
seorang pria membawa buket bunga dengan cup berisi kucing kucing mungil, pria itu berjalan menghampiri seorang wanita yang sedang minum jus "kekasih mu" kata bob "kami juga akan pulang kenapa kau datang ke sini? " kata wanita itu "aku datang menjemput mu" kata pria yang tidak lain adalah evan kekasih Agnes "buket ini cantik sekali" kata Agnes "ini untuk mu. apa kau suka? " tanya evan "sangat suka" kata Agnes "ayo pulang" kata joe "ayo, kita pulang!! ayo Agnes" ucap bob sambil membawa tas kerja nya.
"jangan sentuh apapun" jin terdiam "aku bahkan belum menyentuh apapun" kata jin dengan wajah datar "telpon adik, belum pulang " kata hong su "dia pasti sedang bersama joe" kata jin "iya aku tau, telpon dia! tanya kapan dia pulang" kata hong su yang sedang masak "baik, kau terlalu posesif pada adik mu. itu tidak baik" kata jin "dia harus pulang tepat waktu" kata hong su "halo ara" kata jin.
joe menatap ara yang ada di samping nya "iya kakak nanti aku pulang, iya aku akan pulang tepat waktu" kata ara, tiba tiba joe mengambil ponsel milik ara "satu jam lagi! aku akan antar dia pulang" kata joe sambil menatap ara "kakak kami baik baik saja" sahut ara sambil lanjut makan "simpan ponsel nya" joe menyerah kan ponsel ara "iya" kata ara sambil menyimpan ponsel nya "kau mau" kata ara "uh?? " ara terkejut joe memegang tangan nya lalu menunduk memakan makanan yang ada di tangan ara "kenapa? " kata joe "tidak.. tidak papa" ara syok "hei kau" joe memanggil seorang pria yang memegang manisan "aku mau manisan nya" kata joe "astaga padahal aku baru saja ingin mengatakan kalau aku ingin manisan" kata ara dalam hati
"ini, jika mau sesuatu kau bisa katakan pada ku" kata joe "dari mana kau tau kalau aku ingin manisan? " tanya ara sambil berjalan di samping joe, namun joe tidak menjawab apapun.
"baik lah jika kau tidak ingin mengatakan nya, bagaimana kalau kita hum.. naik sepeda listrik seperti mereka" kata ara " tidak" kata joe dengan cepat "ayolah" kata ara namun joe tetap diam, "pegang ini, aku yang akan mengambil sepeda listrik itu" joe melihat ara pergi lalu kembali dengan sepeda listrik yang dia inginkan"ayo" kata ara terlihat joe menghembuskan nafas perlahan lahan.
"aku yang di depan" kata joe dengan datar "tidak aku saja" kata ara "tidak !" joe masih menatap ara "ayolah sayang, bawa manisan dan camilan ku lalu duduk di belakang" kata ara dan akhirnya joe duduk di belakang ara tanpa protes ,"yeay.. asyik.. jalan jalan" kata ara "bisakah kau tersenyum" kata ara. seketika joe langsung tersenyum walaupun cuma sebentar, "uh?? " ara terkejut ketika joe memakaikan topi milik nya ke ara "kenapa? " kata ara "jangan tanya" ujar joe dan ara tersenyum senang sambil melihat lihat sekeliling nya "dia tau cuaca agak panas" kata ara dalam hati.
malam hari..
di dalam kamar jeny berbaring di atas ranjang sambil mengunyah makanan dan membaca komentar yang muncul di live nya "dady.. hum dady lisa, lagi di ruang kerja nya aku tidak tau kenapa tapi dia pergi setelah mendapatkan telpon dari asisten padahal sudah malam kasihan dia" kata jeny
"dady lisa kerja cari uang buat seserahan"
"ngumpulin duit buat nikah tuh si dady"
"ngemil terus tapi gak gendut gendut"
__ADS_1
"sweet kamu lucu banget pakai baju onesie "
"kalian tau, ini baju nya dari siapa? ya..nama nya aku lupa tapi yang pasti saat aku menjadi model iklan ini bersama dokter evan pacar Agnes" kata jeny "bagaimana kalau kita nonton naruto, aku suka nonton naruto walaupun berulang kali, itu anime yang pantas mendapat kan pujian sangat luar biasa. bentar aku ambil ponsel lisa, ini adalah ponsel yang lisa beli khusus untuk mencari tau siapa naruto dia bodoh sekali ya!" kata jeny
"awas loh nanti dady lisa dengar"
"mungkin lisa gengsi makanya nyari informasi tentang naruto diam diam"
"aku juga suka nonton naruto"
"sweet nobar lah kita di bioskop"
"kau benar lain kali kita harus nobar ya, yuk lah kita mulai nonton bersama sama ya, yang tidak suka boleh skip live nya " kata jeny.
"tahan ya" kata riki sambil membersihkan luka di dada fudo "aww.. " kata endo "jangan teriak aku kaget" kata amin "aku kesakitan pelan pelan" kata endo "berisik pergi sana!!! " kata fudo "astaga" kata pam "aduh... perih" kata endo "jangan mengeluh" kata joe "kita menjauh saja, dia seperti hewan liar yang lapar" kata pam "kompres benar luka mu atau itu akan membengkak" kata riki "siap" kata endo.
"aku akan masak" kata amin "aku akan bantu endo dulu, ayo pasien ku..." kata pam "sial sekali jika kau harus menjadi dokter ku" endo terkekeh sambil berjalan menjauh, "sayatan terlalu lebar seperti nya harus di jahit" kata riki "jahit saja" ucap fudo dengan spontan "kau gila? aku gak berani" kata riki "ambilkan aku cermin aku akan menjahit nya" kata fudo "kau yakin? kau tidak waras" kata riki "ambil kan saja" perintah fudo "bentar" kata riki, tak lama kemudian dia kembali "nih" kata riki "pegang cermin nya di situ! geser lagi!!" kata fudo "ah.. kenapa aku? aku tidak mau eh.. kau tidak memakai bius? " riki meringis padahal dia tidak terluka "pakai" fudo menyuntik luka nya lalu mulai menjahit nya "dia punya hati gak sih" fikir riki .
dia memejamkan matanya, sementara fudo tersenyum sinis melihat riki memejamkan mata nya "kau ini pria atau wanita" ledek fudo "waria puas? " tukas riki "penakut" kata fudo "sudah selesai? aku akan melempar mu dengan cermin ini" kata riki "sudah selesai" kata fudo.
riki membuka mata nya "aih.. sial kau menipu ku astaga!! bangsat" riki memejamkan mata nya kembali, fudo tertawa kecil melihat pria di depan nya "riki sudah selesai " kata fudo "kau akan menipu ku lagi cih, jangan harap aku ketipu kedua kali nya" kata riki "kalau begitu, aku saja yang membungkus luka ku dengan plastik" kata fudo "kau mau menipu ku kan? " tuduh riki
__ADS_1
fudo menarik tangan riki dan meletakkan nya ke dada nya "aih.. " riki membuka mata nya "rasakan benang nya sudah selesai apa belum" kata fudo "aih" riki menarik tangan nya "kau tidak kesakitan? " kata riki "aku yang kesakitan kenapa kau yang gemetaran? " lagi lagi fudo tersenyum sinis "kau tadi menakut-nakuti ku!! diam lah, aku akan membalut luka mu dengan perban. lain kali bertarung lah dengan benar kaya aku" kata riki dengan sombong, "aku tadi terkejut karena mendengar endo berteriak maka nya aku gagal fokus, setidak nya pisau itu mengenai ku bukan mengenai tuan fang" kata fudo "ah.. terimakasih sudah melindungi nya. tadi aku benar-benar takut tuan fang akan terluka" kata riki "jadi.. " kata fudo "jadi apa? " kata riki "lupa kan" kata fudo.
suara ketukan terdengar dari luar pintu membuat lisa langsung menghentikan pekerjaan sebentar "ada apa? " tanya lisa "nona, dari dalam kamar suara nona jeny kedengeran nya sedang mengangis" kata sao.
"ini sangat menyedihkan" suara jeny terdengar dari dalam kamar "jeny.. jeny.. buka pintu nya" kata lisa sambil mengetuk ngetuk pintu "dia mengabaikan nya selama ini" lisa tidak bisa membuka pintu karena jeny mengunci nya, "jeny apa marah pada ku? aku tidak mengabaikan mu!! ayo buka pintu nya. biarkan aku memeluk mu" kata lisa
namun tidak ada jawaban kecuali suara tangisan "jeny.. ku mohon maaf kan aku" kata lisa dengan cemas "sial!! bagaimana aku bisa masuk kalau kau mengunci pintu nya! ayolah buka pintu nya ku mohon.. " jeny mengerutkan kening nya "aku kaya dengar suara lisa. ah, tidak mungkin" kata jeny "kalian tau aku sendirian, tapi aku dengar lisa lihat ya! aku di atas ranjang kecil ini khusus buat bersantai. tempat tidur ku ada di pintu itu dan pintu yang di sana itu sofa, ah kok jadi bahas kamar oh.. ini sedih ayo nonton lagi" kata jeny
"jeny.. buka pintu kau kenapa, kenapa menangis? " kata lisa "sial!! cari sesuatu untuk membuka pintu" kata lisa "siap nona" kata nario "jeny.. jeny!! dengar kau bisa marahi aku, jika aku salah tolong buka pintu!! aku benar-benar khawatir" kata lisa "nona biar aku buka pintu nya" sao dan nario yang membawa perlatan untuk membuka pintu "ini sangat menyedihkan" jeny membuka sebungkus coklat lalu memakan nya "je-?? "lisa menahan dirinya untuk berteriak. dia melihat jeny berbaring di sofa sambil makan camilan terlihat juga beberapa bungkus snack yang berserakan di lantai
" sweet dady datang "
"jangan sedih lagi"
"sweet lihat belakang"
"ayo lanjut nonton lagi"
jeny memutar kepala nya perlahan "kau menangis? " lisa melihat wajah jeny "lisa.. bagaimana kau bisa masuk? aku mengunci pintu agar tidak ada hantu yang datang" jeny dengan terkejut "aku mendengar kau menangis" kata lisa "aku tidak menangis aku sedang melihat Jiraiya saja dan sambil makan" kata jeny dengan santai dan lisa langsung melihat ke arah kamera
"kau live? " lisa menaikan kedua alisnya "iya" kata jeny "kau menakuti ku" kata lisa sambil memukul jeny "hei kau memukul bagian terlarang ku" kata jeny "kau nakal" lisa melihat sampah di sekitar nya, "tapi bagaimana kau bisa masuk? " tanya jeny "aku menghancurkan kuncinya" kata lisa sambil mengambil snack yang di makan jeny "aih.. aku belum selesai memakan nya" kata jeny "kau tau aku sangat menghawatirkan mu! dan kau malah santai makan" lisa menarik jeny "aha.. lepaskan aku.. " kata jeny "jangan ambil snack ku aku belum menghabiskan nya aih.. jangan astaga " jeny memberontak sementara lisa terus berusaha menahan nya.
__ADS_1
"kau tau aku sudah sangat panik" kata lisa "tidak ada yang menyuruh mu untuk panik" ucap jeny "plak" jeny terkejut "kau memukul bagian belakang ku lagi! " jeny masih ingin mengambil snack nya "kau pantas mendapat kan nya ini hukuman" kata lisa "hukum aku nanti! biarkan aku makan Cemilan ku dulu!!" kata jeny "tidak akan, di larang makan lagi. kau juga makan coklat" kata lisa "aku..aku sedang live kau akan di marahi penggemar ku jika kau macam macam" ancam jeny, "aku akan tetap menghukum mu" lisa menahan lengan jeny "maaf maaf.. jangan hukum aku ya" kata jeny sambil tersenyum "live nya akan berlangsung tapi aku akan membuat nya mode senyap dan " lisa langsung mengangkat tubuh jeny setelah memutar arah kamera "aih.. lisa" kata jeny "sesuai janji" kata lisa "aih.. matikan saja live nya mereka akan menunggu aih.. tolong!!" kata jeny "hukuman mu akan menjadi berkali lipat" lisa menyeringai seperti binatang buas "hei nona lisa! berani sekali kau berkata seperti itu, berani berkata yang mengandung ancaman aku akan mengikat mu dan hum.. dan.. " jeny tersenyum "dan membuang mu ke luar rumah" kata jeny "oh ya? " kata lisa "tek" jeny menoleh ke samping "aih.. kau memborgol tangan ku" kata jeny "hum" lisa tersenyum "aih.. lisa... tidak.. kaak.... kakak.. adik mu di aniaya!! ".