Merakit Cermin Yang Hancur

Merakit Cermin Yang Hancur
tak ingin pergi jauh


__ADS_3

di sebuah cafe...


seorang wanita berambut kucir kuda melangkah dengan membawa tiga gelas jus dengan tersenyum ramah dia menghampiri salah satu meja "silahkan jus nya" ucap nya dengan ramah lalu pergi "jangan lihat dia" kata joe "hum kenapa? dia cantik " kata boy "fokus dengan pembahasan hari ini" kata joe "hum baik lah apa yang kau katakan tadi aku lupa" kata boy "aku menelpon mu ke sini untuk membahas jeny dia sedang butuh kak cika dia mengalami halusinasi terus" kata joe "benar dia melihat orang padahal kami tidak melihat siapa pun" kata bob "aku kawatir pada nya boy dia butuh psikolog" kata joe "dia halusinasi lagi? " kata boy "dia melihat seseorang muncul di depan kamar nya padahal tidak ada siapa pun kami juga ada dan kami tidak melihat siapapun" kata joe "aku kawatir pada kondisi mental nya" kata joe "tapi kak cika aku tidak mau dia bertemu jeny " kata boy "kenapa? " kata bob "Kalian lupa kak cika mengatakan jeny hanyalah sandiwara" kata boy "itu membuat ku marah" kata boy "kita bisa cari psikolog lain atau melakukan apa saja yang penting jeny tidak merasa tertekan" kata joe"itu benar hum.. bagaimana kita liburan jeny suka main wahana kan? "kata bob " kau benar "kata boy " kita harus menemui lisa mengatakan kita butuh cuti kerja "kata joe.


" Hai jen"kata lisa sambil membawa buket bunga yang tidak kecil "bibi kenapa kau buka pintu? " kata jeny "ya karena lisa datang" kata rita "aku membawa hadiah untuk mu kau suka? " kata lisa "dalam rangka apa? kau tidak waras lagi ya? " kata jeny "dalam rangka aku merindukan mu kau juga kan" kata lisa "mencurigakan" fikir jeny "kenapa kau menatap ku dengan mata sadis seperti itu aku jadi ingin memeluk mu" kata lisa sambil mengulurkan buket yang dia bawa ke jeny "ambil lah " kata lisa "apa ini lelucon? " kata jeny "bukan ini serius bukan hanya itu aku jug--" kata lisa "aku juga sudah mengatakan kalau aku sangat sangat serius bahwa aku tidak menginginkan mu ada di sini " kata jeny sambil menepis buket itu lisa menatap buket yang dia bawa jatuh ke lantai "kenapa kau masih tidak mengerti" kata jeny "aku tidak ingin kau muncul di dekat ku" kata jeny "kau lah yang tidak mengerti jen, kau menyembunyikan kasih sayang dan perasaan mu dengan sifat angkuh dan dingin mu" kata lisa "kau bilang apa? " kata jeny "kau mengatakan aku angkuh? " kata jeny sambil maju menarik kerah baju lisa "maaf aku tidak bermaksud mengatakan itu" kata lisa "berhati-hati lah saat bicara di depan ku" kata jeny "apa kau mencintai ku? " tanya lisa "tidak! " kata jeny "bibi bibi!! " seru jeny rita datang dari pintu belakang "semua yang dia bawa jangan di sentuh" kata jeny "ada apa ini? " kata rita "dan satu lagi aku bukan seperti mu" kata jeny tiba-tiba matanya terfokus ke kerah baju lisa membuat dia teringat orang yang ada di depan kamar nya jeny juga menarik kerah orang itu dia dapat mengingat itu dengan baik dia ingat tangan nya menarik kerah orang itu "kau mencintai ku namun kau tidak mengatakan nya" kata lisa "plak" rita menutup mulutnya ketika jeny menampar lisa "aku tidak akan pernah mencintai mu! kau fikir kau siapa berani berkata seenaknya? berhenti lah lisa.. aku membenci mu sampai kapan pun itu dan kau juga harus ingat aku tidak seperti dirimu " kata jeny "lisa kau?? " rita membeku "aku mencintai jeny bibi" kata lisa "dia berbohong bibi" kata jeny "aku tidak berbohong jen"

__ADS_1


"kau berbohong lisa!! "


kedua nya saling menatap satu sama lain "aku mencintai mu tulus" kata lisa "bawa barang barang mu itu dan pergi dari sini" kata jeny "kapan kau bisa bersikap biasa pada ku kenapa kau masih marah padaku" kata lisa "karena kau aku selalu dapat masalah" kata jeny "kau jangan lupa pacar mu itu hampir membunuh ku " kata jeny "dia buk--" kata lisa "dia pacar mu aku masih ingat itu" kata jeny "jen aku sudah menjelaskan pa-" kata lisa "cukup!! dia sudah menjelaskan semuanya jadi berhentilah berkata seolah-olah ka benar kau itu seorang penipu" kata jeny lisa mengusap wajahnya lalu dengan spontan menarik jeny dan memeluk jeny sambil mencium nya "harus dengan apa aku menjelaskan padamu agar kau percaya pada ku? " kata lisa "brengsek" jeny kembali menampar lisa "dengar bibi usir orang ini jangan buka kan pintu untuk nya" kata jeny sambil menatap rita "jeny" kata lisa "dia seorang penipu bibi jangan jangan lagi kau percaya pada kebaikan yang dia buat buat" kata jeny sambil pergi ke kamarnya lisa menarik nafas dalam dalam "lisa kau apa ini? " kata rita "aku tau bibi ini mungkin aneh" kata lisa sambil menatap rita "tapi aku mencintai jeny bibi ini cinta sungguhan bukan tipuan" kata lisa "aku masih tidak menyangka dengan pemandangan di depan ku" kata rita "apa kau membenci ku bibi? " kata lisa "aku tidak pernah berbohong sedikitpun pada jeny dan juga pada mu " kata lisa "jangan pandang aku aneh bibi ini cinta ini cinta bibi" kata lisa "pergilah" kata rita.


lisa berjalan dengan lesu sambil menatap buket bunga yang dia pegang "lisa" lisa menoleh ke arah suara terlihat boy dengan kaos hijau menghampiri nya "kau sudah menemui jeny" boy menatap buket bunga yang di pegang lisa "kau menemui nya?" kata boy lisa menganggukkan kepala nya "lalu bunga dan barang barang ini"kata boy " jeny masih marah pada ku? "kata lisa " dia tidak menerima apapun yang aku bawa dan bahkan bibi rita menatap ku dengan tatapan aneh "lisa tersenyum hambar melihat itu boy menepuk nepuk bahu lisa " tidak selamanya kisah cinta berjalan mulus seperti yang kita harapkan "kata boy " semuanya butuh perjuangan jika kau lemah maka kau tidak akan pernah mendapatkan nya"kata boy sambil tersenyum menatap lisa.

__ADS_1


suara besi beradu terdengar dari sebuah ruangan "uh!! " danmi menghindari serangan dari jeny "tuk!! " katana yang di pegang danmi terlempar jeny tersenyum lalu melempar katana yang dia pegang dan langsung mengambil ancang ancang menyerang danmi dengan tangan kosong danmi tersenyum puas melihat kemajuan jeny. danmi mundur sementara jeny terus maju dan menyerang nya dengan bertubi tubi "tap" danmi terdiam ketika tangan jeny sudah berada di lehernya "aku menang" kata jeny "kau semakin hebat" kata danmi jeny menarik tangan nya danmi mengusap kepala jeny "kakak matamu sakit? matamu terlihat merah" kata jeny "hum tidak" danmi langsung memalingkan wajahnya ke arah lain "kakak" kata jeny "aku akan ambil minum" danmi pergi "kak danmi aneh" kata jeny sambil membereskan barang barang yang baru saja mereka pakai latihan "ini susu kotak untuk mu" kata danmi "terimakasih" kata jeny "jeny" kata danmi "iya" kata jeny "aku akan pergi beberapa hari ke rumah saudara ku fang" kata danmi sambil menatap jeny "dengar kau harus terus berlatih kau bisa berlatih di rumah mu atau di tempat ini" kata danmi "kau akan berhadapan dengan keluarga Hayashi" kata danmi "kak danmi kenapa sih? apa dia sakit" fikir jeny "kakak apa kau baik baik saja? " tanya jeny danmi menoleh ke arah jeny tetapi ingatan nya kembali ke masa lalu di mana dia dan seorang pria memeluk seorang gadis muda "bagun.. adik bangun.. adik" kata pria dengan baju berlumuran darah "adik.. bertahan lah , kakak kita harus membawa kita butuh dokter" kata danmi "uhuk" gadis itu memuntahkan banyak darah "aku bersumpah akan membalas prilaku mereka" kata pria di depan danmi, di hari yang cerah danmi di datangi seorang pria berpakaian rapi "hei tentara payah" danmi menatap pria itu "gadis itu lumayan juga" kata pria itu "kau" kata danmi "itu akibatnya jika kau berani melakukan sesuatu yang sedikit mengganggu ku" kata pria itu "jadi kau yang menghabisi adikku" kata danmi "ya.. tubuhnya sangat wangi dan mulus aku sedikit bersenang-senang sebelum membunuh nya da--" danmi langsung menyerang pria itu "hei" para bodyguard pria itu langsung menghadang tapi danmi sudah di kendalikan amarah dia menghajar semua bodyguard itu lalu mengacungkan pistol ke pria itu "danmi jangan lakukan itu" kata beberapa orang yang datang "bunuh aku kalau kau berani tapi setelahnya kau akan lebih menderita" kata pria itu "dorrr!! dorr..dorr!! dorrr" darah muncrat kemana mana "kakak" danmi kembali sadar setelah jeny menepuk nya, "kenapa kau menangis? mata mu merah dan berair" kata jeny " jika aku pergi nanti kau harus menjaga dirimu baik baik"mata danmi berkaca kaca "kakak" kata jeny "aku merindukan adikku" kata danmi sambil menunduk "kau punya adik" kata jeny "punya" danmi tersenyum menatap jeny "dimana dia apa dia ikut dengan saudara yang bernama fang" kata jeny "dia sudah pergi ke tempat Tuhan" kata danmi "oh.. maaf kan aku" kata jeny "tidak papa" kata danmi "jeny bagaimana kalau selama aku pergi kau jangan ada di dekat john ataupun keluarga Hayashi lainnya" kata danmi jeny mengerutkan dahinya "bagaimana jika terjadi sesuatu sedangkan aku jauh tidak ada di dekat mu" kata danmi bayangan adiknya yang sekarat kembali muncul di kepalanya "kakak apa adikmu tewas karena mereka? " tanya jeny danmi menarik nafas dalam dalam lalu berdiri "aku akan berkemas sekarang lalu mengantar mu" kata danmi "tidak papa kakak aku akan pulang dengan taxi" kata jeny "kalau begitu tunggu aku akan pesankan taxi online untukmu" kata danmi.


mobil putih berhenti di depan gerbang "gawat" fikir jeny sambil buru buru keluar dari mobil dan memperhatikan tangan nya yang gemetar "atur nafas.. kali ini aku harus bisa mengendalikan diriku jangan kalah dengan serangan panik" kata jeny sambil memaksakan diri untuk terus berjalan perlahan dadanya mulai terasa sesak jeny memegangi dadanya "kenapa kau datang lagi.. aku sudah tenang" kata jeny kakinya mulai sulit berjalan "ayo jeny kau pasti bisa.. kau pasti bisa!! kakak akan bangga jika aku bisa mengalahkan diri ku sendiri" kata jeny dia menatap ke arah pintu perlahan jeny bersandar ke pintu nya kunci terjatuh di saat dia ingin membuka pintu "kakak" jeny memegangi dadanya jantung nya semakin terasa berdetak semakin cepat "yang lisa katakan soal jantung berdetak semakin cepat itu benar" fikir jeny "aku rasanya mau mati" kata jeny dia berusaha terus untuk menenangkan diri nya "tap" jeny menoleh ke seseorang yang menyentuh bahunya "hirup ini" jeny melihat oksigen mini yang di sodorkan ke arahnya "aku tidak butuh bantuan mu" kata jeny "kenapa kau selalu keras kepala? kau mungkin tidak butuh bantuan ku tapi aku tidak bisa diam melihat mu kesakitan seperti ini" kata orang yang tak lain adalah lisa "pergi aku bisa mengurus diriku sendiri" kata jeny sambil berusaha berdiri "sial sulit sekali bernafas" kata jeny dalam hati lisa memungut kunci yang ada di dekat kaki jeny "crek"pintu di buka " kau tidak masuk"kata jeny dengan nafas terputus putus "aku akan masuk" kata lisa sambil mendorong pintu yang ingin di tutup jeny lisa masuk dan mengunci pintu "kau sesak jen, pakai lah oksigen mini ini" kata lisa jeny pergi ke dapur mencari air lisa mengikuti nya "kenapa kau tidak mendengar kan aku" kata jeny sambil menatap lisa "karena kau tidak mendengar kan aku" kata lisa sambil perlahan mengangkat tubuh jeny ke atas meja "melihat mu begitu tersiksa bagaimana mana bisa aku pergi begitu saja" kata lisa sambil menatap jeny "awas" jeny mau pergi tapi di tahan lisa menundukkan wajahnya dan mencium jeny "aku mencintaimu" bisik lisa jeny hanya diam menatap lisa kemudian lisa mengambil oksigen mini dan memberikan nya ke jeny dan jeny menerima nya dan menggunakan oksigen itu "kau bisa pergi " kata jeny "aku tidak ingin pergi" kata lisa "aku akan menelpon polisi untuk mengusir mu" kata jeny "coba saja" kata lisa jeny turun dari meja berjalan ke ruang tamu mengambil telpon rumah "halo" kata jeny "ya nona apa ada masalah? " mata orang di sebrang telpon "tap" lisa memeluk jeny dari belakang lalu mencium bibir jeny "umm" jeny mendorong lisa dengan kuat tetapi lisa tetap maju dan mengambil telpon yang di tangan lisa "maaf Pak salah sambung" kata lisa lalu dia menatap jeny "kau sekarang semakin berani ya" kata jeny lisa maju mendekati jeny "lisa aku benar-benar tidak akan segan menghajar mu" kata jeny sambil mundur "aku akan menerima apapun darimu" kata lisa "dug!" jeny tidak dapat mundur lagi karena di belakang nya ada sofa "jika kau mencium ku lagi atau berlaku kurang ajar pada ku aku akan --" jeny diam "akan apa? " lisa menunduk "aku akan bilang pada kakak kalau kau berlaku kurang ajar" kata jeny sambil menatap wajah lisa yang semakin dekat dengan wajahnya "kau! " jeny menahan tubuh lisa "aku akan menjelaskan sekali lagi padamu" lisa menatap mata jeny "aku tidak mencintai siapapun kecuali dirimu" bisik lisa sambil perlahan memiringkan kepalanya "tidak " kata jeny dalam hati "tap"lisa memegang tangan jeny yang menahan tubuhnya tubuh jeny perlahan jatuh di atas sofa lisa langsung mencium jeny sambil menahan tangan jeny yang mencoba mendorong dirinya agar menjauh lisa menarik wajahnya dan menatap mata jeny " ku mohon jangan halangi aku"kata lisa "aku mencintaimu" lisa kembali mencium jeny merasakan tangan lisa menyusup di antara rambut nya "tap! " jeny mendorong lisa "cukup! " kata jeny sambil berdiri "kau benar-benar brengsek!! " kata jeny "maaf" kata lisa "tapi jeny aku benar benar mencintai mu kau bisa merasakannya kan? " kata lisa "aku hanya merasakan keburukan dari mu! " kata jeny lalu dia berjalan ke arah pintu "sekarang pilih kau tetap di sini dan aku yang pergi atau kau yang pergi dan aku yang di sini" kata jeny lisa membenarkan dasinya lalu berjalan ke arah pintu menatap jeny dalam waktu yang cukup lama "pergi sekarang! " kata jeny "ku harap kau akan mencintai ku suatu saat nanti" kata lisa "jangan harap" jeny mendorong lisa lalu menutup pintu dan mengunci nya.


di kamar jeny...

__ADS_1


"grriit" jeny keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya perlahan mendekati jendela dan membuka sedikit tirai nya "apa? " jeny terkejut melihat lisa masih duduk di kursi panjang depan rumahnya "tidak jeny.. bukan saatnya memikirkan soal percintaan seperti yang di katakan kak danmi" kata jeny "aku tidak pernah memikirkan apapun lagi bahkan aku tidak memikirkan soal percintaan bagi ku cinta tidak terlalu penting " jeny teringat perkataan danmi "aku harus fokus pada hari esok " kata jeny sambil menutup kembali tirai jendela nya dan membuka lemari pakaian.


"kau bisa memukul mereka di masa yang akan datang" jeny membuka matanya melihat sekitar kamarnya "astaga aku bermimpi" kata jeny tiba tiba dia melihat ke arah jendela lalu berdiri membuka tirai jendela terlihat lisa masih duduk dengan jas yang sudah sedikit terbuka dan bahkan sesekali meniup jari jarinya jeny menoleh ke arah jam terlihat jam menunjukkan pukul setengah dua. "nona" bright datang menghampiri lisa "ini sudah malam nona jeny akan baik baik saja" kata bright "tapi aku belum ingin pulang" kata lisa "aku tidak ingin pergi dari tempat ini tapi dia selalu menyuruh ku untuk pergi" kata lisa dalam hati "nona jika kau sakit siapa yang akan menjaga nona jeny, siapa yang akan menolong nona jeny" kata bright "kita akan kembali besok" kata shin "ayo nona" kata roy sambil membawa selimut untuk menutupi tubuh lisa jeny hanya menatap dari jendela tiba tiba lisa menatap ke arahnya "good night jen semoga mimpi indah" lisa berdiri baru jalan beberapa langkah lisa kembali menoleh ke arah jendela kamar jeny yang terlihat gelap, lisa masuk ke dalam mobil dan pergi pulang.


__ADS_2