
...Jangan lupa jejaknya!!!...
...Happy reading...
...--------...
Mereka pun menikmati cilok serta pemandangan taman yang cukup menyenangkan. Rika mengajak Ardit untuk melanjutkan jalan mereka mengelilingi taman, Ardit pun membantu Rika dan berdiri di belakang Rika.
Jika nanti jatuh dirinya bisa menangkap tubuh kecil Rika. Hampir setengah jam mereka berkeliling dan sesekali duduk. Tapi kali ini Rika meminta Ardit untuk duduk kakinya terasa kram mungkin karena cukup lama berdiri.
"By bentar deh, kita duduk dulu ya? Kaki aku rasanya kram"
Ardit yang mendengarkan hal tersebut langsung membawa Rika ke tempat duduk. Rika memijat pelan kakinya yang terasa kram.
Sedangkan Ardit membeli air putih melihat sang istri yang memijat kakinya Ardit langsung menghampiri dan berjongkok didepan Rika.
"Sakit banget ya? Mau ke rumah sakit aja gak?" Ardit nampak khawatir akan keadaan istrinya.
Rika menggeleng. "Gak usah, cuma kram dikit aja. Mungkin karena kelamaan berdiri"
"Minum dulu" Ardit memberikan botol minuman yang baru saja ia beli.
Rika pun mengambil nya dan meneguknya setengah lalu menutup dan ia taruh ke samping. Ardit yang tak tega pun berjongkok di depan Rika, membuatnya mengernyit heran. "K-kamu ngapain?"
"Pijat kaki kamu" Ardit menggulung celana legging Rika ke atas terlihat kaki Rika yang nampak membengkak.
"By, udah aku gak apa-apa" tolak Rika tak enak.
Ardit berdecak pelan. "Gak papa gimana? Kamu kecapean gini. Kita ke rumah sakit ya sekarang. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Kaki kamu juga cukup bengkak sekarang"
Ardit dengan perlahan memijit kaki Rika. Membuat Rika meringis pelan kalau Ardit tak sengaja menekan kakinya cukup keras.
"Akh!" ringis Rika dengan pelan.
"Gini, katanya gak sakit?" Ardit menaikkan sebelah alisnya, menatap Rika dari bawah.
"A-ku gapapa" Rika berkata pelan.
Ardit terkekeh pelan, tanpa menjawab ucapan Rika. Ardit langsung mengendong Rika dan membawanya pergi meninggalkan taman.
__ADS_1
"Gak ada penolakan!" tegas Ardit begitu melihat Rika yang ingin kembali berucap.
Dengan hati-hati Ardit menaruh tubuh Rika ke dalam mobil, tak lupa memasang seatbelt. Setelah memastikan Rika duduk dengan nyaman, Ardit menutup pintu mobil dan beralih ke belakang mobil menaruh tongkat di kursi belakang dan mulai menjalankan mobil untuk menuju rumah sakit.
Selang beberapa menit mobil Ardit sampai di depan sebuah rumah sakit, di depan sana sudah ada Dokter Mita —Dokter yang selama ini merawat Rika, melakukan fisoterapi dan yang lain.
Ardit mengangkat tubuh Rika ke atas kursi roda yang sudah disiapkan oleh Dokter Mita. Membawa Rika ke dalam ruangannya.
Dokter pun memeriksa keadaan Rika, selesai memeriksa dokter Mita membantu Rika untuk duduk di kursi roda.
Dokter Mita mengatakan bahwa keadaan Rika saat ini baik-baik saja, tak perlu ada yang dikhawatirkan. "Syukurlah, keadaan Rika saat ini baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Saya akan kasih obatnya kembali, dan jangan sampai kecapean"
Dokter Mita menulis resep yang harus Ardit beli di apotek. "Ini resep obatnya, diminum tepat waktu" ujar dokter Mita tersenyum simpul.
Ardit melirik sekilas ke arah Rika yang hanya menyengir. "Terima kasih dokter"
"Sama-sama. Untuk fisoterapi nya minggu ini akan dimajukan di hari jumat. Apakah bisa? Karena mulai hari sabtu sampai satu minggu ke depan saya harus ke luar kita" jelas Dokter Mita sambil berjalan keluar ruangan bersama Ardit dan Rika, mengantarkan keduanya hingga lobi.
"Saya terserah kak Ardit aja dok" jawab Rika kala Dokter Mita menatapnya.
"Saya tak masalah. Apa baiknya saja" ujar Ardit.
"Baiklah kalau begitu hati-hati di jalan" ujar Dokter Mita. "Rika, semoga cepat sembuh. Jangan terlalu stress yakin sama diri sendiri kalau kamu bisa kembali lagi seperti sebelumnya" Dokter Mita memberikan semangat.
"Sayang, aku tinggal ke apotek sebentar. Kamu tunggu disini dulu," pamit Ardit sebentar meninggalkan Rika di dalam mobil, tak lama kembali lagi setelah menebus obat.
...
Ardit dan Rika tiba di rumah, mereka masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri. Setelah itu keduanya disibukkan oleh kegiatan mereka masing-masing, Ardit fokus pada pekerjaan dan Rika sibuk akan kegiatannya menonton drakor.
Tanpa terasa waktu malam tiba, Rika dan Ardit pun turun ke bawah untuk makan malam bersama Veni sementara Ardi pasti pria itu masih ada di kantor dan bersiap pulang.
"Selamat malam Bunda"
"Selamat malam. Gimana tadi pacarannya?"
"Lancar, walaupun ada kendala dikit"
"Kenapa? Rika, kamu sakit?" tanya Veni sambil mengecek keadaan Rika,
__ADS_1
Rika tersenyum simpul, ia menarik tangan Veni dan menggenggamnya erat. "Rika gak kenapa-napa Bunda. Aku baik-baik aja. Tadi cuma kecapean aja. Tapi sekarang udah baikan karena kak Ardit udah bawa Rika ke rumah sakit"
Veni bernapas lega kala mendengarkan penuturan sang mantu.
"Bunda kira ada apa-apa. Lain kali kalau emang udah gak kuat dan capek jangan dipaksa," Rika hanya mengangguk kecil.
"Wah wah wah, udah pada kumpul di bawah" cetus Ardi yang baru saja tiba. Sebelum bergabung ke meja makan bersama yang lain, pria itu memilih untuk masuk ke kamar dan berganti.
...
Makan malam baru saja selesai, Ardit dan Rika pamit ke kamar sementara Ardi dan Veni pamit keluar karena ada urusan.
"Bunda sama Ayah mau pamit dulu keluar. Kamu jaga rumah ya" ujar Veni pada Ardit.
"Oke Bun" Ardit mengacungkan jempol, mengantarkan Veni dan Ardi hingga depan rumah.
Ardit memasuki kamarnya, mendapati Rika yang sedang asik menonton layar persegi di kedua tangannya. "By," panggil Rika.
"Ada apa?"
"Em.. Besok, aku boleh ikut pergi ke pernikahan Amel sama kak Arko gak?" tanya Rika meminta izin.
Tak terasa juga, besok adalah hari yang paling bersejarah dalam diri Amel. Perempuan itu akhirnya akan menikah bersama Arko. Padahal sebelumnya Amel baru bercerita jika baru saja dilamar Arko tepat seminggu yang lalu.
"No! No! No! Kamu harus istirahat sayang, nanti malah gak sembuh-sembuh" Ardit perlahan menghampiri Rika.
Rika mendesah pelan, bahunya merosot ke bawah ketika Ardit melarangnya untuk datang. "Ayolah, boleh dong by. Cuma bentar"
"Enggak sayang. Aku gak mau ambil risiko"
Bukan Rika namanya bila tak dapat merayu Ardit.
"Janji deh, aku gak bakal ke mana-mana. Aku bakal duduk aja. Masa waktu itu Amel datang aku enggak datang. Boleh ya pleasee"
Ardit menghela napas. "Oke, tapi janji! Kalau ada apa-apa langsung bilang".ujar Ardit mengizinkan.
"Janji!" Rika menautkan jarinya pada jari kelingking Ardit.
Meski nanti hanya datang untuk acara akad nikah, namun tak mengapa. Rika tau bila Ardit khawatir, masih untung cowok itu memberikannya izin untuk datang.
__ADS_1
"Makasih Byy!" ujar Rika sambil memeluk Ardit yang cowok itu balas dengan pelukan dan kecupan manis.
"Ayo beres-beres, terus tidur!"