
"jeny... turun makan!! " seru rita "iya bibi aku akan turun sebentar lagi! " kata jeny terlihat dia sedang menyisir rambut nya setelah pakai parfum jeny keluar kamar jeny menatap kamar yang ada di sebrang "bangunin gak ya? " fikir jeny "griitt" pintu kamar itu terbuka jeny langsung membuang pandangan nya sambil berjalan perlahan "hum.. pagi jen" sapa lisa jeny terus berjalan tanpa membalas sapaan dari lisa "bibi pagi " kata jeny "pagi jeny" kata rita "bibi hari ini jadwal belanja kan? " kata jeny "iya kenapa kau mau ikut? " tanya rita "iya bibi lihat" jeny menunjukkan ponsel nya "aku mau makan kaya gini bibi bisa buatin kan? " kata jeny "bisa kau akan ketagihan dengan hotpot buatan ku" kata rita "tap tap tap tap" rita melihat ke arah tangga "lisa? " kata rita "halo bibi" kata lisa rita menatap jeny "kakak menyuruh lisa tinggal" kata jeny "oh.. kemari lisa makan lah" kata rita "terimakasih" kata lisa.
"zruuutttt" fudo meluncur masuk melalui jendela "pak ada orang datang"
"benar pak mereka membuat keributan"
"semua yang menghalangi mereka akan tewas seketika"
"mereka mencari anda pak"
"yaa... aku datang" seru amin "DUUAARR!!! " pintu hancur seketika joni melihat siapa yang datang "tuan joni halooo" kata amin "siapa kau? " kata joni "malaikat maut" fudo melompati sebuah meja dengan sketboard "tepat sekali" kata riki
"joni apa apaan ini kenapa orang asing bisa masuk ke ruangan rapat kita"
"benar joni bagaimana bodyguard mu! "
"rencana bisnis kita lupakan! "
__ADS_1
"aku juga, kita membatalkan semuanya"
lima orang pria berdiri dan beranjak pergi "jleb.. " lima pria itu di tikam bodyguard joni "batal arti nya mati" joni menatap riki "siapa kalian berani nya mengganggu ku" kata joni "ku yakin kau tidak lupa dengan ku" fudo meletakan sketboard nya ke atas meja "kau... " joni mencoba mengingat ingat masa lalu akhirnya dia ingat anak remaja yang mati matian melindungi ibu nya "suko" kata joni "aku fudo di masa depan di masa lalu aku suko anak yang keluarga nya kalian bunuh" kata fudo "oh.. jadi kalian mau balas dendam? hadapi bodyguard ku kalau mampu" kata joni "hiaaa" amin maju dengan cepat fudo langsung menyerang joni "kematian mu sudah di depan mata" kata fudo joni menghindari serangan dari fudo "ya.. makan ini kaca" amin melempar seorang pria ke luar jendela "bruaak" riki menendang dua pria sekaligus "crek" riki menoleh ke arah tangga ada seorang pria sedang membidik fudo "hiaaa" riki menarik kaki pria itu lalu merebut senjata nya "dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr" semua nya menunduk seketika "gawat aku bisa mati kalau begini" joni menatap pintu keluar "aku harus ke sana" dia berlari "jangan coba coba lari dari ku iblis" amin melempar sebotol bir ke arah joni .
jeny menatap rita yang sedang memilih sayuran segar "bibi kenapa lama sekali? " kata jeny "kita harus cari yang benar-benar segar" rita "ini bibi" kata lisa "wah.. bagus lisa" kata rita "apa.. dia bisa memilih sayur aku juga bisa" jeny melihat lihat sayuran di depan nya sambil sesekali melirik ke arah rita "kaya nya warna nya sama" fikir jeny "apa ini? " jeny melihat hewan kecil merayap ke lengannya "ah.. ahh.. ahhh" jeny terkejut sambil mundur "jeny! " kata rita "dug" jeny tersandung kakinya sendiri "grebb" lisa langsung menangkap nya "astaga " kata orang orang yang mendengar teriakan jeny lisa menatap tangan jeny di bahu nya "aku kaget" kata jeny dia menatap mata lisa "aku juga kaget" kata lisa "jeny kau harus berhati-hati" kata rita lisa melepaskan jeny perlahan "bibi tadi ada hewan dari sayur itu" kata jeny "hahaha.. maka nya jangan ikutan milih" kata lisa "ayo sudah selesai nih" kata rita.
bright memasukkan barang barang ke dalam bagasi mobil "bibi ada lagi yang mau di beli? " tanya lisa "tidak ada ini sudah cukup" kata rita "uhm.. " jeny melihat penjual es krim di pinggir jalan lisa langsung terkekeh melihat nya "ayo kita cari makan" kata lisa "ayo jen kenapa malah melamun" kata rita "i.. iya bibi" kata jeny.
mereka berhenti di sebuah tempat makan "bibi kamu pesan lah terlebih dahulu" kata lisa "kamu pesan saja lisa bibi akan ikut pada mu" kata rita "kau juga? " tanya lisa sambil menatap jeny "tidak" kata jeny "baiklah pesan apa yang kau mau" kata lisa.
"jlebb" amin menarik tangan nya seketika pria di depannya ambruk joni terlihat panik seluruh anak buahnya tewas "gawat" fikir joni sambil berdiri mengusap hidung nya yang berdarah "sini!! " fudo menarik leher joni lalu menekan nya di meja "bicara!! " kata riki "halo joni ada apa aku sedang rapat dan kau menelpon ku" kata abdian "to... to--tolong ak.. " kata joni abdian mengerutkan dahinya "joni bicara dengan jelas" kata abdian "TOLONG AKU... TOLONG.. AKU TIDAK MAU MATI" abdian terlihat terkejut mendengar suara temannya "hei.. apa kau dalam masalah" kata abdian "tolong... " kata joni "oke oke di mana lokasi mu? ".
seorang pria melangkah ke arah sebuah pintu "periksa semuanya" kata pria itu "baik tuan" para bodyguard langsung masuk ke dalam untuk memeriksa namun tidak ada satu bodyguard nya yang keluar untuk memberi laporan dia menatap empat bodyguard di samping nya hanya mereka yang ada "periksa di dalam" perintah nya "siap tuan" mereka masuk namun tetap saja mereka juga tidak kunjung kembali "apa apan ini" abdian mengeluarkan pistolnya lalu masuk "apa?? " dia melihat mayat bodyguard nya berserakan "zruuutttt" abdian menghindar "bruakk" ada seseorang jatuh dari atas "joni!! " kata abdian "halo" kata amin "siapa kau? " abdian mengacungkan pistol nya "kau boleh lupa pada ku tapi tidak pada prilaku mu di masa lalu" kata amin "berani nya kau" abdian melepaskan tembakan "akkhh" abdian terkejut kaki nya tertembak "aku juga ada di sini" kata riki "aku juga ada" kata fudo "siapa kalian" kata abdian "jangan jangan kalian yang membunuh teman teman ku" kata abdian "ya dan ini giliran mu" riki menendang lengan abdian lalu memukul nya "sial" abdian membalas pukulan nya fudo duduk melihat riki melampiaskan amarahnya pada abdian "aku akan membuat mu ingat bagaimana kau memukul kakak kakak ku" kata riki sambil memukul wajah abdian fudo mengisi amunisi senjata "duagg!! " riki terjatuh akibat tendangan dari abdian "kau fikir kau siapa" abdian memungut pistolnya dan mengacungkan nya ke riki "turun kan senjata mu " ucap amin "jalan atau ku tembak dia" abdian menatap amin "dorr" abdian meringis "tembak ya tembak" kata fudo "aakkh" rintih abdian "di mana disa teman mu berada" kata fudo sambil melepaskan tembakan lagi.
"di mana anak mu lagi kurasa tadi ada satu pri lagi"
"tidak.. tidak akan ku katakan! "
__ADS_1
"katakan"
"dorr!! "
"masih tidak mau bicara!! rasakan peluru ku ini!! "
fudo teringat masa lalu nya "katakan atau mau akan merasakan peluru ku lagi" kata fudo "teman.. ku.. tersisa john dan zeky" kata abdian kemudian dia mengatakan semuanya sampai akhirnya satu peluru menembus kepala nya.
keesokan harinya...
jeny memperhatikan lisa yang sedang makan "sepertinya dia sedang menatap ku" fikir lisa "ada apa? "lisa menatap jeny " hum? "jeny terkejut " kau mencuri pandang "kata lisa " aku? jangan ke ge-er an"kata jeny "ya ya mungkin aku terlalu percaya diri" kata lisa "ayolah.. ku yakin kau mau bertanya sesuatu" kata lisa dalam hati "hum.. lisa kau tidak pergi kerja" kata jeny "akhirnya" lisa tersenyum di dalam hati "bagaimana aku bisa kerja pelatih itu bilang aku harus menjaga mu" kata lisa "dan juga aku tidak boleh meninggal kan mu kan? " kata lisa "kak danmi akan datang kau bisa pergi" kata jeny "kau mengusir ku? " tanya lisa "tidak, keluarga mu akan mencari mu" kata jeny "aku mengatakan pada mereka kalau aku sibuk agar mereka tidak tau kalau aku ada dalam bahaya " kata lisa "nona" bright datang "ada apa? " lisa berdiri menghampiri bright "apartemen galaxy tepat nya di pantai lima, tuju, sepuluh, enam belas terjadi ledakan" kata bright "apa? " kata lisa "benar shin sudah jalan ke sana untuk mengamankan kondisi" kata bright "baik aku akan kesana" kata lisa sambil pergi ke kamar nya "bright apa yang meledak? " tanya jeny "apartemen milik nona lisa terjadi insiden ledakan" kata bright "jangan jangan ini ulah john" fikir jeny "ayo bright" lisa terlihat sudah sangat rapi "jeny aku akan pergi sebentar kau-" kata lisa "kau tidak pergi" kata jeny lisa menatap jeny "aku pergi sebentar pelatih itu bilang dia sedang ada di jalan" kata lisa "iya tapi kau tidak pergi!! " ucap jeny lisa terlihat kebingungan "jeny" kata lisa "apa kau bodoh? gila!! ka tidak ingat kejadian toko mu itu!! " kata jeny lisa menatap jeny "ini jebakan lisa apa kau tidak mengerti juga!! jika kau pergi mungkin kau bukan hanya mendapatkan goresan mungkin nyawa mu juga hilang!! apa kau tidak dengar perkataan kak danmi kalau john itu licik ini pasti jebakan dan jika kau masuk lagi ke dalam jebakan nya kau bisa mati lisa" kata jeny lisa terdiam menatap gadis di depan nya "kau kawatir pada ku? " kata lisa "aku.. aku.. " jeny terdiam "katakan jeny" kata lisa "aku.. " jeny mundur "jeny.. baik kau bilang kau suka aku mati kan hari ini aku akan pergi aku tidak tau apa yang akan terjadi tapi aku bilang berharap bisa melihat mu lagi" kata lisa "kau tidak pergi" ucap jeny saat lisa berjalan "kenapa? " kata lisa "kau tidak mendengarkan ku ya? " kata jeny "aku dengar dan selalu mendengar kan mu" kata lisa "kalau begitu kenapa kau pergi" kata lisa "karena ini juga termasuk tugas ku" kata lisa melanjutkan langkah nya "aku menghawatirkan mu" seketika lisa langsung berhenti melangkah kemudian perlahan berbalik menatap jeny "kau bilang apa? " tanya lisa "uhm.. " jeny melihat lisa berjalan ke arah nya "jeny!! " danmi datang "kak danmi" kata jeny "pelatih... seharusnya kau jangan terlalu cepat " kata lisa dalam hati "lisa aku dengan apartemen mu " kata danmi "iya kak terjadi ledakan di sana" kata jeny "aku ingin pergi tapi jeny melarang ku" kata lisa "bagus lah aku yakin john mencoba menjebak mu" kata danmi "uh" jeny mengeluarkan ponsel nya dari sakunya "halo ebi ada apa? " tanya jeny dengan suara pelan "nona tuan boy terluka" kata ebi "kenapa bisa? " tanya jeny "tadi malam ada yang tiba tiba menyerang saat perjalanan pulang" kata emi "benar nona" kata ebi "lalu bagaimana dengan boy? " tanya jeny "dia baik baik cuma tergores sedikit" kata emi "baik baik jaga dia" kata jeny "heiii.. jeny kau mau kemana jeny!! " lisa melihat jeny berlari keluar "jeny" danmi ikut mengejar "hei hei" lisa menarik tangan jeny "ada apa? " tanya lisa "boy terluka" kata jeny "baik kita ke sana" kata lisa.
di rumah boy
"boyyyy.... " jeny masuk ke dalam rumah boy "boyyy!!! " jeny melihat sekeliling "jen" boy turun dari tangga "astaga.. kenapa kau tidak bilang jika kau terluka apa yang terjadi? " tanya jeny "aih.. jen aku cuma luka sedikit" kata boy "aku gak percaya sini angkat tangan mu! " kata jeny "kau mau apa? " tanya boy "cepat angkat! " kata jeny "iya iya" jeny menarik baju yang di pakai boy "luka sedikit kata mu! ini apa!! banyak plester di badan mu" kata jeny "iya iya.. aku salah ayo duduk dulu eh.. lisa" kata boy "kenapa kau bisa terluka? " tanya lisa "ada pelanggan mabuk dan mengacaukan tempat di sana" kata boy "itu siapa? " tanya boy "itu pelatih gym " kata lisa "jangan banyak bicara cerita kan pada ku bagaimana kejadian nya" kata jeny boy mengangguk dia sangat ingat kejadian tadi malam ada orang orang berjas hitam yang menyerang nya bahkan diri nya hampir mati akibat senjata orang orang itu untung nya ada empat orang yang datang melindungi nya "kenapa kau diam" kata jeny "dengar jeny aku tidak tau mereka siapa mereka datang minum lalu membuat kekacauan" kata boy "sungguh? " kata jeny "iya kau jangan banyak bicara kau bawa makanan tidak aku lapar" kata boy "aku akan cari makanan" kata lisa "tidak tidak" jeny berdiri "kau mau cari kemana? " tanya jeny "di rumah makan terdekat" kata lisa "aku ikut" kata jeny "oke baik ayo" kata lisa mereka berdua pun pergi "kok bisa jeny akur dengan lisa? " fikir boy.
hari demi hari berlalu kemana kau melihat jeny di situ kau akan melihat lisa entah karena rasa kawatir, peduli atau apapun itu mereka semakin lama semakin terlihat sering bersama.
__ADS_1
malam hari..
jeny keluar dari pintu setelah bertemu dengan boy "sudah selesai kan? " tanya lisa "hum" jeny mengangguk "ayo" kata lisa jeny langsung masuk ke dalam mobil "um? " jeny menatap layar ponsel nya "bisa kita bertemu? " seketika jeny membeku "siapa? kak riki ya? " tanya lisa "aku tunggu di jalan sentosa suruh dia menghentikan mobil nya" jeny semakin membeku membaca pesan dari john "ada apa? " lisa menghentikan mobil nya "jeny" kata lisa "tidak papa " kata jeny lisa melajukan kendaraan nya lagi "berhenti lisa" kata jeny "ada apa? " kata jeny "bentar aku mual" jeny keluar dari mobil dan menjauh "kenapa lama sekali? " tanya john di telpon "aku tidak menemui! dengar john apa yang kamu lakukan? kau melukai teman sahabat ku! " kata jeny "karena dia yang mulai" kata john "tidak john kau salah kau membakar toko nya!!! " kata jeny "jadi kau membela nya kau benar-benar menganggap ku musuh sekarang? " kata john "jadi kau tidak akan bergabung dengan ku? " tanya john "aku tidak akan bergabung" kata jeny "karena kau benar-benar keterlaluan" kata jeny "aku akan tunggu kau di jalan aku tidak perduli apapun kau harus ikut dengan ku" kata john "jangan harap!! " jeny mematikan ponselnya "jeny" jeny berbalik melihat lisa sudah ada di belakang nya "kau baik baik saja" kata lisa "jika lisa jalan terus itu artinya lisa akan bertemu john " fikir jeny "fikir kan cara jen" kata jeny dalam hati "jeny" kata lisa "aku.. kurang enak badan" kata jeny "eh jen!! " lisa terkejut jeny tiba tiba pingsan "jeny.. jeny.. " lisa mengangkat tubuh jeny dan meletakkan nya ke dalam mobil "kita akan ke rumah sakit" lisa memutar arah "astaga kenapa bisa begini" kata lisa "setidak nya ini bisa mencegah hal buruk hari ini" fikir jeny "sial kenapa macet " kata lisa sambil melihat ke arah mobil di depan nya jalanan lalulintas begitu padat membuat lisa gelisah dia melihat ke kursi belakang "halo.. shin jemput aku di sini aku terjebak macet jeny tiba tiba pingsan aku ingin membawa nya ke rumah sakit cepat shin" kata lisa sambil bergerak ke kursi belakang mengambil tisu basah menempelkan nya ke dahi jeny "sebentar ya.. kita terjebak macet" kata lisa sambil mengusap kepala jeny dengan lembut jeny tangan kiri nya meremas paha nya sendiri dia merasakan ada gejolak di dalam diri nya di saat lisa memperlakukan nya begitu lembut dan penuh kasih sayang namun dia tetap menahan agar mata nya tidak terbuka lisa kembali duduk di kursi depan membuka sebotol air lalu meminumnya sambil menunggu bodyguard nya datang menjemput nya.