikirkan?"


Aina meletakkan sendoknya. Menatap intens lelaki muda yang duduk manis didepannya.


"Daffian! Jangan membahas soal itu. Aku tidak suka leluconmu. Tidak lucu sama sekali," sahut Aina.


"Apakah saat aku mengucapkannya, aku terlihat melawak atau sedang bercanda?" tanya Daffian.


Aina menggeleng.


"Lalu apa jawabanmu?" desak Daffi.


"Hei. Kamu masih kecil dan tidak pantas untuk mengatakan semua itu pada orang yang dewasa."


"Apa!? Aku masih kecil!?" Daffi membelalakkan matanya. "Jadi di matamu aku adalah anak kecil? Bukan lelaki dewasa?" Ada raut kecewa di wajah Daffian.


"Bukan. Bukan itu maksudku. Hanya saja aku tidak menyukai lelaki yang lebih muda dariku. Dan kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Bahkan kita juga tumbuh secara bersama."


"Kita memang tumbuh bersama bahkan kita layaknya saudara. Tapi kita benar-benar bukan saudara, kita tidak sedarah, tidak lahir dari rahim wanita yang sama dan tidak dari benih yang sama," sahut Daffi.


Aina mendesah. Harus seperti apalagi ia memberi pengertian pada lelaki kecil didepannya ini.


"Aku sudah punya kekasih!" celetuk Aina tiba-tiba.


"Siapa? Siapa kekasihmu, perkenalkan padaku. Aku ingin lihat seperti apa lelaki pilihanmu. Apakah dia lebih baik dariku?"


Anggia terdiam mendengarnya. Ia merasa frustasi setiap kali bertemu Daffi, bahkan sejak sekolah SMP, Daffi selalu menyatakan rasa sukanya pada Aina. Dan sekarang Aina harus mencari alasan apa untuk membuat lelaki muda ini berhenti mengejarnya.


Hingga sekarang ia bahkan tidak memiliki kekasih sama sekali karena ia terlalu sibuk dengan dunia pendidikannya. Ia benar-benar melupakan tentang itu semua hingga di usianya sekarang ia masih lajang.


"Iya. Nanti akan aku ajak untuk bertemu denganmu," jawab Aina meyakinkan.


Daffi hanya mampu menatap Aina sendu. Ia tahu kalau hingga sekarang Aina masih belum memiliki kekasih dan itu hanya sebagai alasannya saja untuk menolak dirinya.


"Aku mau ke rumah sakit lagi. Siang ini aku ada jadwal operasi." Aina mengacak-acak rambut Daffi layaknya anak kecil.


"Hei! Aku sudah dewasa. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil," protes Daffi.


"Kamu memang selamanya akan selalu menjadi adik kecilku yang imut dan penurut," jawab Aina sambil berlalu dari hadapan Daffi.


Aina tidak tahu kalau ada hati yang begitu terluka mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.



__ADS_1



******


__ADS_2