
suara teriakan terdengar memenuhi ruangan jeny di ikat di sebuah tiang dalam kondisi mata di tutup dan mulut juga di tutup rapat dengan kain "HAAAAAHH... KENAPA KENAPA KENAPAAA!! " seru adsila "kenapa banyak yang menyayangi mu? " kata adsila "bahkan lisa juga rela membentak ku hanya demi dirimu!! " kata adsila lalu dia berjalan mengambil sebuah cambuk darah keluar dari hidung jeny "aku mau kau mati malam ini!! " adsila mengayunkan cambuk itu ke tubuh jeny "hhmp!! hmmph!! " jeny mengoyang kan tubuhnya "haaaahhh!! aku membenci diri mu!! aku membenci dirimu" kata adsila sambil memukul jeny adsila melempar cambuk nya melihat jeny tidak bergerak dia langsung mendekat memegang wajah jeny "hei.. hei" adsila baru menyadari kalau jeny sudah tidak sadarkan diri adsila mengambil air membuka mulut jeny dan menuangkan air ke mulut jeny tapi jeny tetap tidak bangun adsila menyiram jeny dengan seember air jeny perlahan bergerak "ahh.. ahkk" jeny terlihat kesakitan adsila memperhatikan jeny "kenapa kau membunuh ku saja" kata jeny "apa kau takut? " kata jeny melihat jeny tersenyum membuat adsila geram dia langsung mengambil pisau kecil yang ada di meja "siapa yang menyuruh mu tersenyum" adsila memukul perut jeny "akhhh.. " darah keluar dari mulut jeny adsila memperhatikan baju jeny yang mulai menyatu dengan darah dan air "kenapa berhenti ayolah bunuh aku" kata jeny adsila mengayunkan pisau di tangan nya tapi dia berhenti ketika pisau itu hampir mengenai leher jeny "kenapa aku ragu? " fikir adsila lalu dia membuang pisau itu dan mengambil tas kemudian memasukan baku bajunya yang ada di dalam tas tersebut "kenapa tidak jadi? dari pada kau siksa aku bunuh saja aku" kata jeny "diam!! " kata adsila lalu dia melihat baju lusuh jeny yang ada di lantai kemudian memasukannya ke dalam plastik "apa yang dia lakukan? " fikir jeny adsila menatap jeny lalu berdiri menghampiri nya "kau dan aku akan pergi bersama" kata adsila "tidak.. lepas kan aku!! ka mau bawa aku kemana? " kata jeny "adik yang manis" adsila mengusap pipi jeny kemudian leher jeny "aihh... hentikan!! " kata jeny "dulu aku takut lisa tidak mau dengan ku tapi sekarang aku takut lisa dan yang lain menemukan ku karena lisa mencari mu, dan aku tidak mau lisa ataupun siapa pun menemukan kau" adsila mengusap rambut jeny "apa apa maksud mu" kata jeny "aku akan membawa mu pergi bersama ku" bisik adsila sambil meraba tangan jeny perlahan "aihh.. singkirkan tangan mu" kata jeny "greet!! " adsila meremas paha jeny "aahh.. ahkk" jeny kesakitan "aku tidak tertarik dari dulu pada lisa aku hanya memanfaatkan nya saja, tapi sekarang aku malah menyukai gadis seperti mu sebelum mereka menemukan mu pagi nanti malam ini kita harus pergi aku berkemas dulu" adsila lanjut membereskan barang barang "aih.. jangan harap!! aku tidak akan pergi dengan mu!! dasar brengsek!! banjingan!! " seru jeny tapi adsila tidak perduli dia terus memasukan bekas yang pakai yang jeny lalu membawa nya keluar dan membuang nya ke tong sampah "aku yakin mereka akan mencari ku" adsila segera masuk dan menelpon seseorang "bawa mobil kemarin, dan antar aku ke bandara aku mau ke luar negeri" kata adsila "sial.. " kata jeny adsila meletakkan ponsel nya "hei sialan!! dasar brengsek" jeny memberontak namun tali yang mengikat nya tidak juga terlepas "kau mau apa? teriak? teriak lah sepuas nya.. sebelum kita pergi" kata adsila "brengsek aku tidak mau dengan mu" kata jeny "kau bilang apa? " adsila mengambil cambuk nya lagi "aku bilang kau sialan!! brengsek!! " kata jeny "aku suka melihat mu menjerit" adsila mengayunkan cambuk nya sambil sesekali memukul dan menendang jeny berkali-kali.
__ADS_1
tubuh jeny terlihat sudah lemas tapi adsila masih memukuli nya "braaggg!!! " pintu di dobrak adsila menatap ke arah lain dan pergi melihat ke arah pintu terlihat bright dan shin di depan pintu "kalian! " kata adsila "brengsek" lisa langsung maju menarik kerah adsila dan memukul nya "kau apakan jeny? kau apakan dia!! kenapa bajunya penuh darah" kata lisa sambil memukul adsila "kenapa? kau takut dia mati? dia sudah ku kubur" kata adsila "****** sialan!! " lisa melempar tubuh adsila ke atas meja yang lain hanya melihat sambil memeriksa sekitar karena lisa sudah mengatakan sebelum nya kalau dia yang akan memukul adsila "aku baru saja mengubur nya di belakang rumah jika kau mau ambil saja jenazahnya" kata adsila sambil tertawa Agnes langsung pergi keluar di susul bob dan shin mereka langsung pergi ke belakang rumah . "biar kami nona" kata bright adsila membalas pukulan lisa sesekali "lisa!! jeny di sini" kata joe mendengar itu adsila langsung di lempar oleh lisa lalu berlari ke arah suara joe terlihat jeny dalam kondisi terikat "jeny... jeny.. jen.. " lisa memegang wajah jeny joe melepaskan ikatan jeny "hm? " jeny sadar dari pingsan nya talinya di buka tubuh jeny jatuh lisa langsung menahannya "jen.. jen.. " kata lisa "hm..li..li..lis. lisa.. lisa" jeny meraba tangan lisa dan lisa langsung menarik penutup mata jeny tubuh jeny jatuh perlahan ke lantai lisa masih memegang tubuh jeny "iya.. ini aku.. aku lisa.. jen.. kau sadar" kata lisa jeny kesulitan bicara "je.. .. n" lisa menarik tangan jeny ke leher nya "pegang aku.. jangan pernah lepas kan apapun yang terjadi,peluk aku jen" kata lisa "hum.. " lisa mengangkat tubuh jeny "lisa.. ahk.. lis" jeny kesulitan bicara "tidak papa.. bertahan lah.. kita ke rumah sakit" kata lisa jeny menatap wajah lisa dan merasakan ada air yang menetes ke wajah nya "lisa.. menagis" kata jeny dalam hati perlahan jeny kehilangan kesadaran nya lagi "bright.. Cepaaattt!! " lisa panik ketika menyadari jeny pingsan joe mengikat adsila "jangan harap kau lari, ke neraka pun kau pergi akan ku tangkap" kata joe sambil menarik adsila ke dalam mobil.
__ADS_1
lisa mengangkat tubuh jeny "dokter.. dokter.. dokter tolong dia" kata lisa "dokter dokter!! " seru Daichi beberapa perawat langsung datang lisa meletakkan tubuh jeny lalu mengikuti perawat yang membawa jeny menuju ruang rawat "maaf nona anda tidak boleh masuk" kata perawat "tap.. tap.. tapi dia butuh aku" kata lisa "iya.. kami harus melakukan tindakan, anda bisa menunggu di luar" kata perawat boy menarik lisa "rawat jeny " kata boy perawat mengangguk lalu menutup pintu "boy.. booy.. " lisa mulai menangis "tidak papa.. tidak papa.. dia akan baik baik saja" kata boy "banar lisa.. jangan panik kau harus mendukung jeny" kata Daichi.
__ADS_1
bob tak henti henti menenangkan Agnes yang menangis "kak.. kenapa dokter nya gak keluar keluar mereka ngapain kok lama sekali? " kata lisa "boy.. boy.. kita harus kedalam" kata lisa "benar ini sudah hampir tiga jam lebih mereka kenapa lama banget" kata Agnes "DIAM!! " kata joe "mereka sedang menolong jeny bisa gak tenang sebentar? mereka harus konsentrasi" kata joe pintu terbuka dokter keluar dengan beberapa perawat "gi.. gi.. gimana? " kata lisa "dokter kenapa kau diam saja? " kata Agnes "pasien untuk saat ini masih kritis dan perlu dirawat beberapa waktu " kata dokter "apa luka nya parah? " tanya lisa "parah sekali nona, dia mengalami banyak luka tusuk di tubuhnya da.. -" boy langsung memotong pembicaraan dokter "cukup pergilah" kata boy lalu dia merangkul lisa "tenang lah.. dia baik baik saja" kata boy lisa langsung masuk ke dalam ruangan di mana jeny berada air mata nya langsung mengalir "jeeee... n " lisa memegang tangan jeny perlahan dan mencium tangan jeny dengan lembut terlihat jeny mengunakan alat bantu pernafasan dan juga terdapat infus di tangan kanan nya lisa mengusap dan mencium tangan jeny berkali kali sambil meminta maaf karena gagal melindungi nya dan menjaga nya dengan baik.
__ADS_1