
"lisa.. apa yang kau lakukan? " daichi melangkah mendekati adiknya yang sedang duduk dengan kepala bersandar di meja "hei.. " kata daichi "astaga kau tidur? kenapa tidur di ruang kerja? " kata daichi "jeny.. aku minta maaf.. " ucap lisa daichi mengerutkan dahinya lalu menatap ke arah shin "hum.. nona lisa hum" kata shin "apa yang terjadi? " tanya Daichi "nona jeny marah pada nona lisa tuan" kata shin Daichi berdiri "bentar aku pindah kan dia dulu" kata Daichi "hum.. je-- kakak" lisa terbangun di saat Daichi hendak mengangkat nya "kenapa kau sampai ketiduran" Daichi menyuruh shin pergi "aku kelelahan kak" kata lisa "kau tadi mengigau meminta maaf ke jeny" kata Daichi.
__ADS_1
danmi menatap jeny yang sedang tidur di samping nya "maaf kan aku jeny.. kau jadi makin banyak fikiran gara gara aku" kata danmi "hum!! " jeny terbangun ketika ponsel nya berbunyi "apa!! gawat!! " kata jeny "ada apa? " kata danmi "hati ini aku ada janji akan menemui john aku lupa kak aku pergi bentar ya" kata jeny "apa yang akan kau katakan pada john? " tanya danmi "aku juga tidak tau aku akan memikirkan nya kau istirahat saja" jeny keluar "ya halo john " kata jeny "kau di mana? " tanya john "aku.. aku sedang di jalan ingin menemui mu" kata jeny "benarkah? " jeny mengerutkan dahinya "kenapa kau bicara seolah olah kau tidak percaya" kata jeny "waktu itu kau bilang kau ada urusan ternyata ka bertemu dengan ****** itu" kata john "kau bilang akan kembali ternyata tidak kan? " kata john "john.. aku tidak kembali karena hujan ngomong ngomong siapa ****** yang kau maksud" kata jeny "kau tau jawabannya" kata john "aku akan segera sampai" kata jeny sambil membenarkan jam tangan nya "kenapa kau ada di rumah sakit? " tabay john jeny terdiam "bagaimana dia tau? " fikir jeny "kau ini bicara apa? " kata jeny "siapa yang sakit? " tanya john "jawab aku jen! " jeny mengerutkan dahinya "jangan jangan" jeny berbalik tepat di belakang nya jarak tiga langkah john sudah berdiri menatap nya "john" kata jeny john berjalan ke arah jeny sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku "siapa yang kau temui? " tanya john "kakak ku.. sakit" kata jeny "kakak yang mana? kau bilang kau hanya punya satu kakak.. dan itu ada di daerah yang jauh" kata john sambil melirik ke arah pintu kamar rawat danmi "hu... m dia kakak ku juga, dia kakak angkat ku" kata jeny "benarkah" jeny langsung berjalan memblokir pintu "kita ak pergi" kata jeny "aku ingin melihat nya" kata john "tidak tidak kata dokter hanya keluarga nya yang boleh lihat" kata jeny "ayo kita pergi" kata jeny "nona jeny" perawat datang "saya ingin mengganti cairan infus tuan danmi" kata perawat "uh.. " jeny menatap john "boleh berikan aku jalan " kata perawat itu "uh.. oke" kata jeny "terimakasih" perawat itu masuk "john! " jeny menghalangi john yang hendak masuk namun tetap saja john berhasil masuk "cuma sebentar tuan " perawat itu melakukan tugasnya "bagaimana perasaan mu sekarang? " tanya perawat "jauh lebih baik dari sebelumnya" kata danmi "ini sudah selesai semoga lekas sembuh" perawat pergi "sudah ku duga" kata john "john.. ayo" kata jeny "dia yang kau bilang kakak mu? " tanya john sambil mengeluarkan pistol dari sakunya "john!! " jeny langsung melindungi danmi "john! akhirnya kita bertemu" kata danmi "tentara busuk seperti mu ku fikir kau sudah mati waktu itu" kata john "Tuhan menakdirkan aku untuk terus hidup dan membalas kan dendam adik ku" kata danmi "john! " jeny melihat john hendak menarik pelatuk nya "jeny minggir lah" kata john "sekarang aku tau satu hal pecundang" john menatap danmi "kau menggunakan jeny sebagai pion mu kan? " kata john "kau fikir aku seperti mu jeny adalah adikku " kata danmi "minggir jeny!! dia sudah lama ingin mati jadi aku ingin mengabulkan keinginan nya" kata john "john dia sedang terluka jangan lakukan ini" kata jeny "sekarang aku bertanya pada mu" kata john "kau pilih aku atau pecundang itu ingat jen aku adalah teman mu" kata john jeny menggeleng kan kepala nya "awas jeny" kata danmi jeny mengambil pistol yang di pegang danmi "aku akan menembak mu jika kau ingin menembak kakak ku" kata jeny "jeny apa yang kau fikir kan? " tanya john "aku serius! " kata jeny bayangan masa lalu kembali muncul di mana keluarga Nya di bantai "kau terlihat sudah jelas sekarang. kau sudah di pengaruhi oleh ****** itu dan pecundang ini" kata john "dia bukan ****** dan kak danmi buka seorang pecundang! " kata jeny "apa yang baru ku dengar? kau membela si ****** itu barusan" kata john "baik sekarang artinya kita sudah sah menjadi musuh bukan apa lagi melihat mu menodong kan pistol ke arah ku" kata john "john aku.. " kata jeny sambil menurunkan senjatanya john tersenyum "kita teman atau musuh jen? " tanya john "jika teman tembak lah orang yang di belakang mu" kata john "jika musuh tembak aku" kata john danmi memperhatikan gerakan jeny "kendalikan dirimu jen " kata danmi dalam hati "gejala serangan panik mulai terlihat" fikir danmi "ayo" kata john jeny perlahan memutar tubuhnya john tersenyum sambil menyimpan pistol nya "kak danmi.. " kata jeny "tidak papa aku tau" kata danmi "hahahha.. ayo jen" kata john dengan senang "aku mulai duluan!! " jeng melepaskan tembakan sambil memutar tubuhnya "dorr dorr dorr dorr dorr dorr" john terkejut jeny malah berbalik "tuan!! " bodyguard datang mengacungkan senjata ke jeny "dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr" kaca mulai pecah barang barang mulai berantakan "bawa tuan pergi" kata salah satu bodyguard john "ada serangan dari luar" kata mereka jeny memeluk danmi tak lama kemudian ruangan kembali sunyi "kau tidak papa danmi? " pam melihat wanita yang memeluk danmi "pam? " kata danmi "pam? " jeny menarik diri nya "jeny.. kenapa kau di sini? " tanya pam "pam dia adik angkat ku dia melindungi ku barusan" kata danmi "kau tidak papa jen? " tanya pam "hum! " jeny mengangguk perlahan ada darah keluar dari goresan yang ada di pipi jeny "aku sudah menelpon seseorang untuk menjemput jeny" kata danmi "kakak" kata jeny "tidak papa kau harus istirahat" kata danmi "benar jeny astaga kau terluka" kata pam sambil mengambil tisu untuk mengelap darah di pipi jeny "kak pam" kata jeny "ada apa adik? " kata pam "hum.. jangan beri tau ke kak riki kalau aku tergores" kata jeny "pelatih aku datang" lisa masuk kw dalam ruangan itu "pak pelatih apa yang terjadi? " tanya lisa "lupakan itu, bawa jeng pulang" kata danmi "apa!! kakak kau gila ya? aku tidak mau pulang dengan nya" kata jeny "jeny luka mu harus di obati pergilah pulang" kata pam "tapi aku bisa pulang naik taxi kenapa harus dengan lisa" kata jeny "lisa bisa menjaga mu " kata danmi "kau yakin sekali" kata jeny "lisa bisa kan? " kata danmi "bisa pak pelatih" kata lisa "ayo jen" kata lisa "aku antar sampai parkiran" kata pam "huuuh!! " jeny berjalan duluan lisa menatap danmi "ku serahkan pada mu" kata danmi "kau tenang saja aku akan menyuruh beberapa pengawal buat berjaga jaga di sini" kata lisa sambil pergi "jeny sejak kapan mau kenal danmi? " tanya pam "aku lupa" kata jeny "tapi kak pam apapun yang kau lihat jangan beritah6 kak riki aku takut dia kawatir dan gak fokus bertugas" kata jeny "ya kak" kata jeny "iya aku mengerti" kata pam "sekarang pulang lah dengan lisa aku akan tutup mulut pada riki" kata pam "ayo jen" kata lisa "bright kemari! duduk dengan ku di belakang! " kata jeny sambil menarik bright lisa tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
di rumah jeny..
__ADS_1
john menatap luka nya di cermin "semua tembakan nya tepat mengenai tubuhku " kata john dia kembali teringat saat jeng menembaknya jeny melihat arah lain bukan melihat nya namun semua peluru nya tepat mengenai nya "jika aku tidak memakai rompi anti peluru ini kemungkinan jantung ku akan terkena peluru awas kau jeny!! kau akan tau akibat nya" kata john.
__ADS_1