
jeny mencatat sesuatu di kertas putih lalu menatap kembali layar laptopnya dahinya terlihat mengkerut segera dia berdiri memakai kemejanya dan pergi keluar.
Agnes duduk di kursi mengelap keringat nya perlahan "duh... capek juga" ucapnya "iya nih dari semalam ramai terus" kata bob "aku rasanya ingin sekali melihat jeny" kata Agnes "aku juga sudah lama kita tidak melihat nya" kata bob.
jeny turun dari taxi dia memperhatikan jalanan "waktu itu" jeny langsung duduk mengeluarkan kertas dan mulai menggambar sesuatu lalu dia melihat sekitar jalanan itu dan menemukan beberapa serpihan mobil dan juga robekan kain serta sampah "kamera" jeny langsung kembali ke dalam taxi dan kembali ke rumah nya dia masuk ke dalam kamar mencari kamera miliknya "ketemu" jeny langsung memeriksa semua rekaman yang ada di dalam kameranya terlihat sepasang pengantin sedang berjalan ke arah mobil "hum?? " jeny langsung mengerutkan dahinya ketika rekamannya mati "aku merasa aku merekam semuanya" fikir jeny "gak.. gak mungkin kok bisa cuma sampai di sini" kata jeny tiba tiba dia teringat seseorang "Agnes" kata jeny.
joe melihat siapa yang datang matanya langsung terbelalak "jeny" joe langsung menghampiri jeny yang terlihat seperti orang kebingungan "jeny apa yang kau lakukan di sini? " kata joe jeny melihat ke arah joe "kau ingin sesuatu kemarilah duduk" joe membawa jeny duduk di sebuah kursi jeny dengan muka yang terlihat polos itu hanya diam saja "kau lapar? kau kelihatan kelelahan gimana kalau kau istirahat di kamar kami" kata joe jeny mengangguk "kau tunggu di sini dulu oke, aku letakan ini dulu" joe segera pergi lalu kembali lagi "ayo" kata joe lalu dia membawa jeny ke apartemen mereka pintu di buka "kami nanti malam mau menemui tapi kau malah datang" kata joe sambil meletakan minuman di meja "aku hanya merasa bosan di rumah" kata jeny "tidak papa kau di sini saja kami juga akan segera pulang" kata joe jeny mengangguk "aku tinggal gak papa kan? " kata joe jeny mengangguk "baiklah jangan kemana mana" joe pergi keluar pintu seketika mata jeny yang yang terlihat biasa langsung berubah jadi tajam dan perlahan tersenyum miring dia pun berdiri dan berjalan mencari sesuatu "nih dia" jeny kembali duduk dia membuka kamera milik Agnes dengan cepat jeny menyalakan laptop milik joe dan terlihatlah sesuatu di layar laptop "sudah ku duga mereka memindahkan semuanya di laptop" kata jeny lagi lagi jeny terlihat tercengang "kenapa? kenapa tidak ada? " kata jeny dengan kesal dia meremas rambutnya "aku yakin Agnes merekam semuanya" kata jeny mukanya terlihat sangat kesal.
riki yang sedang memakan camilan seketika langsung berhenti mendengar cerita fudo barusan matanya menatap fudo dengan pandangan seakan akan tidak percaya "aku sudah percaya dari awal aku melihat jeny kalau dia itu memiliki bakat melukis" kata pam "wah.. itu hebat dong" kata amin "kau kenapa riki? " kata pam "aku merasa ingatan adikku mulai perlahan kembali" kata riki "kenapa? " kata amin "CCTV kamar adikku memperlihatkan papa menyuruh jeny bersembunyi di dalam ruang rahasia yang ada di dalam dinding dan papa waktu itu menghadang pintu agar jeny selamat" kata riki "tidak tidak jeny bilang dia melukis pria yang sedang sakit perut saat bermain dengan anaknya" kata fudo "tapi itu hampir sama " kata riki "mungkin bayangan itu muncul di kepala adikmu dalam versi lain, karena adikmu masih bertingkah seperti anak kecil" kata fudo "kenapa aku jadi tidak tenang, papa apa yang akan terjadi kedepan nya" kata riki dalam hati.
Agnes terlihat sangat bersemangat dia membuka pintu terlihat jeny sudah terlelap di atas sofa "dia pasti kelamaan nunggu kita" kata bob joe terkejut saat ponselnya berbunyi "tunggu" joe langsung menjauh "kak riki" kata joe "ya ini aku" kata riki "oh.. kau.. hum" joe terlihat kebingungan "aku ingin meminta mu pergi melihat adikku" kata riki "kau dengar aku tidak" kata riki "hum.. y.. ya.. ya kak aku aku dengar" kata joe "bisa kan kau melihat adikku sebentar" ujar riki "oh.. iya iya bisa hum gimana kabar mu kak? " tanya joe "apa kau tidak bisa mengetahui nya saat mendengar suara ku? " kata riki "oh ya ya baiklah tapi kau tau jeny sedang tidur di apartemen kami" ucap joe "oh, kalian membawa nya ke sana? " kata riki "tidak dia tadi datang " kata joe "huf.. " joe mendengar riki mengela nafas lega.
__ADS_1
jeny terbangun melihat teman temannya "aih.. kalian sudah datang" kata jeny "maaf ya terlalu lama" kata Agnes "Hai guys" semuanya melihat ke arah pintu "lisa" kata bob "aih.. kau di sini jen" kata lisa jeny melihat lisa yang duduk di dekatnya "aku bawa minuman dingin " lisa meletakan tas yang berisi minuman ke meja "wah.. kebetulan udara agak gerah" bob mengambil sebotol minuman "gimana dengan tanganmu" kata lisa dengan suara yang sangat pelan tapi jeny tidak menanggapi nya jeny malah mengambil sebotol minuman di depannya "masih dingin ya" fikir lisa joe datang sambil membawa buah buahan yang sudah di potong "padahal kami habis kerja mau kerumah mu loh" kata Agnes "iya tapi dia malah datang duluan" kata bob "sini aku bantu" kata lisa karena dia melihat jeny yang sedari tadi hanya memegang botol nya "eh tunggu.. waktu itu aku benar benar kehabisan tenaga lisa datang ya, mungkin ada di tangan lisa" fikir jeny "nih" lisa memberikan botol itu ke jeny "tapi gimana aku cari taunya? hanya satu jalan yaitu aku harus kerumah lisa" kata jeny dalam hati.
lisa melihat jeny yang sedari tadi hanya diam saja "apa kau ingin pergi ke suatu tempat sebelum ke rumah mu? " tanya lisa "tidak" jeny menggelengkan kepalanya "apa tanganmu sudah sembuh? " tanya lisa tetapi jeny hanya melihat ke luar jendela "jeny aku bertanya" kata lisa "bisa tidak kami diam saja" kata jeny sambil melihat ke arah lisa tak lama kemudian mobil berhenti shin segera keluar membuka pintu jeny keluar di ikuti lisa jeny berbalik menyadari lisa mengikuti nya "kenapa kau tidak pulang? " kata jeny "kau belum menjawab pertanyaan ku tadi" kata lisa jeny mengerutkan dahinya lisa mendekati jeny tanpa bicara langsung memegang tangan jeny dan melihat luka di siku jeny masih belum sembuh "hm" jeny menarik tangannya "kenapa aku jadi curiga pada nya" mata jeny dalam hatinya "dia pura pura baik atau kakak yang menyuruhnya aih bodoh amat aku harus masuk ke rumah lisa" kata jeny dalam hati lisa mengusap wajahnya perlahan "baiklah, aku pulang dulu jika ada apa apa kau bisa telpon aku atau telpon boy" kata lisa jeny langsung pergi masuk ke dalam rumah nya.
keesokannya..
jeny melihat cika dengan tiga pria datang dengan boy "pagi jeny" sapa cika "lihat kakak datang membawa coklat untukmu" kata cika "kakakku seorang pria bukan wanita" kata jeny cika tersenyum "hum.. baiklah " kata cika "kau yang mereka kesini? " jeny langsung menatap boy "humm tidak aku datang dengan sepeda ku dan aku melihat mereka sudah di depan pintu mu" kata boy "anak ini belum sembuh total, dia masih menunjukan beberapa gejala depresi" fikir robi "apa cuma aku aja yang merasa raut wajah anak ini berubah dalam waktu yang singkat" kata agus dalam hati "mereka ini teman temanku" kata cika sambil tersenyum.
lisa melihat layar ponsel nya memperhatikan jeny yang duduk di samping boy "astaga" lisa terkejut melihat jeny memukul cika dengan sangat keras "jeny" lisa langsung berdiri "nona " seorang wanita datang membawa beberapa map.
"jeny tenang lah" boy memegang tangan jeny "cika" robi membantu cika berdiri "kau berbicara seakan akan aku ini orang yang sakit dan tidak waras" kata jeny "bukan itu maksud ku, aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk mu" kata cika "untuk ku, barusan kau mengatakan kalau aku sakit, depresi, harus cek mental lagi" kata jeny "apa kau sadar? kau lah yang membuat kepala ku sakit" kata jeny "tenang tenang tarik nafas tenangkan dirimu" kata robi "jeny.. aku disini lihat aku" kata boy sambil menepuk bahu jeny "minum air ini" kata boy jeny meneguk minuman dari boy "jangan marah lagi" boy merangkul jeny "aku tidak mau melihat mereka" kata jeny "iya iya sesuai keinginan mu" kata boy lalu dia berdiri " maaf kak cika ku rasa jeny sedang butuh waktu"kata boy "iya " cika mengangguk sambil tersenyum lalu pamit pergi boy mengantar cika ke depan pintu "kau sudah tenang? " kata boy sambil mengambil tisu untuk mengelap keringat jeny "hm" jeny mengangguk "gimana kita pergi ke toko coklat atau ke toko es krim! " kata boy "ayo, hum tapi nanti malam aku mau ikut dengan mu" ujar jeny "ikut ke tempat kerja ku? " tanya boy "hm" jeny mengangguk "oke tapi tidak boleh larut malam ya" kata boy "hum" jeny mengangguk.
__ADS_1
jeny duduk dengan jaket hitam boy tersenyum melihat jeny "kau mengajak nya ke sini? " kata jin "iya tumben sekali" kata Jack "ku rasa dia bosan di rumah" kata boy jeny terlihat sedang menikmati coklat yang di berikan boy tadi. jeny melirik ke arah boy dari kaca jeny membuka jaketnya lalu berbaring di sofa sambil melihat lihat ponselnya "kenapa kau mengangkat telpon ku" terlihat pesan dari riki "halo" jeny menelpon riki "aih... adikku kenapa lama sekali kau mengabaikan telpon ku? kau sedang marah atau ingin sesuatu dari ku? " kata riki "tidak marah, jika aku marah padamu nanti aku tidak punya kakak lagi" kata jeny "hahaha.. kau akan selalu punya kakak karena aku menyayangi mu" kata riki "kakak.. " kata jeny "iya" kata riki "aku tidak mau wanita jahat itu datang padaku" kata jeny "wanita jahat? siapa? " kata riki "siapa lagi, jika bukan wanita pembawa suntik itu yang selalu mencoba menggoda mu" kata jeny "aih.. cika" kata riki "iya lah ku rasa dia menyukaimu" kata jeny "hahaha kau selalu berfikir buruk tentang nya" kata riki "aa.. kau membela nya kalau begitu saja dengan nya" kata jeny "tidak.. tidak.. kau selalu benar adikku" kata riki "kau pasti bohong " kata jeny "tidak tidak" kata riki.
lisa datang melihat sekitar nya orang orang menari dan minum bersama lisa mencoba mengamati orang orang itu "kemana anak satu itu" ucap lisa "oiii... lisa" kata boy "oh" lisa segera menghampiri boy "tumben sekali kau disini" kata boy "aku tadi ingin menemui seseorang" kata lisa "aye.. aye.. siapa? jangan jangan kau sudah punya pacar" kata boy "aku bisa melempar gelas padamu boy, jangan sembarangan bicara" kata lisa "hahaha.. kan siapa tau" kata boy sambil memberi segelas minuman ke lisa "ku rasa aku yang harus mengatakan itu" kata lisa "dengar ya kalau kau sudah punya pacar baru aku juga cari pacar takut nya kau iri melihat ku bermesraan dengan pacar ku" kata boy "hiya.. h kau sok sekali" kata lisa sambil tersenyum.
jeny membuka pintu lalu berjalan "eh" saat di tangga dia melihat seorang pria dengan jaket dan juga topi "siapa pria itu" jeny pun segera melanjutkan langkah nya "eh, jen astaga aku lupa ini udah hampir larut malam" kata boy "hum, aku mau menunggumu" kata jeny "jangan aku masih lama" kata boy "benar kata boy" jeny menoleh ke orang di sebelahnya "lisa?? " jeny melihat orang itu membuka topinya "untung saja aku tidak bertanya ke boy siapa pria di depannya. ngapain juga anak ini di sini? " fikir jeny "sudah larut aku bisa mengantarkan kau pulang" kata lisa "tidak mau" jeny menatap ke arah boy "aku kan bilang aku mau dengan mu dan ikut dengan mu malam ini" kata jeny "oh.. iya kalau begitu aku akan antar kau ke rumah ku dulu" kata boy "hum" jeny mengangguk "lisa aku pergi dulu" kata boy lisa mengangguk lalu mengeluarkan sebuah kunci "antar lah dia" kata lisa "ah.. jaket ku ketinggalan di atas" kata jeny "biar aku ambil dulu" kata boy jeny mengangguk lisa terus menatap jeny "Hai nona mau minum bersama? " ada seorang pria menghampiri jeny "tidak" jeny menggelengkan kepala "aku tidak minum akohol" kata jeny "waw.gadis yang langka" pria itu pun pergi "langka? " kata lisa "kenapa dia tertawa? " fikir jeny "mencurigakan" kata jeny dalam hati "Hai mau minum? " ada pria menghampiri jeny lagi "hm ak-" jeny belum siap bicara "ini tidak mengandung akohol" kata pria itu jeny menoleh melihat boy belum juga datang akhirnya jeny mengambil minuman dari pria itu "mau bergabung dengan kami? "tanya pria itu jeny menggelengkan kepalanya " thanks minuman nya"kata jeny "baiklah sampai bertemu di lain waktu" kata pria itu lalu dia pergi "jangan di minum, minum saja ini" kata lisa sambil menyodorkan susu kotak "gluk gluk" jeny meneguk minuman dari pria tadi "ayo" kata boy "hum" jeny meletakkan gelas nya ke meja di depan nya lalu pergi mengikuti boy "gimana aku menang kan dia meminum nya tadi" lisa melihat pria yang memberi jeny minuman tadi sedang bicara dengan beberapa orang "sudah ku duga" kata lisa.
boy menatap jeny "kau bisa tunggu aku di sini tapi kau lebih baik tidur" kata boy jeny mengangguk "aku harus segera kembali karena aku membawa mobil lisa" kata boy "ya" kata jeny "good night" boy mengusap kepala jeny baru pergi. jeny masih melihat boy yang berjalan keluar sampai terdengar suara mobil menjauh jeny segera pergi mencari laptop boy membuka semua video yang tersimpan di laptop boy "huaam.. kenapa aku jadi mengantuk" kata jeny sambil terus mengutak-atik laptop boy "tetap tidak ada, tidak ada yang lain lagi hanya lisa satu satunya dia pasti memegang rekaman itu, aku butuh rekaman itu agar semuanya berjalan sesuai rencana ku" kata jeny lalu dia menutup laptop milik boy, jeny mengusap wajahnya ketika keluar dari kamar boy "aku tidak mabuk tapi ras.. ras" jeny langsung terjatuh ke lantai.
boy memberikan kunci mobil ke lisa "kau juga sudah larut malam, kau harus pulang" kata boy "haah.. sebentar lagi" kata lisa "sekarang saja memang nya kau tidak ke kantor hah? " kata boy "iya iya aku pulang" kata lisa.
mobil berhenti di depan sebuah rumah lisa keluar dari mobil "kalian tunggu di sini saja" kata lisa para bodyguard nya mengangguk lisa berjalan ke rumah itu mengambil sebuah kunci lalu membuka pintu "kamar nya pasti di atas" lisa menaiki tangga "ini akibat nya kalau kau ceroboh" lisa melihat jeny di lantai dia kembali teringat dengan pria yang memberi jeny segelas minuman yang sudah di campur sesuatu "jeny.. jeny.. " lisa menepuk nepuk pipi jeny tapi gak ada reaksi lisa segera mengangkat tubuh jeny ke sebuah kamar "aku kan sudah bilang jangan di minum tapi kau tetap saja tidak mempercayai ku" lisa membuka jaket jeny dan juga mengganti baju jeny "aku selalu meminta kepada Tuhan, agar kau kembali menjadi ceria dan curigaan pada ku" kata lisa sambil mengusap rambut jeny "aku merindukan mu" kata lisa sambil menyelimuti tubuh jeny "good night, semoga mimpi indah dan jangan ceroboh lagi" lisa berjalan ke arah pintu tapi dia kembali berbalik menatap jeny dan kembali berjalan ke arah jeny "mari ulang masa masa dulu awal kita bertemu" lisa menunduk mencium jeny perlahan lalu pergi.
__ADS_1