
pagi hari yang cerah seperti biasa jeny sudah ada di dalam kantor berkerja seperti biasa "mau permen? " kata nano "mau" kata jeny "aku juga mau dong" sahut rekan kerja yang lain "tenang aku punya banyak" kata nano "eh ngomong ngomong sudah hampir seminggu lebih nona dim tidak pernah kelihatan"
"iya ya aku juga baru sadar"
"biasanya dia datang"
"iya biasanya dia membantu jeny mengurus iklan"
"aku dengar nona dim sudah tidak berkerja sama lagi dengan bos"
"aku dengar juga gitu"
"tapi kenapa? "
"kalian tidak tau? asisten nona dim mencelakai nona lisa adik tuan Daichi dengan merusak mobil nya maka nya nona lisa kecelakaan"
jeny terdiam mendengar rekan kerja nya "jadi benar kak dim dan kak Daichi tidak berkerja sama lagi" kata jeny dalam hati.
suara alarm peringatan semakin terdengar keras orang orang panik dan berlari keluar menyelamatkan diri mereka masing-masing dim diam dan memperhatikan api yang semakin besar itu melahap gedung apartemen di depan nya.
lisa membawa tas nya lalu berjalan keluar ruangan "akhirnya aku bisa pulang lebih awal" kata lisa "silahkan nona" kata nario "ayo jemput jeny" kata lisa "nona " bright mendekati lisa "ada apa? " kata lisa "nona apartemen angkasa terbakar" kata bright "apa? " kata lisa "api semakin besar nona" kata bright "oke kita kesana" kata lisa.
roy langsung menghampiri jeny "hum? lisa belum datang? " kata jeny "nona lisa menelpon barusan kalau dia ada urusan mendadak soal apartemen angkasa" kata roy jeny memeriksa ponsel nya "hum... kita kesana saja" kata jeny.
dim yang baru saja mau masuk ke dalam mobil langsung di tarik oleh lisa "berani nya kau" lisa menghajar dim "sial sekali aku harus bertemu dengan mu padahal aku mau menjemput jeny" kata dim "kau membakar apartemen ku!! " kata lisa sambil menendang dim "ya aku membakarnya, kau fikir kau senang dan aman setelah membawa ku ke penjara !! kau salah!! kota mu ini sangat payah.. uang bisa mengatur segala nya" dim memukul perut lisa "aku akan membunuh mu sekarang" kata lisa.
pintu mobil di buka jeny dan dengan cepat jeny berlari ke arah lisa yang sedang berkelahi dengan dim "lisa... lisa... lisa.. berhenti" kata jeny sambil menarik tangan lisa dim yang ada di bawah lisa meringis kesakitan, "jen" lisa terkejut melihat jeny "lisa apa apaaan ini? " kata jeny sambil membantu dim berdiri "dia membakar apartemen ku jen" kata lisa "tidak jen, aku kebetulan lewat dan melihat ada api aku langsung menelpon pemadam aku juga gak tau kalau apartemen ini milik lisa " kata dim sambil memegangi perut nya "lisa.. " kata jeny "dengar jen aku.. dia barusan mengatakan segala nya pada ku" kata lisa "dia mau menjemput mu setelah membakar apartemen ku da--" lisa terdiam ketika jeny mengangkat tangan nya "roy panggil salah satu pemadam" kata jeny "siap nona" kata roy "ini kak dim" jeny memberikan tisu ke dim lalu mengeluarkan tisu basah dari tas nya "diam lah" jeny mengusap darah dari hidung lisa "kau menangis? " kata lisa "kau baru saja membuat ku takut" kata jeny "nona" roy datang "pak katakan kau datang ke sini karena siapa? siapa yang menghubungi mu? " kata jeny "nona aku datang atas panggilan dari seorang wanita bernama dim dia mengatakan saat dia lewat ada api besar dan langsung mengirim lokasi nya" kata pemadam itu "pergilah " kata jeny "tidak mungkin" kata lisa "kau salah" jeny menatap lisa "tidak jen, dia baru saja mengatakan pada ku kalau dia yang membakar apartemen ku" kata lisa "tapi bukti menyatakan hal lain" kata jeny "kak dim berkata benar lisa pemadam itu bukti nya dan.. dan kau menuduh nya" kata jeny dim tersenyum senang "dia tersenyum lihat lah" kata lisa jeny menoleh ke arah dim "akhh" dim meringis kesakitan "senyum apa nya? dia kesakitan karena kau memukul nya " kata jeny "tapi jen, oh.. bukti bodyguard ku mendengar apa yang dia katakan" kata lisa "akhh" dim jatuh ke tanah "kak dim" jeny membantu dim "dada ku terasa sakit" kata dim "oh.. berdiri lah roy bantu aku bawa kak dim ke mobil" kata jeny lisa mengusap wajah nya "jen" kata lisa "diam" jeny menatap lisa lalu berjalan mendekati lisa "bukti yang kau tunjukkan tidak sesuai yang kau katakan pada ku " kata jeny "tapi" kata lisa "tapi apa? aku melihat mu memukul nya.. dan itu bukti bahwa kau yang menyakiti kak dim bukan sebaliknya dan ke dua pemadam itu mengatakan kalau kak dim yang menelpon nya ka dim ingin menolong mu tapi kau malah berfikir buruk" kata jeny "jangan bicara lagi aku akan telpon ambulan" kata jeny sambil berjalan menjauh lisa langsung meninju udara.
malam harinya...
Shower di matikan jeny langsung memakai jubah mandi nya setelah keluar dari kamar mandi dia melihat lisa sedang duduk di sofa sambil mengobati luka nya, "biar aku bantu" jeny mengambil kapas lisa menatap jeny "ahh" lisa meringis "shhh... tahan sedikit" kata jeny "ahh.. perih" kata lisa jeny menekan nekan kapas ke luka lisa "oke sudah selesai" jeny menutup luka lisa dengan plester "terimakasih" kata lisa "apa masih terasa sakit? " tanya jeny "tidak terlalu" kata lisa "pergilah tidur aku akan ke bawah sebentar" kata jeny sambil pergi lisa terdiam.
"ada apa jen" kata boy "aku ingin kau datang besok ke rumah, ini soal lisa aku menghawatirkan nya" kata jeny "oke oke tetap lah tenang jangan kawatir aku akan ke sana segera besok" kata boy "oke " kata jeny "tapi apa ada masalah? " kata boy "lisa memukul orang aku sudah mencoba menasehati nya tapi dia tidak mendengarkan ku, jadi aku mau minta kau yang menasehati nya besok aku.. aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada lisa" kata jeny "oke oke tenang lah pagi pagi aku akan ke sana oke" kata boy "oke" kata jeny "pergilah tidur jangan fikir kan soal lisa aku akan mengurus nya" kata boy.
jeny masuk ke dalam kamar dia melihat lisa sudah tidur jeny membuka lemari dan memakai pakaian tidur.
jeny duduk di ranjang menarik selimut untuk lisa "aku tidak tau apa yang terjadi di antara kalian tapi aku tau kalian berdua seperti nya memiliki dendam tersembunyi yang aku sendiri tidak tau, karena sekilas kalian terlihat sangat bersahabat namun terkadang terlihat berkelahi layak nya musuh. dan aku tidak tau bagaimana cara menasehati mu agar kau tidak memukul orang kau lihat kan kau yang terluka juga pada akhirnya" kata jeny sambil menatap lisa.
__ADS_1
ponsel jeny bunyi jeny menatap layar ponsel nya "kak dim? " kata jeny "kenapa dia menelpon ku malam malam begini? lisa juga sudah tidur bagaimana jika terjadi salah paham nanti" jeny meletakkan ponsel nya perlahan lisa tersenyum "besok saja aku tanya deh" jeny berbaring "dia benar-benar peduli pada ku" kata lisa dalam hati.
"dia tidak mengangkat telpon ku" kata dim sambil meletakkan ponselnya "tidak papa aku akan menelpon nya besok pagi, lihat lah lisa jeny akan membenci mu" kata dim.
dengan sepeda motor boy datang ke rumah lisa "pagi pagi" boy masuk ke dalam rumah "tuan boy" kata sai "dimana mereka? " tanya boy "masih di atas" kata sai "oho... " boy pergi menaiki tangga.
"tok tok tok tok tok" lisa menoleh ke arah pintu "siapa? " kata lisa "aku " kata boy lisa membuka pintu "lama sekali sedang apa kalian" kata boy "bersiap untuk sarapan ayo ke bawah jeny sedang mandi" kata lisa "oh oke" kata boy.
boy meneguk segelas kopi dan memakan beberapa biskuit sambil menasehati lisa sesuai permintaan jeny. "jadi kau datang cuma buat mengomeli ku? " kata lisa "bukan mengomeli mu aku menasehati mu" kata boy "tapi aku tidak butuh nasehat boy, aku tidak salah kenapa kau tidak mendatangi dim dan menasehati dia " kata lisa "kau tidak mengerti kalau jeny benar benar kawatir dan peduli pada mu" kata boy "lisa.. " jeny datang "ada apa? " tanya lisa "kak dim menelpon ku nih dia bilang tas nya ketinggalan di mobil ku" kata jeny "benarkah berikan ponsel mu pada ku" kata lisa "nih" kata jeny "halo dim" kata lisa.
boy menyuapi jeny dengan biskuit coklat "ulang tahun kakak sebentar lagi kau akan beri hadiah apa ke kak Daichi? " kata jeny "ouh sial aku harus cari hadiah hari ini" kata boy "hah.. kau lupa ya" kata jeny "tidak aku ingat kok mama alfie menelpon ku kemarin " kata boy.
"hari ini kau tidak akan bebas lagi aku akan benar benar memberi mu pelajaran nona dim kau jangan lupa aku akan mencari bukti kejahatan mu dan menunjukkan nya pada jeny " kata lisa "oh ya buktikan kalau bisa dalam seminggu ini jeny akan jadi milik ku" kata dim.
lisa datang ke ruang makan dan meletakkan ponsel jeny ke dalam saku nya "beneran ada tas nya? " tanya jeny "ada aku sudah menyuruh sao pergi mengantar nya" kata lisa "bagus lah" kata jeny "ehem.. pacar nya ada di sini jadi berhenti lah menyuapi pacar ku" kata lisa "hahah.. seperti nya ada yang cemburu" kata boy "iya" kata jeny.
di kantor..
sambil membawa beberapa kertas jeny masuk ke ruangan Daichi "kak-- selamat siang Pak" kata jeny "masuk saja jen" kata Daichi "pak ini hasil desain yang Anda minta" kata jeny "jangan terlalu formal gak ada orang di sini hanya kau dan aku dan asisten ku" kata Daichi "silahkan di periksa pak" kata jeny Daichi menahan tawa nya melihat tingkah jeny "kak aku mau bicara" Daichi membaca tulisan di salah satu kertas yang di bawa jeny dia langsung tertawa kecil "kau bisa pergi" Daichi menatap asisten nya "siap pak" asisten Daichi pergi.
dalam perjalanan pulang..
lisa memperhatikan jeny yang diam membisu "apa aku ada salah? " tanya lisa "jeny" kata lisa jeny menatap lisa "aku tau sekarang ini pasti karena kak lop ya kak lop melukai lisa dan lisa jadi benci pada kak dim aku yakin ini salah paham" kata jeny dalam hati. "hum.. aku sangat lelah" kata jeny "bersandar sini" lisa menarik jeny ke dekapan nya "mau makan di luar bersama ku? " kata lisa "tentu, oh ya bagaimana dengan luka mu? " tanya jeny sambil memegang wajah lisa "luka nya akan membaik sebentar lagi" kata lisa.
"huu... huhu.. " suara tangisan Agnes terdengar di ruang tamu saat malam hari "ada apa? " kata bob "ini sangat mengharu kan sekali... ternyata wanita dingin ini sudah mulai ada rasa namun.. namun malah kalah dengan hal lain" kata Agnes "haah.. aku sedang mau tidur jangan berisik" kata joe "ini masih jam delapan" kata bob "sedih sekali bob" kata Agnes "gak waras" kata joe.
lisa menatap jeny yang ada di depan nya "aku mau mengajak mu ke suatu tempat yang sangat kau sukai nanti nya" kata lisa "benarkah? " mata jeny "iya tapi kita akan berangkat setelah selesai acara kak Daichi dan siangnya kita langsung berangkat" kata lisa "memangnya kau mau mengajak ku kemana? " kata jeny "ke Jepang" kata lisa "aih.. jauh sekali" kata jeny "ya.. aku sudah menyewa tempat nya kita tinggal datang saja kebetulan di sana musim dingin kita bisa bermain salju" kata lisa "wah.. seru tuh kaya nya" kata jeny "kita akan menyewa seseorang untuk memfoto kita " kata lisa sambil tersenyum "kau yakin itu tidak kejauhan? " tanya jeny "apapun untuk mu" kata lisa sambil mencium tangan jeny.
keesokan harinya..
helikopter berwarna hitam ada di depan lisa
mesin helikopter di matikan lisa menatap pria di samping nya "aku ingin warna nya biru gelap kakak ku suka biru" kata lisa.
sambil membawa laptop nya jeny berjalan ke salah satu rekan kerja nya "kak maaf aku sedikit kesulitan memformat file ini " kata jeny "oh tidak papa jeny aku bisa bantu" kata rekan kerja nya.
di tempat yang berbeda terlihat semua orang sangat sibuk berkerja dan boy juga ada di sana "mama alfie bagaimana? " kata boy setelah selesai memasang foto Daichi di dinding "bagus sekali anak ku terlihat sangat tampan" kata alfie "tentu saja tapi aku lebih tampan" kata boy "tampan dari mana? " kata Jack "haa.. kalian tuh iri pada ku" kata boy "guys tolong" kata jin "astaga lihat anak itu" kata boy sambil tertawa "kenapa kau bisa terlilit tali pita? " kata Jack "aku juga tidak tau" kata jin "haa.. ada ada saja" kata Jack dan boy.
__ADS_1
beberapa hari kemudian...
di dalam bar yang terbesar di kota itu terlihat sangat ramai suara musik juga terdengar keras, minuman tersusun di dalam gelas yang tertata rapi pelayan berjalan menyiapkan segala sesuatu yang harus di siapkan "ahh " jin terdiam dia menepuk nepuk pipinya "kenapa kau di sini" kata Jack "aku melihat tuan hong su barusan" kata jin "dimana? aku tidak lihat lagian gak mungkin dia di sini dia kan tidak kenal tuan Daichi" kata Jack "tadi.. tadi.. di sini" kata jin "jangan halu yuk jalan ke sana" kata Jack lampu perlahan redup semua tamu terlihat kebingungan "tep" lampu tersorot ke seseorang yang baru datang terlihat Daichi dengan jas biru datang , boy mengganti musik nya dengan lagu ulang tahun "Mari kita sambut tuan Daichi!!! " kata mc "aku tidak melihat jeny" kata Agnes "aku juga" kata bob "Hai semua aku lisa hari ini ulang tahun kakak ku aku.. mau menguncap kan pada nya" lisa menatap Daichi "selamat ulang tahun kak Semoga panjang umur dan Tuhan melindungi mu dan memberi kebahagiaan untuk mu kau.. kau kakak terbaik" kata lisa Daichi langsung memeluk adik nya "selamat ulang tahun sayang" kata alfie "yo.. semua nya mari dalam hitungan ke tiga kita bernyanyi bersama 1-2-3 happy birthday to you.. " kata boy sambil berjalan di depan empat pelayan yang membawa kue besar "happy birthday to you happy birthday to you" semua nya bernyanyi kado besar juga di bawa ke depan Daichi "tiup lilin nya kak" kata lisa Daichi membungkuk meniup lilin nya "uhm.. dimana jeny? " tanya Daichi "jeny? " hiko melihat kanan kiri "dimana adik ipar ku? " kata Daichi "hum.. maafkan aku kak jeny tidak bisa datang dia ada urusan dengan kak riki" kata lisa seketika wajah Daichi berubah senyuman nya hilang "jeny tidak datang? " kata danmi "ayo potong kue nya" kata boy "uh.. " Daichi memotong kue nya "wajah kak Daichi berubah seketika" kata joe "terimakasih semuanya atas kehadiran kalian " Daichi menatap kedua orang tua nya dan menyuapi mereka dengan kue nya "kakak kenapa kau sedih? " kata lisa sambil memakan kue yang di suapkan oleh Daichi "aku kesal" kata Daichi "buka kadonya.. itu kado dari jeny" kata lisa "apa ini di rekam? " tanya Daichi "iya" kata lisa "jeny kau sudah membuat kakak mu kesal" kata Daichi sambil mendekati kado dari jeny "telpon dia dulu" kata Daichi "oke" kata lisa "gak aktif" kata lisa "tau gini aku mending tidur" kata Daichi dalam hati dia menarik tutup kado itu beberapa balon langsung berterbangan "happy birthday!! " jeny muncul sambil membawa kue ulang tahun Daichi mematung sesaat dia langsung memeluk jeny "apa apaan ini" kata Daichi "selamat ulang tahun kakak" kata jeny "kau benar-benar ya " kata Daichi "masih kesal? " jeny tertawa "aku sangat kesal tadi.. kau mengerjai ku" kata Daichi "tiup lilin nya" kata jeny sambil menyalakan lilin kue yang dia bawa "aku berharap Tuhan melindungi kita semua" Daichi meniup lilin nya lalu memeluk jeny joe langsung mengambil kue dari tangan jeny dan meletakkan nya ke atas meja "panas tidak di dalam kotak? " kata Daichi "tidak kok" kata jeny sambil keluar dari kotak besar itu "ini kado mu" kata jeny "Terima kasih" kata Daichi "semua nya silakan nikmati pesta nya" kata mc boy langsung menyala kan musik nya beberapa orang langsung menghampiri Daichi dan memberikan hadiah ke Daichi sementara yang lain duduk menikmati hidangan yang tersedia dan sisa nya menari.
lisa tertawa melihat Daichi dan jeny menari bersama "kakak kau bisa menari juga ya" kata jeny "tentu " kata Daichi "aku juga gak kalah dari mu" kata jeny "sekarang aku akan di abaikan lagi" kata lisa "bersulang" kata bob "bersulang" kata Jack.
sambil berjalan reno menatap wajah jeny di layar ponsel nya "jadi kau ada di acara keluarga lisa? " kata reno "iya kak Daichi ulang tahun" kata jeny "awas hati hati di situ ramai sekali" kata reno "iya kau mau bicara pada kak Daichi lihat dia sedang makan di sana, kak Daichi! lihat reno" kata lisa "Hai kak Daichi selamat ulang tahun ya" kata reno "iya kenapa kau tidak datang reno" kata Daichi "aku si--" reno menatap dio datang "reno maaf aku datang untuk mengantar pakaian mu " kata dio "hum.. kakak semoga Tuhan memberkati mu" kata reno "aku matikan telpon nya" kata reno.
lisa menghampiri jeny yang sedang menari dengan jin "hei hei" kata lisa "aku pergi deh" kata jin "lisa" kata jeny "ajak aku juga aku mau menari juga" kata lisa "ayo menari " kata jeny sambil menarik tangan lisa "ah.. kemana si boy? " kata jin.
lisa mengangkat tubuh jeny dan memeluk nya mereka menari bersama dalam waktu yang lumayan lama "jen ini--" Daichi terdiam melihat lisa dan jeny menari "kalau begitu nanti saja ku kembalikan ponsel nya" kata Daichi.
di dalam ruangan Reno
"silahkan duduk " kata reno "kau lembur ya? apa aku mengganggu mu? " tanya dio "tidak kok aku cuma memeriksa laporan grafik saja " kata reno "oh ya terimakasih sudah mengantar baju ku" kata reno.
setelah selesai menari jeny dan lisa pergi minum bersama "kalian di sini rupa nya" mata danmi "kak danmi aku sudah jarang melihat mu" kata jeny "aku sibuk membantu bisnis kakak ku" kata danmi "aih.. sudah kerja dia" kata jeny "tentu masa aku kalah dengan lisa" kata danmi "Hai nona lisa ayo gabung dengan teman teman yang lain" seorang pria menghampiri jeny "oh iya duluan saja" kata lisa "ayolah rekan bisnis kita sudah kumpul" kata pria itu lisa menatap jeny "pergilah" kata jeny "aku akan kembali jangan dekati sembarangan orang ya oke" lisa mencium jeny "aku cinta kamu" lisa pergi "dia me--" jeny menatap danmi duduk di lantai "kakak.. kak danmi" kata jeny "aku meleleh melihat kalian" kata danmi "apa? ".
" aduh"joe menahan seorang wanita yang hampir terjatuh "maaf maaf" kata wanita itu joe terdiam menatap gadis itu dan gadis itu langsung terdiam menatap joe "dia tampan banget" kata wanita itu dalam hati "aku mau pergi lepaskan tangan mu" kata joe "oh.. maaf maaf.. hum.. aku aku ara kau siapa hum nama mu siapa? " tanya wanita bernama ara itu joe langsung pergi tanpa menjawab wanita itu "ara? " ara menoleh "carry" kata ara "gak ku sangka kita bertemu di sini" kata carry "iya aku berkerja di perusahaan pak hiko jadinya aku mendapatkan undangan ke sini" kata ara "hum.. aku melihat pria aneh.. dia dingin sekali" kata ara "haha.. kau fikir es batu" kata carry.
lisa mengangkat gelas nya ke rekan bisnis nya "bersulang" kata lisa "bersulang" sahut yang lain "jadi seperti itu lah nona lisa padahal dia sudah datang di tempat yang tepat malah dia lupa membawa berkas nya dan dia membawa berkas yang salah hahaha" lisa tersenyum "untung saja bukan berkas dari rumah sakit yang dia bawa" kata lisa "tapi berkas itu berisi laporan kesehatan hahah" yang lain tertawa "hum.. semua nya aku harus pergi" kata lisa "oke oke " kata rekan kerja nya.
boy menepuk baju jeny "lihat ta... da... " kata boy "waw.. bunga yang bagus dari mana kau dapat? " tanya jeny "dari sana bagus kan ayo berikan ini pada lisa" kata boy "oke.. kau benar juga aku akan cari lisa" kata jeny "iya hati hati awas jatuh" kata boy "terimakasih boy" kata jeny sambil berjalan mencari cari lisa.
seorang wanita menabrak jeny lalu pergi meninggalkan jeny yang terjatuh di lantai "jeny" kata joe "aku tidak papa" kata jeny "hati hati kau mau kemana? " kata joe "mencari lisa" ucap jeny "ayo aku menemani mu" kata joe "terimakasih" kata jeny "di sini ramai hati hati ya" kata joe .
lisa melihat layar ponsel nya "di telpon juga di angkat kemana jeny" lisa terus berjalan "ahh!! " seorang wanita datang "maaf nona lisa" kata wanita itu "kau siapa? " tanya lisa "aku aku teman nya tuan Daichi" kata wanita itu "oh ya sudah aku harus pergi" kata lisa "tunggu" wanita itu menahan tangan lisa "ada apa? jangan pegang aku nanti pacar ku lihat" kata lisa "bright" kata lisa wanita itu langsung menarik leher lisa.
"itu lisa" jeny berlari sambil membawa bunga di tangan nya "jangan lari jen nanti jatuh" ujar joe "uh?" jeny berhenti berlari ketika melihat lisa membungkuk ke seorang wanita "nona" bright menarik wanita itu dari lisa "lisa" kata jeny dengan air mata yang mengalir deras wanita itu menatap jeny dan perlahan menyentuh bibir nya dan merapikan baju nya "jen" kata lisa "hah" jeny memberikan bunga itu ke joe lalu berbalik pergi "jeny!! " kata lisa "apa yang kau lakukan? " joe manahan lisa "joe aku gak kenal wanita itu" kata lisa.
jeny berjalan keluar dari bar itu "kakak.. " kata jeny sambil menangis "jeny? " boy melihat jeny pergi keluar dari pintu "jeny!!! berhenti!! " seru lisa semua orang yang hadir langsung melihat ke arah lisa "boy.. boy" joe menelpon boy "keluar boy jeny menangis" kata joe.
wanita itu keluar dari bar dan berjalan ke arah sebuah mobil "nih" dim menurunkan kaca mobil dan membayar wanita itu "wanita itu? " kata joe "dimana dia? " boy datang "aku gak tau" joe menunjuk wanita itu "wanita itu yang membuat jeny menangis" kata joe "terimakasih nona dim dan semoga jeny berhasil kau dapat kan terimakasih atas kerja sama nya" kata wanita itu "kau malah main HP" kata joe "ayo ayo cari cari jeny" kata boy.
lisa terus berlari "jeny.. jeny.. berhenti ku mohon" kata lisa sambil berusaha menarik tangan jeny "BERHENTI" lisa menarik tangan jeny dan langsung menyudutkan jeny ke dinding "apa lagi? apa lagi sekarang" kata jeny matanya sangat merah "jen.. " kata lisa "ini berakhir lisa " kata jeny lisa menggeleng kan kepala nya "aku tidak sanggup lagi lisa.. kenapa begitu sakit mencintai mu, itu sangat menyakitkan hati ku" kata jeny dengan berlinang air mata "aku tidak mau mencintai mu lagi" kata jeny "jeny.. dengar kan aku--" kata lisa "lisa aku berharap aku bisa menjadi seperti dirimu yang bisa mencintai banyak orang tanpa harus merasa terikat dalam dalam suatu hubungan, aku bukan satu satu nya yang ada di hati mu aku tau itu. aku yakin di saat aku pergi di saat aku menghilang nanti nya dari kehidupan mu kau tidak akan merasakan apapun kau tidak akan sedih kau tidak akan bersedih ya kan? kau tidak akan sedih saat aku menghilang dari kehidupan mu!! bayangkan saja saat kau menjadi aku apa yang akan kau lakukan apa ka merasakan luka ku apa kau merasakan rasa sakit ku di saat pacar mu berciuman dengan orang lain? coba bayangkan kau melihat ku berciuman dengan orang lain? " kata jeny "lisa aku--" kata lisa "aku selalu berpura-pura tidak melihat apapun aku selalu diam tapi aku tau, ini berulang kali lisa di mana aku melihat mu memangku orang lain memeluk orang lain, berpesta dengan gadis lain di bar aku melihat semua nya pesan pesan romantis mu dengan mereka!! aku tau lisa aku selalu berusaha berfikir positif dan menyakinkan diri ku kalau cinta ku kali ini tidak salah oh.. kakak" kata jeny "kenapa hidup ku penuh luka dan rasa sakit lisa.. aku tidak kuat lagi.. menjalin hubungan dengan mu sekuat apapun aku berusaha meyakinkan diri ku aku akan tetap kalah!! aku kalah pada kenyataan bukan aku yang kau inginkan iya kan? " kata jeny "jeny.. ku mohon " kata lisa "menjauh lah dari ku lisa.. ku mohon.. " kata jeny "aku tidak mau mendengar apapun itu dari mu.. kau ... aku tidak mau melihat mu" kata jeny "kau kekasih ku namun kau tidak memiliki perasaan aku selalu menerima luka dari mu tanpa mengeluh aku selalu memaafkan mu karena aku sangat mencintaimu mu!! cinta mu menyakiti ku lisa" kata jeny "jeny" Daichi datang "kakak.. kakak.. aku sakit" kata jeny "adik mu menyakiti ku kakak.. " jeny terisak isak Daichi langsung maju dan menarik lisa "kau apakan adik ipar ku" kata Daichi "kak riki.. " joe menatap jeny yang menangis "kakak aku--" lisa terdiam saat Daichi mengangkat tangan nya "kak Daichi" boy menahan tangan Daichi jeny langsung pergi "jeny" kata joe "kakak... aku butuh pelukan mu" jeny menangis "ma... haa... " jeny terus berlari
"aku gak bermaksud menyakiti nya kak" kata lisa "kak ini salah paham ada seorang wanita yang menginginkan ini semuanya tejadi" kata joe "taxi taxi" kata bob "kita harus cari jeny" kata jin sambil masuk ke dalam taxi.
__ADS_1