Merakit Cermin Yang Hancur

Merakit Cermin Yang Hancur
berburu ribuan bunga


__ADS_3

boy menatap jeny yang sedang berjalan di samping nya "terkadang aku Merasa jeny ku sudah kembali namun saat ku melihat nya aku merasa ini buka jeny" kata boy dalam hati "ada apa? " jeny menatap boy "hum." boy tersenyum "apa kau lapar? " kata boy "hum.. tidak terlalu lapar " kata jeny "baik kita cari tempat untuk duduk" boy menggandeng tangan jeny "bagaimana kabar kak riki? " tanya boy "baik" kata jeny "nah.. kita ke cafe itu aja yuk" kata boy jeny menganggukkan kepalanya.


cika menatap layar ponsel nya terlihat nama riki di layar ponsel nya "apa aku harus memberi tau soal kecemasan ku pada riki" kata cika lalu dia menarik nafas dalam dalam "tidak.. nanti dia pasti cemas.. tapi bagaimana ya aku yakin jeny sedang bersandiwara" kata cika dia kembali teringat senyuman jeny ke arahnya "tapi.. apa sebabnya jeny jadi begini.. bagaimana ini aku bimbang" kata cika sambil mengusap wajahnya dengan putus asa.


"hari ini aku cuti jadi bisa menemani mu lebih lama, habis ini kita kemana ya enaknya? " kata boy "aku sudah lama tidak keliling daerah sini" kata jeny "aa.. kalau begitu kita habiskan waktu kita untuk melihat lihat" kata boy lalu dia mengambil daging yang di piring nya lalu meletakkan nya ke piring jeny "makan yang banyak" kata boy sambil tersenyum .


lisa memotong kue di depan nya sambil tersenyum "ini adalah salah satu contoh produk terbaru kami cake animasi yang terbuat dari coklat berkualitas" kata lisa "wah.. hebat" kata Daichi sambil bertepuk tangan "silahkan di coba" kata lisa para tamu langsung mengambil kue yang di sediakan "wah.. ini lembut dan sangat enak" "gak eneg ya aku suka banget" "coklat nya benar-benar enak" Daichi tersenyum mendengar ucapan para tamu "kenapa dia? " Daichi menatap adiknya sedang melamun menatap ke arah kue coklat di depan nya Daichi segera mendekat "ada apa? " tanya Daichi "kue dari tokomu ini sudah terkenal enaknya kenapa kau terlihat sedih" kata Daichi "tidak papa kak" kata lisa "ayolah jangan berbohong pada ku" kata Daichi "aku hanya.. aku hanya teringat seorang pencinta coklat" kata lisa "di kepalanya hanya ada coklat" kata lisa dengan sedih ada perasaan yang mengganggu di dalam dirinya yang tidak dapat dia cerita kan kepada siapa pun "jee.. n aku merindukan mu" kata lisa dalam hati.


boy menyerahkan satu es krim ke jeny "rasa coklat seperti biasa" kata boy jeny menerima nya "haaaching!! " jeny bersin boy tertawa melihat wajah jeny terkena coklat "hahahah.. hahaha.. " boy tertawa keras "boy.. kenapa kau tertawa? " kata jeny "wajahmu terkena coklat bentar aku bantu bersihkan" boy mengeluarkan tisu dari tas kecil nya "jangan bergerak" boy mengelap coklat yang menempel di wajah jeny "oh.. ini terasa lengket" kata jeny "hum.. kau tunggu sini aku akan beli air agar kau bisa cuci muka" kata boy jeny Mengangguk dia melihat boy pergi menyebrang jalan "hati hati" jeny melihat banyak kendaraan lalu lalang dengan cepat "brag!! " ada box jatuh dari salah satu kendaraan yang lewat "aahh" jeny memegang kepalanya suara kendaraan terdengar semakin keras di telinga nya tubuhnya gemetar es krim yang dia pegang jatuh "sial!! " jeny mencoba mengatur nafas nya bayangan kecelakaan di masa lalu nya kembali muncul "aahkk" jeny memegang dadanya jantung nya berpacu semakin cepat "ku mohon jangan" kata jeny sambil perlahan membungkuk keringat mengalir di wajah jeny "hei kau kenapa? " lihat gadis itu dia keliatan kesakitan "kata orang orang boy melihat jeny di sebrang mendadak panik " astaga jeny!! "boy langsung berusaha secepatnya menyebrang " aahhk"jeny meringkuk "jeny.. jen!! " boy merangkul jeny "hei.. hei. atur nafasmu.. astaga ini terjadi lagi" kata boy "beri dia minum anak muda" kata salah satu orang yang lewat boy mengangguk "jen.. minum lah" kata boy "aahh.. " jeny terlihat kesulitan bernafas "apa kau fikir kan.. aku ada bersama mu" kata boy lalu dia melihat sekitar mencoba mencari taxi "eih jen.. " seseorang datang "kenapa dia boy? " kata orang itu "aku tidak tau seperti nya dia kena serangan panik" kata boy "ayo ayo aku bawa mobil" kata orang itu sambil mengangkat tubuh jeny boy langsung masuk ke dalam mobil "jeny.. buka mata mu" kata orang itu "haah.. ahh" jeny terlihat begitu tersiksa "cepat boy.. dia sesak nafas" kata orang itu "aku sudah berusaha cepat" kata boy "kau terlihat pernah membawa oksigen mini" kata orang itu "aku tidak membawa nya lagi karena ku fikir itu tidak akan di butuhkan lagi ku fikir jeny tidak akan mengalami hal seperti ini" kata boy "belok belok" kata shin "bertahan lah jen" kata orang itu "tunggu jen!! " kata boy jeny semakin terlihat kesakitan dan sulit bernafas "aih.. boy masih lama kah? " kata orang itu "masih beberapa meter lagi" kata boy orang itu menatap jeny yang tersiksa "hei apa yang kau lakukan? " boy melihat orang di kursi belakang membungkuk ke arah jeny yang berbaring "ak.ah" jeny memegangi dadanya "aku sedang memberinya nafas buatan" kata orang itu "kau fokus lah mengemudi" kata orang itu lagi lalu dia kembali membungkuk ke arah jeny.


di rumah sakit...


"dari mana kau tau tempat ku dan jeny berada? " tanya boy "aku menyuruh bright mengawasi jeny aku takut sesuatu yang buruk terjadi kembali. dan kebetulan aku selesai kerja langsung ingin melihat jeny dari jauh seperti biasa dan aku melihat kau sedang merangkuk jeny" kata orang itu yang tak lain adalah lisa "aku juga tidak tau saat aku hendak membeli aqua jeny masih baik baik saja" kata boy "apa ada yang memberi mawar padanya? " kata lisa "aku juga tidak tau" kata boy dokter ke luar dari pintu lisa langsung berdiri "gimana dokter? " tanya lisa "pasien sudah tenang dan sedang istirahat di dalam" kata dokter lisa terlihat ingin melangkah masuk namun berhenti "masuk lah boy, jeny tidak ingin melihat ku" kata lisa boy langsung masuk ke dalam jeny terlihat lebih tenang "masuk lah lisa jeny tidur" kata boy lisa membuka pintu lalu masuk ke dalam melihat wajah jeny "aku merindukan mu jen.. ingin sekali rasanya aku dekat dengan mu, sayang sekali kau tidak ingin aku ada di dekat mu" kata lisa dengan suara yang pelan lisa perlahan duduk di samping jeny "tolong jangan siksa aku jen.. aku gak bisa jauh darimu" boy menatap lisa "aku tersiksa je.. n" kata lisa "aku baru melihat lisa mencintai seseorang sampai seperti ini" kata boy dalam hati.


boy mengetuk pintu "masuk" terdengar suara dari dalam boy pun langsung membuka pintu "dokter gimana keadaan teman ku kenapa dia bisa mengalami sesak nafas dan seperti orang sakit begitu" kata boy "begini tuan, teman ada mungkin pernah mengalami kejadian buruk sebelumnya dan itu membuat dia trauma dan bayang bayang kejadian buruk itu bisa datang kapan pun dan bisa membuat teman mu mengalami panic attack sesak nafas termasuk gejala nya untuk jaga jaga kau harus membawa oksigen mini seperti ini" kata dokter itu "teman mu memang memiliki trauma pada bunga mawar dan juga mobil berwarna merah" kata boy "nah.. kau harus menjaga nya dengan baik kemungkinan teman mu akan kembali mengalami panic attack di saat dia kembali teringat kejadian kejadian buruk itu" kata dokter "oke baik.. hum.. terimakasih" kata boy.


malam hari..


joe melihat Agnes memasukan dia baju ke dalam tas dan juga oksigen mini "kau mau kemana? " kata bob "jeny sakit aku ingin melihat nya" kata Agnes "sakit apa kenapa kau tidak bilang pada kami? " kata joe "ini darurat ayolah cepat kita ke rumah jeny" kata Agnes "oh.oke" kata bob.


boy meletakkan beberapa makanan di meja "kau sekarang makan lah" kata boy "kau akan pulang? " tanya jeny "tidak.. aku akan menjaga mu malam ini kau jangan kawatir" kata boy "sebenarnya aku sudah tidak apa apa... jika kau ingin pergi aku tidak keberatan" ucap jeny "kau ini bicara apa? ayo makan dan.. kau jangan fikiran yang bukan bukan kalau ada apa apa katakan saja pada ku" ujar boy sambil mengambilkan lauk untuk jeny.


joe turun dari mobil "ayo ayo aku mau lihat kondisi nya" kata Agnes "sabar nes.. di buka dulu pintu nya" kata bob "jangan lelet" joe sudah jalan duluan pandangan nya tertuju pada seseorang yang duduk di pintu "siapa dia? " tanya bob joe lanjut berjalan "lisa" kata joe "eh kalian" kata lisa "kenapa kau duduk di luar" kata bob "kalian lupa ya.. hum.. jeny sedang marah pada ku" kata lisa "tap--" kata Agnes "tidak papa kalian masuk saja" kata lisa "aku akan bicara pada jeny" kata joe "eh.. jangan nanti dia sakit lagi" kata lisa joe membuka pintu "oohh.. kawan kawan" kata boy "jeee... n aku sayang kamu" kata Agnes "kalian gak lembur? " kata jeny "tidak kok bos kami sangat pengertian" kata Agnes "ayo duduk makan makan" kata boy "aku juga bawa makanan" Agnes pergi ke dapur untuk menuangkan makanan yang dia bawa joe manatap ke arah pintu "kenapa? " kata boy "kau membiarkan lisa di luar" bisik joe "aku tidak tau lagi harus apa" bisik boy "kalian bahas apa? " kata jeny "oh.. bahas bahas.. hum--" boy gugup "bahas pertemanan" kata joe "pertemanan? " kata bob "ya kami punya satu teman lagi jen" kata joe "oh ya? " jeny menatap joe "tapi dia sedang bersedih" kata joe "dia sedang tersiksa karena begitu dalam mencintai seseorang" kata joe "joe" boy mencubit joe "tidak papa.. aku hanya cerita" kata joe "kau tidak mengajak nya? " kata jeny "dia ada di dekat sini cuma dia tidak terlihat" joe berdiri semua mata menatap ke arah nya "kau mau kemana? " tanya boy "aku akan makan di luar di sini panas" joe pergi dengan membawa dua piring makanan dan sebotol minuman jeny terlihat memperhatikan joe "joe kau yakin? " kata Agnes tapi joe tidak menjawab dia langsung keluar dari pintu. lisa menatap joe "kenapa kau keluar lagi? " tanya lisa "kau pasti lapar kan ini makan " kata joe "aku tidak lapar" kata lisa "jika kau sekarat siapa yang menjaga jeny? " kata joe lisa tersenyum "aku tidak akan sekarat" kata lisa sambil mengambil makanan di piring.


Agnes duduk menemani jeny menonton televisi sementara boy pergi mandi "kenapa joe lama sekali" fikir jeny "nes!! kau gak bawa baju ku!! " seru bob "bawa kok buka aja tas hitam itu" kata Agnes "gak ada" kata bob "tunggu ya jen aku membantu si bob dulu" kata Agnes jeny mengangguk.

__ADS_1


lisa menatap langit "kau tau sebenarnya aku tidak ingin pulang, aku benar-benar sedih jauh dari jeny tapi gimana lagi dia kayanya benci padaku dan ini salahku juga aku lengah sehingga tidak dapat menolong nya dan dia terluka aku gak ada di sana menolong nya" kata lisa "ini bukan salahmu" ucap bob "jelas salah ku da.. -- jeny" kata lisa joe menoleh ke arah pintu jeny mematung di sana "jen.. maaf maaf aku aku gak seharusnya ada di sini" kata lisa "ini teman ku" kata joe "dia sedari tadi hanya berada di depan pintu tidak berani masuk karena merasa bersalah " joe berdiri menghampiri jeny "jen,saat kejadian kau menghilang lisa orang pertama yang mencari mu sampai membuat keributan di kantor polisi karena polisi tidak ingin membantu, lisa mengerahkan semua bodyguard nya untuk mencari mu tolong jangan benci dia" kata joe "aku keluar untuk mengajak lisa makan karena aku tau dia di luar berjam jam duduk di depan pintu demi dirimu dia tidak berani masuk karena kau membenci nya" kata joe Agnes ke luar dari pintu melihat lisa "tidak papa jika kau membenci ku" lisa tersenyum "setelah melihat mu aku bisa pergi kok" kata lisa "greb! " joe menahan tangan lisa "jen.. dia teman ku" kata joe "joe benar lisa gak salah " kata Agnes "lisa menangis karena kawatir pada mu, dia berusaha mencari mu jen waktu itu" kata Agnes "kalian membelanya? " tanya jeny "bukan.. aku bukan membela siapa siapa aku cuma ingin menjelaskan pada mu" kata Agnes "jen" kata joe "bawa lah" jeny masuk ke dalam rumah "hah.. akhirnya" kata joe "ayo lisa" kata Agnes sambil menarik lisa ke dalam rumah "lisa? " boy melihat lisa duduk di sofa "lalu dimana jeny? " tanya boy "kurasa ke atas" kata Agnes boy yang masih di tangga langsung berbalik mengetuk kamar jeny "huu... m? " jeny membuka pintu "bagaimana kalau kita bermain game di bawah" kata boy "aku ingin tidur aku lelah" kata jeny "oh.. baik lah kalau ada apa apa panggil aku" kata boy jeny mengangguk lalu menutup pintu.


joe menatap boy yang sedang berjalan di tangga "mana jeny? " tanya joe "dia lelah jadi ingin tidur" kata boy Agnes tersenyum lalu mengusap bahu lisa "lisa kau sebaiknya istirahat dari tadi kau tidak ada waktu untuk istirahat" kata boy "apa dia akan pulang? " tanya Agnes "tidak di atas ada kamar, pergilah lisa kau pasti lelah" kata boy "biar aku antar" kata Agnes lisa mengangguk.


jeny menatap layar ponselnya melihat foto riki jeny mengklik pesan suara "kakak aku akan tidur lebih awal kau jaga lah kesehatan temui aku di mimpi bye bye" jeny mengirim pesan suara ke riki suara ponsel bergetar jeny langsung menunduk mengambil ponsel yang ada di bawah ranjang "hum.. maaf aku tadi tidak bisa datang untuk latihan. aku kembali mengalami serangan panik saat sedang dalam perjalanan" kata jeny "sungguh kau tidak berbohong? " terdengar suara pria di sebrang telpon "iya.. aku ada buktinya kok" kata jeny "kenapa kau bisa kena serangan panik? " tanya pria di telpon "aku tidak tau itu begitu tiba-tiba saat aku mendengar suara benda terjatuh di jalanan aku langsung hilang kendali tapi besok aku akan ke tempat mu kaka" kata jeny "ya.. kalau begitu kau istirahat lah kita akan bahas besok kau harus lebih kuat" kata pria itu "iya.. ".


keesokannya....


" pagii!! "ujar boy " pagi pagi pagi!! "kata Agnes " jangan berisik suara mirip kucing kejepit "kata bob " enak saja kau bilang "kata Agnes " jangan ribut"kata joe sambil meletakan beberapa jus ke atas meja "Hai lisa" sapa bob "Hai" kata lisa di tangga "bibi biar aku saja " kata boy "tidak papa kau duduk saja" kata rita "tidak bibi aku saja berikan" boy mengambil mangkok dari tangan rita "dasar anak nakal" kata rita "hei lisa kapan kau datang.. aku sudah jarang melihat mu, ku fikir kau sakit" kata rita "tidak bibi aku baik baik saja" kata lisa "bibi terbiasa melihat mu tapi tiba-tiba kau menghilang berminggu-minggu" kata rita "maaf bibi aku ada sedikit pekerjaan jadi sibuk" kata lisa "aih.. jen kemarilah" kata boy dia melihat jeny mematung di tangga "kemarilah aku membuat kan mu roti lumer isi coklat yang banyak" kata boy "pagi jeny!! " sapa rita "hum.. pagi bibi" jeny perlahan menuruni tangga "awas aku mau duduk dekat Agnes" kata jeny "oh.. oke" bob langsung pindah "boy duduk di sebelah ku" kata jeny "oke.. kau mau coba roti buatan ku" kata boy jeny menatap roti di meja "aku membuatnya jam empat karena gagal gagal terus dan akhirnya jadi" kata boy "nanti saja" kata jeny "ini makanan nya silahkan" kata rita "ayo ayo makan makan!! " kata bob "soal makan saja suara mu keras" kata Agnes "hei.aku hidup untuk makan" kata bob "diam! cepat sarapan kita harus kerja" kata joe "kau mau ku ambilkan? " boy menatap jeny yang diam seribu bahasa boy langsung mengambil kan beberapa menu untuk jeny "makan lah" kata boy "gimana perasaan mu hari ini? " tanya Agnes "tidak terlalu buruk" kata jeny.


setelah selesai makan joe langsung pamit "kami akan pergi kerja" kata joe "hum.. " jeny mengangguk "bye jen, jika ada apa apa kabarin ya" kata bob "jaga kesehatan mu" joe menepuk bahu jeny lalu pergi "sshhh aduh" jeny menoleh ke arah boy "perut ku sakit dari tadi malam aku ke toilet bentar ya lalu kita berangkat jogging" kata boy jeny tidak mengatakan apapun lalu berbalik terlihat lisa sudah ada di belakang nya melihat itu jeny langsung membuang pandangan nya "kenapa masih di sini" jeny melangkah ke sofa "hu... m.. am.. aku.. aku boleh ikut dengan mu? " tanya lisa sambil menatap jeny yang sedang memperhatikan ponsel nya "boleh aku.. ikut jogging bersama mu dan boy? " tanya lisa "lebih baik kau pergi tidak akan ada jogging hari ini" kata jeny lisa berjalan mendekati jeny "jen.. kau marah pada ku hum.. maksudnya kau masih marah padaku? " kata lisa jeny memakan buah di depannya "baiklah aku salah.. aku minta maaf tidak bisa melindungi mu dari adsila aku juga tidak dapat menolong mu aku salah aku bodoh tidak dapat menemukan mu dengan cepat. kau boleh marah kau boleh lakukan apapun tapi jangan suruh aku menjauh dari mu aku sangat tersiksa jen" lisa perlahan berlutut "aku salah aku minta maaf hukum lah aku jen tapi jangan siksa aku begini aku sangat tersiksa jauh dari mu jen, aku seperti kehilangan harapan hidup ku" kata lisa "lisa berlutut? " boy melihat lisa dan jeny dari jauh "tolong katakan sesuatu jen" kata lisa "jangan suruh aku menjauh dari mu" kata lisa "ku mohon... " ujar lisa jeny masih diam dan melahap buah di depan nya dengan santai "bagaimana kalau aku meminta mu untuk melakukan sesuatu" jeny memperhatikan sepotong mangga di garpu nya "apapun jen asal jangan meminta ku untuk pergi menjauh" kata lisa "aku mau kau pergi ke rumah chin " jeny menunjukan satu foto ke lisa "antar sepuluh ribu bunga untuk nya dan bawa ke rumah ku katana batu biru ayahnya" kata jeny "chin? chin itu siapa? " kata lisa "aku tidak tau kau lihat saja wajahnya di ponsel ini lalu pergi lah" kata jeny lisa mengeluarkan ponselnya lalu memfoto seorang wanita yang di ponsel jeny "aku akan kembali" kata lisa lalu dia segera pergi "apa tidak waras jen? aku tau chin " kata boy "ini bukan soal chin" kata jeny "aku tau? kau ingin lisa menjauh dengan cara ini kan? ini bisa jadi masalah jen" kata boy "chin bisa mati karena bunga bunga itu dia alergi bunga" kata boy "kau juga sebaiknya pergi aku masih ingin istirahat tubuhku rasanya sakit" kata jeny "hum.. ahh" boy menarik nafas nya lalu pergi mencari lisa jeny tersenyum sinis melihat boy pergi.


lisa menatap layar komputer di depan nya sementara roy mengutak atik komputer itu "ketemu" kata roy "sama wajahnya nona" kata shin "kau benar di mana rumah nya? " tanya lisa "dia menetap di Seoul " kata roy "siapkan pesawat aku harus kesana sebelum nya hubungi toko semua toko bunga" kata lisa "baik nona! " kata yang lain "nona tuan boy datang" kata sai lisa langsung beranjak pergi "boy" kata lisa "lisa.ku mohon hentikan semuanya" kata boy "maksudnya? " tanya lisa "kau tidak akan pergi membawa bunga sebanyak itu ke rumah chin" kata boy "kenapa? " kata lisa "ini agar jeny memaafkan ku" kata lisa "jeny hanya ingin kau menjauh selama nya! ini tidak benar kau bisa dapat masalah besar" kata boy "masalah apa? " tanya lisa "pokoknya dengar kan aku lisa.. jangan pergi ke sana.. kau akan hancur" kata boy "itu artinya kau mengenal chin? " ucap lisa boy terdiam "kalau begitu temani aku" kata lisa "lisa ka--" mulut boy di tutup dengan tangan lisa "aku tidak perduli apa yang akan terjadi yang terpenting aku bisa mendapatkan kepercayaan dari jeny agar jeny tidak marah pada ku" kata lisa "kau teman ku kan? " kata lisa boy tidak sanggup membantah lagi.


seorang pria melangkah ke arah sebuah patung besar lalu menekan sebuah tombol kecil di patung itu .muncul lah sebuah pintu lalu dia menempel kan jarinya "ayo" kata pria itu saat pintu terbuka setelah masuk ke dalam pintu itu kembali tertutup sendiri "kali ini aku akan mengajari mu cara mengendalikan diri" kata pria itu "uh.. bagaimana? " kata wanita di samping nya "dengar jeny kau kehilangan kendali saat terkena serangan panik" kata pria itu "hum" jeny mengangguk "pertama kita akan turun ke jalan dengan kecepatan tinggi" pria itu menekan tombol di meja "greeeett" sebuah pintu kembali terbuka terlihat empat mobil mewah "merah? " jeny melihat mobil berwarna merah pria itu tersenyum "kita pakai yang merah" kata pria itu jeny mengatur nafas nya "aku tidak suka merah" kata jeny "ini bukan suka atau tidak! ini tentang dirimu mu" pria itu menarik jeny ke mobil berwarna merah itu "tidak papa" kata jeny "keluarga Hayashi memiliki beberapa mobil berwarna merah setidaknya dari sekarang persiapkan dirimu" kata pria itu sambil membuka pintu mobil.


jeny meremas pahanya sendiri "kak.. berhenti!! kak" kata jeny namun pria itu malah menambah kecepatan mobilnya jeny memejamkan matanya "kakak.. hentikan" kata jeny "jangan jadi seorang pengecut jen buka matamu" kata pria itu sambil memberi oksigen mini ke jeny "pakai ini" kata pria itu "gila dia benar-benar sesak nafas dan sampai berkeringat" kata pria itu dalam hati "ah.."pria itu menatap jeny " dasar payah"dia langsung menepi membuka sabuk pengaman jeny "jen.. jen!! " kata pria itu "hum" kata jeny "baik atur nafas mu!! jangan ingat kejadian burukmu tapi ingat orang orang yang membuat kejadian itu terjadi" kata pria itu sambil membuka sebotol minuman "minum dulu.. atur nafas mu.. kau pasti bisa" kata pria itu "jangan menangis.. tenang lah" kata pria itu menatap jeny menghirup oksigen dalam dalam.


malam hari...


"bunga baru terkumpul delapan ribu nona" kata shin "cari lagi" kata lisa "jangan ada lagi ku mohon.. andai lisa tau siapa ayah chin" kata boy dalam hati "lisa lebih baik kita makan dan istirahat" kata boy "baik kau pergilah dengan sai ke hotel aku akan ikut mencari bunga " kata lisa sambil pergi masuk ke dalam mobil "aih.. lisa.. lisa" boy lari ke arah mobil "kau akan cari bunga juga? " kata boy "iya" kata lisa "dengar boy.. kita harus berjuang untuk cinta kita" kata lisa "aku ikut" boy masuk ke dalam mobil.


jeny berjalan sendirian di pinggir jalan "dasar payah! jika kau lemah bagaimana bisa kau berfikir untuk menjalankan rencana mu! bahkan untuk berjuang mengendalikan rasa takut mu kau masih belum bisa! " jeny merenung mengingat semua perkataan pria yang bersamanya "aku harus berusaha lebih keras!! itu cuma mobil!! dan kecepatan mobil!! " kata jeny "jen! " jeny Tersentak kaget dia langsung berbalik "eh tunggu" orang yang memanggilnya menarik tangan jeny "lepas!! " kata jeny "kenapa ? aku melihat mu jalan sendirian biasanya kau pergi dengan teman teman mu" kata orang itu yang tak lain adalah john dengan beberapa pengawal di belakang nya "kau mau apa? " tanya jeny dengan ketus "huh.. jen kau masih marah ya padaku.. aku sudah minta maaf pada mu kenapa kau masih menghindari ku" kata john "lepas tangan mu! " kata jeny "baik baik tapi kau jangan pergi ya" kata john "bukan urusan mu" kata jeny "hum.. aku minta maaf kembali.. " kata john "untuk sekarang mungkin aku bakal tertangkap saat aku lari dia membawa banyak pengikut" fikir jeny "bagaimana kalau kita makan malam dan aku akan mengantarkan mu pulang" kata john "tidak.. aku sedang menunggu temanku! " kata jeny sambil menarik tangannya dengan kasar tapi john masih menariknya kembali "ya kalau begitu kita bisa makan bersama dulu" kata john "tidak sekarang! " kata jeny "tidak sekarang? " john menyipitkan matanya "ya.. malam ini aku sudah janji akan menemani temanku" kata jeny "itu artinya" kata john "kita bisa lakukan lain waktu" kata jeny john tersenyum mendengar itu "itu artinya kau mau makan dengan ku? " tanya john "hum" jeny mengangguk "oh.. jeny ka baik sekali" john melepaskan tangan jeny "kalau begitu kapan dan hari apa? " tanya john "rabu depan aku tunggu di sini" kata jeny "ok.. baik lah kalau begitu aku pergi dulu" kata john lalu dia pergi masuk ke dalam mobil jeny menatap mobil itu pergi.


"aku mau semua bunga yang di toko ini " kata lisa "semuanya? " kata penjaga toko "iya semuanya bisa bungkus sekarang tapi jangan lupa di hitung berapa banyak bunga nya" kata lisa "baik" kata pe jaga toko lisa menutup mulutnya "huamm.. " lisa menguap "pak, bodyguard ku akan menunggu di sini kau berikan bunga nya pada dia ya" kata lisa "oke oke siap nona" kata penjaga toko. lisa langsung masuk ke dalam mobil dan pergi ke tempat lain "berhenti " kata lisa "lisa mana ada toko bunga di sini? " kata boy "iya" lisa turun menghampiri sebuah pagar yang bertuliskan jual tanaman hias lisa langsung masuk "yang benar saja" boy ikut turun dari mobil "aku ingin membeli bunga " kata lisa"nona kami menjual tanaman hias"kata wanita di depan lisa "tapi itu ada mawar ada bunga lainnya" kata lisa "iya nona tapi kami tidak menjual bunga nya saja kami menjual satu pot tanaman" kata wanita itu "hum... tolong lah aku aku butuh.. bunga saja aku bayar berapapun" kata lisa "tidak bisa nona" kata wanita itu "lisa.. kita cari tempat lain saja" kata boy "tidak boy ini juga bisa" kata lisa "hum.. aku bayar satu tangkai bunga satu juta" kata lisa wanita itu terlihat ketakutan "baik.. baik gini saja aku beli semua tanaman hias yang ada bunga nya" kata lisa "anda serius? " tanya wanita itu "iya bisa langsung di hitung" kata lisa.

__ADS_1


boy menatap lisa yang sedang mencuci wajahnya di pinggir jalan "lisa ini sudah jam satu malam kita akan cari bunga di mana, kau pasti lelah" kata boy "kita akan ke hotel sebentar" kata lisa "akhirnya dia mau istirahat" kata boy dalam hati. sesampainya di hotel mereka makan "kita akan lanjutkan pencarian nya besok" kata boy lisa tersenyum selesai makan boy mengantar lisa ke kamarnya lalu pergi ke kamarnya sendiri.


keesokannya...


"maaf nyonya aku melihat kau menanam begitu banyak mawar boleh kan aku membelinya? " kata lisa "astaga siapa pagi pagi begini datang ke rumah ku" seorang wanita tua membenarkan kaca mata nya "maaf nyonya.. aku tertarik dengan mawar mu" kata lisa "oh.. maaf nona bunga bunga ini tidak di jual" kata wanita itu "nyonya.. aku sangat membutuhkan nya" kata lisa "siapa sayang" terlihat ada wanita berambut pendek keluar dengan celana panjang "ini ada yang ingin membeli mawar ku, aku tidak menjual nya " kata wanita berkaca mata itu "nyonya.. ku mohon" kata lisa "kemarilah anak muda" kata wanita satunya lisa pun mendekat "pagi pagi kau sudah mencari bunga untuk apa? mampir lah cuaca masih sangat dingin" kata nya "tidak terimakasih nyonya tapi aku benar-benar harus mengumpulkan sepuluh ribu bunga " kata lisa "astaga" mereka terkejut "orang yang ku suka meminta ku melakukan nya nyonya" kata lisa "aku mencari bunga dari semalam sampai sekarang belum juga terkumpul jika aku gagal aku tidak akan dapat melihat nya kembali" kata lisa kedua wanita itu saling bertukar pandang "aku akan membayar berapapun nyonya.. ku mohon.. aku benar-benar butuh" kata lisa "aku tersentuh" kata wanita berkaca mata "tapi masuk lah dulu ayo" wanita yang satu nya menarik lisa ke dalam rumah "kau pasti lelah kan ayo makan dulu kita bahas bunga nya nanti saja" kata mereka.


boy mengusap rambutnya "astaga lisaaa!!! " kata boy "kita cari saja" kata sai "para bodyguard yang lain kemana? " tanya boy "mereka belum kembali masih mencari bunga" kata sai "ah.. ayo ayo cepat" kata boy.


"siapa nama orang yang kau suka itu? " tanya wanita berkaca mata "hum.. jeny " kata lisa "oh.. " wanita itu berjalan lalu membuka pintu di depan nya "kemari lah anak muda" kata wanita itu lisa langsung berdiri di dekat wanita itu matanya langsung terpaku "waw.. anda menanam ini semuanya? " tanya lisa "aku suka menanam bunga karena suami ku terkadang suka berendam dengan kelopak bunga" kata wanita itu "nyonya.. kali ini aku akan berlutut di hadapan mu... agar kau mau menjual bunga mu untuk ku" kata lisa "eh.. eh" wanita itu menahan lisa yang hendak berlutut "kau boleh mengambil bunga nya, suami ku sedang memetik bunga yang ada di depan sekarang kita petik yang ada di halaman belakang" kata wanita itu "anda baik sekali" kata lisa wanita itu tersenyum "cinta memang harus di perjuangkan dan kau terlihat benar-benar mencintai nya ayo " wanita itu jalan duluan lisa mengeluarkan beberapa uang dari tasnya lalu meletakkan nya di samping pintu.


beberapa truk berhenti di depan boy "sudah ada berapa? " tanya boy "baru terkumpul sembilan ribu tuju ratus" kata shin "kurang tiga ratus lagi eh, apa lisa ikut dengan kalian? " tanya boy "tidak tuan bukan nya semalam kalian bersama" kata shin "ouh.. sial kemana kau lisa" kata boy.


mobil truk datang lisa tersenyum "mana yang ingin di bawa nona? " tanya supir truk "bunga bunga ini" kata lisa "waa.. banyak sekali" kata supir truk "bisa kan? " katai lisa"tentu saja"ucap supir truk "nyonya terimakasih banyak" kata lisa "iya lanjutkan perjuangan mu ya kami hanya dapat membantu seratus lima puluh tangkai saja" kata mereka "tidak papa nyonya" lisa tersenyum "semangat!! kejar dia sampai dapat" kata mereka.


boy terlihat semakin cemas "chin juga masalah sekarang lisa juga masalah kemana dia menghilang" kata boy "bahkan telpon juga gak di angkat" kata boy "halo nona" kata sai "eh" boy langsung merebut ponsel milik sai "lisa!! kau dimana!! kau membuat aku kesal dasar bodoh dasar brengsek" kata boy "hei boy... tenang lah aku masih mencari bunga aku dapat dua ratus nih dari kemarin malam " kata lisa "ham.. kau dimana? aku harus melihat mu" kata boy "aku akan datang ke situ jangan kemana mana" kata lisa "sial dia mematikan ponsel nya" kata boy.


"pukul lebih keras!! " seru seorang pria tinggi "bugg bugg.. bugg" jeny memukuli boneka karet di depan nya "lebih keras!! wajah mereka itu tebal kau harus menggunakan tenaga!! " kata pria itu keringat mengalir di wajah jeny.


boy berjalan kesana ke sini "mana anak itu" kata boy "itu dia" kata sai sambil menunjuk sebuah truk yang mengarah ke mereka "boy" lisa turun dari truk itu "astaga anak sialan! " boy mengetuk kepala lisa "aw... jangan marah" kata lisa "sudah banyak ini jika kita menumpuk nya lebih banyak dia bisa layu" kata boy "aku dapat dua ratus" kata lisa "kami sembilan ribu tuju ratus" kata shin "tuju tambah dua hah sembilan kurang seratus lagi" kata lisa wajah nya terlihat ceria "nona semua toko bunga sudah tutup" kata roy "semuanya sudah kita beli" kata yang lain "astaga bagaimana ini kita butuh seratus lagi" kata boy "tidak papa kita cari" kata lisa.


"swwuuuiizzz!!!! " mobil merah melaju dengan kecepatan tinggi menerobos jalanan yang lumayan ramai "tenang!! tenang!! " kata jeny dalam hati "atur nafas baik baik" kata pria itu "kau enak sekali bicara saja" kata jeny "kau tau jika kau bertemu kakakku, dia akan tertawa kita naik mobil dengan kecepatan segini " kata pria itu "gila " kata jeny "kakak ku fang mengendarai mobil sambil berperang" kata pria itu "waw.. apa dia tentara juga seperti dirimu dulu" kata jeny "bukan dia aku gak tau apa namanya" kata pria itu sambil terus menambah kecepatan jeny memegang tangan nya sendiri.


lisa mengusap wajahnya "jika begini terus kita tidak akan menemukan nya" kata lisa "jadi bagaimana" kata boy "eh.. eh.. berhenti" kata lisa lalu dia kekuar dari mobil "lisa ini bukan toko bunga" kata boy "aku tau" lisa berjalan ke salah satu rumah "permisi!! permisi!! " kata lisa "ya" seorang remaja keluar dari dalam rumah "halo.. aku ingin membeli bunga itu" kata lisa "hum.. kak aku tidak menjual bunga" kata remaja itu "aku tau tapi aku butuh aku bayar sepuluh juta " kata lisa remaja itu menelan liur nya "baik" kata remaja itu lisa tersenyum mendapatkan sepuluh tangkai bunga "sembilan puluh lagi" kata lisa. mereka terus mencari bunga sampai mendatangi beberapa rumah yang halaman nya terlihat ada bunga bahkan terkadang mereka langsung di usir namun terkadang juga berhasil mendapatkan bunga nya.


malam hari...

__ADS_1


lisa duduk di tepi jalan terlihat kelelahan boy datang membawa minuman "minum lah" kata boy "kurang sepuluh lagi" kata lisa "iya.. tinggal sedikit lagi" kata boy "tapi dimana ya.. aku harus mencari bunga.. " kata lisa boy membersihkan dedaunan yang ada di rambut lisa karena tadi lisa di lempar sampah karena ingin membeli bunga seseorang "kau tidak ingin istirahat dulu? " tanya boy lisa menggeleng kan kepalanya "aku harus cepat ka tau.. aku merindukan jeny saat ini" kata lisa "sai! " roy melihat sai di gendong dua bodyguard "sai kau kenapa? " kata boy "sai" lisa melihat wajah sai lebam "nona aku dapat lima belas bunga" kata sai "tapi kenapa wajah mu memar dan lebam? " tanya lisa "ini bunga yang ada di hotel aku ambil" kata sai "sekarang kita bisa memberikan bunga nya dan nona bisa dekat lagi dengan nona jeny" kata sai lisa tersenyum "dasar bodoh" lisa memeluk sai "terimakasih ya" kata lisa boy juga tersenyum ada rasa haru di hati nya melihat lisa berpelukan dengan sai.


__ADS_2