Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
MKD 42


__ADS_3

Farah dan juga Siti di kagetkan dengan teriakan Baby yang membangunkan mereka dan berkata jika Afika tidak berada di dalam kamar. Dan juga, Afika mencabut selang infusnya dan pergi entah kemana. Farah yang begitu khawatir langsung berlari keluar dari ruang inap dan mendapati jika saat ini ada dua orang pengawal yang menjaga di depan pintu.


"Dimana Afika? Katakan!" Tanya Farah dan di susul oleh Baby.


"Dimana Afika? Apa kalian tidak melihat Afika keluar?" Timpal Baby, sambil menatap bergantian pria yang saat ini berada di hadapan mereka.


"Maaf, tadi saya.." Ucapan pria itu menggantung, kala Farah langsung menatap tajam pada Baby.


"Apa? Kenapa kau melihat ku seperti itu?" Tanya Baby yang tidak suka dengan caea pandang Farah terhadap dirinya.


"Jangan berpura-pura. Kau pasti tahu di mana Afika berada. Katakan! Ayo katakan di mana Afika" tuduh Farah. Karena tidak mungkin Afika pergi padahal sudah ada dirinya dan juga Siti yang akan menjadi tempat pulang bagi Afika.


"Hey, jangan menuduh ku. Aku tidak tahu di mana Afika. Justru aku curiga padamu." Kata Baby. Dia yakin jika Farah lah yang telah membantu Afika pergi dan ingin menyembunyikan Afika dari Adrian. Itulah pikiran yang saat ini terlintas di dalam benak Baby. Karena sejauh Baby mengenal Afika. Dia adalah sosok wanita yang tidak akan pernah bisa pergi meninggalkan masalah yang sedang di hadapinya. Terbukti, saat Afika masih berada di dalam mension. Berapa kali Sri dan Nadi membawa Afika keluar mension untuk berbelanja bulanan, namun tak sedikit pun niat Afika untuk kabur.


"Kau!" Farah langsung menarik rambut Baby dan Baby pun langsung menarik rambut Farah, keduanya terlibat perkelahian tarik menarik rambut. Yang membuat dua pengawal itu sibuk untuk memisahkan mereka. Saat keduanya ingin melerai antara Baby dan Farah, justru rambut kedua pria itu yang menjadi sasaran empuk Farah dan juga Baby.


"Farah!" Teriak Siti.


"Baby!" Teriak Adrian yang baru saja sampai tepat di depan ruang inap Afika. Dan betapa kagetnya Adrian saat melihat sang adik yang terlibat perkelahian.

__ADS_1


Baik Baby dan juga Farah, keduanya serentak diam namun dengan posisi tangan yang salah satunya berada di rambut pengawal dan salah satunya berada di rambut Baby atau di rambut Farah.


"Tu-tuan." Ucap pengawal serentak, sambil mencoba melepaskan diri dan langsung berdiri tegap di hadapan Adrian.


"Baby, katakan di mana Afika?"


"Kak, aku tidak tahu. Tadi tidurku sangat lelap jadi.."


"Hahahahah.. Prok. Prok. Prok." Tawa Farah sambil bertepuk tangan karena melihat akting kakak beradik yang ada di hadapannya ini sungguh luar biasa. Adrian pun menaikkan satu alisnya melihat tingkah Farah yang justru tertawa. "Lihatlah, kalian pikir aku akan tertipu dengan akting kalian? Cepat katakan dimana Afika berada" ucap Farah dengan lantang yang masih bersikeras menuduh jika Adrian dan Baby lah yang telah berhasil membawa kabur Afika dan menyembunyikan Afika, agar mereka tidak dapat menemukan Afika, sehingga dengan sangat mudanya bagi Adrian agar bisa menyiksa Afika.


Adrian tidak menjawab namun kini tatapan mata Adrian tertuju pada Baby, dan juga dua pengawal yang berada tepat di samping Baby.


"Kak, serius aku tidak tahu." Jawab Baby, tanpa mendengar sama sekali pertayaan dari Adrian. Namun, mata Adrian seakan berbicara dan bertanya di mana Afika dan kenapa bisa Afika pergi tanpa salah satu dari kalian yang melihat Afika keluar dari ruangan.


"Tadi saya ke kamar mandi, jadi saya tidak tahu tuan."


"Cepat cari istriku dan jangan pernah kembali sebelum kalian menemukannya." Titah Adrian yang tidak ingin terbantahkan lagi. Sehingga kedua pengawal itu langsung berlari menyusuri rumah sakit. Sedangkan Adrian langsung berjalan dengan cepat, di susul oleh Baby, Farah dan juga Siti. Adrian berjalan masuk ke ruangan staf dan meminta pada mereka agar menunjukka rekaman cctv rumah sakit. Dan saat Farah melihat jika Afika keluar dengan sendirinya, kini Farah tahu jika Baby dan Adrian sama sekali tidak ada kaitannya dengan hilangnya Afika. Begitu pun dengan Baby, ia sudah yakin jika bukan Farah lah yang membantu Afika untuk kabur.


"Nak Adrian, tolong temukan Afika. Dia sedang mengandung. Dan ini sudah larut malam. Tolong cari dia nak Adrian." Pinta Siti dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya. Ia khawatir jika sesuatu akan terjadi pada Afika, mengingat kondisi Afika saat ini belum stabil. Dan, juga Siti melihat dari dalam mata Adrian jika di dalam mata itu terdapat cinta. Apa lagi saat tadi, saat mendengar Adrian mengatakan istri. Dan dari situlah Siti berfikir jika memang Adrian sudah memiliki rasa cinta pada Afika.

__ADS_1


Adrian langsung meraih ponselnya dan menghubungi Rio, selaku asisten yang begitu sangat bisa untuk di andalkan. "Cari Afika, temukan dia. Dan bawa kembali ke rumah sakit." Ucap Adrian.


"Baik tuan."


•••••


Flashback.


Saat perut Afika benar-benar sangat lapar ia memutuskan untuk membangunkan Farah namun tidak di respon. Afika yang sudah tidak tahan memilih untuk keluar dari ruangan. Namun, saat ia mencoba melangkan, infus yang berada di tangannya membuat dirinya kesulitan dan merasa repot jika harus di bawah. Maka dari itu Afika memutuskan untuk melepas infusnya. Dan Afika yang melihat jaket Farah berada di atas sofa, langsung mengambil jaket tersebut dan di kenakan. Pintu ruangan terbuka. Mata Afika tertuju pada satu pengawal yang saat ini sedang duduk dalam keadaan tidur. Afika sembari tersenyum sambil melewati pengawal itu. Andai saja pengawal itu bangun, mungkin saja Afika akan meminta untuk di antar.


Perlahan kaki Afika menuntun dirinya hingga sampai ke warung kaki lima yang berada tidak jauh dari lokasi rumah sakit. Afika pun memesan makanan yang sejak tadi membuat ilernya hampir menetes. Dan saat makanan telah di hidangkan dengan sangar lahapnya Afika memakan hingga tak tersisa sedikit pun.


"Pak, bi. Maaf, tapi aku tidak punya uang." Kata Afika dengan perasaan malu dan bersalah. Sudah merasa kenyang namun tidak bisa membayar makanan yang telah ia makan.


Pemilik warung tersebut hanya tersenyum karena mereka hafal dengan pakaian yang di kenakan oleh Afika. Serangam rumah sakit yang tidak jauh dari warung mereka.


"Tidak masalah, malam ini gratis khusus untuk kamu." Ucap bibi sih pemilik usaha.


Namun tangan Afika tanpa sengaja merogoh saku jaket milik Farah dan menemukan sejumlah uang. "Bu, ini aku bayar. Ternyata ada uang di saku ku." Kata Afika dengan perasaan lega.

__ADS_1


Dan setelah membayar, Afika berniat untuk kembali ke rumah sakit. Namun langkah kaki Afika terhenti kala Afika mengingat sesuatu.


"Aku harus pergi." Ucap Afika dan membalikkan tubunya berjalan jauh dari rumah sakit.


__ADS_2