Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Pertunangan


__ADS_3

Aina dan Daffian sudah berdiri di atas podium. Mereka baru saja selesai mengenakan cincin pada masing-masing jari mereka.


Ya. Hari ini bertepatan dengan pertunangan mereka setelah lamaran seminggu yang lalu.


"Selamat ya Daffian dan Aina atas pertunangan kalian, semoga tetap lancar sampai menuju hari kebahagiaan nanti!"


Anggia naik ke atas podium bersama suaminya dan mengucapkan selamat pada mereka berdua. Ia menikah setelah bercerai dari Daffian tetapi perkawinan mereka juga masih belum di gelar secara resmi.


Desas-desus tidak mengenakkan terdengar di telinganya mengenai pengkhianatannya dalam rumah tangganya dulu sewaktu bersama Daffa.


"Makasih, Gia. Moga kamu selalu bahagia menjalani hidup yang sudah kamu pilih dan tentukan sendiri," sahut Daffian.


Anggia tersenyum menatap kearah Daffian, melirik dengan senyum miringnya kearah mereka yang mencemoohnya. Hidupnya, dia sendiri yang menjalaninya maka dia sendiri juga yang akan menentukannya.


"Sayang. Jangan pedulikan omongan mereka, nanti bayi kita kenapa-kenapa."


Anggia mengangguk dengan senyum tulusnya, berjalan melewati mereka yang terus menatapnya hina.


"Coba lihat. Perutnya sangat besar dan mungkin umurnya sama dengan pernikahan mereka bersama Daffa dulu. Berarti dia sudah lebih awal selingkuh di belakang suaminya," cibir salah satu wanita sosialisasi disana.


Anggia hanya menatapnya dengan tenang. Toh semua itu memang benar, buat apa ia perduli.


"Ma'af ibu-ibu. Anggia adalah keponakan saya. Mereka memang membatalkan pernikahan mereka sejak awal karena hubungan keluarga yang terjalin sangat dekat diantara kita. Lagi pula mereka menyadari kalau perasaan diantara mereka berdua tidak lebih dari sekedar perasaan terhadap saudara."


Rika sudah merangkul Anggia dan menatap wanita-wanita tersebut dengan senyum lembut dan menenangkan.


"Oh begitu ya rupanya. Ma'af ya jeng Rika. Kami tidak tahu kabarnya. Lalu kapan di resmikan hubungan mereka berdua. Dan aku lihat kalau Daffa juga sudah punya istri." Wanita berbadan besar tersebut menatap kearah Azza.


"Iya. Nanti akan ada kabar berikutnya. Dan kalian tenang saja, saya pasti akan mengundang kalian datang."


"Aduh Jeng, Jeng baik sekali terhadap mereka. Tuan Angga pasti sangat beruntung memiliki istri sebaik, Jeng."


Senyum Rika berubah menjadi datar menahan kesal melihat mereka yang suka mengurus kehidupan orang lain. Tidak sadarkah dirinya kalau suaminya sedang merayu wanita muda di belakangnya. Menyebalkan.


"Sayang. Kamu bawa makan dulu. Disana ada Azza, bergabunglah bersama dia. Dia juga kelihatannya hanya sendirian."


Rika membawa Anggia menjauh dari sana. Ia tidak mau wanita hamil itu terpengaruh karena ucapan mereka.


Anggia menatap Azza yang berada di sudut ruangan. Azza tampak heboh dengan beberapa makanan di tangannya. Ia tidak perduli dengan tatapan para tamu padanya.


"Wah. Ini istri kecilnya tuan Daffa ya? Kami tidak pernah mengetahui sebelumnya mengenai pernikahan Tuan Daffa!"


Azza melirik kearah asal suara. Ia terkejut melihatnya, lelaki itu mengenal suaminya. Apa yang sedang di incarnya disini? Apakah harta lagi? Ia segera menyudahi makannya dan berjalan kearah Anan yang sedang bersama Daffa.


"Apa yang kamu lakukan disini Tuan tamak? Apakah sedang mengincar sesuatu yang berharga lainnya?"


Azza bersedekap sambil menatap Anan dengan tajam, membuat lelaki itu tersenyum miring kearahnya.


"Kuanggap kata-katamu itu sebagai pujian untukku dan juga panggilan sayang dari saudara kecilku," terkekeh.


Azza menatap cemberut kearahnya, lelaki itu memang pandai bermain kata-kata.


"Oh iya tuan Daffa. Apa kabar?" Anan menyodorkan tangannya kearah Daffa dan di sambut oleh lelaki tersebut.


"Baik. Dan bagaimana kabar Anda dan juga perusahaan milik Anda?"


Anan terkekeh mendengarnya, memicing kearah Azza yang masih menatapnya tidak suka.


"Semuanya baik-baik saja kalau berada di tangan yang tepat."


"Bagus kalau begitu. Itu berarti memang hanya Anda yang pantas mengelolanya," Daffa ikut terkekeh.

__ADS_1


"Oh iya. Kalau begitu saya ke depan dulu. Ma'af sudah mengganggu kebersamaan pasangan romantis ini!"


Daffa merangkul Azza dengan sayang, menatapnya penuh cinta.


"Sayang, bibirmu ada bekas makanan. Bagaimana kalau aku membersihkannya menggunakan lidahku."


Azza melotot mendengarnya, menatap ke sekelilingnya dengan wajah memerah.


"Jangan malu. Kita sudah sering melakukannya," goda Daffa.


Azza mendorong suaminya.


"Dasar mesum!" bisik Azza berlari meninggalkan Daffa kearah meja yang di tempatinya tadi.


Daffa terkekeh melihatnya, merasa senang dengan tingkah istrinya.


***


"Hei wanita hamil. Kenapa kamu makan begitu banyak? Apakah kamu tidak takut badanmu gendut?" tanya Febry heboh.


Azza membelalakkan matanya mendengar ucapan Febry. Ia begitu sensitif mendengarnya, seketika ia ingin meledak.


"Gendut kamu bilang!?" cemberut. "Apakah kamu tidak lihat kalau perutku saja sekarang sudah sebesar buah semangka. Bukankah itu terlihat seksi!"


Febry melongo mendengarnya, menatap ngeri kearah Azza yamg menatapnya dingin dan menyuap makanannya kembali tanpa perasaan.


"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya saja!" sahut febry pelan.


Azza kembali mendelik kearah sahabatnya.


"Tidak perlu di katakan. Anakku akan kelaparan di dalam sana kalau aku tidak makan banyak!" Menancapkan garpu di cake miliknya dengan kuat.


Febry kembali meneguk ludahnya kasar. Lebih baik ia bermain aman saja dengan cara melarikan diri. Wanita hamil memang benar-benar menyeramkan.


Azza menangkap pergelangan tangan Febry membuat gadis itu berbalik dengan senyum canggungnya.


"Andra sedang menungguku di sana?" tunjuknya pada sudut ruangan.


"Tidak perlu kesana. Biarkan para lelaki saling bicara dengan urusannya sendiri. Kalau dia ingin menemuimu maka dia pasti akan kemari!" sahut Azza.


Febry kembali duduk dan berharap Azza melupakan makanan yang sedang di tatapnya dengan lapar.


"Jangan menyuruhku untuk mengambilkannya untukmu. Kamu sudah makan begitu banyak cake hari ini!" tolak Febry.


Azza mengedipkan matanya berulang kali, memohon.


"Jangan perlihatkan mata menyedihkan itu padaku," mendesah. "Baiklah! Aku akan mengambilkannya untukmu, tapi ini yang terakhir bagaimana?" tawar Febry.


Azza hanya melirik kearahnya dengan senyum manisnya, membuat Febry tidak tega untuk melarangnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Andra?"


Azza menyuap kembali cake yang baru diambilkan oleh Febry ke dalam mulutnya.


"Baik. Dia sekarang sudah bekerja di perusahaan yang di rekrut oleh ayahnya sendiri. Dan aku senang mendengarnya karena ia sangat mandiri sekarang."


"Wow!!! Berarti tidak lama lagi kamu juga akan menyusul Daffian," Azza sangat senang mendengarnya.


"Aku tidak yakin!" sahut Febry.


"Kenapa?" tanya Azza.

__ADS_1


"Aku tidak yakin kalau kami bisa menikah tahun ini."


"Berarti tahun depan dong!"


Febry mengangguk, membenarkan ucapan Azza.


"Berarti kamu sudah mendapat restu?"


Febry kembali mengangguk.


Azza terkekeh senang mendengarnya, menatap Febry sesaat. Tepat Febry ingin membuka mulutnya, cake yang ada di garpu milik Azza sudah melayang ke mulutnya dan menyumpalnya. Membuat wanita tomboy tersebut terbelalak.


"Azza! Kamu jahil ya sekarang!" Febry kembali heboh hingga menjadi sorotan beberapa tamu.


"Habisnya kamu sejak tadi meneguk ludah terus saat aku menyuap cake milikku," Azza kembali menyuap cake miliknya dengan tidak perduli.


"Hei. Aku meneguk ludah bukan karena aku tergiur tapi karena ngeri melihatmu yang tidak berhenti makan!"


Febry langsung menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam yang di pancarkan oleh Azza padanya.


"Aku tidak bermaksud berkata begitu!" Febry menangkupkan tangannya di dada.


"Tidak apa-apa. Aku ma'afkan tapi ada syaratnya."


Febry seketika langsung merinding melihat seringaian Azza.


"Apa syaratnya?" cicit Febry.


"Kamu harus habiskan 7 piring cake di hadapanku!" Azza menaik turunkan alisnya.


"Apa!?? Tujuh piring??" Febry terbelalak. Azza hanya mengangguk saja.


"Tapi aku tidak kuat!" sahut Febry lesu.


"Bukankah kamu jago makan."


"Tapi itu dulu Za, sebelum aku mengenal Andra."


Azza terkekeh melihat sifat malu-malu sahabatnya.


"Kalau begitu 5 piring saja, bagaimana? Kasian dedek bayi ingin melihatmu," pinta Azza memelas dengan wajah memohonnya. Membuat Febry tidak tega melihatnya.


"Baiklah. Aku akan memakannya untuk dedek bayi. Ingat! Hanya untuk dedek bayi."


Azza bersorak senang mendengarnya.


Ia menatap Febry yang memakan cakenya dengan tidak berkedip. Entah kenapa ia sekarang ingin melihat Zainal dan Andra yang juga memakan 7 piring cake.


"Kamu kenapa?" Febry tampak panik melihat Azza yang terlihat lesu.


"Aku ingin melihat Zainal dan Andra makan 7 piring cake!!"


Febry langsung melotot mendengarnya.


Oh tidak. Inikah yang namanya kiamat. Hari pertunangan berubah menjadi hari lomba makan se Benua. Hanya karena wanita hamil ini.




__ADS_1


***


Ma'af baru up, soalnya masih dalam pemulihan.


__ADS_2