Menikah Karena Dendam

Menikah Karena Dendam
Apotek


__ADS_3

"Dokter Aina," sapa Nathan sambil berjalan menyeimbangi langkah Aina.


"Eh dokter Nathan," Aina tersenyum kearahnya.


"Kulihat tadi dr Aina sedang makan siang bersama kekasihnya."


Senyum manis Aina tergantikan dengan raut datarnya. "Oh itu, dia adikku," sahut Aina.


"Adik!?" Nathan menatap Aina penuh selidik. "Bukankah kamu tidak punya adik?" Masih menatap dengan penuh tanya.


"Iya. Adik, walaupun bukan adik kandung ataupun adik tiri tapi kami selalu hidup berdampingan layaknya keluarga."


"Tapi kalian kulihat lebih layak di sebut sebagai sepasang kekasih daripada kakak beradik."


Aina terdiam mendengar penuturan rekannya.


"Hahaha... dr Nathan bisa aja," terdengar tawa sumbang dari mulut mungil Aina.


"Aina. Tunggu!" Aina berbalik saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang sangat di hafalnya. Dengan gerakan malas ia berbalik, begitupun dengan lelaki yang ada disampingnya.


Daffian menatap dr Nathan dengan tatapan menilai bahkan ia menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Owh jadi ini lelaki yang kamu maksud sebagai pacarmu."


Aina memejamkan matanya sesaat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Daffian. Ia melirik kearah Nathan dengan rasa sungkan.


"Lelaki tua seperti dia adalah kekasihmu!" Lagi, ucapan itu membuat Aina semakin merasa tidak nyaman dengan dokter senior yang berada disampingnya.


Aina menarik tangan Daffian dan membawanya kepojokan.


"Dr Nathan, ma'afkan dia. Mulutnya tidak bisa dikontrol," ucap Aina.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti dengan sikapnya," sahut dr Nathan.


Aina menarik tangan Daffi seperti layaknya seorang ibu yang menarik tangan anaknya.


"Kamu kenapa mengikutiku sampai kemari?" tanya Aina menatap tajam kearah Daffi.


"Aku hanya ingin melihat pacar yang kamu bilang tadi." Merasa tidak bersalah.


"Aku sudah bilang padamu bukan, kalau aku yang akan membawanya kehadapanmu sendiri," sahut Aina.


"Sebaiknya kamu pulang dan urus pekerjaanmu. Atau kamu memang tidak punya pekerjaan hingga menguntitku sampai kemari," Aina melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Daffi.


"Pekerjaanku sudah selesai dan aku ingin menemanimu sebentar."


Aina mendesah. "Aku hari ini ada jadwal operasi. Sebaiknya kamu pulang saja nanti mama Rika mencarimu," sahut Aina.


"Hei! Aku bukan anak kecil yang hilang dari jangkauan orang tuaku. Apa kamu tidak melihat kalau diriku sedewasa ini." Merasa tidak terima dengan ucapan Aina.


"Sudahlah Daffi, aku tetap menganggapmu sebagai seorang adik." Aina menatap serius Daffi yang terlihat merasa frustasi.

__ADS_1


"Aku akan menjemputmu nanti!" Daffi melangkah meninggalkan Aina yang terpaku menatapnya.


Aina merasa tidak tega melihat Daffi yang kehilangan senyumnya. Pemuda itu sangag manis di matanya bahkan ia yang selalu melindungi Aina.


***


Sementara itu ditempat lainnya, Daffa dan Anggia keluar dari kantor Angga dan bertemu dengan Akhmar.


"Anggia. Sedang apa kamu disini?" Menatap Anggia dan Daffa bergantian.


"Oh aku tau. Kamu baru saja mengunjungi calon mertua?" terkekeh menatap Daffa.


"Apa maksud dari ucapanmu tersebut?" Daffa menatap tidak suka kearah Akhmar. Ia merasa kalau Akhmar mempunyai tujuan pada mereka.


"Tidak ada. Aku hanya menyapa Anggia saja. Apa itu salah?" Menatap Daffa dengan gaya menantang.


"Memangnya siapa dirimu?" tanya Daffa lagi. Ia mendelik kearah Anggia yang menatap Akhmar dengan tenangnya.


"Aku? Kenapa kamu harus tau. Aku tidak ada urusan denganmu," Akhmar terlihat tidak perduli dan kembali menatap Anggia.


"Tapi yang kamu perhatikan sejak tadi itu calon istriku!" Daffa tersulut emosi karena rasa cemburu. Ia tidak suka ada lelaki lain yang dekat dengan Anggia apalagi tidak ada hubungan apapun juga diantara mereka.


"Daff, sudah. Lebih baik kita pergi saja!" sahut Anggia sambil menarik tangan Daffa berjalan kearah mobil mereka. Meninggalakan Akhmar yang menatap geram kearah mereka.


"Siapa lelaki tadi? Apa kamu mengenalnya?" Masih dengan nada jengkel.


"Dia hanya temanku. Kamu tenang saja, cintaku kesemuanya hanya milik kamu seorang," menggenggam tangan Daffa.


"Kamu ikut ke kantorku atau aku antar pulang?"


"Aku pulang ke rumah saja, rasanya aku cukup lelah," sahut Anggia.


Daffa mengangguk. Tangannya bergerak membelai surai panjang Anggia.


"Nanti sampai rumah, kamu harus istirahat. Aku tidak mau mempelai wwnitaku sakit di saat hari penting nanti," menepuk pipi Anggia lembut.


"Iya. Aku janji akan menjaga kesehatanku agar tidak sakit," sahut Anggia.


Drt drt drt


Handphone Anggia berbunyi, Anggia melihat nama penelponnya. Ia segera mematikannya dan mengetik pesan serta mengirimkannya.


"Siapa?" tanya Daffa melirik sekilas pada Anggia. Ia kembali menatap kearah depan sambil menyetir.


"Mama!" sahut Anggia sedikit berbohong.


"Kenapa dimatikan, angkat saja. Tidak apa-apa kok!" sahut Daffa.


"Tidak usah. Mama hanya memeriksa saja apakah handphone milikku aktif atau tidak."


Daffa hanya mengangguk ia kembali fokus dengan jalan. Sedangkan Anggia menatap keluar jendela sesekali melirik kearah bayangan Daffa yang terlihat dari kaca jendela mobil tersebut.

__ADS_1


"Daff sebaiknya kita singgah dulu di apotek itu!" tunjuk Anggia pada apotek yang berada tidak jauh didepan mereka.


Daffa segera meminggirkan mobilnya dan memarkirkannya tepat didepan apotek.


"Kamu ingin membeli apa sayang?" Daffa melepaskan sealtbethnya.


"Kamu tunggu disini saja. Aku hanya sebentar saja kesana. Suplemen vitaminku habis, jadi aku ingin membelinya lagi," Anggia tersenyum sambil membuka pintu.


"Baiklah. Aku akan menunggumu disini. Sebaiknya kamu hati-hati, sayang."


Aina mengangguk dan berjalan meninggalkan Daffa yang menunggu didalam mobilnya.


Saat Anggia menunduk, tanpa sengaja ada seseorang yang menabrak dirinya hingga membuat ia terhuyung.


"Ma'af. Om tadi agak tergesa jadi tidak sengaja menabrakmu." Lelaki kisaran 50 tahun tersebut menolong Anggia.


"Tidak apa-apa, Om." Anggia tersenyum dan mengangkat kepalanya.


Lelaki paruhbaya tersebut terdiam menatap gadis yang tersenyum didepannya. Ia terpaku pada senyu. yang sama persis dengan senyum seseorang wanita yang pernah di kecewakan olehnya di masa lalu. Belum sempat ia menanyakan tentang Anggia. Anggia sudah berlalu dari hadapannya.


"Hei. Tunggu!"


Anggia tetap melangkah karena ia tidak mendengar sama sekali panggilan dari lelaki paruhbaya tersebut.


"Tuan! pertemuan kita dengan klien tinggal 15 menit lagi." Lelaki di sampingnya membuyarkan lamunannya.


"Apa ada masalah, Tuan?" tanya lelaki jangkung tersebut. Ia ikut menatap objek yang sejak tadi ditatap oleh Tuannya.


"Kamu periksa identitas gadis yang kutabrak tadi. Aku ingin laporannya besok harus sudah ada di atas mejaku."


"Baik, tuan!"


Beberapa menit kemudian.


"Sudah?" tanya Daffa saat Anggia memasuki mobil.


Anggia mengangguk, "Ayo kita jalan sekarang."


Mobil mereka kembali melaju membelah jalanan untuk menuju kediaman Anggia. Setelah beberapa menit kemudian, sampailah mereka didepan rumah Anggia.


"Kamu istirahat ya sayang, aku tidak mau loh melihat kamu sakit!"


Anggia hanya mengangguk saja. Daffa meraih kepalanya dan mengecup dahinya singkat.





*******

__ADS_1


__ADS_2