
fudo berjalan dengan tegap "ada apa tuan? " kata fudo "saudara ku akan datang jemput dia di bandara" kata fang "baik tuan" kata fudo. "tuan senjata yang ada pesan sudah datang" kata riki "sudah di periksa? " kata fang "sudah tuan" kata riki "bawa masuk aku ingin melihat nya" kata fang riki pun segera berbalik memanggil beberapa orang untuk membawa beberapa kotak besar berisi puluhan senjata "krek" pam membuka salah satu kotak besar itu fang tersenyum puas ketika melihat isi kotak itu "bagus lah simpan semuanya" kata fang "tuan" kata riki "ada apa? " kata fang "maaf tuan, aku ingin meminta waktu beberapa hari untuk menemui adikku satu hari juga tidak papa" kata riki fang duduk kembali ke tempat nya "kau bisa pergi setelah adikku datang" kata fang "terimakasih tuan" kata riki. "kakak!! aku datang halo!! " semuanya bersamaan melihat ke arah pintu "kakak.. anak buah mu banyak juga aku serasa masuk dunia film penjahat" kata seorang pria dengan kemeja kotak kotak berwarna merah "danmi kecilkan suara mu" kata fang "kakak kau sungguh mirip mafia sayang nya kau tidak memiliki kumis jadi kurang kelihatan galak" kata danmi "kau masih saja banyak bicara" kata fang "karena aku tidak bisu makanya aku banyak bicara " danmi menatap riki "hei aku seperti nya pernah melihat mu aku danmi" kata danmi "aku riki tuan" kata riki "jangan panggil tuan panggil danmi saja jika ada kata tuan aku merasa buruk" kata danmi "tapi sungguh aku pernah melihat mu tapi aku lupa di mana " kata danmi "kau bisa diam sebentar? " kata fang "oke kak" kata danmi "dengar ini adikku kemana dia pergi kalian harus ada di dekat nya " kata fang.
Agnes menyipitkan matanya melihat seorang wanita dengan kaos lengan pendek dan celana jogger hitam panjang "jeny" kata Agnes. jeny menatap ke arah Agnes "jeny kau datang ingin sesuatu atau ingin ke apartemen kami? " tanya Agnes "aku lapar" kata jeny "oh.. baik kemarilah duduk oh ya kau datang dengan siapa? " tanya Agnes jeny menoleh ke arah pintu "oh.. bibi rita" kata Agnes "Hai" kata rita "selamat datang kalian ingin makan apa ini menu nya" Agnes menyerah kan buku menu "kau pesan saja jeny" kata rita "tidak bibi" jeny menatap rita "kau yang pesan aku akan makan apapun yang kau pesan" kata jeny "kau yakin? " kata rita "bibi pesan saja aku sedang ingin menikmati apa yang ada" kata jeny "baik baik " kata rita Agnes melihat wajah jeny yang terlihat kesal "jeny kau mau es krim di sini ad--" kata Agnes "ambil untukku" kata jeny "oh" kata Agnes "dia terlihat sedang tidak baik" kata Agnes dalam hati.
joe dan bob datang mengantarkan pesanan rita "Hai jen apa kabar? " kata joe "baik" kata jeny sambil menatap es krim di depan nya "bisa aku mulai? " kata jeny "silahkan" kata bob "oh ya" jeny menatap joe "ada apa kau ingin aku memberikan coklat leleh ke es krim mu" kata joe "aku ingin malam ini aku tidur di tempat mu" kata jeny "waw.. aku sangat senang" kata joe.
lisa menatap pintu di depan nya menarik nafas panjang lalu mengetuk pintu di depan nya "jeny!! " kata lisa "jeny" kata lisa "nona jeny!! " kata shin sambil mengetuk pintu berkali kali namun tidak ada jawaban.
matahari mulai menghilang berganti dengan bulan dan bintang lampu mulai menerangi semua nya Agnes mendekati bob "aku merasa jeny sedang sakit" bisik Agnes "aku juga begitu dia bukan hanya dingin tetapi sangat sangat dingin dan kaku seperti robot" kata bob "jaga bicara kalian" kata joe sambil berjalan menghampiri jeng yang sedang duduk di sofa "minum ini" kata joe "oh ya tumben kau tidak dengan boy" kata joe "ya" kata jeny "lihat jawaban dia sangat singkat" kata bob "aku juga tau ayo kita ke sana" kata Agnes "ka tau jeny aku sangat sangat bahagia ketika tau kau akan menginap di sini aku akan sekamar dengan mu" kata Agnes "iya udah lama loh kita gak ngumpul kaya gini" kata bob "aku sudah mengantuk" jeny berdiri "oh ayo kita ke kamar" kata agnes "aku mau tidur di kamar itu" kata jeny "ah.. hum jeny hum" bob menatap Agnes "jen bukan kamar yang itu" kata Agnes "aku mau tidur di kamar Agnes apa itu salah? " kata jeny "hum.. tapi" kata Agnes joe mengangkat satu tangan nya Agnes dan bob mengangguk. joe mendekati jeny "jeny kamar itu jarang kami pakai sekarang" kata joe "lalu" jeny menatap joe "hum.. kamar nya kotor dan belum di bersihkan" kata joe "tidak papa" kata jeny "tap--" kata joe "apa kalian keberatan aku tidur di sini? aku bisa pulang taxi pasti masih ada di jam segini" kata jeny "oh.. tidak tidak maksud ku biar aku ke sana dan membersihkan nya untuk mu" kata joe "tidak perlu kau bukan pembantu" kata jeny "uhm.. aku" kata joe "kau terlihat keberatan" kata jeny "tidak kok.. ayo ayo kita ke kamar aku akan mengantar mu ke sana tunggu aku cek dulu apa ada serangga di dalam kamar itu" kata joe sambil berjalan ke arah kamar yang di tunjuk jeny dan jeny mengikuti joe bob menatap Agnes. "kenapa semuanya di tutupi kain? " kata jeny "bukan kah ini kamar Agnes" kata jeny "hum ya ya ini kamar Agnes tapi Agnes jarang di tidur di sini kadang dia ketiduran di sofa" kata joe sambil membersihkan ranjang kamar itu "kamar nya sudah beres kau bisa tidur sekarang " kata joe "jangan buka kain yang lainnya karena debu banyak" kata joe "ya" kata jeny sambil duduk di tepi ranjang "oh ya jen, jika ada apa apa kau bisa berteriak memanggil ku" kata joe jeny mengangguk joe berjalan ke arah pintu "good night jen" kata joe sambil menutup pintu "joe itu kamar dea" kata bob "aku tau aku tau" kata joe "lalu kenapa kau " kata Agnes "aku bisa apa? saat ini jeny kondisi mental nya tidak seperti kita, kita hanya perlu memahaminya apa yang dia inginkan kita usahakan mungkin dalam fikiran nya itu kamar Agnes padahal itu kamar dea sekeras apapun kita jelaskan itu kamar dea di fikiran nya itu tetap kamar jeny" kata joe "aku dan boy sedang mencari psikolog untuk jeny" kata joe "kita bahas besok" kata bob "sekarang kita tidur takut nya jeny terganggu" kata joe.
lisa mengeluarkan ponsel nya sambil duduk di depan pintu rumah jeny "halo boy, apa jeny ada dengan mu? " tanya lisa "oh, baiklah" kata lisa sambil meletakkan ponsel nya kembali "kemana kau jen? " kata lisa "jangan jangan pergi dengan john" kata lisa "shin shin kemari periksa semua klub cari jeny cepat" kata lisa.
__ADS_1
Agnes berjalan ke kamar dea membuka pintu kamar dea sedikit terlihat jeny tertidur dengan sangat pulas seperti bayi Agnes tersenyum "aku berharap Tuhan mengembalikan mu seperti dulu" kata Agnes sambil menutup pintu dengan lembut.
keesokannya...
seseorang berjalan memasuki halaman sebuah rumah terlihat ada mobil hitam terparkir di dekat halaman rumah tak lama setelah berjalan terlihat seorang wanita berjas coklat tidur dengan bersandar di pintu "nona jeny" shin menghampiri orang yang tak lain adalah jeny "nona lisa menunggu mu dari semalam dia juga tidak mau di bawa pulang" kata shin "dia selalu mengkhawatirkan mu nona" kata sai jeny menatap ponsel yang terjatuh dari saku celana lisa sebuah panggilan masuk terlihat dari layar ponsel "lisa!! lisa" seru jeny "lisa!! " melihat lisa tidak juga bangun jeny langsung menariknya "lisa!! " kata jeny "hum?? " lisa akhirnya bangun dia melihat sekitar nya "menjauh dari pintu ku!! aku mau masuk! " kata jeny "jen, oh" lisa berdiri "apa kau tidak waras? apa yang kau lakukan di sini? apa kau tidak punya rumah? oh.. atau kau merencanakan sesuatu? " kata jeny "tidak jen aku.. aku hanya ingin melihat mu da--" kata lisa "dan kau sudah melihat ku sana pergi! " jeny membuka pintu lalu mengunci nya dari dalam "jen!! jeny!! aku ingin bicara" kata lisa namun tidak ada jawaban dari dalam lisa melihat ponsel yang terjatuh banyak panggilan dan pesan dari bright yang belum dia lihat "nona jangan ke rumah nona jeny dia tidak akan pulang hari ini karena dia di apartemen temannya yang berada di depan restoran mu" lisa juga melihat pesan dari kakak nya "aku akan ke London menemui seseorang" lisa langsung membenarkan jas nya lalu menatap ke arah pintu "aku akan kembali" kata lisa sambil berjalan ke arah mobil.
di bandara...
Daichi menatap adiknya "kau terlihat berantakan kau belum mandi? " tanya Daichi lisa menganggukkan kepala nya "aku terlambat bangun dan langsung ke sini untuk mengantar mu" kata lisa "kau mau apa? baju atau sesuatu yang lain yang bisa ku bawa untuk ku setelah aku kembali nanti" kata Daichi "hum.. " lisa terlihat sedang berfikir "jangan bilang kau ingin jeny ya.. di London tidak ada jeny mu" kata Daichi lisa tersenyum "bawa apa saja " kata lisa "kau yakin? " kata Daichi "dan bawa boneka untuk jeny ya" kata lisa "aku akan bawa hadiah untuk calon adik ipar ku kau tenang saja kalau begitu aku pergi dulu" Daichi melambaikan tangan lalu pergi. lisa membuka jasnya lalu memberikan nya ke sai "nona kita harus pulang" kata shin lisa mengangguk tiba tiba pandangan tertuju ke arah seorang pria yang membawa koper "nona" roy sudah membuka pintu mobil "nona ayo" kata shin "tunggu" kata lisa sambil berjalan ke arah pria yang dia lihat "lisa" kata pria itu "kak riki" kata lisa "wah kau sedang apa? " kata riki "aku mengantarkan kakak ku ke bandara dan aku melihat mu " kata lisa "aku sedang cari taxi" kata riki "aku juga tidak terlalu sibuk aku bisa mengantar mu pulang jeny pasti merindukan mu" kata lisa.
rita meletakkan kue coklat di atas meja sambil melihat jeny yang sedang melukis "kau melukis apa ini? " kata rita "ini rumah bibi" kata jeny "rumah? rumah mana rumah nya bibi tidak lihat bibi hanya melihat rantai dan seekor anjing" kata rita "iya ini di dalam rumah nya" kata jeny "bentar kayanya ada orang" kata rita sambil berjalan ke arah pintu "halo bibi" bisik riki jeny mengambil kue coklat di piring lalu memakannya "kejutan!! " riki memeluk jeny dari belakang "aaahh... kakak!!! kau membuat ku terkejut" kata jeny dengan cepat dia berbalik dan memeluk riki "kau nakal sekali!! aku membenci mu" kata jeny "hahah.. aku sengaja diam diam masuk untuk melihat apa yang sedang kau lakukan" kata riki sambil memperhatikan lukisan di dekat jeny "oh ya lisa masuklah" kata riki "kenapa kau hanya mematung" riki menghampiri shin yang membawa koper nya jeny melihat ke arah pintu riki perlahan menuju arah lisa "ada apa biasa nya kau langsung masuk jeny juga ada di dalam" kata riki "kakak!! " kata jeny "hum" riki menoleh ke arah jeny "kau datang tiba tiba dan hanya diam saja aku sudah merindukan jus buatan mu" kata jeny "jus? hum.. baik aku akan buatkan kau jus" kata riki sambil berjalan ke arah dapur jeny berjalan ke arah lisa "kenapa kau masih datang" kata jeny "aku hanya mengantarkan kakak mu dan juga aku ingin bicara pada mu" kata lisa "tidak ada perlu di bicarakan" kata jeny "ada jen, aku--" kata lisa "aku sudah menyuruh mu untuk pergi dan itu berkali kali namun kau tetap tidak mendengar kan ku! jangan sok peduli juga pada kakak ku" kata jeny "seribu kali pun kau menyuruh ku pergi aku tidak akan pergi, aku tidak tau kemana aku harus pergi kecuali pergi ke padamu. kau sudah membuat ku tergila gila jen" kata lisa "apa kau masih berfikir kalau aku berbohong? aku berkata jujur dari awal bertemu dengan mu jika kau mau aku bisa menceritakan semuanya padamu" kata lisa "jen ini jus nya, kenapa kalian di Pintu suruh lisa masuk" kata riki "kakak lisa Sibuk dia akan pergi" kata jeny "oh.. sayang sekali" kata riki "tap--" kata lisa "ya kan lisa? ayo sekarang pergi lah kau akan terlambat ke kantor kau bilang kau banyak urusan dengan aku lupa siapa namanya "kata jeny " jen"kata lisa "iya pergi sana" kata jeny "pergilah lisa.. tidak papa aku memahami pekerjaan mu" kata riki "kau dengar itu? pergi sejauh mungkin dari kehidupan ku" jeny menutup pintu.
__ADS_1
malam hari...
riki menatap jeny di samping nya terlihat jeny sedang menikmati makanan yang baru saja mereka beli "enak? " tanya riki "enak tapi kurang manis" kata jeny riki tersenyum "apapun selalu kurang manis bagimu, ayo kita ke sana lihat ada wafel di sana" kata riki "oke ayo" kata jeny "aku mau wafel dua" kata riki "crim nya yang banyak ya" kata jeny riki terkekeh menatap jeny "kau mau kita beli ponselnya sekarang atau besok? " kata riki "besok saja sekarang kakak lihat ke sana" kata jeny "hum" riki melihat apa yang di tunjuk oleh jeny seketika dia langsung mengeleng kan kepala sambil tertawa kecil "kau mau itu? " kata riki "tentu" kata jeny "aku akan ke sana kau tetap lah di sini aku akan kembali dengan es krim coklat itu" kata riki.
lisa meletakkan gelasnya ke atas meja lalu menatap orang yang ada di depan nya "aku punya seorang kenalan dia juga seorang psikolog" kata lisa "tapi jeny jangan sampai tau" kata joe "itu benar" kata bob "jadi kau memberikan kami cuti? " tanya joe "jika kalian mau aku tidak keberatan ini juga demi jeny kan" kata lisa "aku ada ide" kata joe "ide apa? " kata Agnes "lisa juga bisa ikut liburan dengan kita tanpa di ketahui oleh jeny" kata joe.
keesokannya...
jeny menatap dirinya di depan cermin "kakak sudah pulang seharusnya aku senang, tapi entah mengapa aku merasa cemas bagaimana kalau kakak tau aku sedang merencanakan sesuatu" kata jeny "jeny ayo makan!!!" jeny menoleh ke arah pintu "iya kakak sebentar lagi aku datang" kata jeny sambil menyemprotkan parfum ke tubuhnya "ku yakin kakak juga masih ingat semuanya tapi kenapa dia diam saja? " fikir jeny sambil berjalan ke arah pintu "aku gak boleh terlihat mencurigakan aku harus terlihat biasa " kata jeny tiba tiba dia terdiam melihat meja makan sudah hampir penuh "itu ide bagus aku setuju aku akan tanya jeny nanti" kata riki "itu jeny" kata Agnes "Hai jen" kata boy jeny berjalan dan duduk di dekat riki "ada apa? " kata jeny "mereka ingin mengajak kita liburan kebetulan aku dan kau pasti butuh waktu untuk liburan" kata riki "hum.. tapi kemana? " kata jeny "ke suatu tempat yang sangat indah kau pasti suka aku sudah melihat nya dan memastikan nya" kata boy "kapan lagi kau akan berlibur dengan kakak" kata riki "hum oke aku akan ikut berlibur" kata jeny.
siang hari...
__ADS_1
joe terlihat sedang berkemas menyiapkan beberapa pakaian untuk berangkat liburan "Hai" semuanya menatap ke arah pintu "apa kalian masih mengenali ku? " tanya seseorang yang berdiri di pintu dengan rambut pendek sebahu berwarna oren "apa itu kau lisa? " tanya Agnes "ya.. ku rasa joe benar aku harus menyamar untuk sementara bagaimana dengan wajahku? " kata lisa "ya.. tapi kau terlihat cantik dan anggun kali ini" kata bob "rambut nya juga panjang" kata Agnes "ini rambut palsu" kata lisa "oh ya ini megan dia teman ku yang ku katakan semalam dia seorang psikolog dari Thailand" kata lisa"halo megan"kata Agnes "kita harus bersiap besok berangkat jam tuju kata boy" ujar joe.
riki menatap adiknya "kau mau ganti atau yang itu" kata riki "aku suka ponsel yang itu dia lebih kecil" kata jeny "kakak kau tidak mau ganti ponsel baru? " kata jeny "hum.. tidak nomor teman dan atasan ku ada di sini aku nyaman pakai ponsel ku ini" kata riki "oh ya berikan ponsel itu pada adikku isi kartu dan semuanya agar dia bisa memakainya langsung" kata riki "bagaimana aku bisa mengganti ponsel ku dengan ponsel baru adikku, ini adalah ponsel yang menjadi saksi saat kau masih ceria dan merengek setiap saat padaku. aku tidak butuh ponsel aku hanya butuh adikku kembali normal seperti dulu" kata riki dalam hati "kakak ku rasa aku ingin membeli tas untuk baju kita" kata jeny "tas? oh ya kita akan cari tas" kata riki "kakak terlihat sedang memikirkan sesuatu? ada apa? " kata jeny "hum.. haha kau ini ada ada saja setelah ini selesai kita akan beli tas sekaligus beli beberapa baju" kata riki sambil tersenyum "tapi kakak seperti nya memikirkan sesuatu" kata jeny dalam hati.