
"Dia!" menunjuk Amel. "lo lupa gue bisa aja buat kalian berdua buat kena skor dari kampus" Ancam Sania.
"Lo juga lupa! Kalau gue bisa bongkar semua kedok lo selama ini? Mulai dari kasus pembullyan sampai kasus curang di Olimpiade? Gue punya semua bukti kejahatan lo, dan gue juga bisa bikin keluarga lo hancur dalam sekejap?" Rika tak kalah mengancam, bukan mengancam tapi- Rika bisa langsung membongkar.
Tau sendiri lah ya.. Rika itu malas membuat masalah menjadi runyam. Malas meladeni orang-orang seperti mereka.
"Mending lo jujur aja kalau lo yang lakuin ini semua?"
"Gak!" Tolak Rika dengan cepat.
Kenapa harus jujur kalau dirinya tak pernah melakukannya. Orang Rika aja gak pernah melakukan hal itu.
"Cih, Rika-rika lo itu sebenarnya sadar sama apa yang lo lakuin. Lo udah buat citra sekolah jelek. Mending lo jauh-jauh deh," Ucap Sania.
"Kalau gue jadi lo, mending gue pergi dari sini dan lari se jauh-jauh nya. Atau bahkan gak akan ada di dunia ini sekali pun." lanjut Sania
"Gue bukan pengecut! Yang lari dari masalah" Ucap Rika dengan santai. Menatap Sania dengan tatapan yang susah diartikan.
"Rika ayolah jujur aja, apa susahnya sih buat jujur. Biar semuanya gak penasaran. Biar mereka tau itu beneran lo beneran lakuin itu apa gak?" Ucap Sania dengan nada mengejek.
****!
Lama-lama Sania membuat Rika emosi. Oh lupa, tujuan Sania kan membuat Rika emosi. Biar Rika melakukan kekerasan dan Rika kena hukuman.
"Kalau gue gak mau gimana?" Rika mengangkat satu alisnya.
Sania berdecih, "Cih berarti lo pengecut"
"Tujuan lo mau bikin gue kena skor? Hm, tapi sorry cara lo murahan, kalau lo mau bikin gue masuk dekan. Mimpi!" Ucap Rika dengan senyum miringnya.
__ADS_1
"Dan ya- kalau lo mau bikin rencana lagi, mikir pakai otak. Buat curang aja bisa masa buat gini doang melempem" Ejek Rika, membuat Sania emosi.
Sialan! Tujuannya ingin membuat Rika emosi kenapa jadi dirinya yang emosi sendiri.
"Lo! Jaga omongan lo. Gue pastiin setelah ini lo gak akan ke kampus lagi"
"Oh ya?" Rika memasukan kedua tangannya kedalam saku. "Tapi gue gak minat sama permainan sampah yang lo buat"
"Mending lo pergi deh, sebelum gue kasih kekerasan sama lo" Rika memperingati. Tangannya sudah gatal ingin menonjok muka Sania.
Semuanya kaget, kata itu keluar dari mulut Rika. Fix Sania cari masalah emang! Jangan sampai Rika menonjok muka Sania. Ucapan Rika tak akan main-main.
"Lo ngancem gue? Gue gak takut kali, lo itu cuma bisa ngancem doang" Sania mengangkat dagunya, menatap remeh lawan bicaranya.
Mirror mbak!
Ucapan dan hati berbeda, itulah yang dilakukan Sania. Lidah berbicara tak takut, tetapi di lubuk hati yang paling dalam, Sania takut. Biasa gengsi...
Rika tersenyum miring, "Takut?"
"Ngapain lo?" ucap Sania dengan gugup. Aish dirinya sudah membuat Rika emosi.
Amel menatap sinis, dirinya berusaha semaksimal mungkin untuk menahan tawanya. Kenapa gak bilang aja gitu lho kalau takut, kan biar Rika lepas.
Eh, mau lepas? Gak semudah itu. Rika akan melepaskan kalian dengan satu syarat.
Dengan kehancuran keluarga kalian.
"kalian ngapain diem, bantuin dong! lo semua diem saat gue diginiin, tapi saat gue gak kenapa-napa lo pada rame sendiri!" marah Sania pada dua temannya.
__ADS_1
"Anu San i-itu"
Rika menoleh kearah Fita dan Fila. "Maju aja kali, bantu tuh tuan putri kalian. Gue peringatin sama lo menjauh atau lo yang hancur." Rika berbalik meninggalkan Sania.
Ucapan Sania kali ini sudah keluar batas membuat Rika naik pitan. Jangan salahkan Rika ya? Kalau kalian masuk rumah sakit.
Salah sendiri cari masalah!
"Kenapa lo lawan gue, oh lo takut? Takut kalau bokap sama nyokap lo tau kelakuan lo. Oh iya lupa lo kan gak dianggap, gak pernah dapat kasih sayang," Ucap Sania.
"Dan ya, gak usah sok ngancem gue, omongan lo itu cuma omongan kosong. Buktinya lo gak lapor gue kan? Rika-rika, pantesan orang tua lo gak kasih lo kasih sayang. Kelakuan lo aja ngej*lang. Oh atau jangan-jangan orang tua lo tau lo kerja gituan, pantesan" Lanjut Sania.
Bugh
Satu tendangan mendarat manis pada perut Sania. Sania yang terkena itu tak siap membuat tubuhnya terjatuh.
"Akh.. "
"Brengsek! Gue udah diem ya sama lo!" Tangan Rika mengepal kuat.
"LO BOLEH HINA GUE, LO BOLEH MAKI GUE. TAPI JANGAN SAMPAI LO BAWA ORANG TUA GUE KEDALAM MASALAH INI! MASALAH LO SAMA GUE BUKAN SAMA ORANG TUA GUE ANJING!" Emosi Rika tak terkendali.
Kegiatan itu tak lupa dari semuanya. Mereka semua hanya diam, mereka masih sayang nyawa mereka. Mereka berdua tak luput dari tatapan mereka, semuanya berdecak kaget melihat kemarahan Rika.
Kegiatan itu tak luput dari handphone mereka. Berita seperti ini harus menjadi trending topik.
Amel hanya diam, membiarkan Rika membuat semaunya. Wajar ini masih wajar. Ini cuma tendangan, ya hanya tendangan.
Muka Rika memerah menahan amarah, Bagaimana dia tak marah? yang punya maslah mereka berdua bukan orang tua mereka jadi jangan bawa-bawa mereka sama masalah ini.
__ADS_1
Masalah kita ya masalah kita gak usah bawa orang lain ke masalah ini ucap Rika setiap semua orang membuat masalah dengannya.