
mobil hitam berhenti perlahan "jen! " jeny yang sedang berjalan menoleh terlihat boy membuka pintu mobil "boy? " kata jeny "kau sedang jogging? " tanya boy "hum.. tidak" kata jeny "ayo kau ikut tidak? " tanya boy "tidak aku" jeny terlihat sedang berfikir "aku aku sedang cari taxi mau menemui joe" kata jeny "kebetulan sekali ayo aku juga mau menemui Agnes" kata boy "ayo" kata boy jeny mendekati mobil membuka pintu terlihat lisa sedang duduk santai di kursi belakang jeny langsung duduk di samping boy mobil pun berjalan "padahal aku mau berlatih malah ketemu mereka" kata jeny dalam hati.
Agnes berjalan sedang membawa beberapa ramen di tangan nya "silahkan" Agnes tersenyum ramah sambil meletakkan mangkuk berisi ramen itu ke atas meja lalu pergi "ku rasa mereka masih kerja kita tunggu mereka di apartemen saja" kata lisa "iya ide bagus" kata boy sambil menghentikan mobil nya jeny langsung turun dari mobil dan menjauh "halo, kakak sudah di bandara? " kata jeny "kemana jeny? " tanya boy "ku rasa dia ke toilet" kata lisa "hum.. aku berlatih di rumah dan tadi aku mau berlatih di rumah mu tapi teman ku melihat ku di jalan dan mengajak ku pergi" kata jeny lisa melihat jeny yang berdiri di dekat kursi taman apartemen segera mendekat "ya aku cuma sebentar di sini oke ya" jeny merasakan ada seseorang yang sedang mengawasi nya langsung berbalik terlihat lisa sudah ada di dekat nya "tunggu" kata lisa di saat jeny bersiap mau pergi "kau menelpon siapa? " tanya lisa jeny tidak menjawab "aku tanya pada mu" lisa memegang tangan jeny ketika jeny bersikeras ingin pergi "kenapa kau ingin tau? ini bukan urusan mu" kata jeny "aku hanya ingin kau baik baik saja " kata lisa "aku takut kau kenapa kenapa" kata lisa "lepaskan tangan ku! " kata jeny "apa kau menelpon seorang pria? " kata lisa "iya, karena sesuai ucapan ku aku tidak seperti mu. aku normal" kata jeny sambil menarik tangan nya "tapi dia bukan pacar mu" kata lisa jeny menghentikan langkah nya lisa berbalik "dia pelatih atau apa? " kata lisa "kenapa dia tau? " fikir jeny tanpa bicara sepatah katapun jeny langsung pergi "ku yakin pria itu punya tujuan lain dan membuat mu menjadi alat terbaik nya" kata lisa sambil menatap jeny menjauh dari nya.
di dalam apartemen...
Agnes meletakan minuman dingin ke atas meja dia melihat lisa sedang melihat ke arah dapur, "kau tau aku dulu pernah di katain banci gara garam pintar memasak" kata boy sambil memotong beberapa sayuran "tapi jujur aku hanya asal memasak aku melihat di TV mereka asal memasukkan sesuatu dan jadilah makanan dan aku menirunya" kata boy sambil melirik ke arah jeny "aku juga melihat TV tapi aku tidak bisa memasak" kata jeny "hahah.. kau melihat apa? Naruto membuat sarapan ramen? " kata boy "iya" kata jeny "tapi aku juga bisa memasak" kata jeny "baiklah memasak apa? " tanya boy "roti dengan coklat meleleh" kata jeny boy tersenyum lalu mengusap rambut jeny "itu sudah baik lain kali kau tidak perlu memasak kau sudah punya aku dan kak riki kami berdua jago masak" kata boy "papa.. jeny tidak perlu belajar masak kan ada aku saat jeny dewasa aku yang akan memasak sarapan nya" jeny teringat perkataan riki "kenapa kau melamun? ayo sekarang bantu aku mengambil dua buah tomat dari kulkas" kata boy jeny mengangguk lalu berjalan ke arah kulkas mengambil tomat "ini" kata jeny "terimakasih oh ya coba ini buka mulut mu" boy menyuapi jeny sepotong daging yang baru saja dia masak "enak? " kata boy "hum" jeny mengangguk "lain kali aku akan memasakan daging lebih sering untuk mu agar kau berhenti memakan coklat" kata boy. Agnes duduk di samping lisa "boy mengangkat jeny adiknya sendiri sejak adiknya meninggal karena pembantaian di kampus nya" kata Agnes "menurut mu apa yang harus ku lakukan untuk mendapatkan hati jeny" kata lisa "kau cukup berada di dekat nya" kata joe "benar.. ketika seseorang berada di dekat kita maka kita akan merasa terlindungi" kata Agnes "tapi dia tidak ingin aku ada di dekat nya" kata lisa "Hai guys makanan siap" kata boy "dimana jeny? " tanya Agnes "dia bilang mau mencuci muka" kata boy sambil meletakkan makanan lain ke atas meja.
malam harinya...
boy menatap jeny lalu mengusap kepalanya "aku pergi kerja dulu" ucap boy "hum" jeny mengangguk lalu berbalik masuk ke dalam rumah sementara boy langsung pergi ke dalam mobil jeny menatap boy sudah pergi menjauh langsung kembali membuka pintu "kak danmi aku akan kerumah mu" kata jeny sambil kembali menutup pintu dan berjalan ke luar gerbang.
__ADS_1
mobil hitam berhenti di luar gerbang merah namun tidak ada yang keluar dari dalam mobil. "cuma lukisan? " tanya danmi "biar aku jelaskan kak ini klub tempat dia sering berkumpul dengan teman teman nya di balik sofa hitam ini ada senjata dan di balik lukisan yang ada di samping sini itu juga senjata" kata jeny "lalu? apa lagi" kata danmi "ini rumah nya banyak ruangan di dalam sini tapi yang yang ini bukan hanya vas raksasa ini adalah kunci menuju ruang bawah tanah di dalam sini ada kolam aneh isinya hewan air berukuran kecil da.. " jeny terus bicara tanpa di sadari ada seseorang yang sedang menguping pembicaraan nya "dia bicara apa sih aku gak ngerti dan juga gak kedengeran sangat jelas" kata orang itu, danmi mengangguk sambil mendengar kan jeny bicara "bagaimana aku hebat kan? " kata jeny "ya.. lumayan tapi ini bisa membuat rencana pembalasan itu berjalan sesuai yang ku fikir kan" kata danmi "uh.. bentar" jeny mengambil ponsel nya "Hai jen" terdengar suara john "Hai" kata jeny. semakin lama jeny sering menghabiskan waktu dengan danmi dan John latihan dengan danmi, ke klub dengan John, jalan dengan John, kerumah John, ke kantor John, dan kembali berlatih lagi dengan danmi.
beberapa minggu berlalu
jeny membuka pintu "bye bibi aku akan kembali" kata jeny tiba tiba dia terdiam melihat boy berdiri di pintu luar "jen, kau mau kemana? " tanya boy "kau masuk saja bibi ada di dalam aku ada urusan sebentar" kata jeny "kau mau kemana? " tanya boy "aku bilang aku ada urusan " kata jeny "kau belakangan ini terasa jauh" kata boy jeny berbalik menatap boy "aku sedang mengajukan lamaran kerja" kata jeny "kau serius? " tanya boy "iya aku harus pergi buat wawancara" jeny langsung pergi "JENY!! SEMOGA BERUNTUNG!! " seru boy.
John menatap gadis yang ada di samping nya "kakak mu akan marah jika kau membawa ku" kata jeny "tidak dia sebenarnya orang yang baik" kata John mobil berhenti pengawal John langsung membuka pintu mobil John langsung keluar di susul dengan jeny pintu di buka para pengawal menyambut tuan nya dengan hormat "kau minum? aku punya bar mini di sini ayo" kata John "DORR DORR!!! " suara tembakan terdengar bersamaan seorang pria jatuh terkapar saat pintu menuju bar mini di buka darah muncrat kemana mana jeny terdiam terlihat fareed masih memegang senjata di tangan nya "kakak apa yang kau lakukan? " tanya John sambil menatap jeny "jeny.. hei kau baik baik saja" kata John "crek"fareed mengacungkan senjatanya ke arah jeny " dia juga harus mati jika kau mau"kata fareed "kakak!! " John menarik jeny ke belakang tubuhnya "kak dia teman ku" kata John "cuma teman kan? dia sudah melihat semuanya" kata fareed "dia harus mati" kata fareed "tenang jen" kata John "dia juga tau aku kemarin menikam orang tapi aku masih di sini dia teman ku tidak akan mengatakan hal lain ke orang lain" kata John "siapa nama mu? " tanya fareed "jeny" kata John "DIAM!! aku tidak bertanya pada mu" kata fareed "aku jeny" kata jeny "sejak kapan kau berteman dengan adikku? " tanya fareed "apa urusan mu bertanya seperti itu! kenapa kau membunuh orang di rumah ku!! " kata John "dia mencoba memberontak dari bisnis ku" kata fareed sambil berbalik mengambil segelas wine "oh ya jen, ya kan nama mu jeny? hum aku punya tawaran untuk mu bagaimana kalau kau bekerjasama dengan ku" kata fareed "apa apaan dia aku mendekati jeny agar bisa mengajak nya bergabung dengan ku bukan dengan kakak" kata john dalam hati "maaf aku belum ingin bekerja" kata jeny "apa? kau menolak ku? " fareed menggenggam gelasnya dengan kuat menatap jeny dengan tajam "John aku mau pulang" kata jeny sambil memegang tangan jeny "aku antar" john menarik jeny keluar "kakak ku sedikit tempramen kalau sedang mabuk" kata John "sudah aku pulang naik taxi aja" kata jeny "baiklah tapi nanti malam jadi kan? " tanya john "aku akan menemui mu di klub biasa" kata jeny sambil melambaikan tangan nya lalu pergi.
malam harinya..
"kak danmi... " danmi melihat jeny rebahan di atas sofa "apa? " kata danmi sambil mengusap usapkan handuk kecil ke rambut nya "ada kah obat yang mencegah agar aku tidak mabuk? " kata jeny "aku tidak tau, tapi aku bisa kasih saran agar kau tidak banyak minum saat dengan John" kata danmi "bagaimana dia selalu bersulang dan bersulang aku lelah" kata jeny "tahan lah sebentar lagi ketika alat yang ku pesan datang kita akan serang mereka " kata danmi "hum.. iya deh aku mau pulang mandi lalu menemui John" kata jeny "semangat lah" kata danmi "iya iya" kata jeny.
__ADS_1
di klub malam...
jeny meneguk segelas wine "oh ya jen aku rencana akan melakukan bisnis besar " kata John "bisnis apa? " kata jeny "bisnis pertambangan kau mau membantu ku kan? " kata John "hum.. aku akan membantu sebisa ku! " kata jeny "kau bergabung lah dalam bisnis ku" kata John "hahaha.. ya ya akan ku fikirkan" kata jeny "baiklah jangan buat aku kecewa ayo bersulang!! " kata John.
malam semakin larut boy menatap layar ponsel nya "kenapa jeny tidak mengangkat telpon ku? " fikir boy "ya ku rasa dia kelelahan karena habis wawancara kerja" kata jin "ngomong ngomong dia kerja apa? " tanya Jack "aku belum tanya dia kerja apa" kata boy "permisi aku mau wine satu" kata seorang gadis cantik "aku akan buatkan yang spesial untuk mu nona cantik" kata Jack "tapi aku mau dia yang buat" kata gadis cantik itu sambil menunjuk ke arah jin boy langsung tertawa melihat wajah Jack.
jeny berjalan sempoyongan turun dari taxi "aduh.. di mana rumah ku" jeny terus berjalan dan sesekali terjatuh "pintu nya mana sih? " kata jeny dia melihat rumahnya semua lampu nya menyala sangat terang "hum.. kok lampu kamar ku juga hi--" jeny melihat pintu rumahnya terbuka seseorang langsung membawa jeny masuk ke dalam rumah "oii.eih.. kau kan supir taxi tadi" kata jeny "iya" kata orang itu sambil membawa jeny ke kamarnya "hei.. siapa suruh kau ma-- masuk ke si- ni!! " kata jeny "bisa katakan pada ku apa yang kau fikir kan? " kata orang itu "apa? tidak ada" kata jeny "aduh! " jeny jatuh di dekat sofa "berdiri" orang itu mengangkat jeny ke atas ranjang "awas tangan mu" orang itu membuka kancing baju jeny "hei kau mau-- apa? " kata jeny "baju mu sudah basah dan berkeringat harus di ganti sebelum tidur" kata orang itu "uhmm" jeny jatuh berbaring orang itu menarik celana jeny lalu mengumpulkan baju kotor milik jeny ke dalam sebuah keranjang "aku tidak tau apa yang kau fikir kan tapi aku tau ada sebuah rencana yang di fikir kan pelatih mu itu" kata orang itu yang tak lain adalah lisa dia mengambil baskom berisi air untuk membersihkan jeny "dug" lisa menunduk kakinya menabrak sesuatu di bawah ranjang lisa meletakkan baskom berisi air lalu menunduk melihat apa yang di tendang nya barusan yang ternyata sebuah buku tebal "tips menjadi orang yang sangat dingin from danmi " lisa membaca sampul buku itu "rencana pertama kita harus melatih kekuatan fisik" lisa membaca semua isi buku itu.
pagi hari yang cerah...
jeny membuka matanya karena cahaya matahari sudah membangunkannya "astaga siapa yang membuka tirai nya" kata jeny sambil duduk "aahh... sakit semua rasanya seperti nya aku harus mandi" kata jeny sambil menarik selimut yang menutupi tubuhnya lalu berjalan ke kamar mandi. air hangat menyentuh kulit nya membuat seluruh tubuh nya menjadi fresh seketika "apa bibir sudah membereskan semuanya? sampai sampai tirai jendela ku di buka selebar itu" kata jeny sambil mematikan kran lalu memakai jubah mandinya "kali ini jauh lebih segar " jeny keluar dari kamar mandi seketika dia terdiam melihat seseorang yang sedang meletakkan sarapan di atas meja lalu duduk di atas sofa "apa sudah lebih baik? " kata lisa "kenapa kau ada di kamar ku? " tanya jeny "aku membawa mu pulang tadi malam" kata lisa "bibi!! bibi!! " seru jeny "bibi pergi belanja" kata lisa jeny menatap buku yang di pegang lisa seketika dia langsung membeku dan langsung cepat cepat membuka laci di dekat nya dan melihat ke arah bawah ranjang nya "itu milik ku" jeny berjalan mencoba mengambil buku yang ada di tangan lisa "lisa! " lisa mengangkat buku itu tinggi tinggi "lisa!! kembalikan!! " kata jeny sambil melompat lompat untuk mendapatkan buku itu "buku apa ini? " tanya lisa "bukan urusan mu" kata jeny "kau bilang apa? " lisa memegang tangan jeny "ini buku yang mengajarkan hal buruk! kau mau jadi orang yang sangat dingin? oh.. jadi selama ini kau bersikap dingin karena buku ini? lalu rencana rencana pembunuhnya juga sama? ini bukan kau jen, danmi bukan pelatih mu tapi dia ingin menggunakan dirimu sebagai alat untuk membunuh orang!! " kata lisa "apa yang kau fikir kan jeny!! jadi selama ini kau berpura-pura dingin dan bersikap acuh pada ku dan yang lain. tapi kau bersikap baik pada John!! dan bahkan minum dengan John" kata lisa "jangan sok tau kau!! " kata jeny "Haha.. kau masih mengatakan aku sok tau! aku melihat semuanya, aku yang membawa mu pulang saat kau mabuk, apa kau tidak memikirkan bagaimana kak riki tau soal ini? " kata lisa "dia tidak akan tau jika kau tidak mengatakan ini padanya berikan buku itu pada ku!! berikan!! " kata jeny "kenapa kau mau melakukan hal ini? " kata lisa "kau berpura-pura dingin sok bersikap acuh dan apa? apa yang kau ingin kan jen" kata lisa "kau sudah tau semuanya bukan? " kata jeny "kau puas? " kata jeny "apa semua ini jen? " kata lisa "kau tidak tau apa apa jadi lebih baik kau diam dan berikan buku itu pada ku" kata jeny "tidak akan! " kata lisa "kau mau apa? kau mau memberitahu kakak, dan yang lain? silahkan? aku tidak peduli apa apa lagi!! " kata jeny "apa yang kau fikir kan? " tanya lisa jeny diam "katakan pada ku apa yang kau fikir kan sampai sampai kau melakukan ini semuanya!! " kata lisa "BALAS DENDAM! kau tidak tau apa apa lisa, ini bukan soal sandiwara ini tentang masa lalu. aku dan aku berbeda " kata lisa "masa lalu? jangan jangan jeny sudah ingat semuanya" fikir lisa "kau tidak tau rasanya di saat kau melihat keluarga mu di bantai di hadapan mu, kau juga tidak tau bagaimana darah saudara mu mengalir seperti air hujan di depan mu!! kau tidak tau bagaimana kehilangan orang orang yang kita sayang, keluarga, teman, sahabat, kekasih, dan onnie" kata jeny "bagaimana rasanya kesendirian dan kesunyian" kata jeny "bagaimana tiap saat hanya jarum suntik dan obat obatan yang ada di hadapan mu" kata jeny "kau katakan saja semuanya aku tidak takut" kata jeny lisa menatap mata jeny dengan sedih "aku tau aku tau apa yang kau rasakan aku juga mengerti ap--" kata lisa "apa? apa yang kau mengerti? kau hanyalah seorang penipu " kata jeny "aku mengerti kau mengganggap ku seorang penipu karena adsila memelukku aku tidak menginginkan itu jen, aku selalu mengerti semua nya tentang mu" kata lisa "biarkan aku ada di dekat mu aku akan menjagamu kau bisa melakukan apa saja yang ingin kau lakukan tapi biarkan aku menjaga mu" kata lisa "menjauh lah dariku lisa.. aku tidak akan pernah membalas perasaan mu kau hanya akan terluka jika ada di dekat ku. aku dan kak danmi akan membunuh John" kata jeny "kau tidak mencintai ku? " kata lisa jeny diam sesaat "tidak! cinta tidak penting jangan harap itu dari aku" kata jeny "kau tidak mencintai ku tapi itu bukan aku tidak mencintai mu, kau akan menghadapi banyak masalah jen, membunuh orang itu tidak mudah" kata lisa "masalah sudah datang berkali kali dalam kehidupan ku salah satunya dirimu jika kau mencintai aku maka pergilah jangan menambah masalah ku" kata jeny "aku sekarang mengerti perkataan papa ku dulu " jeny menatap wajah lisa "jeny kau akan memukul mereka di masa depan dan ini saat nya " kata jeny "kalau begitu biarkan aku ikut membantu mu biarkan aku ikut berperan dalam rencana mu" kata lisa "tidak akan! " kata jeny "aku tidak perduli" lisa melempar buku itu ke atas meja jeny langsung bergerak ingin mengambil nya namun lisa menahan nya "lepaskan aku! " kata jeny "jeny ka--" lisa tidak melanjutkan ucapan nya "jeny!! kau di dalam? " terdengar suara boy di luar "iya" kata jeny sambil berusaha melepaskan diri dari lisa "aku datang membawa sesuatu untuk mu kau mau aku menunggu di bawah ata--" kata boy "aku akan ke bawah aku belum memakai pakaian" kata jeny "oke" kata boy "boy datang aku gak mau dia melihat kau ada di sini" kata jeny "kenapa? " kata lisa "jeny!! kenapa lama sekali!! " kata boy "haa.. aku datang" jeny menarik tangan nya yang di pegang erat oleh lisa "lepas kan aku! " kata jeny sambil menarik tangan nya dengan keras "pergi dari kamar ku! " kata jeny "kau bilang kau tidak ingin boy melihat ku" kata lisa "lalu kenapa kau mengusir ku? " kata lisa "jeny!! " kata boy "ini keburu leleh" kata boy "ya ya" jeny berjalan ke arah lemari nya mengambil pakaian yang akan dia kenakan jeny menatap lisa yang masih berdiri "ck.. kenapa kau masih diam" jeny berjalan ke arah lisa "pergi sana" jeny mendorong lisa ke pintu dengan sekuat nya "dug" kaki jeny tersandung kaki lisa "bruugg" jeny terjatuh ke arah lisa "ups! " lisa menahan tubuh jeny yang hampir terjatuh "lisa? " boy terlihat bengong menatap pemandangan di depan pintu dengan tangan memegang mangkok boy merasa canggung"hum.. aa.. aku.. " boy menatap jeny lalu lisa "aah.. aku.. aku tunggu di bawah aja deh" boy langsung berbalik dan pergi "eii boy" kata jeny lalu dia menatap lisa yang terlihat sedang berusaha tetap santai dan tenang jeny langsung buru buru masuk ke dalam kamar dan memakai pakaian nya "aku suka orang fikiran buruk mu boy" lisa tersenyum sambil berjalan pergi.
__ADS_1
"kapan kau datang boy?" tanya lisa "uh.. anu.. hum.. belum lama" kata boy "haduh.. mati aku apa yang di fikir kan boy ya" kata jeny "oke sudah siap hum.. buku? " jeny menatap sekitar nya buku yang ada di atas meja telah hilang "jangan jangan lisa" jeny langsung lari ke bawah "hei jen, huff.. coklat nya sudah leleh kau lama sekali" kata boy "apa itu? " tanya jeny "kue coklat paling enak yang aku beli di toko dekat jalan cempaka" kata boy "ngomong ngomong bagaimana wawancara kerja mu? " tanya boy "apa kerja? " kata lisa "iya jeny sudah melamar kerja" kata boy "oh.. kerja apa itu apa menjadi seorang pelatih? " kata lisa "pelatih? " boy menatap lisa "iya pelatih olahraga tinju misalnya biar bisa memukul orang haha bercanda" kata lisa "hum.. aku " kata jeny "aku juga kenal dengan pemilik perusahaan tempat jeny melamar kerja" kata lisa "oh.. sungguh di mana itu perusahaan apa? " kata boy "sial"fikir jeny " perusahan besar kau akan tau nanti "kata lisa " karena jeny akan menunjukkan tempat kerja nya"kata lisa "wah.. kapan? " kata boy "jeny.. aku bangga banget pada mu, lisa juga bisa membantu mu karena lisa itu seorang ceo loh" kata boy "uh.. ya " jeny duduk dekat boy "kapan kau ajak aku ke tempat kerja? " tanya boy jeny menatap lisa dengan tajam "kau akan ke sana jika aku sudah naik jabatan" kata jeny "ewahh... kau sahabat baik ku semoga Tuhan selalu bersama mu ayo makan kue nya" kata boy "hum" jeny mengambil sendok "ngomong ngomong apa kak riki tau kau kerja? " tanya boy "uhuk.. uhuk" boy buru buru mengambil tisu "pelan pelan.. " kata boy "uh.. ya" kata jeny "bentar ya" boy berdiri mengeluarkan ponsel nya dari sakunya "halo Jack" kata boy "boy bisa jemput jin sebentar motor nya rusak di jalan asoka" kata Jack "oh.. baik aku aku kesana" kata boy "hum.. kalian berdua aku pergi dulu" kata boy sambil mengusap kepala jeny lalu pergi "enak kue nya? boleh aku minta? " tanya lisa "apa maksud mu? " kata jeny "apa? " kata lisa "kenapa ka menambah masalah ku lagi? " kata jeny "apa? "kata lisa " kenapa kau berkata hal bohong pada boy? "kata jeny " aku hanya meniru mu"kata lisa "bukan kah kau juga berbohong pada boy oh ya bukan hanya pada boy tapi pada semuanya termasuk aku dan kak riki" kata lisa "jadi artinya kita berdua.. " kata lisa "aku juga meniru mu" kata jeny "aku belajar berbohong dari seorang penipu yang ada di depan ku jadi.. nona penipu bisakah kau pergi sebelum ku usir" kata jeny "yo.. nona jeny kita sama sama penipu sekarang" kata lisa "tapi satu hal kau mengatakan aku penipu karena apa? aku tidak pernah berbohong pada mu" kata lisa "cih.. kau tidak pernah berbohong? sungguh?"kata jeny " apa itu soal adsila lagi? dengar nona jeny "lisa berjalan mendekati jeny "aku sudah mengatakan pada mu aku dan dia tidak ada ikatan dan pelukan itu hal yang tidak ku inginkan namun jika karena itu kau mengatakan aku seorang penipu maka itu bukan salah ku tapi itu salah mu " kata lisa "salah ku? yang benar saja" kata jeny "ya.. karena itu namanya kau cemburu namun kau tidak mengakui nya " kata lisa "cih yang benar saja? aku cemburu? haha nona penipu kau terlalu percaya diri" kata jeny "brumm... " ada suara mobil dari luar "jeny!!! jeny!!! apa kau sedang bermalas malasan!! " seru danmi "apa! " kata jeny dalam hati "oh.. pelatih mu seperti nya datang" kata lisa "sial" fikir jeny "jeny!! " danmi berjalan ke arah pintu "bentar kak dan--" danmi tidak berkedip menatap pemandangan di depan nya "apa kau sengaja? " kata jeny dengan marah "aku tidak sengaja serius" kata lisa "lalu bagaimana celana mu bisa terikat dengan baju ku!! " kata jeny "pemandangan yang indah" guman danmi "**** you pergi sana" jeny mendorong lisa "hei nona sok angkuh apa gara gara pelatih itu kau mengusir ku? " tanya lisa "diam dan tutup mulut mu jangan kembali lagi " kata jeny di depan pintu "dengar jen" kata lisa sambil menatap jeny "aku tidak akan menyerah, aku akan menjaga mu dan berada di dekat mu. bukan soal cinta tapi soal hak" kata lisa "kau tidak memiliki nya" kata jeny "aku memiliki nya, kak riki juga mengatakan hal yang sama dia yang meminta ku melindungi mu" kata lisa "aku tidak butuh lebih baik kau cepat pergi" kata jeny "tidak perlu berpura-pura dingin lagi di hadapan ku aku sudah tau semuanya, mungkin kau masih bisa berpura-pura di hadapan yang lain" kata lisa "jeny!! " kata danmi "pergi sekarang!! pergi" kata jeny "aku pergi tapi aku akan kembali" kata lisa sambil berbalik lalu pergi jeny langsung masuk ke dalam rumah "siapa wanita tadi? " tanya danmi "kenapa kau datang tiba-tiba" kata jeny "kenapa kau marah pada ku? " kata danmi "ahh.. lupakan.. kak kita harus melakukan pembalasan secepatnya lisa sudah tau semuanya dan mungkin akan memberimu yang lain" kata jeny "sebelum mereka menggagalkan rencana kita . kita harus bertindak secepatnya" kata jeny "oh. tadi itu lisa ya" kata danmi "kakak! kau fokus kemana sih! " kata jeny "oh ya ya aku fokus pada mu" kata danmi "aku mau kita segera melakukan nya" kata jeny "aku akan atur secepatnya" kata danmi "kau terlihat tidak serius" kata jeny "aku? aku serius kok" kata danmi "oh ya siapa wanita itu tadi apa dia lisa yang kau sebut barusan? " tanya danmi jeny menatap nya dengan tajam "aku mau menembak mu sekarang" kata jeny dengan kesal.