Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ʙᴀʀᴀ


__ADS_3

"Bara?"


"Gak usah kaget gitu dong, kaget ya gue ada di sini. Bukan dipenjara" Ucap Bara dengan nada meremehkan.


Bicara tentang Bara. Bara ditangkap sama polisi atas kasus Lea kemarin. Bara ditangkap satu hari tepat Lidya ditangkap oleh Inti Alvarebos.


Bara tertangkap bukan hanya kasus pembunuhan melainkan kasus narkoba yang menimpa dirinya. Sudah satu tahun terakhir Bara melakukan pekerjaan itu sebagai bandar narkoba.


Untung saja Al tau, Alvarebos membuat rancana untuk melakukan penangkapan. Setelah mencari beberapa bukti, Bara pun ditangkap. Di apartemennya, tak jauh dari kota.


Bara tak kalah tajam menatap Al, dendamnya semakin besar untuk Al. Karena dia dirinya harus mendekam di dalam jeruji penjara.


Lho kok marah? Bukannya itu hukuman yang tepat untuk Bara Keinard. Memang pantas cowok itu mendekam didalam sana. Itulah tempat yang cocok baginya.


Al dapat melihat, ada surat kebencian di mata Bara. Mata Al menatap bener apa orang yang berada dibelakang Bara. Dilihat dari muka mereka, Al tak pernah melihat mereka. Mereka bukan anggota Fellix.


"Al"


Lea menarik ujung Al, matanya menatap depan dengan takut. Al menoleh, matanya menatap kedua retina mata Lea.


"Kamu mundur, menjauh ya"


"Tapi Al-"


"Menjauh lea"


Lea terpaksa menjauh dari mereka, disusul oleh ketiga temannya. Al tersenyum tipis, menatap Lea yang sudah menjauh. Kalau gini kan enak.


Bara menghampiri Al, dan memberikan pukulan tepat pada rahang Al. yang membuat cowok itu mundur beberapa langkah karena tak siap.


"Shit!" umpat Al mengeram kesal.


Al langsung membalas Bara dengan beberapa pukulan. Terjadi adu bentrok antara mereka. Jumlah anak buah Bara dua kali lipat lebih banyak dari pada Al.


Bugh


Bugh


Argh


Bugh


Mata Lea memfokuskan kearah lain, dirinya dapat melihat amarah Al. Mereka juga tak bisa apa-apa, malah kalau mereka ikut campur masalah makin rumit. Andai saja bisa, mereka berempat akan melakukannya.


...…...


"Udah Lea, gak usah gapapa kok" Al berusaha menghindar dari Lea, yang ingin mengobati lukanya.


"Gapapa gimana! Orang itu luka kok. Sini Al aku obatin bentar biar gak infeksi"


Al menggeleng cepat. "Gak mau, orang gapapa kok" tolak Al.


"Gapapa gimana itu luka Al. Ih kamu mah kalau dibilangin gak nurut, sini Al! Al. Ayo, sini! Biar gak infeksi nanti"


Terjadilah kejar-kejaran diantara mereka berdua, Al yang masih kekeuh untuk tak diobati sedangkan Lea yang sudah gemas dengan suaminya ini. Padahal tinggal duduk apa susahnya?


"Al berhenti!"


"Gak mau Lea, orang gak kenapa-napa juga"


"Duduk gak!" Teriak Lea, Lea pun langsung menarik lengan Al yang membuatnya terduduk.


"Gak ma-"

__ADS_1


"Diam! Diobati juga, ini tuh biar gak infeksi" Lea menuangkan alkohol pada kapas dan mengelap sudut bibir Al yang berdarah.


"Ngobatin kamu kayak ngobatin anak TK aja, pakai lari-lari segala. Duduk gitu lho, buang-buang tenaga aja" Gerutu Lea.


"Anak TK juga gak segede aku kali"


"DIEM! Sini" Lea menarik Al agar mendekat, belum juga kapan itu mendekat tangan Lea di cekal Al.


"Apalagi?" Gemas Lea sendiri, bener deh ya. Ngobatin Al harus ekstra sabar.


"Mau tau gak cara biar lukanya sembuh?" Tanya Al menaik turun kan alisnya.


"Apa?"


"Ini" Menunjuk pipi kanannya.


Lea menatap Al datar, bisa-bisanya seperti ini becanda. Tanpa basa-basi Lea menekan kapas yang sudah dia tuangi alkohol. Yang membuat Al meringis.


"MODUS!"


"Awww.." ringis Al, bukannya sembuh malah ngilu jadinya.


"Ya Allah Lea, sakit"


"Biarin, orang diobatin juga malah becanda. Sini diem, minggirin tangannya" Lea dengan telaten membersihkan luka Al, Al hanya diam menatap lekat kegiatan Lea.


"Udah selesai" Lea pun membereskan semuanya dan mengembalikan ketempat awal, menyuruh Al untuk membersihkan dirinya.


"Sana mandi, aku mau buat makan siang dulu" Lea meninggalkan Al dan menuju ke dapur, siang ini dirinya ingin membuat nasi uduk.


...…...


Al datang bertepatan dengan masakan telah siap, mereka berdua makan dengan tenang, tak ada yang membuka obrolan. Hingga makan siang selesai.


"Al"


"Hm?"


Al hanya mengidikkan bahu acuh. "Gak tau, yang pasti dia kabur dari penjara"


"Tapi Al, aku takutnya dia malah lebih bahaya lagi. Malah buat keributan yang lebih besar lagi. Dan takutnya malah banyak korban lagi yang dia bunuh" Ucap Lea, menautkan kedua jarinya. Menahan ketakutan.


Al menghampiri Lea, membawa gadisnya kedalam pelukannya. "Gak, ada aku. Kamu tenang aja ya? Aku sama yang lain akan berusaha buat tangkap Bara dan masuk kedalam penjara lagi, gak udah takut ada Al disini buat jaga Lea" Cowok itu mencoba menenangkan gadisnya.


Al dapat merasakan ketakutan Lea, dirinya bersumpah jika sampai Bara melakukan apapun kepada Lea, jangan harap hidupnya selamat.


"Iya Al"


Al menakup Lea, "Liat aku! Aku janji kalau Bara melakukan hal yang diluar batas buat kamu, Al gak akan biarin Bara kabur. Oke?" Lea mengangguk dengan kedua pipi mengembung.


"Sini aku bantu buat cuci piringnya" Membantu Lea, keduanya sama-sama bercerita sambil mencuci piring.


Selesai mencuci piring, keduanya naik keatas, mengistirahatkan diri mereka. Walaupun tak ada pelajaran hari ini, tapi keduanya di buat menguras tenaga. Siapa lagi kalau bukan Bara pelakunya.


Malam pun tiba, mereka seperti biasa melakukan makan malam. Sambil mengobrol bersama, Tiba-tiba handphone Al berdering membuat obrolan mereka terhenti.


"Hm?"


"Lo dimana?"


"Rumah"


"Basecamp sekarang, anak-anak udah pada kumpul semua"

__ADS_1


"Otw"


"Ok-"


Al langsung memutuskan panggilan, dirinya tak peduli jika diseberang mengeram kesal. Lea menatap Al dengan tanya.


"Ada apa?"


"Aku harus ke basecamp, kamu disini aja ya? Jangan keluar ke mana-mana, aku naik dulu mau ambil jaket sama kunci" Al meninggalkan Lea dirinya naik keatas, tak berapa lama Al turun dengan jaket yang melekat pada dirinya.


"Al tapi-"


"Gapapa sayang, aku gak ngapa-ngapain. Kita cuma mau bahas tentang Bara. Kamu disini ya, jangan ke mana-mana. Kalau ada apa-apa telpon aku ngerti?!"


Lea mengangguk. "ngerti" ucapnya.


Al mengecup kening Lea dan meninggalkan Lea. Lea hanya bisa menghela nafas berat. Kenapa masalahnya belum selesai-selesai.


...…...


Keadaan basecamp cukup ramai, keempat inti Alvarebos sedang duduk di sofa, sambil meminum softdrink mereka masing-masing. Semuanya diam, Revan. Cowok itu sedang sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya.


"Gimana?" Al menatap Revan dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku.


Revan hanya menggeleng sebagai jawabannya. Hal itu membuat Al mengeram kesal. Oh main-main dengan Al? Oke tak masalah, tinggal pilih, berakhir dipenjara atau di neraka?


"Kayaknya Bara cukup pintar kali ini, liat aja. Tadi aja kita hampir kalah dari dia. Tapi untung aja gak kejadian. Gue rasa Bara kali ini bermain pintar" Ucap Jojo.


"Sepemikiran sih, gue juga. Dan yang gue takuti, itu Lea sama Acha. Bahkan sama yang lain juga yang bakal jadi korban. Apalagi Lea dan Acha ada hubungan sama kalian berdua" Thony menatap Al dan Revan bergantian.


"Itu gak masalah, gue bakal suruh anak-anak buat berjaga-jaga. Sekarang yang harus kita lakukan adalah, diam. Kita ikuti permainan nya dulu. Setelah itu kita mulai semuanya" Ucap Al dengan smirk-nya.


...…...


Al mendapatkan Lea yang tertidur di atas kasur. Al melepas jaketnya dan membuangnya ke sembarang arah. Menghampiri Lea dan tidur di sampingnya.


Matanya menatap kedua Lea cukup lama, mengecup pipi, mata, hidung dan terakhir bibir pink Lea. Lea yang merasakan sentuhan lembut itu membuka mata perlahan.


"Al" Matanya menatap mata Al yang sedang menatap nya.


"Maaf kebangun" bisik Al, tangannya menarik Lea kedalam pelukannya.


Lea menggeleng. "Gak"


"Sekarang tidur udah malem" Lea mengangguk, menyandarkan pada dada bidang Al. Mencari kenyamanan di sana. Tak berapa lama Lea dan Al tertidur.


...…...


...Al...



...Revan...



...Jojo...



...Thony...


__ADS_1


__ADS_2