
di pagi hari yang cerah reno sudah ada di jalan menuju tempat kerja nya, jalanan yang padat membuat sedikit kemacetan. reno mengeluarkan ponsel nya "apa yang di fikir kan oleh jeny? saat acara peresmian toko nya dia malah tidak terlihat sedikit pun, sekarang tidak mengabari ku sehari dua hari mungkin aku masih bisa berfikir dia sibuk ini sudah dua bulan lebih dan jeny bahkan tidak membalas pesan ku" kata reno "apa aku ada salah? " fikir reno "tok tok" reno melihat siapa yang mengetuk kaca mobil nya "dio? " reno menurunkan kaca mobil "apa yang kau lakukan? kau naik motor? bagaimana jika ada orang yang berbuat tidak tidak pada mu" kata reno "di depan sana ada truk yang bertabrakan dengan bus wisata jika kau diam di mobil kau akan di sini sampai sore" kata dio "oh" reno menatap bodyguard nya "ayo cepat keluar" kata dio "baik lah" reno membuka pintu mobil "kalian bisa datang nanti , aku akan pergi dengan nya" kata reno.
wajah reno terlihat seperti orang yang sedang gelisah dio dapat melihat wajah reno dari kaca spion "kau kenapa? " tanya dio "aku mendadak kawatir dengan sahabat kecil ku" kata reno "telpon saja dia" kata dio "tidak di angkat" kata reno "siapa nama sahabat mu? " kata dio "jeny yang punya toko sweet itu" kata reno "oh.. aku tidak tau" kata dio "saat aku bicara dengan yang lain, tadi di telpon rasa nya aneh, seakan akan ada yang mereka sembunyikan" kata reno "memangnya mereka bilang apa? " kata dio "mereka bilang jeny sibuk" kata reno dengan wajah yang tidak tenang "ya mungkin saja dia sibuk jangan berfikir bodoh jika kau ingin sahabat mu baik baik saja" kata dio "tapi aku cemas" kata reno "dia akan baik baik saja" kata dio "iya semoga sa-- aw.. kenapa berhenti mendadak? " kata reno "ada kucing lewat mendadak maaf" kata dio "aku terkejut tau" kata reno "ya ma--aduh.. aku tercekik" kata dio "kenapa? " kata reno "permen yang ku makan tersangkut" kata dio "ya ampun ayo minggir dulu" reno turun dari motor. dio menepikan motor nya "masih tersangkut? " kata reno dio mengangguk "cepat cepat" reno menarik dio, membantu dio agar memuntahkan permen nya dengan mengguncang guncang tubuh dio "kenapa kau berat sekali" kata reno "uhuk.. uhuk" dio mengangguk "sudah? " kata reno dio berbalik menatap reno "lain kali jangan makan permen kalau sedang di jalan" kata reno "iya" kata dio "ayo kita lanjut" kata dio sambil tersenyum "akhirnya dia terlihat jauh lebih tenang dari sebelum nya" kata dio dalam hati.
"uh"jeny memalingkan wajah nya ketika dim hendak mencium nya " aku mungkin akan pulang larut jadi pastikan kau harus makan tanpa pengawasan ku"kata dim sambil mengusap rambut jeny "kenapa kau jadi sering diam belakangan ini? " tanya dim "baik tidak papa jika tidak mau bicara aku akan pergi " kata dim sambil berdiri dan pergi jeny tetap diam bahkan tidak bergerak sedikit pun.
di tepi jalan terlihat fudo sedang bicara dengan seorang pria "kenapa kak fudo lama banget" kata boy "kota ini terlalu ramai sulit sekali mengejar wanita itu" kata joe "kalian waktu itu beneran melihat nya? " kata lisa "iya" kata boy "tapi dia menghilang seperti hantu" kata boy . fudo masuk ke dalam mobil "akhirnya " kata fudo "dapat? " kata joe "aku tau dia dimana sekarang dia ternyata putri dari seorang pendeta" kata fudo "kebetulan ini hari minggu kita cari saja dia di gereja" kata boy "kita bukan perlu dengan pendeta nya" kata joe "ya siapa tau pear ada di sana" ucap boy sambil menatap fudo "awas aku yang akan menyetir" kata fudo.
__ADS_1
dim menatap layar di depan nya "akhirnya nya proyek selesai kita tinggal merapikan nya saja" kata pria di depan nya "ya itu hanya kurang sentuhan akhir" kata dim.
gelas hancur berserakan di lantai, jeny mendorong meja di depan nya. tiba tiba dia terdiam seperti teringat dengan sesuatu "benar juga" kata jeny "kita tidak selama bisa mengunakan cara kasar ke lawan kita , kita terkadang harus menggunakan cara halus ya kita harus akting bersikap biasa di depan nya padahal kita mau membunuh nya" jeny teringat perkataan danmi. "dengar jeny kau akan menjadi mata mata yang terbaik, ayo sekarang kita jadi rekan aku akan mengajarkan pada mu bagaimana kau harus bersikap tenang di wilayah musuh mu" jeny teringat perkataan fudo dan segala yang di ajarkan nya pada dirinya dan juga yang di ajarkan danmi kepada nya "aku tau" jeny berjalan ke arah pintu "woi!! bereskan kamar nya" kata jeny "woi!!!! pelayan!! " seru jeny seorang wanita masuk "ada apa nona? " tanya wanita itu "bereskan itu" kata jeny.
"selamat dim aku senang kau akan segera menikah kau tau ayah ku sudah punya waktu untuk ke sana, apa? kau hari ini merayakan pesta pelepas masa lajang? ay ay.. bahagia sekali hum.. bentar ada tamu seperti nya" seorang wanita melangkah ke arah pintu "Hai" kata fudo "kalian siapa? " tanya wanita itu "aku fudo sedang ada perlu dengan mu" kata fudo "kak fudo bicara apa? " bisik boy "dia sedang bicara pada wanita itu dengan bahasa Filipina kak fudo mengatakan kalau kita ada perlu" kata joe "kok kau tau" bisik boy "aku lupa kalau aku bisa mengunakan bahasa Filipina" kata fudo dalam hati "hum.. ada perlu apa? " tanya wanita itu "nama mu pear? " tanya fudo "iya" kata wanita bernama pear itu "bagus sekali bisa kita bicara? " kata fudo "sebentar ya" pear menutup pintu "dim aku akan menelpon mu nanti, di rumah ku ada orang asing bernama fudo sedang ingin membahas sesuatu" kata pear "oke" kata dim. "masuk" kata pear setelah kembali membuk pintu "kok masuk? " kata boy "pear bilang kita boleh masuk" kata joe "silahkan katakan kepentingan mu" kata pear "kami datang mencari mu untuk bertanya keberadaan dim" kata fudo "dim? " pear mengerutkan dahinya "jangan jangan ini kelurga dari wanita yang di bawa dim" fikir pear "dim ya? " kata pear "iya" kata lisa "bentar aku panggil dia" kata pear "dia di sini? " kata fudo "ya bentar" pear pergi tak lama kemudian dia kembali dengan seorang wanita berpakaian lusuh "ini dim pembantu ku" kata pear "ada apa anda mencari saya" tanya wanita itu "apa? " lisa menatap fudo.
di dalam sebuah klub dim party bersama beberapa teman teman nya "bersulang untuk dim" seru mereka "bersulang!!! " suara gelas terdengar begitu nyaring di sela suara musik yang begitu keras.
__ADS_1
"ini di luar dugaan apa kita di permainan? " kata joe "tidak" kata fudo "dia menunjukkan dim yang lain" kata boy " padahal aku sudah berfikir positif tadi"kata joe "lalu apa kita yang salah?" tanya nario "iya apa kita salah orang atau dia memang memiliki orang yang bernama sama dengan dim " kata sai "itu bukan dim yang kita mau" kata Sao "lalu dimana dim sebenarnya" kata boy "apa dia mencoba menipu kita? " kata bright "tapi foto pear yang kita cari sama, cuma beda di orang yang bernama dim nya saja" kata boy "dia sedang menipu kita " kata fudo "dari mana kakak tau? " tanya lisa "sorot mata nya, malam ini aku akan menyelinap ke sana untuk mencari informasi kalian tetap di sini dan jangan berpencar" kata fudo "aku ikut" kata joe "tidak perlu kau akan mengganggu kamuflase ku" kata fudo.
jeny duduk di dekat jendela dia menatap bulan yang melingkar sempurna "lisa apa kau mendengar ku? " tanya jeny "aku merindukan mu" kata jeny "uhhh!! " jeny mendengar suara dari luar pintu "kak dim? " jeny melihat dim datang dengan kondisi mabuk "Hai istri" kata dim sambil melempar jas nya jeny langsung bersiap mengindari dim yang berjalan ke arah nya. jeny langsung berlari ke arah lain "kak dim.. jangan macam macam" kata jeny "aku.. mau mengatakan se-- suatu" kata dim "tetap lah di tempat mu" pinta jeny "kak dim mabuk ini bahaya dia terlihat mengerikan" kata jeny dalam hati "sraakk" jeny langsung jatuh ke lantai "kak dim!! " dim menarik tangan jeny lalu memeluk nya "kita akan menikah" dim menatap jeny "lepas kan aku!! " perintah jeny "aku sudah mempersiapkan semua nya " kata dim "Tuhan... tolong bantu aku" kata jeny, dim langsung menahan jeny ketika jeny hendak melarikan diri lagi "tidak kak dim kau.. kau berjanji tidak akan melakukan apapun pada ku" kata jeny di saat dim mengangkat tubuh jeny dan melempar nya ke atas ranjang "kak dim.. sadar lah" kata jeny dia terus berusaha agar dapat melepaskan diri dari cengkraman wanita yang sedang mabuk di depan nya.namun dim menahan rantai yang mengikat jeny .
rasa takut dan panik semakin menjadi jadi "kak dim... " jeny mulai menangis ketika dim menyentuh wajah nya "tolong jangan lakukan hal ini pada ku.. " mohon jeny "kenapa kau menangis? " kata dim sambil menatap jeny yang ada di bawah nya "kau sudah berjanji tidak akan memperlakukan ku dengan seperti ini" kata jeny "kau tidak boleh melakukan hal buruk pada ku" kata jeny dengan ketakutan "aku tidak melakukan apapun" kata dim "bisakah malam ini kita melakukan nya" dim menyeringai mata nya seperti singa yang sedang lapar "jangan kak dim.. ku mohon" tangis jeny dim melepaskan kemeja nya "kak dim kau, kau tidak boleh melakukan nya oke, tolong kak dim, kau.. kau kita kita belum menikah" kata jeny "kalau begitu biarkan aku mencium mu" jeny terlihat begitu ketakutan "tidak.. tidak.. tolong aku!! kak lop!!! siapa pun.. ku mohon" kata jeny dim tersenyum sambil mengusap leher jeny "aku tidak melukaimu, aku hanya ingin memiliki mu" kata dim sambil perlahan membungkuk "ahh.. tidak.. seseorang tolong!! ku mohon!! kak dim.. " jeny benar-benar tidak bisa menggerakkan tangan nya dan juga tidak bisa memberikan perlawanan "kenapa kau sangat wangi? " bisik dim "kak dim.. aku akan patuh pada mu tapi jangan lakukan ini pada ku... aku tidak akan melakukan hal yang membuat mu kesal ku mohon lepas kan aku" kata jeny "akh" jeny memejam kan matanya "kakak.. " kata jeny dalam hati "kita akan menikah kita akan hidup bahagia, aku mencintai mu" dim mencium bibir jeny. tubuh jeny gemetaran Karena rasa takut yang teramat sangat "ku mohon lepas kan aku kak dim" kata jeny "aku mencintai mu jeny" bisik dim di telinga jeny "kau sangat manis sekali " kata dim sambil terus mencium leher jeny "kenapa aku tidak bisa melawan? " kata jeny dalam hati dia terus menggerakkan tangan nya agar bisa mendorong dim yang ada di atas nya "hah?? " jeny mengatur nafas nya, dim tiba-tiba diam tidak bergerak ataupun bicara lagi jeny menarik tangan nya sekuat tenaga sampai akhir nya tangan nya kembali bisa bergerak "kak dim? " jeny tidak merasakan din bergerak sedikit pun "huf.. dia pingsan" kata jeny lalu dia mendorong tubuh dim dan menarik rantai nya agar dia kembali bebas bergerak.
"seseorang bisakah buka pintu nya.. aku tidak aku di dalam!! buka pintu nya!! buka!!! " seru jeny "BUKA!!!! KU MOHON BUKA PINTU NYA!!! " seru jeny "akhh" jeny memegang dada nya yang mulai terasa sesak "oksigen" jeny mengambil oksigen kecil di dalam kotak lalu berjalan ke kamar mandi dia langsung mengunci pintu kamar mandi "hah.. hah.. " jeny duduk di lantai tubuh nya basah oleh keringat dingin, nafas nya semakin sesak, tubuh nya gemetar buru buru dia menghirup oksigen nya rasa panik nya tidak menghilang justru semakin menjadi jadi "air" jeny menyalahkan keran dan mulai mencoba mengatur nafas nya dan berusaha untuk kembali tenang namun perlahan tubuh nya mulai kehilangan kesadaran.
__ADS_1