Merakit Cermin Yang Hancur

Merakit Cermin Yang Hancur
ikan yang menyebalkan


__ADS_3

cahaya matahari masuk ke dalam kamar ketika fudo membuka jendela kamar nya.


"bangun!" kata fudo "zz... " riki masih tidur "dibilang jangan menari lagi malah mabuk dasar anak bodoh" ujar fudo "bangun riki sudah pagi nih" kata fudo, jeny mengetuk pintu kamar riki "kakak!!! kakak!!! ayo sarapan" kata jeny "pagi jeny" kata pam sambil berjalan melewati jeny "pagi juga" kata jeny "kakak bangun !!! yang lain sudah bangun" jeny membuka pintu nya kamar nya kosong tidak ada siapa pun di dalam "hilang? apa kakak ketinggalan ya di acara semalam?" fikir jeny.


lalu dia berjalan ke kamar sebelah "kakak!! kak fudo" kata jeny "kakak!!" jeny berteriak "ya jen" kata fudo sambil membuka pintu "oh kau baru selesai mandi? " kata jeny "iya ada apa? " tanya fudo "kak riki tidak kelihatan" kata jeny, fudo langsung menatap riki yang masih tidur "hah? " jeny melihat riki masih tidur dengan seluruh tubuh tertutup selimut kecuali wajah nya "dia tidur di sini? " kata jeny "ya dia mabuk dan masuk ke kamar ku padahal aku sudah melempar nya ke kamar nya" kata fudo "glek" jeny melihat pakaian berserakan di lantai "oh.. itu.. belum di bereskan" kata fudo "baik lah bangun kan dia. bibi rita meminta kita segera sarapan" jeny pergi "kenapa wajah mu merah" lisa menatap jeny yang baru masuk ke dalam kamar "fikiran ku sedang kotor" kata jeny "ada apa? " tanya lisa "kakak gay gak ya" fikir jeny "kau bilang mau sarapan ada apa? " tanya lisa "bukan apa apa ayo sarapan" kata jeny "kau yakin? " tanya lisa "iya ayo" kata jeny.


fudo meletakan pakaian kotor ke dalam keranjang lalu dia duduk memikirkan wajah jeny yang dia lihat tadi "fuh.. kaya nya jeny berfikir yang tidak tidak nih" kata fudo "lagian riki bego ada ada saja ngapain dia pindah ke kamar ku" kata fudo dengan datar sambil melempar pakaian ke dalam keranjang."huaam.. hujan yang indah" riki membuka mata nya "eh..?? aku dimana? aduhh... kepala ku berat" kata riki sambil duduk "fudo? kenapa kau ada di kamar ku? " fudo langsung menunjuk sebuah foto terlihat foto fudo berdiri tegap dengan katana di tangan nya "hah!! kok aku ada di kam--?? aahh" riki yang baru keluar dari selimut kembali masuk ke dalam selimut dan menutupi tubuh nya "aku sudah peringatan pada mu untuk tidak mabuk! dan kau lihat apa yang terjadi saat ka mabuk? kau malah datang ke kamar ku!! " kata fudo "dimana pakaian ku? kau membuka pakaian ku ya" kata riki, fudo langsung berdiri setelah selesai merapikan pakaian yang di pakai "ingat sendiri apa yang kau lakukan" fudo pergi "apa? aku tidak ingat. hah!! kok bisa aku masuk ke kamar fudo? semabuk itu ya aku? tapi kenapa aku harus ke kamar fudo aku gak ingat apapun tapi kenapa aku tidak memakai pakaian? dimana pakaian ku? ah.. pinjam punya fudo aja deh seperti nya aku mabuk parah,tapi nama nya juga mabuk ya..gak sadar kalau sadar ya tidak mabuk nama nya" riki bicara pada diri nya sendiri.


"huh? " yang lain melihat ke arah riki yang baru datang "kakak baju apa yang kau pakai? besar sekali" kata jeny "kenapa kau memakai baju ku? " kata fudo "pinjam nanti aku cuci" kata riki "waduh.. otak ku gak bisa di ajak kompromi" kata jeny dalam hati "ada ada saja" kata endo "gak heran, biar ku tebak kau pasti mabuk kan? " kata pam "dia yang mabuk, bukan aku!" kata riki "sabar" kata endo sambil menatap fudo yang sudah mengepal tangan nya "jika tidak mabuk kenapa fudo menyeret mu tadi malam dan melempar mu ke dalam kamar mu" kata amin "lagian riki kalau mabuk seperti orang kesurupan roh tirex" yang lain langsung tertawa mendengar perkataan pam, " enak aja, dia yang mabuk! apa lihat lihat ingat ya.. kau salah dengar!" kata riki sambil menatap fudo dengar kesal "sudah sudah..nanti lagi berkelahinya,kita jeda dulu oke om om" celetuk pam "haha kau ini sempat sempat nya bercanda" sahut endo "aih.. cepat sarapan" kata jeny "aku mau daging itu ambilin dong" kata amin "nih" kata pam.


pintu kamar ara terbuka, dia langsung tersenyum melihat kamar kakak nya "selamat pagi! " kata ara "akhh sshh" jin membuka pintu kamar nya "kakak ipar kau kenapa? " tanya ara, "oh? aku.. hum.. aku tidak papa cuma perut ku sakit sedikit" kata jin "ya ampun, aku akan membuat kan mu teh hangat. kau bisa jalan? " kata ara "bisa bisa" jin pergi "kok jalan nya kaya oh iya.. dia kan sakit perut " kata ara .

__ADS_1


"sarapan sudah siap" kata hong su dia mengerutkan dahinya melihat jin "gara gara kau nih" kata jin "kenapa? " kata hong su "bagian bawah ku sakit dan aku jadi sulit jalan " kata jin "kita kan cuma sebentar" kata hong su "sebentar? tapi kenapa sampai matahari muncul" seketika hong su langsung tertawa "aku akan membantu mu berjalan, aku akan kerjakan semua nya kau bisa istirahat" kata hong su "kakak hum.. kakak ipar sakit perut kata nya" kata ara "iya aku tau" kata hong su "kau berencana membawa nya ke apotek karena dia benar benar kesakitan" kata ara "hum.. tidak papa" kata jin "tidak papa apanya nanti kita harus berobat" kata ara "tuan hong su" kata jin tapi hong su hanya tertawa kecil.


"aku sangat senang, selamat pagi semuanya " kata Agnes "pagi" kata bob "dimana joe? " tanya Agnes "aku juga gak tau" kata bob "ada apa? " joe datang "tumben kau terlambat" kata Agnes "aku benar benar ngantuk" kata joe "tapi boleh aku bertanya karena aku benar benar pusing di buat nya" kata joe "apa? " tanya bob "biasa kau masa bodoh" kata Agnes "kado untuk wisuda biasanya apa? " tanya joe seketika kedua teman nya langsung tersenyum dan saling tatap, "ahh.. buket boneka wisuda " kata Agnes "tidak itu terlalu biasa" kata bob "iya" kata joe "hum.. kartu ungkapan cinta" kata bob "tidak tidak" kata joe "gampang kita cari nanti di toko hadiah " kata bintang "nah oke juga tuh" kata bob "oke" kata joe.


di dapur reno memotong sayuran lalu memasukkan nya kedalam panci "pagi" dio memeluk nya dari belakang "pagi" kata reno "rajin sekali istri ku " dio mencium leher reno "dio.. aku sedang masak " kata reno "tidak papa kan sudah mau selesai" dio membalik tubuh reno lalu mencium nya "uh.. " reno memejamkan mata nya, dio tersenyum dan langsung mengangkat tubuh Reno ke atas meja "dio.. dio. aku.. " kata Reno "nikmati lah" bisik dio "aku.. shhh.. aku merasakan" kata Reno sambil mengatur nafas nya "rasakan saja" dio memasukkan tangan nya ke bahu Reno "aku merasa" kata reno "enak" kata dio "masakan ku akan hangus" reno mendorong dio lalu pergi lanjut masak "apa? " kata dio.


pria di depan jin tersenyum "sejak kapan kau merasa sakit? " tanya pria itu "sejak bangun tidur" kata jin "dia kesakitan sampai sulit berjalan" kata ara "oh... " pria itu terkejut "sebenarnya rasa sakit nya bukan dari perut tapi ...ya perut ku juga sakit tapi tidak terlalu" kata jin "jadi ada bagian lain yang sakit" kata pria itu "hum ya dia di hum.. " wajah jin merah "katakan saja kak" kata ara "hum.. ara kau lebih baik keluar saja agar aku lebih rileks" kata jin "oh oke" ara pergi "hum.. bagian.. bagian bawah ku sakit" bisik jin "oh apa kau punya sakit ambeyen? " tanya pria itu. jin menggeleng kan kepala nya "hum.. aku.. hum.. sulit mengatakan nya " kata jin "apa ada gejaka benjolan di bagian bawah mu? " tanya pria itu "tidak eh.. hum.. ya, eh tidak cuma ada benjolan masuk ke sana" kata jin "oh ambeyen itu seperti nya biar aku memeriksa nya" kata pria itu "tidak tidak.. hum.. " jin salah tingkah "oh mungkin kau malu tapi tidak papa kau bisa datang untuk memeriksa nya jika kau sudah tidak malu untuk sementara aku akan memberikan obat penghilang rasa nyeri" kata pria itu "ya terimakasih" kata jin.


beberapa hadiah terpajang di dalam toko itu Agnes dan bob terus memberi saran namun selalu di tolak oleh joe "bagaimana lampu hias? " kata bob "tidak" kata joe "joe bagaimana kalau itu" Agnes menunjuk sebuah cermin hias dengan ukiran "itu lampu hias cuma kita bisa memasukkan foto dan nama kita di dalam nya" kata seorang pelayan "waw itu bagus joe" kata bob "apa wanita suka dengan benda seperti itu? " tanya joe "suka banget apalagi kalau pacar yang ngasih" kata Agnes "kami belum pacaran" kata joe "tapi ara bilang sudah" kata bob "****" joe menunjuk lampu yang tadi "aku mau itu ukir nama ku dan masukan foto nya" kata joe.


di rumah jeny..

__ADS_1


dengan muka kesal jeny mulai mengunyah makanan nya dengan kasar "ikan nya tidak mau memakan umpan ku" kata jeny "sabar dong" kata riki "dapat" kata pam "dia dapat terus" kata jeny "nih" lisa memasukkan hasil tangkapan nya ke ember jeny , "bagaimana agar umpan nya di makan" kata jeny "ya di diam kan saja" kata fudo "butuh kesabaran jen" kata lisa "jika tidak dapat juga aku kuras kolam nya" kata jeny .riki tertawa mendengar perkataan adik nya "tapi ku rasa ini sudah cukup kita bisa membuat aneka makanan dengan ikan" kata fudo "memang nya sudah cukup" kata jeny "sudah ayo" kata fudo "baik" kata jeny "selamat kolam ku" kata amin "fudo tau jalan keluar nya, tenang saja kolam ini gak akan di kuras" kata endo "riki bersihkan ikan nya aku dan jeny akan siapkan semuanya" kata fudo "aku akan buat api nya" kata pam.


hong su melihat ara dan jin sudah pulang "bagaimana? " tanya hong su "sudah dapat obat, aku mau ke kamar dulu ganti baju" kata jin "aku lapar" ara membuka kulkas hong su menunjuk sebuah kotak dekat microwave "piza tuh" kata hong su "wah.. kakak sangat tau aku lapar" kata ara .


jin duduk pelan pelan lalu pintu terbuka "apa kata perawat atau dokter" kata hong su "tidak ada aku tidak mengatakan kebenarannya" kata jin "lalu obat itu? " tanya hong su "itu obat penghilang rasa nyeri atau sakit" kata jin "memang nya sesakit itu? " kata hong su "kau tidak merasakan nya" kata jin "baik lah sini aku periksa" kata hong su "ah.. tidak tidak jangan.. kau nanti menambah nya kan" kata jin "tidak ayo cepat" hong su mendorong jin "aakhhh.. tidak... lepas kan aku!! tuan hong su.. jangan, tidak perlu ahh" ara yang sedang berjalan menuju kamar nya terkejut mendengar suara jin "akkh.. tidak.. jangan lakukan hal itu, aku akan baik baik saja aw.. akhh geli.. " ara mengedip ngedip kan mata nya "kakak semua nya baik baik saja? " tanya ara "iya iya aku cuma memerisa perut nya" kata hong su "baik lah" ara pergi "sudah ku bilang jangan berteriak adik masih di sini" kata hong su sambil tertawa kecil melihat wajah jin yang merah.


fudo mencetak adonan bakso yang dia buat , riki mengipasi ikan yang mereka bakar. "jeny coba acar ikan ini" kata pam "ikan bisa di buat acar? " kata jeny "bisalah, bahkan aku bisa membuat riki jadi timun" kata pam "hahaha awas di ngamuk nanti" kata endo, "hum.. enak ya" kata jeny "asam pedas ikan nih" kata endo "aku juga masak" kata lisa "kau masak apa? " tanya jeny "sup ikan" kata lisa "oh ya ku rasa tidak enak" kata jeny "lebih baik kurangi makan coklat mu dan siap siap memuji sup ikan buatan ku" kata lisa dengan bangga.


"aku akan memberi mu sedikit coklat jika sup mu enak" kata jeny "dasar pelit" kata lisa "kakak aku juga mau buat sesuatu" kata jeny "tidak kau duduk saja makan yupi mu" kata riki "tapi aku juga bisa masak" kata jeny "kau mau buat apa? " kata riki "bakso bakar" kata jeny "aku akan bantu" kata endo "kakak aku baru ingat" kata jeny "apa? " sahut yang lain "aku mau kuras kolam nya " kata jeny "hah? " amin panik "kenapa?mau ku bantu" kata pam " ikan nya tidak mau memakan umpan ku"kata jeny "dia masih ingat" riki tertawa "jeny kemarilah" kata fudo "kakak aku mau menguras kolam nya ikan nya kurang ajar" kata jeny "nanti saja cepat bakar bakso nya" kata fudo "iya aku mau buat bakso bakar" kata jeny "iya cepat" kata endo "huff kolam nya aman bersama ikan nya" kata amin "santai saja" kata lisa "kakak ikan nya kalau di kasih racun mati gak ya" kata jeny "kau mau meracuni ikan nya amin" kata endo "aku masih kesal loh" kata jeny "jangan kesal lagi, kau akan lupa nanti" kata riki sambil menyuapi adik nya dengan sepotong ikan bakar "hum.. enak" kata jeny "balik bakso nya jangan sampai gosong" kata amin "sudah siap" kata fudo sambil meletakkan makanan di meja "aku juga" kata lisa "semua nya sudah siap" kata lisa "kakak kenapa ini belum masak" kata jeny "sabar lah sedikit, bagaimana dengan mengura-" kata pam "pam! kau" amin terlihat kesal "haha" yang lain tertawa.


"hah.. ini sudah masak bisa di makan ayo duduk semuanya" kata endo "yey! waktunya makan hidangan yang terbuat dari ikan nakal" kata jeny "hahah.. ku rasa kau tidak ada beda nya dengan ikan ini sama sama nakal" kata riki "aku tidak nakal kak" kata jeny "iya iya kau adik terbaik ku ayo kita makan" kata fudo "selamat makan" kata pam "nih" lisa menyuapi jeny dengan sup ikan yang dia buat "hum.. gak enak" kata jeny "hahaha" endo tertawa "mau lagi dong" kata jeny "kata nya gak enak" kata lisa "bercanda kok" kata jeny "nih" lisa menyuapi jeny lagi "makan sendiri jen" kata riki "nih" fudo juga menyuapi jeny "kau iri ya" kata jeny "jangan bicara kalau lagi makan" tegur amin "siapa yang ir--um?? " riki menelan makanan yang masuk ke mulut nya "ngomel lagi pada jeny aku akan masuk kan mangkok ke mulut mu" kata fudo yang lain langsung tertawa melihat muka riki yang kesal.

__ADS_1


__ADS_2