
langit malam perlahan memudar di sinari cahaya mentari yang membuat langit perlahan cerah awan putih menghiasi langit biru di sebuah rumah terlihat seorang pria sedang menyiapkan sepiring makanan dengan tersenyum bahagia dia berjalan ke arah meja makan "makan lah" kata pria itu "kakak kau ini seperti seorang wanita " kata jeny "kenapa? hanya karena aku membuat kan mu makanan jadi aku terlihat seperti seorang wanita? " kata pria itu yang tak lain adalah riki "hum.. tidak juga tapi.. karena kau sangat mahir menyiapkan sarapan" kata jeny "kau tau jeny kakak mu ini pernah juara satu lomba memasak jangan kan menyiapkan sarapan untuk mu dia juga bisa memasak untuk orang satu desa" kata rita sambil meletakan segelas jus ke atas meja "baiklah.. ayo sarapan karena kita akan berangkat" kata riki sambil mengusap rambut jeny "makan yang banyak biar cepet dewasa" kata riki jeny menatap riki "kau mau aku sedewasa apa? aku sudah dewasa" kata jeny "iya iya yang paling dewasa ayo sarapan nanti keburu boy datang" kata riki.
__ADS_1
boy menatap wanita yang duduk di samping nya, wanita itu memejamkan matanya cukup lama nafas panjang terdengar darinya "haaah... hufff" dia menghembuskan nafas panjang "kau baik baik saja? kau bisa menyamar jika kau mau. kau bisa ikut" kata boy "tidak boy.. hum.. aku akan ikut tapi aku akan menjaga jarak sedikit " kata wanita itu "tidak lisa itu bahaya jika kau sendiri kau bergabung lah dengan kami juga" kata bob "tidak bisa" kata lisa "kenapa? " kata Agnes "jeny tidak akan mau pergi jika aku ikut kalian tenang saja.. aku ada beberapa pengawal" kata lisa sambil tersenyum "aku juga ingin melihat dia bahagia" kata lisa.
__ADS_1
boy mengemudikan mobil menuju rumah jeny "aku jadi bingung dan tak tau apa yang harus ku lakukan" kata boy "aku juga" kata bob "diam dan diam" kata joe tak lama kemudian mereka sampai dan membawa jeny serta riki pergi .
__ADS_1
jeny terus berjalan dengan kesal melewati kerumunan orang "zruuuutt... " kakinya terpeleset air yang menggenang "jeny!! " Agnes histeris "tap"jeny menatap tangan putih yang ada di pinggang nya " siapa dia? "fikir Agnes sambil berjalan menuju jeny " hm? "jeny menatap orang yang menolong nya dia menggunakan topeng dan berbaju hitam " kau tidak papa? "kata orang itu " hum"jeny mengangguk orang itu langsung menarik tangan nya dari pinggang jeny "kenapa aku jadi teringat seseorang" fikir jeny "kau harus berhati-hati di sini banyak air kau bisa terpeleset kapan saja apalagi dengan tubuh kecil seperti mu" kata orang itu "iya" kata jeny "jeny kau tidak papa? " kata Agnes "hum" jeny mengangguk "hah? " Agnes terkejut ketika orang yang menolong jeny membuka setengah topeng nya lalu tersenyum dan kembali memakai topeng nya dengan benar "ayo jen" kata Agnes "kakak mengajak kita makan" kata Agnes "tidak mau" kata jeny "bagaimana kalau kau mencoba wahana itu dengan ku lalu aku akan memberimu hadiah kue coklat yang sangat lezat" kata orang bertopeng itu "hm?? " jeny terlihat sedang berfikir "jeny itu ada di sekitar air ayo kita pergi dulu" kata Agnes "aku akan pergi dengan orang ini" kata jeny "aku gak mau dengan kakak" kata jeny "aku akan membawa teman mu mencoba wahana" kata orang itu "apa kau bisa ku percaya" kata Agnes "itu pekerjaan ku " kata orang itu "baik lah aku akan tetap di sini, berikan ponselmu biar aku yang pegang " kata Agnes jeny langsung memberikan ponselnya "ayo" kata orang itu sambil menggandeng tangan jeny. Agnes hanya menatap kedua nya pergi menaiki flaying board "Tuhan.. aku jantungan" kata Agnes "kau takut? " jeny membuka matanya menatap orang itu "tidak" kata jeny "kau tenang saja jika kau takut peluk aku" mereka mulai melayang tinggi berputar di atas air "aku takut" kata jeny orang itu tersenyum lalu menarik tangan jeny ke pinggang nya "peluk aku" bisik orang itu "hei kenapa kau lama sekali" kata joe "jeny sedang main wahana" kata Agnes "dimana? aku tidak lihat" kata joe "itu di atas" kata Agnes "hei.. hei.. itu bahaya kenapa kau memperbolehkan nya" kata joe "karena dia bersama orang yang tepat" kata Agnes "boleh aku menggendong mu? " tanya orang itu "um" jeny mengangguk orang itu langsung mengangkat tubuh jeny "mata nya mirip dengan lisa" kata jeny dalam hati "aku selalu merasa lemah di hadapan mu apalagi saat kau menatap ku begitu" kata orang itu dalam hati "aku sedang kesal" kata jeny "apa masalahnya? " kata orang itu "kakak ku membuat ku kesal " kata jeny "kalau begitu tetap lah bersama ku ku yakin kau akan melupakan ke kesalan yang kau rasakan" orang itu semakin erat memegang tubuh jeny "kau sudah lama kerja bermain wahana ini? " kata jeny "sudah.. " kata orang itu "di sini juga banyak wahana lain jika kau mau mencoba nya aku bisa menemani mu" jeny melihat sekitar nya lalu langsung cepat cepat menatap orang yang ada di dekat nya "apa ada yang pernah mengatakan kalau kau ketakutan kau terlihat sangat lucu" jeny menggeleng kan kepala nya "kalau begitu aku akan mengatakan nya padamu" orang itu tersenyum meskipun jeny tidak bisa melihat senyuman nya karena tertutup topeng "kau sangat lucu di saat kau ketakutan" kata orang itu "tidak.. suara nya memang mirip dengan lisa tapi.. prilaku nya lebih mirip ke orang misterius yang ada di depan kamar" kata jeny dalam hati "boleh aku melihat wajahmu? " tanya jeny "kenapa? " tanya orang itu "aku ingin melihat nya saja" kata jeny "kau akan melihat nya nanti" kata orang itu mereka terus bergerak berputar "itu? " jeny melihat seseorang bdi antara kerumunan "aku mau turun" kata jeny "turun? " kata orang itu "cepat aku turun" kata jeny "baik" mereka berdua turun jeny langsung berlari "aku yakin aku melihat bright" jeny melihat orang orang di sekitar kerumunan itu "dia memakai baju hitam dan celana pendek" jeny terus menabrak orang orang "aku gak mungkin salah! jika bright ada di sini tandanya lisa juga ada aku harus cari bright buat memastikan" fikir jeny "aduh! " jeny melihat pria di depan nya "kau masih marah? " kata riki "kakak nanti saja awas" kata jeny "kau kemana? " kata riki "kakak... aku buru buru" kata jeny "aih.. kau masih marah.. aku tadi bukan niat membuat mu kesal.. " kata riki "jeny ayo aku sudah pesan es kelapa muda" kata boy "aku juga sudah lapar" kata bob "jen ini dari orang di wahana flaying board tadi" kata Agnes sambil menyerah kan box berukuran sedang "apa ini? " riki membuka nya isinya kue coklat berlapis emas "ayolah.. kita makan dan bermain" kata boy "ayo adikku aku minta maaf soal tadi" kata riki "aku tidak akan mengulanginya lagi" kata riki jeny masih melihat sekitar nya "apa aku salah lihat? " fikir jeny sambil berjalan disamping riki "ayo semangat! kita makan dimana? " kata bob "di sana aku sudah pesan kan semuanya" kata boy "lihat.. boy selalu lebih dulu ketimbang kita" kata riki sambil menatap adiknya "kau mencari siapa? " tanya riki "lis-- aku tadi melihat badut" kata jeny "badut? oh.. kau mau berfoto dengan badut" riki tersenyum lebar "uhm" jeny menganggukkan kepala nya "tidak papa nanti kita cari badut nya kita berfoto bersama" kata riki sambil tersenyum lebar dan mengusap rambut adiknya.
__ADS_1
bright menghela nafas lega melihat jeny menjauh "kau ini ceroboh sekali" kata nario "iya untuk aku menyadari kalau nona jeny melihat ke arah nya" kata shin "jika dia menemukan mu maka penyamaran nona lisa akan ketahuan" kata roy "iya iya maaf aku sedikit melamun" kata bright "ya sudah ayo jangan sampai melamun lagi" kata nario "kita dari nona lisa" kata roy "hum" yang lain mengangguk setuju.
__ADS_1