
ikan ikan di kolam bergerak kegirangan ketika rai menaburkan makanan ikan "waw.. ikan nya jinak dengan mu ya dia mau di pegang" kata jeny "karena dari saat dia masih kecil saya yang merawat nya nona" kata rai "byurrr.. jrazzzz" jeny basah di saat ikam itu melompat ke udara "ahh... dasar anak anak lisa nakal" kata jeny "haha.. dia akan begitu nona saat ingin di sentuh orang lain" kata rai "siapa anak ku? " lisa datang dengan kemeja putih rambut pendek nya bergerak sedikit saat tertiuo angin "kau tau apa yang ikan mu lakukan lihat aku basah" kata jeny lisa tertawa "anak anak papa kenapa kalian melakukan ini pada mama" kata lisa "dasar gak waras" jeny pergi "jen ikan nya bilang minta maaf pada mu" kata lisa "ikan tidak bisa bicara!! " seru jeny di kejauhan.
di dalam kamar
"lisa!! kau membuat ku kaget " kata jeny "kenapa aku cuma ingin duduk" kata lisa "kau baru melukis? " tanya lisa "iya" kata jeny sambil mengeringkan rambut nya "humm.. aku" kata lisa "aku ingin kau membantu ku" kata lisa "bantu apa? " tanya jeny "jadi patner ku besok ke Filipina " kata lisa "apa!! jauh banget " kata jeny "iya teman lama ku menikah di sana sial nya mereka sudah mendengar rumor kalau kau pacar ku " kata lisa "kak Daichi memberi tau semua nya" kata lisa "hum...baik lah tidak masalah tapi kau harus izin pada kakak ku" kata jeny "baik lah terimakasih ya" kata lisa "anggap saja sebagai hadiah terimakasih karena kau membiarkan ku tinggal di rumah mu" kata jeny "apaan.. ini bukan hadiah nama nya" kata lisa "kenapa? " kata jeny "Karena mau berapa lama pun kau tinggal di rumah ku aku tidak akan meminta imbalan sedikit pun dengar ya anak bodoh " lisa duduk di dekat jeny "baik lah hadiah apa yang kau inginkan sebagai ucapan terimakasih atas kebaikan keluarga mu pada ku" kata jeny "aku mau kau melukis ku dengan mu di samping ku aku memakai jas dan kau memakai dress" kata lisa "aku tidak keberatan" kata jeny.
"Hai tampan" beberapa gadis menyapa fudo "bersulang! " kata danmi "bersulang" sahut yang lain "kenapa kau terus yang di sapa para gadis aku kan juga mau" kata amin "hahaha.. sabar.. nanti juga ada" kata endo "hai " seorang bartender datang mendekati riki "ini minuman untuk mu dari pria itu" bartender menunjuk seorang pria yang duduk di sofa dengan gaya yang sangat cool di tambah badan nya yang terlihat kekar "puff.. haha.. ku fikir dari seorang gadis" kata amin "iya terimakasih tuan" kata riki "ku yakin pria itu homo " kata pam "ya jelas lah masa dia memesan minuman untuk riki kan gak waras nama nya" kata endo "hei apa aku kurang maco? " kata riki "kurang segala nya" kata fudo "aku tidak butuh jawaban mu" kata riki "ku rasa kau cukup maco" kata pam "aku jadi merinding" kata riki "jangan takut ada aku di sini" kata danmi "tuan minuman untuk mu dari gadis di sebelah sana" kata bartender pada fudo "dia dapat lagi kali ini minuman ke berapa" kata amin "ke dua belas" kata endo "hei lihat gadis yang itu dia terlihat misterius sekali dia ke bar dengan memakai hoodie" kata endo "benar ya tapi celana jogger nya keren sih dia juga cool ku fikir dia seorang pria tadi" kata amin "itulah wanita tomboy terkadang menipu mata dia terlihat seperti pria padahal dia wanita" kata pam "sebaiknya hati hati dengan nya" kata fudo "kenapa? " kata danmi "dia membawa sesuatu di saku celana nya lihat dan perhatikan baik baik saku dengan lutut nya" kata fudo "itu hanya pena gak sih" kata riki "itu pisau aku juga ada dia bentuk nya seperti pena tapi sebenarnya itu bukan pena kemungkinan dia memiliki senjata tersembunyi lainnya " kata fudo "perhatikan lagi dia memiliki bodyguard " kata fudo "mata mu jeli sekali ya" kata danmi sambil menatap gadis Berhoodie itu pergi "jangan kan orang dia bahkan tau benda tersembunyi" kata amin "ayo ayo bersulang lagi" kata danmi "tap" fudo mengambil minuman milik riki "kenapa? " kata endo "kalian jika ingin minum perhatian lagi lihat ini..! minuman ini sudah di campur obat gak percaya minum min" kata fudo "kok aku" kata amin "biar aku minum" kata pam "gluk gluk gluk gluk" riki menatap pam "apaan aku gak papa" kata pam "hitungan mundur " kata fudo "masa ada orang seteliti itu dia lebih hebat dari kakak jika benar" fikir danmi "aku gak papa gak ng--" pam menjatuhkan kepala nya ke atas meja "yap dia langsung tidur kan" kata fudo "woahh" kata amin "kau hebat" kata danmi "ayo bersulang untuk mu" kata danmi.
"clap" jeny melukis dengan tenang Mengoleskan cat ke kanvas "kau pernah sekolah melukis? " tanya lisa "tidak pernah" kata jeny "lalu bagaimana bisa? " kata lisa "ini sudah menjadi kebiasaan ku saat di rumah sakit dulu mereka menyuruh ku untuk melukis atau menggambarkan apa yang aku lihat di fikiran ku jadi aku malah kecanduan" kata jeny "oh ya aku lupa aku akan menelpon kak riki dulu" kata lisa.
"tringg" gelas kembali beradu "ayo minum yang banyak" kata danmi "tunggu" kata riki sambil mengeluarkan ponsel nya "adik menelpon haha aduh.. kenapa tidak bisa di angkat" kata riki "sini aku bantu" kata danmi "nah bicara lah" kata danmi "halo.. adik" kata riki "oh ya.. selamat bersenang-senang.. ya. pergi saja.. oke.. ya ya tidak masalah bye" kata riki "siapa? " tanya fudo "saudara" kata riki "aku mulai haus lagi" kata amin "ayo tambah lagi" kata endo "aku tidak boleh mabuk" kata fudo dalam hati.
dengan tangga lisa memajang lukisan jeny di kamar nya "ini sudah baik sekarang ayo tidur kita akan ke bandara besok" kata lisa "iya" kata jeny "tapi lisa.. aku takut besok berpakaian yang tidak sesuai" kata jeny "tenang saja semuanya aman ayo lah" kata lisa "baik lah" lisa baik ke atas ranjang "good night jen" kata lisa.
pesawat mendarat dengan baik "ayo hati hati" kata lisa "kenapa pesawat nya isinya cuma kita aja bersama bodyguard mu? " tanya jeny "aku menyewa satu pesawat ini " kata lisa "apa kau tidak waras? " kata jeny "jujur aku penasaran seberapa kaya orang di samping ku ini" kata jeny dalam hati "itu mobil nya" kata lisa "teman mu itu orang Filipina asli atau orang Indonesia" kata jeny "dia orang Indonesia cuma suami nya orang Filipina" kata lisa "kita akan ke toko pakaian lalu cari hadiah" kata lisa "aku akan ikut saja apa kata mu" kata jeny.
"lisa.. " lisa menoleh mendengar suara jeny dia terdiam sesaat melihat jeny dengan dress berwarna biru "glek" lisa menelan liur nya memperhatikan jeny dari atas ke bawah "bagaimana? " kata jeny "hum.. hm.. kau kau sangat cantik" kata lisa "bagaimana dengan style jas blazer ku? "tanya lisa " sangat baik kau terlihat seorang pembisnis "kata jeny " kau ini memang bodoh aku kan seorang pembisnis "kata lisa " hadiah? "kata jeny " sudah siap"kata lisa "aku tidak lihat" kata jeny "ini" lisa menunjukkan kotak kecil "cincin isinya? " kata jeny "bukan tapi kunci kapal persiar" kata lisa.
di depan pintu sebuah gedung besar "ini besar banget aku mau lari rasa nya" kata jeny dalam hati "grebb" lisa menggandeng tangan jeny "ayo kita masuk" kata lisa jeny melihat sekitar nya "kak riki ketahuilah kaki ku lemas sekali" kata jeny dalam hati lisa dan jeny duduk di kursi yang telah di sediakan "sekarang kalian telah sah menjadi suami istri" para tamu undangan bertepuk tangan dengan meriah "eh??? " jeny memperhatikan pengantin nya lalu menatap lisa "kenapa? " kata lisa "mereka " kata jeny "iya wanita dengan wanita" kata lisa beberapa gadis langsung berlari ke tengah membua jeny kebingungan "mereka sedang apa? " kata jeny "mereka sedang bersiap untuk menangkap buket bunga yang di pegang pengantin" kata lisa "ohh.. " kata jeny "siap semua nya!! " seru mc "siaaapppp!!! " sahut para gadis yang sudah bersiap siap untuk menangkap bunga itu "kau tidak ikut? " kata lisa "tidak lagian aku kan belum punya pasangan" bisik jeny "aahhh" kata gadis berteriak saat bunga di lempar oleh mempelai wanita
__ADS_1
"astaga bunga tangkap"
"ambil cepat"
"milik ku"
"aku"
bunga itu melayang di udara para gadis berebutan "tap" satu gadis gak sengaja memukul bunga itu "awas jen" lisa menarik jeny ke pelukan nya ketika bunga itu mengarah ke jeny "tap! " lisa menangkap bunga itu semua tamu menatap ke arah lisa "kau tidak papa? " tanya lisa jeny mengangguk "wah.. dia teman ku" kata mempelai dengan gaun pengantin berwarna putih "lisa selamat ya.. " kata mempelai itu lisa melambaikan tangan sekali lalu menatap jeny "aku gak papa cuma kaget aja" kata jeny lisa tersenyum "syukur lah" kata lisa "ayo berikan kado nya" kata jeny "ayo " kata lisa "kau saja " kata jeny "tidak kau harus ikut" lisa menarik jeny menghampiri pengantin "bunga mu ini hampir mengenai nya" kata lisa sambil memberikan bunga yang dia tangkap tadi "oh.. kau marah ya.. dia gf mu? " lisa menatap jeny "menurut mu" kata lisa "semoga bahagia" lisa memberikan kado nya ke mempelai yang memakai gaun putih sepanjang lutut "terimakasih" kata nya "lisa jangan pulang dulu ayolah bersenang-senang menari dulu lah" lisa menatap jeny musik menyala beberapa orang juga mulai menari "ayolah lisa ayo bergabung oh ya siapa nama mu" mempelai dengan gaun panjang menatap jeny "dia bilang apa? " kata jeny "astaga aku lupa " kata lisa "dia bertanya nama mu" kata lisa "nama dia jeny dia tidak tau bahasa di sini" kata lisa "oh halo jeny" jeny tersenyum "halo aku jeny " kata jeny
"maaf ya aku lupa kalau kau gak ngerti bahasa di sini"
"kau mau kan menari di sini sebentar bersama kami"
"humm.. aku terserah pada lisa "
"lisa... menari ya"
lisa mengangguk "baik lah" kata lisa lalu dia menatap jeny "mari menari" kata lisa.
__ADS_1
dalam perjalanan menuju hotel...
lisa mengecil kan musik yang dari tadi dia nyalakan "jen" kata lisa "hm? " jeny menatap lisa "hum.. jujur aku sedikit mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal ini pada mu" kata lisa "apa? " kata jeny "hum.. bagaimana kalau kita mencoba menjalin hubungan" kata lisa "hm? " jeny mengerutkan dahinya "maksud ku seperti ini hum.. kita membuat hubungan bohongan ini menjadi nyata tidak ada salah kan kita mencoba dulu" kata lisa jeny terdiam dia teringat perkataan danmi waktu itu "kau serius? " kata jeny "iya aku ingin kita mencoba nya mungkin beberapa bulan ke depan " kata lisa "setidaknya kau tidak canggung di depan keluarga ku" kata lisa dalam hati "bagaimana ini? apa aku mencoba nya" fikir jeny "tapi aku masih ragu apa aku benar benar mencintai lisa atau hanya sekedar suka" fikir jeny "tidak usah terburu buru fikir kan saja dulu " kata lisa "tapi bagaimana jika --" kata jeny "jika kita gagal dalam percobaan ini ya setidaknya kita bisa jadi teman yang terpenting kita sudah mencoba nya atau berusaha membuat hubungan ini jadi sungguhan" kata lisa.
di dalam kamar...
ponsel di letaknya ke atas meja jeny duduk di sofa "minum ini" kata lisa "iya" kata jeny sambil meneguk segelas air mineral "lisa.. " kata jeny "hmm" lisa menatap jeny "aku masih ragu jika mengambil keputusan sekarang bisakah besok aku memberitahu keputusan ku" kata jeny lisa tersenyum lalu mengusap rambut jeny yang panjang "tentu " kata lisa "dalam menjalan hubungan kita perlu berfikir berkali-kali agar tidak salah aku mau cuci muka dulu dan berganti pakaian lalu tidur" kata lisa "iya" kata jeny "apa aku coba tanya ke yang lain ya " fikir jeny.
pagi hari yang cerah..
"adik ku ke Filipina tapi tak bilang aku" kata riki "apanya yang gak bilang kau saat itu sudah mengizinkan adik mu pergi aku mendengar nya di bar" kata fudo "kapan" kata riki "maka nya kalau gak kuat minum banyak jangan sok minum banyak banyak" kata amin "kau juga bego" kata fudo "mana sekarang jeny gak aktif di telpon" kata riki.
nampan berisi gelas kotor di letakan ke dalam sebuah ember "semoga saran ku gak salah" kata Agnes "aku juga " kata bob "boy tau gak ya soal jeny yang akan menjalan hubungan dengan lisa" kata Agnes "pasti dia sudah tau" kata joe sambil menyerah kan secarik kertas ke koki "jangan bahas lagi sekarang fokus kerja " kata joe.
"hum?? " jeny membuka mata nya melihat ke arah jam "sial udah jam sembilan" kata jeny dia melihat sekeliling namun lisa tidak ada di ruangan itu "anak bodoh kenapa tidak bangun kan aku" kata jeny "kau sudah sadar? " lisa datang dengan membawa makanan "kenapa? " kata lisa "kenapa tidak bangun kan aku? " kata jeny "siapa yang akan tega membangun orang yang tidur seperti bayi" kata lisa "bayi apaan" kata jeny "aku mencari sarapan untuk mu kau mau sarapan atau mandi dulu? " tanya lisa "mandi" kata jeny.
jeny keluar dari kamar mandi "lisa.. di mana pakaian ku? " kata jeny "di lemari paling kiri" kata lisa "kenapa tipis semua padahal aku bawa baju yang agak tebal" kata jeny lisa berdiri "ini " dia memberikan pakaian ke jeny "teliti kalau nyari" kata lisa "itu terlalu tinggi gimana aku bisa lihat" kata jeny "kau cukup panggil aku dan aku akan bantu kau melihat nya" kata lisa"minggir aku mau memakai pakaian "kata jeny.
lisa duduk sambil meneguk minuman nya " sudah selesai? "tanya lisa " sudah kok"jeny duduk di samping lisa "oatmeal? " kata jeny "iya ku rasa ini enak" kata lisa "ah.. kau saja yang makan aku akan keluar" kata jeny "eh.. tunggu" lisa menahan tangan jeny "kau mau ngapain? kau mau keluar dengan celana minim?" kata lisa "aku memakai baju oversize bisa menutupi paha ku , lepas aku mau cari sesuatu di luar" kata jeny "hei hei" lisa tetap menahan jeny "bagaimana kau bicara pada mereka? " tanya lisa "bicara seperti biasa memang nya bahasa negara kita sudah ganti? " kata jeny "sini" lisa menarik jeny ke pangkuan nya lalu menunjukkan ponsel nya ke jeny "sial kita di Filipina ya? " kata jeny "udah sadar? " kata lisa "sih.. " jeny berdiri "kau mencuri kesempatan dalam kesempitan" kata jeny "aku cuma ingin kau sadar saja, jadi kau tidak ingin makan oatmeal ini? "kata lisa " tidak mau "kata jeny " aku ingin makan makanan yang sedikit pedas"kata jeny "pedas? " kata lisa "iya" kata jeny "baik lah tunggu di sini" kata lisa sambil berdiri dan pergi "kok bisa sampai ke Filipina ya" fikir jeny "oh astaga aku ingat.. kemarin kan astaga kok bisa gak nyadar ya" kata jeny "nih" lisa datang "ramen dengan daging " kata lisa "woah" kata jeny "kau suka? " kata lisa "suka" kata jeny sambil membuka bungkus sumpit "makan pelan pelan" kata lisa.
__ADS_1
setelah selesai makan lisa mengajak jeny duduk di teras "kota nya luas ya kalau di lihat dari sini" kata jeny "tentu saja" kata lisa "hah!! " jeny teringat sesuatu pesan balasan dari teman temannya lisa menatap ekspresi jeny berubah "ada apa? " kata lisa sambil berdiri di dekat jeny "hum.. " jeny menatap lisa "ada apa jen? " kata lisa "aku ingat sesuatu tentang tadi malam " kata jeny "soal kebohongan kita? " kata lisa "iya" kata jeny "aku ak.. aku sedikit takut untuk mengubah nya menjadi kenyataan " kata jeny "kau ada aku di sini" kata lisa "aku.. " jeny menatap lisa "kau akan mencoba nya kan bersama ku atau sebaliknya? " kata lisa "meskipun ragu aku akan memilih sebaik nya mencoba menjalin hubungan dengan mu" kata jeny "sungguh? " lisa tersenyum senang "tapi entah kenapa aku masih saja merasa cemas" kata jeny lisa memeluk nya "apa yang membuat mu cemas? aku ada bersama mu kau tidak sendiri" kata lisa "tetap saja aku aku merasa tidak tenang seolah olah akan ada hal buruk di hari yang akan datang" kata jeny "jangan kawatir" kata lisa "dan ini arti nya kita jadian? " tanya lisa "kapan kita jadian? " kata jeny "oke oke hum" lisa memegang tangan jeny "jeny.. mau jadi pacar ku " kata lisa "tidak lisa" kata jeny "jeny... kau tadi sudah setuju" kata lisa jeny tersenyum "jen.. " kata lisa "iya iya aku cuma bercanda" kata lisa "kau membuat ku takut" kata lisa "ulang ulang" kata jeny "jeny... mau jadi pacar ku gak? " tanya lisa "tentu " kata jeny lisa tersenyum senang "kenapa kau menangis? " tanya jeny "aku terharu akhirnya bisa jadi pacar mu" kata lisa "dasar bodoh" kata jeny "kau mengatakan pacar mu bodoh" kata lisa jeny tersenyum "lisa.. tapi jika ini berakhir tidak ada yang boleh saling --" kata jeny "ku rasa ini tidak akan berakhir" kata lisa "kedepan nya kita akan bersama" kata lisa sambil kembali memeluk jeny dengan begitu erat seolah olah jeny akan pergi jauh dari nya.