Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Upaya Penyelamatan


__ADS_3

Aku mencintaimu, mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri


______________________________________


Angga masih melakukan penelusuran di sejumlah tempat yang sudah di tunjuk oleh tawanan mereka. Rasanya ia tidak bosan-bosan untuk berharap agar segera menemukan istrinya.


"Berhenti!!" perintah Angga tiba-tiba.


Asra menatap kearah Angga dengan penuh tanya, ia menoleh pada objek yang di tunjuk oleh Angga. Bergegas ia turun dan menghampiri keributan yang sedang terjadi di tepi jalan.


"Bantu dia!!" perintah Asra pada anak buahnya yang sudah berjalan menghampiri mereka. Mereka berusaha menyelamatkan seorang laki-laki yang sedang menjadi bulan-bulanan mereka.


Perkelahian pun tak dapat terelakkan dan dimenangkan oleh pihak Angga.


"Te-rima-kasih," ucapnya dengan terbata saat Asra menghampirinya. Asra mengangguk dan meraih lelaki tersebut, membantunya untuk duduk dan memberikannya sedikit air.


Ia tidak ingin ikut campur urusan lelaki tersebut. Pasti ada sebab kenapa dirinya sampai di keroyok seperti itu.


Angga masih berada di mobilnya, enggan untuk turun.


"Panggilkan ambulan untuknya!" Perintah Asra pada anak buahnya yang masih memegang para preman tersebut. Matanya beralih kearah Angga yang memberinya kode untuk segera meninggalkan tempat tersebut.


Namun, langkah Asra seketika terhenti saat mendengar ucapan pria tidak dikenalnya tersebut.


"Tolong! Tolong selamatkan wanita itu. Wanita itu sudah mereka culik...," gumamnya dengan lamat-lamat.


"Apa maksudmu dengan wanita itu?" Asra berbalik dan berjongkok tepat dihadapannya.


"Mereka membawa wanita itu...," ulangnya sekali lagi sambil tangannya menunjuk kearah hilangnya mobil yang di tumpangi oleh Rika.


"Rika. Nama wanita itu Rika," ucapnya lagi.


Asra membelalakkan matanya. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi untuk mengetahui tujuan mobil mereka.


"Kemana mereka membawanya?" Bukan Asra yang bertanya, tetapi Anggalah yang sejak tadi sudah berdiri dan mendengarkan pembicaraan mereka.


Lelaki tersebut menunjuk kearah jalanan yang sama dengan tujuan yang ingin mereka datangi.


"Kesana. Baru beberapa menit yang lalu." Lelaki tersebut terdiam.


"Kalian berdua, tunggu dia disini dan bawa dia kerumah sakit. Ambulan akan segera datang dan juga mobil polisi!"


"Secepatnya serahkan mereka pada pihak polisi!" perintah Asra pada sebagian anak buahnya.


"Dan kalian, segera ikuti kami!" Tunjuknya lagi pada sebagian anak buahnya yang lain.


Mereka bergegas menuju kearah mobil dan melaju memacu kendaraan yang sedang mereka tumpangi. Angga tidak ingin kehilangan jejak Rika.


"Apa warna mobil mereka, dan nomor platnya?" tanya Angga.

__ADS_1


"Toyota silver dengan plat xxxx!" jawab Asra.


"Bisa kamu percepat lagi!" desak Angga pada sopirnya yang diangguki oleh sopirnya. Matanya awas menatap ke setiap mobil yang mereka temui.


"Itu mobilnya! Cepat kejar mereka!!" desak Asra yang melihat mobil dengan ciri-ciri yang sudah di sebutkan olehnya tadi.


Mobil tersebut juga melaju setelah menyadari kalau mereka sedang dikejar oleh mobil lainnya. Ia membelok ke kanan dan menancapkan gasnya untuk segera mencapai gudang milik Yakub.


Angga merasa jengah dengan kelambatan sopirnya dalam mengemudi. Ia mengambil alih kemudinya dan menancapkan gasnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hingga membuat Asra merasa ngeri namun sebisa mungkin ia bersikap biasa saja.


Brukkk.


Mobil Angga dihantam oleh mobil yang membawa Rika dari samping karena Angga sengaja menghalangi jalannya mobil mereka.


Bergegas ia turun dan menggedor kaca mobil tersebut dengan kuat. Bahkan ia meninjunya beberapa kali, namun kaca pintu mobil tersebut tidak juga pecah.


Laki-laki tersebut keluar dari mobil dengan wajah merah padam. Ia menatap kearah Angga yang seperti orang kesetanan.


"Apa yang kamu lakukan pada mobilku!!" gertaknya marah.


Bukannya menjawab, Angga justru memberikan bogeman mentah pada laki-laki tersebut. Bahkan ia menghajarnya sampai babak belur.


Dengan napas ngos-ngosan ia beranjak dan berdiri, bermaksud untuk mengambil Rika dari dalam mobil tersebut. Tapi matanya menatap terkejut saat beberapa orang sudah mengelilingi mereka. Bahkan Rika sudah berada di tangan salah satu dari mereka.


Ia merasa geram dan menghajar mereka serentak dengan anak buahnya. Asra juga sudah menghubungi polisi untuk segera menolong mereka.


***


"Katakan! Kemana kamu membawa wanita itu!?" gertak Alvaro pada Bigas. Ia menatap garang kearah Bigas yang hanya memberikan senyum miringnya.


"Kau tidak akan menemukannya karena ia sudah kabur!" jawab Bigas jujur. Ia menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya karena beberapa kali anak buah Alvaro menghantamnya.


"Ayah!!" Samar-samar mereka mendengar suara seorang perempuan. Bigas membelalakkan matanya menatap Bella yang tampak berjalan kearahnya dari kejauhan. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali berharap agar Bella menjauh darinya.


Namun wanita itu sepertinya tidak mengerti dengan kode yang di berikan oleh ayahnya. Ia berlari mengejar ayahnya saat melihat keadaan ayahnya yang terluka dan di pegang oleh dua orang lelaki tak dikenal.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada ayahku!!?" teriaknya kesal sambil menarik jaket yang di kenakan oleh Alvaro.


Alvaro tampak membeku, ia berusaha berbalik dan menatap kearah wanita yang sudah mengeluarkan lidah apinya. Menatap Alvaro dengan tatapan membunuh, tapi wajahnya terhalang oleh rambut hitamnya yang menjuntai kedepan.


"Jangan sakiti ayahku. Wanita itu sudah aku lepaskan. Jadi, aku mohon. Tolong lepaskan ayahku. Ayahku tidak bersalah!" ia memohon dengan mengatupkan kedua belah tangannya di dada.


Alvaro merasa familiar dengan suara tersebut, namun ia tidak ingin terkecoh karenanya. Ia masih menatap wanita yang mulai menyibak rambutnya tersebut, menatap Alvaro dengan marah karena tidak merespon ucapannya.


Deg.


Mata indah itu, wajah itu, mungkinkah?


"Nadia?" gumam Alvaro masih menatap seksama wanita yang berdiri dihadapannya. Ia beralih menatap kearah Bigas yang sudah membelalakkan matanya karena tidak percaya kalau Alvaro mengenalinya.

__ADS_1


"Katakan padaku!! Apakah benar dia Nadia?" Alvaro berdesis sambil mencengkeram kerah kemeja yang dikenakan oleh Bigas.


Bigas terdiam sesaat sambil menatap kearah Bella yang bingung menatap mereka. Dengan matanya is meminta agar mereka sedikit menjauhkan Bella dari dirinya.


"Iya. Itu adalah Nadia. Dia sedang hilang ingatan," sahut Bigas dengan setengah berbisik


Sepucuk ingatan menghampiri Bella saat ia menatap wajah Alvaro. Ia merasa ada sesuatu yang mengisi ruang hatinya dan samar-samar ia melihat bayangan hitam yang sangat familiar.


Alvaro bergegas memeluk Bella erat. Rasanya ia baru saja mengalami hidup kembali. Bertemu orang yang di cintainya bagai mimpi yang membuatnya enggan untuk membuka matanya.


Bella tidak merespon sama sekali. Ia hanya merasakan dan membiarkan saja lelaki asing tersebut memeluknya dengan erat. Entah kenapa ia juga merasakan perasaan yang nyaman dan hangat. Ia merasa sesak dan berusaha melepaskan diri.


Doorr!


Matanya membeliak saat mendengar letupan senjata. Begitu juga dengan Alvaro yang mendekapnya. Bergegas ia melepaskan wanita tersebut, menariknya dan membawanya kearah luar gudang tersebut. Berjalan kearah jalan.


Disana, ditepi jalan. Seorang lelaki tiba-tiba tergeletak pingsan karena sebuah peluru yang bersarang di punggungnya.


"Angga!!!" teriak Alvaro saat mengenali sosok tersebut, yang tidak lain adalah Angga. Angga sudah berlumur darah. Dengan gerakan cepat, ia meraih pistol yang terselip di pinggangnya dan mengarahkan kearah Yakub.


Namun, belum sempat ia menarik pelatuknya. Suara tembakan kembali bergema, Yakub seketika ambruk.


Rupanya pihak polisi yang baru saja datang bersama Eland dan langsung melumpuhkan Yakub.


"Mas Angga!!!" teriak Rika saat dirinya sudah dibawa ke halaman oleh petugas polisi. Ia berlari terseok-seok menubruk tubuh Angga yang tidak sadarkan diri.


Tadinya dirinya dibawa oleh salah satu anak buah Yakub dan di seret kearah gudang. Saat ia membuka matanya, yang ada justru letupan senjata api yang terdengar, di iringi dengan dobrakan pintu.


Ia pikir mereka akan membunuh dirinya, namun ternyata polisi lah yang masuk dan membebaskan dirinya.


Begitu ia keluar gudang, keadaan tampak sangat kacau. Yakub yang sudah tersungkur di tanah dengan luka tembak pada tangan dan kakinya. Dan salah seorang lagi yang sangat di kenalnya, yaitu Angga yang sudah pingsan dengan bersimbah darah.


Seketika penyesalan Rika langsung menguap begitu saja. Ia menyesal karena bersikap acuh dan selalu menolak Angga akhir-akhir ini.


Rika memeluk Angga erat di sertai dengan isakan berat saat melihat mata Angga yang tertutup rapat.





********


**Terima kasih bagi kalian yang sudah setia mengikuti karyaku hingga sampai sini.


Terima kasih juga untuk semua saran dari kalian yang sifatnya membangun. Serta dukungan dari kalian semua.


I love you all**

__ADS_1


__ADS_2