Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 34


__ADS_3

Buukhhh, bukkhh, bukkkhhh..


Pukulan demi pukulan di layangkan oleh Adrian ke seluruh tubuh Nadi, juga ke wajah Nadi, hingga sudut bibir Nadi mengeluarkan darah segar, wajah Nadi bahkan sudah tak terbentuk lagi. Untung saja ada sang asisten yang menahan Adrian agar tidak lagi memukul Nadi, karena jika itu terjadi, bisa di pastika Nadi hanya tinggal nama saja.


"Katakan di mana kau menyembunyikan Afika." Tanya Adrian sambil berusaha untuk kembali memukul Nadi, namun tetap di tahan oleh asisten yang bernama Rio.


"Tuan sadarlah, Nadi sudah tidak mampu untuk berbicara." Kata Rio. "Bawa Nadi masuk, obati dia." Titah Rio pada pengawal yang lain.


"Aaa..." Teriak Adrian. Hingga suaranya terdengar sampai lantai dua tepat di kamar Baby. Baby saat ini memang masih berada di kamar dengan jendela kamar yang terbuka. Dari teriakan Adrian, Baby tahu jika saat ini kakaknya itu sangat-sangat marah. Hingga Baby memutuskan untuk mengintip di balik jendela. Dan kini Baby dapat melihat dengan jelas, jika Nadi saat ini sudah di papah oleh dua orang pria, sedangkan Adrian kini sedang berdiri lalu beberapa saat kemudian, pandangan mata Adrian tertuju pada jendela kamar Baby. Baby yang merasa dirinya di lihat oleh Adrian langsung memilih kembali menyembunyikan wajahnya.


"Gawat, apa kak Adrian melihat ku?" Gumam Baby. Sambil mengatur nafasnya.


Adrian langsung, kembali masuk ke dalam mension dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Baby.


"Baby." Sentak Adrian sambil terus mengetuk pintu kamar Baby yang sedang terkunci dari dalam. Bahkan Adrian terus memutar heandel pintu.


"Tuan. Mungkin saja nona Baby saat ini sedang tidur." Kata Rio membiarkan Adrian agar tenang, karena jika terus seperti ini, bukan cuman Afika yang berada dalam bahaya tapi semua yang ada di mension apa lagi yang berhubungan dengan Afika akan terkena imbasnya.


"Bangunkan dia. Bagaimana pun caranya." Titah Adrian yang tidak ingin terbantahkan lagi. Sambil menunggu Baby di bangunkan, Adrian berjalan masuk ke dalam ruang kerjanya sambil memperiksa laptop miliknya, memantau cctv, mencari keberadaan Afika. Namun sialnya, rekaman hari ini sama sekali tidak ada. Sudah terhapus sebelum Adrian melihat isi dari rekaman itu.

__ADS_1


"Baby..!" Teriak Adrian.


Lalu dengan wajah yang siap menerkam mangsanya, Adrian kembali berjalan menuju kamar Baby. Dan pintu kamar Baby pun kini sudah terbuka.


"Baby." Sentak Adrian membuat Baby yang berada di dalam sana sontak kaget dan membulatkan matanya. "Dimana Afika? Katakan!" Adrian berjalan perlahan mendekat ke arah Baby.


Baby yang merasa takut langsung bersembunyi di balik tubuh Rio.


"A-aku tidak tahu kak. Sama sekali tidak tahu." Bohong Baby, tanpa memunculkan sama sekali wajahnya. Karena Baby sangat takut melihat wajah sang kakak jika sedang marah.


"Baby.." Teriak Adrian lebih keras lagi. Suasana yang semula dingin karena pendingin ruangan, kini semakin dingin karena kehadiran Adrian. Baby sampai bergetar menahan rasa takutnya. Namun, di balik itu, Baby masih sedikit bisa mengatur dirinya. "Jangan pernah bermain-main dengan ku Baby." Kini suara Adrian terdengar berat dan di tekan seperti sedang mengancam sang lawan.


Adrian tidak mengindahkan sama sekali ucapan Baby. Adrian justru tanpa bicara langsung keluar dari kamar Baby. Hingga membuat Baby berdiri dan langsung mengejar Adrian. "Kak, aku tahu kau mencintai Afika. Jangan berbohong, dan jangan pungkiri ucapan ku ini."


Duarrrr...


Bak di sambar petir.


Kaki Inggrid seperti kehilangan keseimbangan untuk berpijak. Tubuhnya linglu hingga hampir membuatnya terjatuh. Untung saja, Inggrid dengan sigap langsung memengang tiang mension yang menjulang tinggi. Tidak di sangkah, jika pria yang ia cintai telah mencintai wanita lain. Namun Inggrid juga tidak akan mungkin bisa menyalahkan Adrian seutuhnya, karena sejatinya dia lah yang lebih dahulu pergi meninggalkan pria yang tulus mencintainya. Namun, apakah haruz secepat ini. Kenapa di saat Inggrid kembali, sepertinya sudah tidak ada sama sekali tempat untuknya.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan Baby? Minggir dan jangan halangi langkah ku."


"Jika tidak mencintai Afika, lalu kenapa kak Adrian masih menahannya? Kakak emosi kan, karena tahu jika Afika sedang hamil? Lalu aku tahu kak, kak Adrian sengaja membuat Inggrid tinggal di mension ini agar kak Adrian bisa dengan mudanya membuat Afika cemburu. Iyakan kak, jawab?"


Lagi dan lagi. Inggrid mendengar semua apa yang Baby ucapkan. Dan memang benar adanya, jika Adrian sengaja membuat Inggrid tinggal di mension untuk agar bisa membuat Afika cemburu. Namun, hanya saja belum sedetikpun Afika merasa cemburu, justru Adrian lah yang di buat kaget dan marah karena mengetahui jika Afika sedang mengandung.


"Kak. Jangan bohongi hatimu."


Kali ini, Adrian tidak dapat lagi mendengar ucapan Baby. Dia terpaksa menyuruh Rio untuk membawa Baby kembali ke dalam kamarnya. Lalu Adrian memberi perintah ke pada beberapa orang pengawal agar mencari keberadaan Afika di dalam mension. Karena Adrian yakin sekali, jika saat ini Afika masih berada di dalam mension dan sedang bersembunyi.


"Ingat, cari sampai dapat." Kata Adrian.


"Baik tuan." Ucap serentak pengawal yang memakai seragam hitam. Lalu mereka pun memutuskan untuk berpencar dan memulai pencarian Afika.


Baby yang berada di dalam kamar, terus saja berdoa agar Afika tidak di temukan. Walau pun jika di temukan, Baby berharap supaya Adrian mau berbelas kasih dan tidak memberikan pelajaran pada Afika.


Beberapa saat kemudian, seluruh pengawal kembali mendatangi tempat di mana Adrian saat ini berada.


"Maaf tuan, kami sama sekali tidak menemukan nona Afika." Kata salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Bo*doh!" Adrian berdiri dari duduknya lalu berjalan mondar mandir bak sebuah setrika. Lalu sudut bibir Adrian tertarik membuat seutas senyum devil. "Kalian semua pergi." Titah Adrian. "Kau tidak akan bisa kabur dariku Afika." Adrian tertawa menggema mengisi seisi ruangan.


__ADS_2