Merakit Cermin Yang Hancur

Merakit Cermin Yang Hancur
fudo pergi jeny di culik


__ADS_3

jeny melihat fudo sedang membantu rita menyiapkan makanan "pagi" kata fudo jeny duduk "pagi kak" ucap jeny "boy sama lisa baru aja pulang tadi" kata fudo "aku merasa ada yang aneh dengan jeny tapi apa cuma perasaan ku saja ya" fikir fudo "ngapain mereka ke sini? " kata jeny "kau lupa ya, kita perjalanan pulang dari pagi sampai sini kemarin sudah sore dan mereka ku suruh nginap di sini" kata fudo "Oh ya" jeny melihat menu di depannya "kau ingin kemana lagi hari ini?" tanya fudo sambil meletakan segelas susu ke depan jeny "aku tidak ingin kemana mana kak" kata jeny "baiklah jadi apa yang akan kita lakukan? " kata fudo "apa saja " kata jeny "baiklah aku akan menemani mu"ucap fudo jeny mengangguk.


lisa menghentikan mobilnya matanya terpaku ke sebuah toko bunga " kurasa jeny menyukai bunga"ucap lisa "anda ingin membeli bunga nona? " tanya shin "iya" kata lisa lalu dia turun dan melihat beberapa bunga yang penuh dengan berbagai warna "halo nona selamat datang anda ingin mencari bunga apa? " tanya seorang pria "aku ingin bunga yang paling bagus" kata lisa "kemarilah nona coba lihat bunga yang ini" kata pria itu lisa melihat bunga di depan nya "anda mencari bunga siapa? " tanya pria itu "hum.. aku mencari bunga untuk orang yang ku suka" ucap lisa "oh.. coba lihat yang ini nona" pria itu menunjukkan banyak buket bunga yang terlihat indah "aku mau yang ini" kata lisa "baiklah" kata pria itu.


fudo duduk menemani jeny yang sedang melukis dia melihat jeny yang sedang fokus melukis tetapi fudo langsung terkejut melihat lukisan jeny yang semakin jelas terlihat "kau sedang melukis apa? " kata fudo "aku sedang melukis orang yang menahan pintu" kata jeny "menahan pintu, apa dia sedang main petak umpet? " kata fudo "iya dia sedang bermain dengan anak nya yang di dalam dinding ini" kata jeny "di dalam dinding? bagaimana bisa. dan juga pria ini terlihat seperti sakit perut" kata fudo "iya itu sebabnya dia memegang pintu" kata jeny " ooh.. baiklah "kata fudo " gimana bagus gak? "kata jeny sambil menuangkan cat lagi. " bagus sekali kau jangan kemana mana kakak mau buat jus untuk mu"kata fudo sambil mengusap kepala jeny "hum" jeny mengangguk perlahan dia melihat fudo yang pergi jeny tersenyum "papa" ucap jeny.


fudo menuang jus yang baru dia buat ke sebuah gelas besar lalu memotong beberapa buah "kasihan juga dia kalau di tinggal sendirian" ucap fudo "pasti dia kesepian, kenapa riki tidak menyuruh lisa atau yang lain menemani nya" fikir fudo lalu dia menoleh ponsel nya berbunyi "halo" kata fudo "tuan fudo tuan besar ingin kau mendampingi nya di saat tuan besar pergi ke China" kata seseorang di telpon seketika fudo terdiam ada rasa enggan di dalam dirinya.


jeny menoleh di saat fudo datang "minum jus nya dulu" ujar fudo "hm" jeny mengangguk lalu meminum jus nya "kau terlihat murung" kata jeny fudo langsung tersenyum "murung dari mana? mungkin kau salah lihat" fudo menyuapi jeny buah apel "hum.. jeny" kata fudo "hum? " jeny menoleh "kau tidak ingin seseorang menemanimu? seperti lisa atau temanmu yang lain" kata fudo jeny menggelengkan kepalanya "mereka biasa nya datang sendiri malam hari" kata jeny "ohh.. tapi.. hum .. gimana jika aku menyewa seseorang lagi untuk menemanimu? " kata fudo "hum? " jeny mengerutkan dahinya "hum.. bukan apa apa, gini" fudo menarik nafas panjang "kakak sudah harus kembali kerja, kakak gak mau kau sendirian seperti ini" kata fudo "kau akan pergi? " kata jeny "tuh kan dia pasti sedih" fikir fudo "iya, tapi jika misi selesai kakak pasti akan datang menemanimu lagi" kata fudo jeny terdiam lalu perlahan dia tersenyum lebar "tidak papa, aku mengerti kok. kakak jangan kwatir aku baik baik saja dan tidak nakal" kata jeny fudo tersenyum "gimana kita jalan jalan Hari ini sebelum kakak pergi besok" kata fudo "hum" jeny mengangguk.


cuaca semakin terik matahari bersinar sangat terang "ice cream" kata jeny "kau mau ice cream?" ucap fudo jeny mengangguk "kita akan beli " kata fudo lalu mereka berhenti di sebuah toko "halo.. aku mau ice cream nya" kata fudo "mau rasa apa tuan? " kata wanita dengan topi putih "katakan jeny" kata fudo "aku mau yang coklat seporsi, yang mangga juga sama alpokat nya" kata jeny "dia benar benar suka makanan manis" kata fudo dalam hati. fudo melihat jeny yang sedang menikmati ice cream nya "meskipun bukan adik kandung tapi rasanya berat juga harus meninggalkan dia" fikir fudo sambil mengayun perahu yang mereka naiki "mau? " jeny melihat fudo "cobalah" jeny menyuapi fudo sesendok ice cream jeny melihat ada orang yang sedang mancing fudo juga melihatnya "mari kita mancing" kata fudo "hum" jeny mengangguk.


lisa mengetuk pintu "jeny!! jeny!! " kata lisa tapi tetap tidak ada suara balasan dari dalam "apa dia pergi? " kata lisa sambil mengeluarkan ponsel "bright kemana jeny? " tanya lisa "nona, mereka sedang tidak di rumah nona jeny dan kakaknya pergi keluar " kata bright "aih.. ya ampun" kata lisa "mereka sedang menghabiskan waktu nona, karena kakak nya nona jeny akan kembali pergi" ucap bright "oke" lisa mematikan telpon nya "jadi dia pergi" ucap lisa.

__ADS_1


fareed melihat seorang pria yang sedang berjuang di dalam kolam lintah "kakak" john datang "lihat lah, kita harus sedikit bersenang senang setelah bekerja" kata fareed "sial, itu tuan liko kau melemparkan nya ke kolam lintah mu?" ujar john "lepaskan aku!!! lepaskan!! " kata pria yang di ikat di kolam lintah itu "dia berhianat pada perusahaan ku, dia melaporkan ku di saat dia sudah mengambil keuntungan besar dari penjualan senjataku" kata fareed "john!! john!! lepaskan aku" teriak liko tetapi john hanya diam saja.


riki menuruni tangga sambil membawa ember berwarna hitam "oih.. bau sekali " cuman riki lalu dia meletakkan ember yang dia bawa terlihat pria kurus sedang di rantai "hum? " pria itu membuka matanya "makan" riki menuang ember berisi makanan ke sebuah wadah "hei bangsat!! lepaskan aku!! " riki menoleh ke arah suara seorang pria muda sedang ditahan dengan rantai juga itu anak Dev yang ke dua "kau bilang apa? " kata riki "lepaskan aku!! " kata pria itu "**** you" riki langsung pergi "dengar ya aku bersumpah akan membunuhmu!! seperti ayahmu membunuh keluarga mu" kata pria itu riki langsung berhenti "katakan lagi! " kata riki "ayahku akan menemukan saudara mu dan membunuhnya di depan mu!! memotong tubuh nya di depan mu aku akan memberitahu ayahku kalau saudara mu masih hidup" kata pria itu riki langsung membuka bajunya lalu memakai sarung tangan "kurasa ayahmu perlu mendapatkan kejutan" riki mengambil sebuah gunting besar.


setelah seharian bermain, makan, belanja dan juga bersantai di tempat yang indah fudo membawa jeny pulang "bunga mawar siapa ini?" fudo melihat setangkai bunga mawar di dalam paper bag yang berisi coklat "astaga jeny sudah melihat bunga ini tidak ya? " fudo langsung memasukkan mawar merah itu ke dalam pelastik hitam dan membuang nya ke tong sampah "astaga!! " fudo terkejut melihat jeny berdiri di tangga dan sedang melihat ke arahnya "kakak buang apa? " kata jeny "hum.. aku membuang sampah pelastik yang tidak berguna" ucap fudo sambil tersenyum "kau sedang apa? kemarilah" kata fudo jeny turun melihat fudo sedang beres beres "jadi besok kau akan pergi kerja? " kata jeny "hum.. jika kau mau aku bisa menyuruh temanmu menginap disini" kata fudo "hum.. tidak perlu aku bisa jaga diriku" kata jeny "ku harap kau tidak berbohong padaku" ujar fudo sambil tersenyum menatap jeny.


keesokannya..


jeny mendengar ada suara mobil yang datang dia segera keluar kamar "pagi jen" sapa boy "oh... kau disini" kata jeny "iya aku datang untuk mengantar kakak" kata boy "oh.. " kata jeny "pagi" lisa menyodorkan buket bunga besar berwarna biru dengan hiasan permata "waw cantik banget" kata fudo "iya aku melihat ini sangat cantik jadi aku membawa ke sini" kata lisa jeny terpukau melihat bunga di depan nya dia mengambilnya dari tangan lisa "wah.. kau pintar sekali memilihnya" mata boy "aih tentu saja" kata lisa "aku tidak asal pilih seperti mu" ujar lisa "aih kau ini" kata boy "baiklah ayo kita berangkat" kata boy "ayo" kata fudo jeny mengangguk.


boy melihat jeny yang sedang duduk di sofa "jeny kau tidak makan siang? " kata boy "aku tidak lapar" kata jeny boy menatap lisa "kayanya jeny masih berubah jadi dingin" fikir boy lisa menatap jeny "hei kau tidak menemui Agnes? " kata lisa sambil berjalan dan duduk dekat jeny "aku sedang tidak ingin kemana mana" kata jeny "eh.. aku lupa aku belum bertanya kondisi kak riki ke kak fudo" kata boy dalam hati "aku ke luar bentar" kata boy jeny melirik ke arah boy yang pergi keluar "kau tidak ingin beli es krim? " kata lisa jeny menggelengkan kepalanya "aku ngantuk" kata jeny sambil berdiri dan pergi "aku baru saja mau bicara padamu" ucap lisa dalam hati.


jeny masuk ke dalam kamarnya dan segera mengeluarkan laptop nya dengan wajah serius dia mulai mengetik sesuatu "klik" suara tombol yang di tekan jeny terlihat lah di layar laptop sebuah mobil berwarna hitam lalu jeny kembali mengetik dan terlihat lah gambar seorang pria dengan dasi berwarna biru "fareed hayashi" terlihat nama di samping gambar pria itu "keluarga hayashi terdiri " jeny mulai membaca tiba tiba terdengar langkah orang jeny langsung mematikan laptop nya dan langsung berbaring "jeny" boy membuka pintu terlihat jeny sedang tidur pulas "dia tidur" kata boy lalu dia menutup pintu dan kembali turun ke bawah "dia sedang apa? " tanya lisa "dia tidur mungkin kecapean" kata boy "oh.. biarkan saja aku mau pulang dulu" kata lisa "aku ikut aku juga mau siap siap kerja" kata boy lisa pun mengangguk.

__ADS_1


keesokannya..


jeny sedang sarapan "kau terlihat sangat rapi, kau ingin kemana jeny? " tanya rita "aku ingin menemui temanku bibi" kata jeny "oh.. hati hati ya" kata rita jeny mengangguk dan melanjutkan sarapan nya.


suasana jalanan sangat ramai orang orang sangat ramai lalu lalang jeny turun dari taxi dia pergi ke sebuah cafe dan duduk di sebuah kursi sampai seorang pria datang "nona jeny" kata pria itu "hm" jeny mengangguk pria itu pun langsung duduk "ini" jeny menunjukkan sebuah gambar mobil dan seorang pria "mobil ini milik tuan muda fareed hayashi dia seorang anak pengusaha ternama" kata pria itu jeny terlihat santai mendengarkan pria itu berbicara "tapi nona jika anda ingin melakukan sesuatu padanya saya mohon berfikirlah dahulu" kata pria itu karena ayahnya tuan bernarz Hayashi bukan orang yang sembarangan dia memiliki banyak pengawal "kata pria itu jeny mengangguk " ajari aku menyetir mobil"ucap jeny.


lisa mengerutkan dahinya melihat layar ponsel nya "kemana dia? " fikir lisa "kenapa tidak kelihatan dari tadi" kata lisa "nona mereka sudah datang" kata shin lalu datang lah seorang wanita lagi "nona rapat akan dimulai" kata nya "baik" kata lisa.


jeny melihat lihat topi di depan nya dan juga kaca mata "hum.. aku mau yang ini sama yang ini dan juga yang warna hitam di sana" kata jeny "baik nona" pelayan segera membungkus pesanan jeny tak lama kemudian jeny keluar dari toko tanpa di duga ada beberapa orang yang langsung meringkus jeny dan membawa jeny "**** you!! " kata jeny dia mencoba melawan tetapi tidak bisa "hyaaaa!!! siapa kalian" kata jeny di saat jeny di angkat dan di ikat di kursi "sial kau" jeny melihat siapa yang datang "Hai jeny" sapa john "tunggu fareed itu saudara nya" fikir jeny "hei" john melihat wajah jeny yang terlihat marah "apa kau tidak waras? mengapa kau melakukan ini? " kata jeny "jika cara halus aku tidak bisa mendapatkan mu setidaknya dengan cara kasar aku bisa memilikimu, aku benci penolakan" kata john "ehh" jeny mencoba menendang bodyguard john yang hendak mendekati nya "jadi gimana? " tanya john "kau mau bergabung dengan ku? " tanya john "apa manfaat nya bagiku? " tanya jeny "kau bisa mendapatkan segalanya" kata john rasa ketertarikan muncul di saat dia melihat jeny "setidaknya dia bisa jadi alat yang berguna untuk ku, aku butuh bodyguard wanita yang memiliki kemampuan seperti nya" kata john dalam hati "hya.. hyahaha.. hyaahahahahahahahah" jeny tertawa "buaghh" jeny yang sudah berhasil melepaskan tangannya segera menghantamkan kursi itu ke john dan segera lari "aw" john memegang wajahnya "tangkap dia" kata para bodyguard jeny terus lari dan sesekali dia harus melawan beberapa pria yang mencoba menghalangi langkahnya lalu lanjut berlari kembali jeny melihat sebuah pintu dia buru buru ke arah pintu itu "greebbb" jeny di tarik dengan cepat "hah.. hah... hah.. " jeny dengan nafas tersengal sengal melihat pria yang menariknya "hum? " jeny merasa dia kenal dengan pria itu "kk.kau" kata jeny "bright nona" kata bright lalu dia melemparkan sesuatu ke arah pintu dan membawa jeny pergi dari sana.


lisa mengangguk mendengar penjelasan wanita di depan nya "baiklah" kata lisa sambil mengeluarkan pena dan menandatangani dokumen di depan nya "terimakasih nona lisa, senang berkerja sama dengan anda" kata wanita itu lisa mengangguk dan mengatar wanita itu dan yang lain keluar lalu dia melihat jam tangan nya "sudah pukul lima sore" lisa langsung membuka ponsel dia melihat bright membawa jeny yang terlihat terluka "kenapa dia" lisa langsung berdiri dan mengambil kembali jas yang baru saja dia buka.


"bright" kata jeny "ya nona" ujar bright "bagaimana kau bisa berada di sana? " tanya jeny bright terlihat sedang berfikir "hum tadi aku sedang membeli sesuatu dan aku melihat mu di bawa orang orang asing jadi aku mengikuti nya" kata bright "jeny" lisa datang "astaga kau kenapa?" tanya lisa "bright kau sedang apa?" lisa melihat tangan jeny terluka "kau siapa yang menyuruh mu datang?" kata jeny "aku hanya ingin melihat mu karena di suruh mereka" kata lisa "auh.. tanganmu memar" lisa langsung ke dapur dia membuka kulkas dan mengambil es batu "ini harus di kompres kalau enggak nanti bisa bengkak" lisa berlutut di depan jeny lalu dengan lembut mengompres luka di tangan jeny "sshh.. ah" jeny meringis "ssshhh.. tahan sedikit" kata lisa "bright buatkan dia jus" kata lisa "siap" bright segera pergi jeny melihat lisa meniup mukanya "kenapa kau bisa luka seperti ini? " kata lisa "bukan urusan mu" kata jeny "jangan katakan ini lagi, jika terjadi sesuatu padamu itu sudah termasuk urusanku" kata lisa jeny menatap lisa yang sedang terlihat sangat serius "jadi katakan kenapa kau bisa terluka? " kata lisa "hum.. aku jatuh saat jalan jalan di luar" kata jeny "Aiss.. lain kali kalau mau jalan telpon aku, meskipun aku tidak bisa menemani mu bright bisa mengantar mu" kata lisa "kenapa dia terlihat panik" fikir jeny "kau dengar tidak" kata lisa "kenapa kau jadi mengatur ku? " kata jeny "karena aku kwatir padamu" lisa membalut luka di tangan jeny lalu mengangkat panggilan dari ponsel nya "ya" ucap lisa "nona lisa anda kemana? ada dokumen yang harus anda periksa" kata seseorang di telpon "ya ya nanti aku kesana" lisa mematikan telpon "dengar telpon aku kalau mau kemana mana, jangan ceroboh" lisa mengusap kepala jeny "dia seperti kakak" kata jeny dalam hati "aku harus pergi, nanti jika sudah selesai aku akan datang " kata lisa lalu dia pergi jeny terlihat bingung "nona lisa terlihat sangat kwartir dengan mu nona jeny" kata bright "aku juga heran" kata jeny "ku rasa dia menyayangi mu" kata bright jeny melihat ke arah meja terlihat sebuah dompet berwarna hitam "bright.. dompet lisa ketinggalan" kata jeny "oh.. anda benar" kata bright "pergilah antar nanti dia pasti mencarinya" kata jeny "tapi nona bagaimana dengan mu? " kata bright "kau fikir aku sakit? sana pergi dan pulang aku sudah biasa sendiri" kata jeny "tadi ramah sekarang galak" kata bright dalam hati lalu dia mengambil dompet itu dan segera pergi "ahh.. john sialan" kata jeny sambil melihat perban di sikunya "bodyguard nya terlalu banyak setidaknya harus ada cara jika ingin melawan nya sendiri" kata jeny.

__ADS_1


pam melihat tubuh riki penuh darah "kau mandi darah? " kata pam "sedikit" kata riki sambil pergi naik tangga "dia terlihat habis marah" kata amin "ku rasa iya" kata pam. riki mengalirkan air seketika darah yang mengotori tubuh nya "apapun demi adikku" kata riki sambil mengusap wajahnya.


__ADS_2