Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Memberikan Privasi


__ADS_3

"Daffian, kita berangkat sekarang atau sarapan disini dulu?" tawar Aina saat ia muncul dengan pakaian yang sudah rapi.


"Tidak perlu. Kita cari sarapan diluar saja. Kebetulan ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu."


Aina mengangguk dan berjalan beriringan bersama Daffian. Sebelum mencapai pintu, Aina dan Daffian menghentikan langkahnya karena panggilan Alvaro.


"Aina!"


Aina berbalik saat Alvaro memanggilnya.


"Iya, Pa. Ada apa?"


"Jangan lupa nanti malam kita sudah berjanji untuk bertemu seseorang."


Aina mendesah mendengarnya, melirik kearah Daffian yang masih menatapnya dengan senyum manis seolah tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Pa, sepertinya aku tidak bisa karena pekerjaanku sangat padat, juga aku akan lembur malam ini."


"Jangan mengelak Na, jangan permalukan papa hanya karena pekerjaan. Kamu bisa mencari dokter lain untuk menggantikanmu, kamu adalah pemimpin rumah sakit sekarang, apapun bisa kamu lakukan. Apakah semuanya harus kamu yang turun tangan?"


Aina kembali melirik kearah Daffian, lelaki itu masih menatapnya dengan senyum tipis.


"Nanti kita bicara lagi, Pa. Aku akan berangkat sekarang."


"Kapan, Na? Kalau tidak diputuskan sekarang?"


"Aku akan menghubungi papa nanti."


Aina meninggalkan Alvaro yang menatapnya sendu.


"Ma'afkan papa, Na. Semua demi kebaikanmu dan juga masa lalumu."


***


"Kenapa melamun?" Daffian menyentuh tangan Aina lembut. Saat ini mereka sudah duduk di restoran yang ada di dalam hotel.


"Tidak ada yang aku pikirkan, hanya soal pekerjaan," sahut Aina meraih buku menu di hadapannya. Memgalihkan pikirannya agar tetap fokus pada apa yang dihadapinya sekarang.


Lagi lagi Aina menyembunyikan semuanya dari Daffian. Padahal semuanya sudah tertangkap basah oleh lelaki itu. Entah sampai kapan, Aina terus melukai harga diri Daffian dengan tidak mempercayai kemampuannya.


Daffian berdehem untuk menetralkan perasaannya.


"Benarkah? Tadinya kupikir kamu sedang memikirkan perdebatanmu dengan papamu pagi ini."


Aina terkekeh mendengarnya menyembunyikan mimiknya yang sedikit terkejut.

__ADS_1


"Tidak ada yang perlu kami debatkan. Hanya masalah kecil tentang keinginan papa. Papa hanya ingin mengajakku untuk menemui sahabatnya dulu sewaktu masih SMA, dan mereka juga salah satu rekan bisnis papa."


"Benarkah? Itu hanyalah masalah kecil, tapi aku lihat kamu sangat serius tadinya." Daffian terkekeh untuk menyembunyikan denyut sakit di hatinya. Lagi-lagi Aina menyembunyikan masalah sebesar ini darinya dan terus menutupinya dengan kebohongan.


"Benar Daffian. Itu hanyalah masalah kecil. Kebiasaan yang tidak bisa aku buang, selalu berdebat dengan papa bahkan sejak aku kecil." Lagi Aina kembali terkekeh dengan tatapan yang gelisah.


"Ai... aku mau tanya padamu."


Aina menatap Daffian intens. "Tentang apa?"


"Apakah kamu percaya sepenuhnya padaku kalau aku bukanlah anak kecil lagi, tapi sekarang aku sudah dewasa dan mampu memikul tanggung jawab sebagai seorang lelaki sejati kebanyakan."


Aina terkekeh di sertai sebuah anggukkan kecil.


"Jangan berkata seperti itu, kamu seolah meragukan dirimu sendiri. Aku percaya padamu kalau kamu lebih dewasa dari sebelumnya."


Tangan Aina tergerak mengacak rambut Daffian membuat keduanya terlihat canggung dan bungkam. Keduanya saling menatap.


"Ma'af, aku tidak sengaja melakukannya," menarik tangannya kembali dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa. Kamu bisa melakukannya sesukamu." Daffian tersenyum manis.


"Ternyata benar kalau dia selama ini masih menganggapku sebagai anak kecil yang tidak mampu untuk bersanding dengannya," Daffian membatin dengan senyum palsunya. Tangannya terkepal erat di bawah meja.


"Ayo habiskan sarapanmu. Setelah ini aku akan mengantarmu ke rumah sakit."


"Daffian! Ada apa denganmu hari ini? Semua laporan yang kamu buat salah." Asra datang dengan gurat bingung di wajahnya. Ditangannya terdapat sebuah berkas yang di letakkannya di hadapan Daffian.


"Ma'afkan aku yang tidak fokus kerja hari ini." Meraih berkas tersebut dan kembali memeriksanya.


"Benar. Ada beberapa kesalahan," gumam Daffian.


Asra mengangguk. "Jangan campurkan antara pekerjaan dan masalah pribadimu. Kamu masih sangat muda tidak perlu memikirkan masalah seserius itu. Seharusnya kamu cukup bersenang-senang di usiamu seperti itu."


"Ini bukan tentang masalah pribadiku." Daffian mengelak menatap Asra yang sudah duduk di hadapannya.


Asra terkekeh mendengarnya. "Jangan menipu pria tua ini. Tipu muslihatmu sudah tercium sejak tadi. Dan tidak ada gunanya kamu mengelabuiku."


"Aku tidak mengelabuimu. Semua yang kukatakan adalah benar. Aku tidsk memiliki masalah selama ini. Ma'afkan aku karena kurang profesional."


"Tidak apa-apa Daffian. Nanti siang bagaimana kalau kamu, aku ajak kesuatu tempat?"


Daffian tampak berpikir. Ia juga ingin memberikan privasi pada Aina. Jadi, untuk hari ini ia akan membiarkan Aina tanpanya dulu.


"Baiklah. Aku akan menunggu ajakanmu itu." Mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Kalau begitu, perbaiki laporanmu dulu setelahnya aku akan datang kesini lagi untuk mengambil laporannya."


"Baiklah. Satu jam lagi laporannya pasti akan selesai, jadi kamu tenang saja."


Asra mengangguk dan menutup pintu keluar dengan pelan.


"Kenapa sekacau ini laporanku, biasanya aku tidak pernah salah dalam membuat laporan," bergumam sendiri.


"Lihatlah Aina, seberapa besar kamu mempengaruhi perasaanku." Daffian berdecak sambil kembali sibuk dengan laporan miliknya.


***


Aina terlihat sangat sibuk di ruangannya. Sejak tadi matanya terus menatap lembaran kertas yang ada di tangannya, memeriksa riwayat penyakit setiap pasiennya.


"Panggilkan pasien yang berikutnya." Aina menutup map yang ada di tangannya dan menyingkirkannya. Kemudian meraih map lainnya yang ada di atas meja kerjanya.


"Nama ini terlihat sangat familiar," gumam Aina terus menatap berkas tersebut.


Terdengar kursi yang di geser di depannya. Aina mengalihkan pandangannya kearah depan.


Deg.


"Pemuda ini...." tatapan Aina membeku begitupun dengan sekujur tubuhnya yang di rasanya sudah kebas dan mati rasa. bahkan tanpa sadar ia meremas map yang ada di tangannya.


Sebisa mungkin ia menahan gejolak amarah di hatinya dan menahan airmata yang ingin menganak sungai.


"Selamat pagi dokter Aina."


Lelaki itu bersandar di kursi tempatnya duduk dengan arogan, menatap kearah Aina dengan senyum sendunya.


"Kamu! Mau apa kamu kesini!?" ucap Aina dengan sedikit emosi. Ia berdiri dan berjalan mendekat kearah pintu. Ia sudah tidak dapat menahan emosinya.


Sedangkan Bella, asistennya entah kenapa tidak ada di mejanya.


"Tentu saja aku ingin berobat. Lalu ingin apa lagi memangnya aku kesini?" sahut lelaki itu tenang.


Aku tahu kamu tidak sungguh-sungguh melakukannya, kamu tidak sakit, Ren!! Kamu hanya ingin mencari kesempatan untuk menemuiku sajakan!" suara Aina terdengar dingin dengan tatapan tajamnya. Menatap punggung lelaki yang di panggilnya Ren.


"Sekarang kamu silahkan keluar dari ruanganku!" Aina memalingkan pandangan dari lelaki tersebut menatap kearah pintu yang terbuka lebar.




__ADS_1


*****


__ADS_2