
Bising, ramai dan banyak orang. Tiga kata yang menggambarkan keadaan mall sekarang. Ditambah lagi hari ini hari weekend yang semakin membuat mall bertambah ramai.
"Mau belanja atau makan dulu?" tanya Ardit pada Rika. Beberapa menit lagi sudah jam makan siang.
"Belanja aja dulu, nanti lanjut makan." Jawab Rika. Menaiki eskalator menuju lantai 4 yang berpusat pada supermarket.
Mengambil troli, Rika dan Ardit sama-sama memilih bahan makanan apa saja yang akan mereka beli. Untung saja, sebelum berangkat Rika sudah mengecek barang apa saja yang akan mereka beli.
"Semuanya udah ada. Tinggal pasta gigi sama sabun mandi," gumam Rika. Melangkah ke rak rak berisikan berbagai jenis sabun dan pasta gigi.
"Sudah semua? Ada yang kurang gak?" tanya Ardit memastikan.
Mengecek kembali barang-barang yang sudah Rika ambil. Dirasa semuanya cukup Rika mengangguk. "Semuanya udah, tinggal bayar aja."
Mendorong toli ke kasir. "Totalnya 1 juta lima ratus," ujar mas-mas kasir. "Bayar pakai cash atau kartu,"
"Kartu," Ardit mengeluarkan ATM miliknya dan memberikannya pada mas-mas kasir.
"Makasih, sudah berbelanja di toko kami." mengembalikan ATM Ardit.
Ardit tersenyum, dan mengambil alih seluruh kresek berisik bahan bulanan untuk beberapa minggu ke depan.
"Kamu cari tempat makan aja dulu. Aku mau taruh ini ke dalam mobil," suruh Ardit.
"Mau dibantu gak?"
"Gak usah gak papa, nanti kalau udah ketemu langsung chat ke aku." Setelah berkata seperti itu Ardit berjalan meninggalkan Rika dan menuju ke parkiran untuk menaruh barang belanjaan.
__ADS_1
"Tapi kan---" kata Rika menggantung. "Yaudah deh, cari aja dulu," sambung nya lalu mencari resto yang tak terlalu jauh.
Setelah menemukan tempat makan yang Rika ingin, dia melangkah masuk. "Selamat datang. Pesan berapa orang kak?" tanya seorang Western.
"Dua orang," mengikuti langkah Western, Rika mendapatkan duduk di dekat jendela.
"Silakan kak," ujar Western itu sambil memberikan buku menu.
"Saya masih nunggu orang. Nanti saya panggil lagi," tutur Rika yang membuat Western itu mengangguk paham.
Sambil menunggu datangnya Ardit, Rika memainkan ponselnya sebentar. Rika mendongak ke atas saat suara kursi terdengar.
"Udah dat---" Rika menggantung ucapannya saat melihat sosok di depannya bukan orang yang dia tunggu, melainkan Bobby.
"Ngapain lo kesini!" sungut Rika dengan wajah yang tak bersahabat.
"Ini tempat umum, jadi terserah gue mau ngapain!" semprot Rika. "Sana pergi!" usir Rika.
"Gue temenin gimana?" tawar Bobby.
"Pergi," Rika menekan katanya.
Mengangkat bahu acuh, Bobby malah duduk santai sembari memainkan ponsel. Sedangkan Rika sudah kesal setengah mati, dia memikirkan berbagai cara untuk mengusir cowok di depan matanya ini untuk pergi. Bisa-bisa Bobby akan mengetahui segala nya.
"Pergi Bob!" paksa Rika.
"Gak mau," tolak Bobby.
__ADS_1
"Pergi dari sini. Atau gue, semakin benci sama lo!" ancam Rika, sembari menunjuk ke arah luar -menyuruh cowok itu untuk segera pergi.
Manik matanya tak sengaja menatap Ardit yang berjalan masuk resto. "Mampusss!" umpat Rika dalam hati.
"Pergi gak!" paksa Rika. "Pergi!"
"Oke, gue pergi." Bobby memilih melangkah pergi, sebelum dirinya semakin di benci sama orang yang Bobby suka.
Rika bernapas lega saat Bobby akhirnya mau pergi dari tempat ini. "Dia sapa?" tanya Ardit pada Rika, menatap sosok laki-laki yang baru saja pergi dari tempat duduknya.
"Gak tau orang gila kali!" jawab Rika dengan nada tak suka.
Memilih tak berpikir aneh-aneh, Ardit memesan makanan. "Kamu makan apa?"
"Siomay, cuma gak pakai bubu kacang." jawab Rika yang berhasil membuat alis Ardit bertaut. "Alergi," satu kata yang membuat Ardit mengangguk ngerti.
Bisa saja Rika memakan kacang, hanya saja jika tak pas diolah bisa membuat gadis itu sakit. Seperti panas atau pembengkakan pada tenggorokan. Tak ingin mengambil resiko yang aneh-aneh Rika memilih tak memakan kacang. Mungkin terakhir dia makan 6 bulan yang lalu.
Yang berakhir dengan Rika masuk ke rumah sakit, namanya juga Rika. Kalau gak kena belum menyesal dia.
"Cuma kacang aja?" tanya Ardit. Dia baru tau jika gadis miliknya memiliki penyakit lain, Ardit kira hanya maag saja.
"Semua jenis kacang. Sebenarnya boleh aja, cuma gak mau ambil resiko." balas Rika menyengir.
"Bagus," sahut Ardit menggenggam kedua tangan Rika. "Kalau ada sesuatu bilang ya. Jangan dipendam," imbuh Ardit.
"Diusahakan," Rika akan berusaha untuk bilang jika memang harus bilang. Meski Rika tau Ardit sudah menjadi suami sah nya. Namun, Rika masih merasa sedikit canggung untuk berbagi cerita.
__ADS_1
Karena kalian tau, Rika selalu menyimpan seluruh masalah nya dalam dalam, bahkan Amel saja yang bersama Rika hampir 15 tahun saja tak semuanya tau tentang apa yang Rika lakukan dan kerjakan.