Merakit Cermin Yang Hancur

Merakit Cermin Yang Hancur
nyata namun terasa mimpi


__ADS_3

lisa memperhatikan layar laptop nya sambil memegang segelas susu. "huum.. dia tetap diam selama liburan" lisa menatap jeny yang sedang mencoba beberapa wahana dengan Agnes dan riki yang lain tertawa sementara jeny hanya diam bahkan tidak tersenyum "bagaimana cara nya aku membuat mu tersenyum? " kata lisa sambil menatap kursi di depan nya "aku berharap kita bisa sarapan bersama".


jeny tersenyum sinis " hah!"jeny meletakan sendok nya riki menarik nafas melihat ekspresi adiknya "maaf kan aku.. tapi" kata riki " aku cuma di beri waktu dua sampai tiga hari saja"kata riki "aku tau aku tau.. pekerjaan itu sangat penting bukan? kau bisa pergi" jeny berdiri "aku akan pergi mandi" jeny pergi riki mengusap wajahnya .


fudo terdiam "dia terlihat sangat kecewa" terdengar suara riki di sebrang telpon "kau sudah menjelaskan padanya" kata fudo "aku sudah menjelaskan padanya ekspresi nya langsung terlihat sangat sangat kecewa aku sangat kebingungan " ucap riki "tapi aku harus pergi tuan fang sudah mengirim pesan dia meminta ku mendampingi nya ke dubai" kata riki "coba kembali dekati dia dan juga" kata fudo "kenapa kau hanya diam aku sudah bersiap mengantar mu atau kau menunggu seseorang lagi untuk mengantar mu" terdengar suara jeny "jeny.. apa yang kau katakan adikku? aku sudah siap" kata riki "cepat lah pekerjaan mu sudah menunggu bukan" jeny pergi keluar "jeny.. aku ingin bicara tunggu dulu" kata riki "tidak usah bicara aku sudah tau" kata jeny mobil hitam datang "apa sudah siap? " kata joe "ya" kata jeny sambil masuk ke dalam mobil "dengar jeny jika kau begini aku tidak akan pergi, bagaimana mana aku bisa tenang jika kau menatap ku begini" kata riki "kau mau aku seperti apa? " kata jeny "atau kau tidak mau aku mengantar mu ke bandara? tidak papa aku akan keluar dari mobil" kata jeny "tidak.. aku tau kau keberatan aku pergi.. percayalah misi ku selesai aku akan membawa mu bersama ku. dan kita bisa tinggal bersama" kata riki sambil menatap jeny "kau sudah pernah mengatakan nya" kata jeny "aku tau.. dengar adikku... aku juga tidak ingin meninggalkan mu sendirian aku ingin punya banyak waktu bersama mu tapi kali ini belum bisa" kata riki "pesawat akan terbang dua jam lagi" kata jeny sambil menatap riki "kakak.. cepat masuk" kata jeny "kau marah pada ku" kata riki "tidak" kata jeny riki masuk ke dalam mobil memeluk adiknya "aku menyayangi mu" kata riki sambil mencium dahi adiknya "jika kau keberatan aku bisa membatalkan misi ku" kata riki "tidak boleh" jeny menatap riki lalu mengusap wajah kakaknya "maaf aku membuat mu cemas kau bisa selesaikan misi mu kak" kata jeny "dan aku juga menyelesaikan misi ku" kata jeny dalam hati "tenang saja kak aku bisa menjaga nya" kata joe "aku juga " kata boy "aku punya mereka kau tenang saja" kata jeny "akhirnya dia mengerti" kata riki dalam hati.


di bandara...


boy menurunkan barang barang milik riki "kau dengar kakak mu ini, jangan terlalu banyak makan coklat gigi mu akan berlubang" kata riki sambil mengusap kepala jeny lalu mencium nya " berhenti bicara kau bisa pergi sekarang"kata jeny "iya kak pesawat akan terbang dua puluh menit lagi" kata boy "baik lah.. aku titip dia ya" kata riki "kau tenang saja kak" kata boy "kau tidak mengatakan apapun pada ku" kata riki sambil menatap jeny "kau kakak terbaik semoga Tuhan memberi mu keberuntungan" kata jeny "aku menyayangimu" kata riki dan jeny bersamaan.


"PERHATIAN PESAWAT AKAN LEPAS LANDAS LIMA BELAS MENIT LAGI" riki menghentikan langkah nya melihat ke belakang terlihat jeny melambaikan tangan nya lalu masuk ke dalam mobil "kenapa lisa tidak terlihat" fikir riki lalu ia melanjutkan langkah nya "kak riki" riki menoleh ke arah suara "lisa" riki tersenyum "kau sangat sibuk ya.. dan sekarang kau di sini kau mau terbang juga? " kata riki "aku ingin mengantar mu" kata lisa "aku dengar dari jeny kau sangat sibuk dan sangat sangat tidak bisa di ganggu dia selalu marah kalau aku membahas tentang mu karena dia tidak ingin aku mengganggu mu" kata riki "iya kak aku sangat sibuk aku habis bertemu seseorang dan aku dengar kau akan kembali jadi aku mencari mu di bandara oh ya.. ini ada sesuatu dari ku" lisa memberikan dua box ke riki "apa ini? kenapa kau repot repot sekali" kata riki "hum.. shin akan membantu mu membawa barang barang mu" kata lisa "ah.. tidak papa aku bisa sendiri" kata riki "tidak papa kakak.. shin bisa membantu" kata lisa "baik lah aku harus pergi oh ya.. hum.. jika kau tidak sibuk kau hum...bisakah kau menemani adiku" kata riki "tentu kakak.. aku akan menjaga nya dengan baik" kata lisa "terimakasih" kata riki.

__ADS_1


malam hari...


jeny menatap diri nya di depan cermin "aku akan menemui boy" kata jeny sambil berjalan keluar kamar lalu mengambil peperbag di meja ponselnya berbunyi "halo.. hum.. aku akan datang sebentar lagi boy" kata jeny "ya.. apa aku harus menjemput mu" kata boy "tidak perlu aku sudah menyewa taxi online dan juga membeli snack kesukaan mu aku akan mengantar nya aku matikan telpon nya" kata jeny "iya hati hati ya" kata boy. jeny menutup pintu lalu pergi keluar gerbang "taxi atas nama jeny" kata seorang pria berbaju putih "ya itu aku antar aku ke klub galaxy" kata jeny. mobil pun berjalan jent menatap jalanan yang di penuhi kendaraan "hum? " jeny melihat ponsel nya "jen Jack dan jin nitip makanan takoyaki dan coklat dan juga snack kentang" jeny membaca pesan dari boy "pak berhenti sebentar " kata jeny "ada apa nona? " tanya supir taxi "tunggu sebentar ya ada yang ingin aku beli" kata jeny "baik nona" kata supir taxi jeny langsung keluar dari mobil masuk ke sebuah toko membeli beberapa makanan ringan lalu masuk kembali ke dalam mobil "pak kita cari takoyaki dulu" kata jeny "baik nona" kata supir taxi.


Jack tersenyum ramah sambil meletakan beberapa gelas minuman ke atas sebuah meja "selamat menikmati" Jack langsung pergi "aku sangat lapar" kata Jack "sabar jeny belum datang" kata boy sambil memutar mutar es batu di dalam gelas "kau yakin membiarkan jeny datang sendiri" kata jin "ya dia ada di dalam mobil aku yakin dia akan baik baik saja" kata boy.


jeny membawa takoyaki yang dia beli "terim--" kata jeny "Hai jen" jeny menoleh terlihat john dengan kemeja putih "john kau ada di sini? " kata jeny "kebetulan aku melihat mu ada di sini" kata john "jadi aku berhenti dan menghampiri mu" kata john "aku membeli takoyaki untuk teman ku" kata jeny "oh.. jadi kau akan pergi dengan teman teman mu" kata john "ya aku akan menemui mereka mengantarkan makanan nya lalu pulang" kata jeny "kau tidak minum di sana? " kata john "seperti nya dia mau mengajak ku minum" fikir jeny lalu dia tersenyum "tidak aku hanya ingin mengantarkan makanan saja" kata jeny "hum.. aku mau mengajak mu makan bersama ku" kata john "haha apa kau bercanda? " kata jeny "tidak aku serius hum.. bagaimana aku yang mengantar mu ke tempat teman mu " kata john.


di tempat yang berbeda..


jeny keluar dari sebuah pintu besar "sekarang ayo kita berangkat" kata john "kau tinggal sendiri? " kata jeny "ya ini rumah ku rumah keluarga ku tak jauh dari sini aku ke sana kalau hari hari tertentu" kata john "oh.. aneh ya" kata jeny "hahaaha.. keluarga itu rumit" john membuka pintu mobil jeny langsung masuk ke dalam mobil "rumah nya luas dan banyak ruangan serta kamar" kata jeny dalam hati. mobil terus berjalan sampai ke sebuah tempat yang mereka tuju para pengawal langsung membuka pintu mobil john langsung keluar "ayo jen" kata john "klub semalam? " kata jeny "ya.. di sini ada menu makanan juga ayo" kata john "ya.. itu berarti aku harus minum lagi" kata jeny dalam hati "aku tidak pernah melihat saudara mu kau bilang kau punya saudara" kata jeny "dia sedang berbisnis di luar negri" kata john "bersama ayahmu? " jeny duduk di sebuah kursi "tidak jen, papa ku berbeda dia akan pergi dengan paman ku yang licik itu" kata john "mau pesan sesuatu tuan, nona? " tanya seorang pria "aku mau makanan yang paling enak dan minuman spesial buat teman ku" kata john "kau suka di berada di sini? " tanya jeny "ya kadang kadang" kata john "minuman anda sudah siap" seorang pria datang membawa dua gelas minuman dan dua botol minuman "ayo minum jen" kata john "oh.. nanti saja" jeny menahan tangan john yang hendak mengambil gelas "kita makan dulu" kata jeny "oh.. ya kau benar sekali" kata john.

__ADS_1


malam semakin larut beberapa orang semakin mabuk, menari tanpa lelah meskipun keringat sudah membasahi pakaian mereka "uh.. " john bersandar di meja "kau tau jen aku pernah melihat wanita mungil di sebuah rumah besar dia benar-benar galak sekali saat itu aku dan saudara saudara ku sedang belajar membunuh orang kami ikut papa membantai sebuah keluarga" kata john "itu sangat menegangkan uh.. pria bodoh yang melindungi gadis itu berakhir dengan mengenaskan di tangan kami hum.. tapi apapun itu papa tidak pernah puas" kata john "aku hanya ingat salah satu nama korban namanya Atsushi kami terus membunuh dan membantai orang orang yang ikut campur urusan kami" kata john "kami menjual senjata, barang terlarang haha.. bahkan polisi tidak bisa menghentikan kami uh.. kau tau win mentri bodohh itu kami membayarnya perbulan dan pejabat lainnya karena itulah kami aman" kata john "ruangan bawah ada ruangan khusus di rumah keluarga ku ada kolam lintah kami menghabisi para pejabat disana orang orang yang membantah akan berakhir mengenaskan" john terus bercerita "oh.. kau mirip hum.. apa ya.. yang di film film itu" kata jeny "mafia.. papa bilang kami itu keluarga mafia kamu orang kuat" john lanjut meneguk minuman nya sambil terus bercerita air mata jeny menetes dia mendengarkan john bercerita sambil meminum segelas dua gelas minuman di depan nya "huuh.. " john terlihat berhenti bicara jeny segera berdiri menghampiri salah satu pengawal john "bawa dia pulang" kata jeny lalu dia mengambil sebotol minuman lagi meneguk nya sambil berlinang air mata teringat cerita john "gadis itu menghilang tak tau kemana, kami mencari nya tidak ketemu semuanya sudah mati banyak darah hahaha... aku mulai menyukai penyiksaan" jeny menutup telinga nya "papa... " jeny keluar dari pintu matanya merah. jeny menatap layar ponsel nya lalu menekan ponselnya "huuuk.. uhuk" jeny bersandar di sebuah mobil kepalanya terasa berat pandangan mulai terlihat buram tidak jelas perlahan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan "greb" jeny menyipitkan matanya memperhatikan orang yang merangkul nya "kau terlalu banyak minum" kata orang itu "uhm.. tidak papa" kata jeny "aku akan antar kau pulang" kata orang itu yang tak lain adalah lisa "tidak perlu eii.. kau siapa" kata jeny "kau mengenali ku kok, ayo ini sudah larut" lisa menarik jeny "tidak mau" kata jeny "dan jangan sentuh aku nah itu ada taxi" jeny baru jalan dua langkah langsung terjatuh ke tanah "ouh.. " kata jeny lisa berjalan membantu jeny "uhuk.. uhuk lepaskan.. kau tau tidak semua orang boleh menyen-- tuh ku" kata jeny "tapi aku pernah mencium mu" kata lisa "apa?? kapan" lisa menahan tubuh jeny yang mau terjatuh "di depan kamar" kata lisa "aahh.. kau hum.. uhm.. orang yang waktu itu" kata jeny "iya kau mengingat ku gini saja nanti kita bahas sekarang ayo aku antar" kata lisa "tidak mau.. kau akan mencuri curi kesempatan" kata jeny sambil berusaha melepaskan diri dari rangkulan lisa "jangan keras kepala ayo pulang" kata lisa "tidak mau" kata jeny lisa menatap mata jeny "kau tetap tidak mau mendengar ku bahkan dalam kondisi seperti ini" kata lisa "lepas kan... aku mau pulang sendiri lepas" kata jeny "terus lah berteriak maka aku akan mencium mu seperti waktu itu" kata lisa "hum?? kau kurang aja seperti lisa" jeny mengepal kan tangan lalu bersiap hendak memukul lisa namun belum sempat pukulan nya mengenai lisa jeny jatuh duluan "greb" lisa memeluk jeny yang hampir terjatuh ke tanah "simpan tenaga mu" lisa mengangkat tubuh jeny "lepas!! lepaskan aku dasar bodoh" kata jeny "diam" lisa memasukan jeny ke dalam mobil "hum.. " jeny melihat sekitar nya "kenapa kau mabuk lagi" kata lisa "uh.. " jeny memegang kepalanya "apa sakit? " tanya lisa "haha.. tidak papa oh ya.. waktu itu kenapa kau mencium ku? lalu kau.. menghilang" kata jeny "lebih cepat lagi " kata lisa "baik nona" kata roy "eih.. kau mau membawa ku kemana" kata jeny "ke rumah mu" kata lisa "tidak tidak.. uh.. pak.. bawa aku ke tempat rahasia ku" kata jeny "kau mau kemana? " kata lisa "pak jalan.. uh.. jalan garuda sakti uh.. danmi" kata jeny "nona" roy menatap lisa "ikuti saja" kata lisa "aku lupa nomor berapa tapi namanya danmi" kata jeny "sudah sampai itu rumah nya" kata roy "hum" jeny meraba sakunya "ngomong ngomong dimana uang ku? " kata jeny "tidak perlu ayo keluar" kata lisa "uh.. aduh" jeny jatuh saat keluar dari mobil "hati hati" lisa membantu jeny berdiri "ini bukan rumah mu" kata lisa "ini rumah pelatih ku " kata jeny pintu di buka "kak danmi aku dat-- ouh.. lupa dia pergi kencan" kata jeny lisa meletakkan jeny di sebuah kamar "aku akan ambil air" kata lisa "eei.. memangnya kau tau tempat nya rumah kak danmi penuh teka teki" kata jeny sambil duduk "aku akan menemukannya" kata lisa sambil pergi jeny mengambil ponselnya "uh" ponsel terjatuh "kepala ku.. " kata jeny "aku datang" kata lisa "apa di sini ada pakaian mu" kata lisa "um.. " jeny mengangguk "kau harus ganti baju dulu" kata lisa "hei!! " jeny menyilang tangan nya "tidak tidak.. kau mau apa? " tanya jeny "mengganti pakaian mu" kata lisa "bahkan aku tidak mengenal mu tapi kau mau seenaknya pada ku" kata jeny "baiklah nanti saja kalau begitu " kata lisa "uh" jeny berbaring "minum lah air ini" kata lisa "uh.. tidak mau" jeny menepis tangan lisa lalu memeluk bantal dan perlahan memejamkan mata lisa memperhatikan sekitar nya "ohh.. panas" jeny kembali duduk "aku sudah bilang lebih baik ganti baju" kata lisa lalu dia berdiri membuka pakaian jeny "umm" jeny merasakan handuk lembut di sekitar lehernya "kau buat apa? " kata jeny "membersihkan tubuhmu" kata lisa "uh" jeny kembali berbaring "hei di lemari mana baju mu berada? " tanya lisa "gak tau" kata jeny lisa berdiri membuka semua lemari sampai akhir nya menemukan baju tidur "bangun sebentar pakai dulu bajumu" kata lisa "hei ayo" lisa memaksa jeny untuk bangun "aaih.. aku sedang ingin tidur" kata jeny "diam pakai dulu baju mu" kata lisa "danmi itu pelatihmu tapi kenapa kau tau segalanya " kata lisa "ini hanya soal rencana pembalasan dia bukan hanya seorang pelatih" kata jeny "rencana apa? " kata lisa "rencana yang aku katakan pada kak danmi" kata jeny "minum lah dulu air madu ini" kata lisa "uhm" jeny meneguk air madu dari lisa "kenapa kau bergaul dengan orang yang tidak baik" kata lisa "oh.. john ya" jeny menatap orang di depan nya "kau tidak tau ini namanya trik wartawan begitu kata kak danmi sama seperti aku mendekati lisa waktu beberapa bulan lalu" kata jeny "kau mendekati lisa? " kata lisa "ya.. kak danmi yang mengajari ku, waktu itu aku sedang mencari bukti ku fikir lisa memiliki nya ternyata tidak" kata jeny "aku capek sekali berada di dekat pembohong itu" kata jeny "lisa pembohong? " kata lisa "iya kau tau dia itu pembohong dia pernah bicara berbisik bisik pada seorang pria di toko, berpelukan di toko dengan pacarnya bahkan dia diam saja di cium" kata jeny "dia juga menyebalkan daa--" lisa menoleh ketika jeny tidak melanjutkan bicara nya terlihat jeny sudah tidur lisa berdiri menarik selimut memeriksa sekitar nya "danmi ini seorang tentara" lisa melihat foto seorang pria dengan seragam tentara "um" lisa menoleh melihat tangan jeny tidak tertutup selimut lisa berjalan mendekati jeny "bahkan di saat sedang tidur pun kau terlihat sedang menggoda ku" kata lisa "um" jeny menarik narik bajunya "hei.. " lisa menahan tangan jeny lalu merapikan baju jeny "aih.. " jeny bangun "kau sedang apa? " kata jeny "hum.. me.. merapikan pakaian mu" kata lisa "tidur lah lagi" kata lisa ketika melihat jeny duduk "tidak mau kau nanti macam macam" kata jeny "tidak" kata lisa "tapi" jeny menyipitkan matanya "kau masih di sini? " kata jeny "aku ingin menjaga mu" kata lisa "dan juga mencium mu" kata lisa dalam hati "tunggu tunggu" jeny mengulurkan tangan nya "kau mau apa? " tanya lisa "aku mau menyentuh mu" kata jeny lisa tersenyum lalu mendekat kan wajahnya agar jeny mudah menyentuh nya "apa aku masih di mimpi ku? " kata jeny "kenapa kau berfikir kalau kau ada di mimpi" kata lisa "hum" jeny mengusap matanya "kau selalu menghilang di saat aku bangun di pagi hari" kata jeny "boleh kah aku minta padamu untuk tidak pergi" kata jeny "kenapa? " kata lisa sambil duduk di samping jeny "karena teman teman ku tidak percaya kalau kau ada aku melihat mu, meraba mu, nih kan bisa aku tidak mimpi" kata jeny "tidak tidak mungkin ini imajinasi ya" kata jeny "ummp hei.. apa yang kau lakukan" jeny mendorong lisa "mencium mu sekarang apa kau masih merasa ini mimpi? " kata lisa "iya masih terasa mimpi" kata jeny "kalau begitu boleh aku mencium mu lagi? " kata lisa "tidak boleh aku tidak mau" kata jeny "kenapa? kau tau ketika di mimpi kita tidak akan bisa mencium seseorang" kata lisa "karena itu hanya bisa di lakukan di saat sadar" kata lisa "benar kah" kata jeny "iya jadi boleh aku mencium mu" kata lisa "boleh" kata jeny lisa tersenyum menggigit bibir nya lalu perlahan mencium bibir jeny lisa merasakan tangan jeny yang berada di bahunya sedang mendorong nya "bagaimana? " kata lisa "hum.. kau mau membuat ku mati aku tidak bisa bernafas tau! kau menciumku terlalu lama" kata jeny sambil berbaring "tapi ini nyata kan" kata lisa "hum .. sepertinya nyata tapi.. kau jangan kemana mana ya " kata jeny "oh ya jen, apa kau mencintai lisa" kata lisa sambil berbaring di samping jeny "hum.. aku-- seb.. sebenarnya.. ju... zzz.. " lisa mengerutkan dahinya "me apa? " lisa menoleh ke arah jeny terlihat jeny sudah terlelap seperti seorang bayi bibir nya terlihat tebal dan berwarna merah lisa tersenyum "aku suka kau mabuk begini tapi.. aku lebih suka kau sadar saat aku mencium mu" kata lisa sambil mengusap rambut jeny lalu memeluk jeny sambil tersenyum dan perlahan memejamkan mata.


keesokannya...


"huaaammm... " amin membuka matanya "hei kau mau kemana? " tanya amin ketika melihat pam menyisir rambutnya di depan cermin "adiknya tuan fang yang kemarin akan pergi ke bandara jadi aku bertugas mengantar nya sampai pintu pesawat" kata pam, "dimana yang lain? " tanya amin "aku tadi lihat fudo sedang berolahraga kalau riki aku tidak tau" kata pam sambil pergi keluar kamar "sarapan dulu pam" kata riki sambil meletakkan beberapa makanan di atas meja "kau masak? " kata pam "aku cuma membantu sedikit" riki menoleh ke arah dapur terlihat fudo sedang mengaduk aduk sup di dalam panci "kau bukannya akan pergi ke dubai? " kata pam "iya aku berangkat agak siang bersama tuan fang" kata riki "kenapa cuma bicara ayo makan" fudo datang meletakan semangkok sup "mana amin? " kata fudo "dia lagi mandi" kata pam "ayo cepat sarapan kalian akan bertugas hari ini" kata fudo "kau ini bawel sekali" kata riki "kalau begitu jangan makan biar kau kelaparan" kata fudo "ayo makan pam takutnya dia akan menghancurkan meja ini jika kita tidak makan" kata riki "tunggu aku!!! " terdengar suara dari kamar "cepat bodoh! " kata pam "aku lagi pakai baju" kata amin "dasar lamban" fudo mengambil sedikit sup untuknya lalu mengambil sendok "aku datang aku datang! " kata amin "ayo cepat" kata pam "selamat makan" kata riki.


di rumah danmi...


jeny menarik selimut nya sampai menutupi setengah wajahnya "uh.. dinginnya" kata jeny "umm? " dia memperhatikan sekitar nya "ohhh!!! sial!!! " dia langsung duduk melihat sebelah nya namun kosong tidak ada siapa pun di samping nya "dia tidak ada? " kata jeny dia langsung turun dari ranjang berjalan mencari seseorang "hei.. dimana kau? hei!! " jeny menatap pintu rumah masih terkunci "apa aku berimajinasi lagi? tidak... dia ada kok.. tapi kok hilang" jeny memperhatikan semuanya tapi tidak ada tanda tanda ada orang selain dirinya "tunggu kok aku bisa di rumah kak danmi? aku bukannya di rumah ku ya dan aku ada dengan john" jeny berjalan ke kamar mencari ponselnya "mana sih.. hilang juga ya" jeny menyingkirkan selimut "oh" dia melihat ponselnya ada di bawah tempat tidur "klik" dia memutar rekaman suara terdengar suara john bercerita "oh.. kepala ku agak berat aku harus pulang" rekaman berhenti "sial.. aku seharusnya tidak mematikan nya agar dia juga terekam tapi.. ya aku gak mimpi kok" kata jeny tiba tiba matanya menatap ke arah cermin "ah.. ya ya.. dia juga yang bilang kalau aku gak mimpi karena dalam mimpi orang gak bisa berciuman eh.. tapi kok dia gak ada" kata jeny "jadi aku ragu lagi aku malam kemarin sedang bermimpi atau tidak ya" kata jeny "dia muncul di rumah aja yang lain gak percaya apalagi dia muncul di sini orang makin curiga apalagi mereka gak kenal kak danmi aduuh... mimpi gak ya" kata jeny "terasa nyata tapi seperti mimpi dia sekarang menghilang tapi..selalu muncul di malam hari apa dia muncul di mimpi? tapi..ciuman nya terasa sungguhan" jeny menggaruk garuk kepala nya yang tidak gatal.


seorang wanita berpakaian rapi mengetuk pintu "masuk " ada suara dari dalam wanita itu langsung masuk "nona lisa permisi ada beberapa dokumen yang harus anda tandatangani" kata wanita itu namun wanita itu melihat lisa melamun dan tersenyum senyum sendiri "nona lisa" kata wanita itu "nona lisa! " lisa terkejut "astaga.. ya apa apa aku aku lupa harus apa? " kata lisa "wah.. ini pertama kali nya aku melihat anda seperti ini anda sedang jatuh cinta ya" kata wanita itu "hum.. iya oh ya apa yang terjadi" ucap lisa "dokumen yang harus anda tandatangani" kata wanita itu "baik baik" lisa mengambil pena dan segera menandatangani dokumen yang di bawa wanita itu "terimakasih nona kalau begitu saya permisi" wanita itu pergi lisa mengusap wajahnya "hum.. kau mau membuat ku mati aku tidak bisa bernafas tau kau mencium ku terlalu lama" lisa tersenyum sendiri sambil menyentuh bibirnya perlahan "aku berharap kau mempercayai ku suatu saat nanti dan tidak memanggilku dengan kata sayang bukan pembohong" kata lisa sambil tersenyum.

__ADS_1


~HAPPY READING~


__ADS_2