
pagi hari yang cerah jeny membuka matanya perlahan melihat ke arah jam "humm.. humm" jeny berdiri dan langsung pergi ke kamar mandi dia menatap wajahnya di cermin. lisa membuka pintu rumah jeny terlihat rita sedang memasak "bibi jeny di rumah? " tanya lisa "iya.. dia di rumah dari semalam" kata rita "oh.. oke" lisa langsung ke atas mengetuk kamar jeny namun tidak ada jawaban "mampus aku.. dia pasti benci aku" kata lisa di tambah tadi malam dia mendengar dari riki tentang apa yang di katakan oleh jeny "huff.. tenang... ini cuma salah paham" fikir lisa lalu dia kembali mengetuk pintu kamar jeny "hum.. ya bibi aku sedang mandi" terdengar suara dari dalam kamar "aku tunggu di bawah deh" kata lisa.
"tap.. tap.. tap. tap" ada suara dari arah tangga "bibi aku lupa menaruh obat mata, bibi tau tidak? " kata jeny "kau ini selalu lupa, bibi sudah simpan" kata rita "aah.. syukur la--" jeny terdiam melihat lisa sudah duduk di meja makan "nanti antar ke kamar bi" jeny langsung berbalik "eh.. jen.. jeny!! " lisa langsung berlari mengejar jeny "jeny.. jeny tunggu" lisa menarik tangan jeny "jen, aku bisa jelaskan semuanya" kata lisa jeny menatap lisa dengan tenang dan datar "apa yang kau bicarakan? " kata jeny "kau pasti mengira wanita yang waktu itu pacar ku? aku datang mencari mu tapi kau menghilang entah kemana aku mencari mu aku mau menjelaskan pada mu tentang wanita kemarin di--" kata lisa "apa peduli nya dengan ku? " kata jeny "aku tau aku tau kau tidak peduli tapi ku mohon dengar kan aku.. wanita semalam bernama adsila dia dulu orang yang meninggalkan ku.. sungguh sekarang kami tidak memiliki hubungan apapun, dia mengejarku dan memaksa ingin kembali pada ku, aku menolak nya" kata lisa "jadi dia bukan pacar ku jen, percayalah pada ku.. hum.. kalau kau tidak percaya aku bisa membawa boy sebagai saksi" kata lisa "bukan kah itu rekan bisnis kata bright? " kata jeny "itu bohong sebenarnya aku ingin mengajak mu makan berdua, tapi kau malah pergi jadi aku mengikuti mu dan berbohong kalau aku akan bertemu rekan bisnis" kata lisa "aku menyesal berbohong pada mu, aku tidak akan mengulangi nya lagi tolong maafkan aku" kata lisa "apa maksudnya dengan mengatakan hal seperti ini pada ku? " kata jeny "aku takut kau marah pada ku, kau waktu itu langsung pergi membuat ku takut maaf jen..maaf " kata lisa "jadi kau fikir aku cemburu? " kata jeny lisa terdiam menatap wajah jeny dan baru menyadari mata jeny terlihat sangat merah "jangan terlalu percaya diri, aku tidak peduli kau dekat dengan siapapun mau rekan bisnis atau pacar aku tidak mau tau soal itu jadi bisa kau pergi dari hadapan ku? " kata jeny "mata mu apakah sakit? " kata lisa "jangan mengalihkan pembicaraan" kata jeny "oke oke kau memang tidak peduli aku dengan siapa pun tapi aku peduli padamu aku ingin menjaga perasaan mu, tidak ingin mau berfikir yang bukan bukan tolong jangan usir aku terus menerus biarkan aku ada di dekat mu" kata lisa "ku mohon"lisa berlutut di hadapan jeny "jika kau ingin marah lampiaskan saja, apapun yang kau rasa katakan saja padaku aku rela melakukan apa saja asal aku ada di dekat mu dan tolong maafkan aku" kata lisa jeny terdiam "aku benar-benar di hantui rasa bersalah karena aku berbohong, aku benar-benar menyuruh boy untuk menghabisi ku malam itu.. maaf jeny" kata lisa "jen!! sarapan sudah siap" kata rita "ya bibi aku akan datang" kata jeny lisa masih diam di posisi nya jeny masuk ke dalam kamar memakai kaos kaki dan juga baju lengan panjang lalu kembali keluar terlihat lisa masih berlutut di lantai "bagun lah" kata jeny lisa menggelengkan kepalanya "jika kau menyuruh ku pergi setelah bangun maka biarkan aku berlutut sampai akhir" kata lisa "kalau begitu lakukan saja" jeny langsung pergi.
"mati kau! " boy menyingkirkan catur milik jin "ahh.. kau tega banget" kata jin "kau lengah sih fokus dong" kata boy "kau main berapa kalipun boy akan menang" kata Jack "kau sedang menggoda ku ya" kata boy "haha.. tapi memang benar apa yang di katakan Jack kau selalu menang" kata jin "oh ya ngomong ngomong gimana dengan lisa dan jeny? " kata Jack "lisa masih mengejar jeny tapi jeny masih menutup rapat dirinya kau tau lah kondisi jeny gimana" kata boy "iya juga ya" kata jin "kenapa kau tidak membantu lisa? " tanya Jack "itu cinta nya dan dia harus berusaha sendiri" kata boy "benar itu" kata jin.
__ADS_1
malam harinya...
"apa kau habis menangis?" tanya pria di samping jeny "tidak aku tidak pernah menangis" kata jeny "mata sangat merah mu fikir kau menangis semalaman" kata pria itu "aku bukan dirimu" kata jeny mobil berhenti di luar gerbang.
jeny membuka pintu meletakan barang bawaan nya ke atas meja "haaching" jeny bersin dia melepaskan sepatunya lalu naik menuju kamarnya jeny berhenti berjalan melihat lisa masih diam bahkan posisi nya gak berubah jeny langsung masuk ke dalam kamar nya dan pergi mandi "shhh.. aduh duh duh.. tubuh mu rasanya hancur" kata jeny sambil melihat ke arah cermin terlihat beberapa goresan di pinggang nya "gak papa nanti terbiasa" jeny langsung menyalahkan shower.
__ADS_1
jeny membuka kulkas mengambil es batu terlihat lisa datang "huf.. setidaknya dia berhenti berlutut" kata jeny dalam hati, "aku akan siapkan makanan untukmu" kata lisa "aku sudah beli" kata jeny sambil menatap ke arah meja lisa membuka bungkus makanan terlihat banyak makanan yang di beli oleh jeny lisa segera memanaskan nya jeny menuang minuman ke dalam gelas lalu duduk menunggu lisa menyiapkan makanan untuk nya.
makanan memenuhi meja jeny melihat lisa sedang minum dengan tangan yang sedikit gemetar jeny mengambil sendok "kau membeli makanan sebanyak ini" kata lisa "aku sangat lapar" kata jeny sambil mengambil sepotong ayam bakar lalu mulai memakannya lisa menatap jeny sambil melahap makanannya "duuh.. lutut ku rasanya sakit sekali" kata lisa dalam hati "kaya nya aku membeli makanan berlebihan" fikir jeny lalu dia mengambil tisu lalu meneguk minuman nya lalu menatap lisa yang masih makan tak lama kemudian lisa terlihat selesai makan lalu menatap jeny menyadari lisa melihat ke arahnya jeny langsung membuang muka "kau sudah selesai? " tanya lisa "hm" jeny mengangguk "aku akan bereskan" lisa langsung berdiri jeny melihat lisa yang sedang membereskan meja lalu pergi mencuci piring, jeny menatap ponsel nya melihat pesan dari boy "hei jen, apa kau melihat lisa? dia menghilang sejak kemarin karena mencari mu, aku tidak ingin mengatakan apapun tapi kemarin lisa menangis dan terlihat cemas sambil mencarimu jika kau melihat nya kabarin aku" jeny kembali menatap lisa yang masih mencuci piring "aku tidak melihat nya" jeny membalas pesan boy.
lisa menghampiri jeny "kembali ke kamar mu" jeny langsung pergi "eii jen" kata lisa jeny yang masih tangga berhenti dan langsung menoleh "aku tidur di sini? " kata lisa jeny tidak menjawab dia langsung lanjut ke kamar nya. lisa pun berjalan ke menuju kamar tempat nya tidur dulu dia membuka pintu dan melihat kamar nya masih rapi lisa membuka bajunya melihat ke dalam lemari mengambil handuk "eh.. tunggu" lisa langsung menjatuhkan handuk dan pergi ke kamar jeny "tok.. tok.. " jeny menoleh ke arah pintu "eii jen" kata lisa "kau mau apa lagi? " kata jeny dari dalam "kau belum mengobati mata mu, aku sudah membawa nya" kata lisa jeny membuka pintu "mata mu masih terlihat merah, obati dulu sebelum tidur" lisa menyodorkan obat tetes mata ke jeny "dari mana? " tanya jeny "dari dapur hum kotak putih" kata lisa jeny langsung mengambil obat itu lalu menutup pintu "jen jangan lupa minum obat" setelah selesai bicara lisa langsung pergi.
__ADS_1
keesokan nya..
bright datang jeny membuka pintu "dia belum bangun" kata jeny "baik nona" kata bright sambil masuk mengikuti jeny "duduk saja" kata jeny bright mengangguk tak lama kemudian lisa datang "bright? " lisa melihat bodyguard nya sudah ada di depan jeny "nona lisa" kata bright "hum.. ya" kata lisa "hum.. sa.. sa" bright mendadak gugup "kau harus pergi, aku memanggilnya untuk membawa mu" kata jeny "kau menyuruh ku pergi? " kata lisa jeny tidak menjawab "hum.. nona hari ini ada jadwal" kata bright lisa melihat ponsel nya panggilan tak terjawab dari Daichi sangat banyak "ayo kita pergi" kata lisa sambil melirik ke arah jeny yang diam saja "jangan lupa minum obat mu" kata lisa sambil memakai sepatunya dan pergi keluar. jeny melihat lisa sudah pergi langsung bersiap untuk pergi "kita harus latihan" kata jeny dalam hati dia memakai sepatu nya lalu pergi keluar rumah.