
Anggia berjalan gontai kearah kediaman ibunya. Ia masuk tanpa menyapa ibunya.
"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu sedih begitu?" tanya Rahiyang menatap Anggia dengan heran.
"Tidak apa-apa ma!" sahut Anggia lesu.
"Jangan menyembunyikannya dari mama, Anggia. Wajah kamu saja sudah cukup memberitahu mama kalau keadaanmu tidak baik-baik saja."
Anggia menggigit bibirnya, ia tampak ragu mengucapkannya. Ia mengalihkan tatapannya kemana saja asal jangan menatap ibunya.
"Katakan saja!" pinta Anggia.
"Alfa ma... dia memutuskanku dan juga akan meninggalkanku ke luar negri," sahut Anggia semakin lesu.
"Bagus! Akhirnya rencanaku berhasil untuk menyingkirkan Alfa dari kehidupan putriku. Dan dia tidak akan menghambat rencanaku lagi," Rahiyang membatin.
"Jangan memikirkan orang yang bukan siapa-siapa dalam hidupmu. Cukup kamu pikirkan kehidupanmu dan juga bayimu!"
"Tapi ma, anak ini bukan anak Daffa. Dia anak Alfa!" sahut Anggia.
"Sudah mama bilangkan untuk kamu tetap menyembunyikan kebenarannya. Jangan sampai Daffa tahu dan membuang dirimu. Bisa-bisa rencana yang mama atur selama ini gagal dan berantakan."
"Dan sudah mama bilang jugakan sejak awal jangan pernah mau memberikan kehormatanmu ke sembarang lelaki. Semua lelaki itu brengs*k, Anggia!!"
"Ma! Mama kenapa egois seperti ini sih? Rela mengorbankan hidup Anggia dan juga mengorbankan perasaanku." Menarik napas yang terasa menghimpit dada.
"Seandainya mama tidak memaksaku untuk menikah dengan Daffa, aku tidak akan seperti ini ma. Sekarang aku sudah kehilangan orang yang aku cintai, ma!" Anggia berteriak marah pada ibunya.
"Jangan berteriak pada mama. Ingat Anggia kamu adalah anak mama dan darah daging mama. Aku yang membesarkanmu dan mengandungmu. Bahkan hanya aku yang menginginkanmu untuk hidup di dunia ini sedangkan ayahmu, dia hanya menyumbangkan sp*rmanya saja. Sudah sepantasnya kamu mengorbankan apa saja untuk mama!" sahut Rahiyang keras.
"Mama benar-benar egois ma. Sekarang aku tidak punya siapa-siapa lagi, apa mama puas karena sudah memisahkan antara ayah dan anak?"
"Anggia! Tutup mulutmu. Alfa bukan pemuda yang cocok untukmu. Mana ada dia menginginkan anakmu, dia hanya menginginkan tubuhmu! Lagi pula masih ada mama dalam hidupmu! Dan juga, mama tidak pernah memisahkan kalian, dia yang menginginkan pergi dari hidupmu."
"Lalu siapa yang cocok denganku? Apakah Daffa ma? Orang yang menjadi pelampiasan dendam mama yang tidak tahu asal usulnya?"
Rahiyang menggenggam tangannya erat. Andai saja ia mampu untuk membeberkan masa lalu dia dan ibunya, maka sudah pasti Anggia tidak akan memberontak seperti ini.
"Tidak! Kamu tidak tahu apa-apa di masa lalu mama!!" Rahiyang memegang kepalanya. Ia begitu kesakitan hingga membuat Anggia terkejut.
"Bibi! Ambilkan obat milik mama!" teriak Anggia.
"Ma, mama tenang dulu dan jangan mengingat masa lalu." Anggia berusaha menenangkan ibunya. Ia tidak mengerti apa yang di sembunyikan mamanya tentang masa lalu mereka.
Memang ada sebagian yang mampu di ceritakan Rahiyang pada mereka tetapi itu hanya sebagian saja.
Akhmar? Anggia segera pergi dari kediaman ibunya setelah Rahiyang tenang dan tertidur. Ia akan menemui Akhmar mungkin saja lelaki itu tahu sedikit tentang kisah ayahnya dan juga ibunya.
Anggia terlihat ragu untuk menghubungi Akhmar. Cukup lama ia berpikir hingga akhirnya ia memencetnya juga.
"Anggia, ada apa kamu menghubungiku?" tanya Akhmar.
"Aku ingin bertemu denganmu dan juga ayahmu!" sahut Anggia.
"Dia juga ayahmu Anggia, bukan hanya ayahku saja. Kamu harus mengakui itu!"
Anggia menatap tajam, tangannya mengepal.
"Temui aku di kafe xxx," Anggia segera mengakhiri panggilannya tanpa menghiraukan ucapan Akhmar.
Sesampainya di kafe xxx, Anggia justru terkejut karena Ahkmar sudah menunggunya bersama seorang pria paruh baya.
"Tunggu! Pria paruh baya ini, rasanya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?" batin Anggia tampak berpikir.
"Jangan memikirkan soal diriku. Ini kali kedua pertemuan kita, dan yang pertama sewaktu di apotek! Apa kamu masih mengingatnya" sahut Emran.
Ia menatap Anggia dengan sendu. Ingin rasanya ia menggapai dan memeluk Anggia sejenak.
Anggia mengangguk.
"Apakah kamu tidak ingin memeluk pria tua ini yang begitu merindukanmu?" tanya Emran lagi.
Anggia bergeming pada tempat duduknya. Masih menatap Emran dengan seksama. Ada ketidak sukaan di wajah Anggia saat Emran mengatakan hal serupa.
"Bukankah kamu sudah tahu kalau pria tua ini adalah papamu?"
Lagi, Anggia hanya bergeming. Matanya melirik sekilas kearah Akhmar yang sejak tadi menatapnya saja.
Ada rasa emosi yang hampir meledak saat ia mendengar pernayataan pria tus yang bahkan tidak pernah melihatnya sejak di lahirkan. Tetapi ia tahan karena sedang berada di keramaian. Ia tidak mau menjadi bahan gosipan publik, bisa-bisa ibunya tahu kalau dirinya bertemu lelaki breng*k versi ibunya.
Dan ingin rasanya ia berteriak memaki pada lelaki yang tiba-tiba perduli padanya, atau hanya sekedar perduli padanya.
"Baiklah kalau kamu tidak ingin memelukku. katakan sesuatu padaku, apa yang membuatmu ingin bertemu denganku?" sahut Emran. Ada gurat kecewa di wajahnya saat melihat penolakan Anggia padanya.
"Aku hanya ingin berdua berbicara denganmu!" sahut Anggia.
Matanya kembali melirik kearah Akhmar.
"Baiklah. Aku akan pergi. Lagi pula tugasku sudah selesai untuk mempertemukan ayah dan anak yang tidak pernah saling bertemu," sindir Akhmar melirik kearah Anggia.
Anggia semakin mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan emosinya. Ketenangannya hari ini benar-benar di uji.
Ia berdiri dan berjalan menjauhi Anggia dan Emran yang sejak tadi hanya saling menatap saja.
"Katakam apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Emran membuka suara.
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu tentang masa lalu mama yang di sembunyikannya!"
Emran terdiam mendengarnya. Ia menatap ragu anak gadisnya.
"Ada banyak hal yang di sembunyikan oleh mama dan sekarang mama menjadikan diriku sebagai alat balas dendamnya!" sambung Anggia.
Emran terkejut mendengarnya. Ia menarik napas sejenak, menatap kearah sekelilingnya.
"Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu disini. Kita perlu tempat yang privasi. Sekarang ikuti aku!"
"Baiklah kalau begitu!" Anggia berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah Emran yang memesan ruang privat untuk mereka berdua.
***
"Anggia, apakah kamu yakin tidak mau memeluk papa," ucap Emran sekali lagi saat mereka sudah berada di ruang privat.
Anggia berpaling, ia menggenggam tangannya kuat. Rasanya ia tidak mau mengakui lelaki yang sudah membuangnya, sebagai ayahnya.
"Apa kamu bilang? Aku anakmu? Setelah sekian lama kita tidak pernah bertemu, lalu tiba-tiba kamu datang dan mengatakan aku adalah anakmu."
Akhirnya meledak juga amarah yang sejak tadi di tahannya.
"Dimana sosok ayah yang dulu aku harapkan muncul saat aku di bully oleh anak lain seusiaku. Dan dimana sosok ayah saat aku sakit dan tidak ada yang bisa mengantarku ke rumah sakit!? Mana sosok ayah yang seharusnya melindungi anaknya di saat anaknya sedang patah dan rapuh!?"
Anggia menatap Emran nyalang. Airmata meleleh di pipinya.
"Tidak adakan. Kamu terlalu egois dan masih pantaskah kamu disebut sebagai seorang ayah!?"
Emran terdiam mendengarnya. Ia bergeming, menggenggam tangannya erat.
"Ma'afkan papa!" pinta Emran.
"Aku sudah terbiasa puluhan tahun hidup tanpa dirimu. Dan sekarang di saat aku sudah melupakanmu, tiba-tiba kamu muncul di hadapanku dan mengaku sebagai papaku!"
Bibir Anggia bergetar, matanya memerah menahan airmata yang hampir mengucur.
"Dengarkan penjelasan papa dulu Anggia," pinta Emran.
"Penjelasan apalagi? Bukankah semuanya sudah jelas kalau kamulah penyebab mamaku depresi!"
"Lagi pula aku kesini bukan memintamu untuk mengakuiku sebagai anakmu. Tetapi aku mengajakmu bertemu hanya ingin mengetahui masa silam mama saja."
Emran menggeleng.
"Bukan. Mamamu sudah depresi sejak awal."
"Apa maksudmu?" tanya Anggia berdesis.
Anggia menatap Emran sesaat.
"Iya. Dia depresi setelah mengetahui kebenaran tentang dirinya dan juga ibunya."
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi dengan mama di masa lalu?" desak Anggia.
"Dan kenapa mama selalu menyimpan rapat tentang keluarganya?"
Emran kembali menerawang pada masa lalu sewaktu dia hidup bersama dengan Rahiyang. Saat itu Rahiyang masihlah gadis yang polos dan baik hati sebelum ia mengetahui kebenaran tentang jati dirinya dan musibah yang menimpa mereka.
"Saat itu Rahiyang masih berusia 20 tahun. Dia baru saja pulang dari suatu tempat tetapi keadaannya sungguh memprihatinkan." Emran mulai bercerita.
Flashback
"Apa-apaan kamu, kenapa kamu seberantakan ini? Siapa yang sudah menyakitimu?"
Emran terkesiap melihat penampilan Rahiyang yang berantakan. Bahkan banyak lebam kebiruan terdapat di sekujur tubuhnya.
"Aku sudah ingin mulai membalas dendam pada mereka. Kenapa? Apakah kamu keberatan?"
Emtan menggeleng. "Ra, lupakan saja dendamnu di masa lalu. Hiduplah bersamaku. Orang yang kamu ingin balaskan dendam untuknya, dia juga tidak akan setuju!"
Rahiyang menatap sinis Emran.
"Aku tinggal di panti asuhan bersama ibuku, sedangkan mereka hidup dengan bergelimang harta bahkan sangat di segani oleh orang lain, dan aku baru mengetahui kebenaran itu sekarang. Aku ingin mendapatkan kembali hakku! Dan menuntut status mama di keluarga mereka."
"Lupakan saja masa lalu dan dendammu itu. Kita menikah dan hidup bahagia," pinta Emran.
"Aku tidak akan hidup bahagia sebelum dendamku terbalas," sahut Rahiyang.
"Apa yang akan kamu lakukan pada mereka, tidak akan berpengaruh pada ayahmu!"
"Dia tidak akan hidup kembali!" ucap Emran.
Rahiyang terduduk mendengarnya, airmatanya meleleh bahkan isakannya terdengar pilu di telinga.
"Aku belum sempat mendengar ayahku yang mengakuiku sebagai anaknya, bahkan ibuku belum sempat di perkenalkan pada kakek dan nenekku. Ayahku sudah mati karena mereka."
Emran masih diam mendengarkan luapan kekesalan dan kemarahan Rahiyang.
"Sebelum ibuku meninggal, dia selalu menceritakan sosok ayahku yang baik dan bijak. Tapi ia seperti bayangan, hidup di keluarganya. Bahkan ibuku sendiri tidak di restui menikah dengan ayahku, karena ibuku yatim piatu dan miskin."
"Mereka sangat tidak menyukai ibuku sehingga dia di asingkan begitu jauh oleh ayahku dari keluarganya, keluarga Rahardian."
"Tapi, ayahku selalu berjanji pada ibuku, suatu saat nanti dia pasti akan memperkenalkan ibuku kepada mereka sebagai seorang istri, sebagai menantu di keluarga mereka yang di akui."
"Hingga beberapa tahun kemudian, ayahku tidak pernah lagi mengunjungi ibuku, sampai ibuku melahirkan diriku. Dan sampai ia meninggal dunia karena di perkosa."
__ADS_1
Rahiyang terisak keras.
"Saat itu kami ingin pindah ke kontrakan yang baru karena ibuku hanya menginginkan dunianya hanya berdua denganku. Tetapi, belum sempat mimpi itu terwujud, ibuku tiba-tiba di perkosa dan di bunuh di hadapanku."
Seluruh tubuh Rahiyang bergetar hebat, bahkan ia meremas kepalanya.
"Semua itu karena kesalahan keluarga Rahardian yang tidak mau aku dan ibuku hidup layak bersama mereka. Dan juga berkumpul bersama ayahku."
"Sejak saat itu aku bertekad untuk membalaskan dendamku dan dendam ibuku karena hidup menderita. Dan penyebabnya adalah Eland dan keturunannya. Dia yang sudah menggeser kedudukan ayahku di keluarganya, hingga ayahku di anggap sebagai bayangan Eland saja."
Rahiyang menceritakan masa lalunya.
"Tapi belakangan, saat aku sudah berumur 5 tahun dan setelah 5 hari mama meninggal, lelaki itu muncul dan selalu menghiburku. Bahkan ia menganggapku sebagai anaknya walaupun saat itu aku masih trauma.
"Aku tidak pernah tahu kalau dirinya adalah ayah kandungku, seandainya ibu panti tidak mengeluarkan kotak wasiat yang di tinggalkan oleh ibuku. Maka selamanya aku tidak tahu kalau sosok yang aku cari selalu dekat denganku."
"Apa yang ada di dalam kotak wasiat itu?" tanya Emran.
Rahiyang meraba lehernya, lelehan airmatanya kering sudah. Tapi jejak airmatanya tergambar jelas di pipinya.
"Selembar foto pernikahan orang tuaku, seuntai kalung berliontin ungu dan selembar kertas wasiat."
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Emran.
"Aku marah pada ibu panti yang baru memberitahu diriku saat aku berumur 17 tahun. Katanya, itu dalah wasiat ibuku."
"Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dan paling menyedihkan bagiku. Aku mengetahui kalau orang yang menyayangiku adalah ayah kandungku sendiri. Tapi aku sedih, tepat di hari aku mengetahui kebenarannya, hari itu juga aku mendengar kalau dia sudah meninggal."
"Aku juga baru mengetahui fakta kalau Erland adalah ayah kandungku."
Rahiyang terisak, tangisnya semakin pilu.
"Aku mencoba mencari tau penyebab dia meninggal. Tapi aku tidak menemukan jejak pembunuhnya sama sekali. Yang aku tahu saat ia di bunuh, ia sedang berperan sebagai Eland. Dan seharusnya yang mati saat itu adalah Eland, bukan ayahku yang menggantikan posisinya."
Emran merasa kasihan menatap Rahiyang, ia mendesah.
"Aku hanya ingin menuntut kedudukan ayahku di keluarga mereka yang di perlakukan sebagai bayang-bayang. Bahkan juga hak warisku yang seharusnya mendapatkan perusahaan milik ayahku justru diambil oleh Angga, anaknya Eland."
"Dan satu lagi. Semua musibah yang menimpa ibuku, semua penyebabnya adalah Eland dan juga Angga. Aku benci mereka berdua!!"
Bergetar hebat karena saking emosinya.
"Ra, sebaiknya kamu istirahat terlebih dahulu. Keadaanmu juga kurang sehat," ucap Emran.
Ia merasa kasihan melihat Rahiyang yang terus saja menangis sejak tadi. Dengan perlahan ia merebahkan Rahiyang yang bersandar di ranjangnya dan menyelimutinya sebatas dada.
"Kamu tidur saja. Minggu depan kita menikah!" ucap Emran. Rahiyang hanya diam saja tanpa menyahut ucapan Emran.
Flashoff
***
"Jadi, aku dan Daffa masih terikat satu keluarga?" tanya Anggia.
"Begitulah yang aku tahu dari ibumu," sahut Emran.
"Sesakit itukah kehidupan mama dulu? Lalu kenapa kamu mengkhianatinya dan meninggalkannya demi wanita hina itu?"
Anggia semakin terlihat emosi. Ia menatap tajam kearah Emran.
"Itu hanya masa lalu Gia. Papa tidak bermaksud meninggalkan kalian. Keadaan yang mendesak papa dan semua keberuntungan tidak berpihak pada papa. Bahkan keluarga papa yang meminta papa untuk menikah lagi, karena mamamu sangat depresi."
"Kenapa kamu semakin menyakiti hati ibuku!!? Seharusnya orang yang depresi itu di dukung, bukan di tinggalkan. Kamu menambah bebannya!!"
"Kamu tidak tahu saja Anggia kalau ibumu menderita kelainan jiwa. Dia mengidap skizofrenia. Disaat-saat tertentu dia bisa menyakiti orang lain dan di saat tertentu juga dia bisa menyakiti dirinya sendiri. Dan aku tidak mau ada korban yang berikutnya."
"Aku tahu!" sahut Anggia lemah. "Mama bahkan sangat ketergantungan dengan obat penenang. Tidak ada malam-malam yang membuatnya tidur tenang."
"Apa separah itu sekarang?" tanya Emran.
Anggia hanya melirik sekilas saja tanpa menjawab pertanyaan Emran.
"Aku menyangkal tuduhanmu mengenai ibuku yang pernah menyakiti orang. Dia memang depresi tetapi tidak pernah menyakiti siapapun. Dan kamu! Jangan bicara mengada-ada mengenai ibuku!"
"Aku ingin pulang. Sebaiknya pertemuan ini kita akhiri saja!" sahut Anggia setelah sadar dengan ucapannya.
Anggia berjalan keluar ruangan privat.
"Anggia. Tunggu! Ada sesuatu yang lain yang ingin papa sampaikan padamu!"
Anggia bergeming, ia menghentikan langkahnya dan kembali mengepalkan tangannya saat mendengar Emran yang sok akrab terhadapnya.
"Papa tahu kalau kamu punya kekasih selain suamimu. Dan papa akan menolongmu untuk bisa bersamanya."
"Kamu hanya orang lain bagiku, jadi jangan pernah untuk ikut campur urusanku!" tanpa berpaling.
Anggia meneruskan langkahnya.
"Kamu akan datang padaku Anggia, papa tahu kalau kamu tidak sekeras ini. Keadaanmu lah yang memaksamu seperti ini! Papa tahu kalau kamu itu rapuh dan perlu sandaran." lirih Emran menatap kepergian putrinya.
"Aku menyesal sudah meninggalkan kamu Anggia. Seandainya dulu aku membawamu pergi saja bersamaku, kamu pasti tidak akan menjadi korban seperti ini.
•
•
__ADS_1
•
*****