
Sekitar sepuluh menit untuk sampai ke pasar malam. Usai mencari tempat parkiran yang pas, mereka turun dan masuk ke dalam.
Rasanya Rika sudah tak sabar untuk masuk ke dalam. Diingat-ingat sudah lama sekali dirinya tak main ke tempat ini. Mungkin terakhir kali ke sini Rika kelas 3 SMA dan itupun harus memakan waktu untuk ijin saja.
Memang Rika tak boleh keluar malam, tau sendiri gimana kelakuan nya Rika. Sang Papa hanya takut jika Rika melakukan hal-hal yang diluar nalar manusia.
Rika hanya boleh keluar, jika urusan itu sangat penting. Harus di garis bawahi penting.
Namun nyatanya, Rika malah menjadi gadis bar-bar saat menginjak bangku kuliah, melakukan hal yang diluar nalar. Sebut saja balapan liar, keluar masuk club serta masih banyak lagi.
Ternyata, benar kata orang. Kalau anak tak boleh dibatasi melakukan apa yang dia mau, karena bisa membuat sang Anak semakin penasaran dan malah melakukan hal yang lebih lagi. Tanpa sepengetahuan orang tua.
Senyum cerah terlihat di wajah Rika. Menatap pasar malam yang sangat banyak orang. Maklum malam ini malam minggu. Pasti orang-orang akan lebih banyak datang ke tempat ini.
Suara musik menggema disertai dengan suara bising orang-orang yang berlalu lalang. Waktu semakin malam. Bukannya berkurang orang malah bertambah banyak.
"Mau makan dulu? Atau keliling dulu?" tanya Ardit dengan sedikit mengeraskan suara, akibat ramai.
"Mau keliling aja dulu. Nanti kalau lapar makan," jawab Rika tak kalah keras, dirinya cukup tersentak saat genggam hangat menggenggam tangannya.
Melirik sekilas ke arah samping, Ardit sedang menggenggam erat tangannya, sambil mengusap lembut punggung tangan Rika.
Deg
Jantung Rika kembali berdetak kencang, mengusap dada pelan. Rika berkata, "Bisa gak sih lo gak bunyi kencang-kencang?" sarkas Rika dalam hati. Kesal rasanya.
"Kak!" panggil Rika.
"Ada apa?"
"Gue mau es krim. Boleh gak?" tanya Rika pada Ardit sembari menunjuk gerobak es krim yang ramai pengunjung.
__ADS_1
Mengangguk singkat. "Boleh," jawab Ardit yang langsung menarik ke gerobak es krim. Sampai di sana, Ardit mengantri untuk membeli es krim. Sedangkan Rika duduk di salah satu kursi plastik.
"Ini es krim nya," Ardit datang dengan cup es krim dengan rasa coklat. "Gak alergi coklat kan?" tanya Ardit pada Rika.
Menggelengkan kepala, Rika langsung mengambil alih es krim itu dari tangan Ardit. "Gak ada, eh cuma satu?"
"Iya, emang mau berapa?" tanya Ardit balik.
"Gak beli?" Ardit menggeleng, membuat Rika ber oh ria.
Selanjutnya mereka mengelilingi pasar malam. Hingga Rika mengajak ke salah satu gerobak mie ayam. Membayangkan kuah mie ayam saja membuat perutnya berbunyi. Ditambah malam hari yang cukup dingin begini.
"Mau mie ayam dong," Rika menarik Ardit ke salah satu gerobak mie ayam.
"Tunggu sini," Ardit meninggalkan Rika sebentar untuk memesan.
Suasana yang tadinya ramai, kini malah semakin ramai. Entah apa yang mereka ributkan, hingga sekian detik kemudian. Rika sadar dengan apa yang terjadi. Sampai-sampai mereka semua histeris.
"Gak papa makan disini?" tanya Ardit.
"Gak masalah, emangnya kenapa? Oh lo kira gue bakal kayak cewek-cewek diluar sana yang gak mau makan disini? Lagian ya, makanan disini juga enak. Rasanya gak kalah sama yang di restoran," tutur Rika dengan tegas.
Mendengarkan jawaban dari mulut Rika langsung membuat Ardit sedikit bisa bernapas lega. Dugaan Ardit salah, dia mengira bahwa Rika akan menolak seperti sebagai orang. Namun ternyata salah.
Sudah berkali-kali umpatan keluar dari mulut Rika. Saat dirinya menjadi tonton orang-orang yang sedang memakan. Sebenarnya Rika tak ada hak untuk melarang, hanya saja dirinya terlalu risih dengan tatapan mereka.
Apalagi di Ardit, pujian demi pujian terlontar untuknya. "Norak bener, kayak gak tau liat orang ganteng aja!" entah Rika kesal atau cemburu, namun benar-benar membuat Rika jengkel adalah saat Ardit dipuji oleh mereka.
Rasanya Rika ingin segera mengambil plaster dan menutupi mulut mereka dengan plaster, sekalian plastik pun tak apa.
"Lama-lama gue ambilin plaster juga nih, jelalatan banget punya mata. Kenapa gue jadi marah gini sih!" heran Rika pada dirinya.
__ADS_1
Tak perlu lama-lama, mie ayam pesanan mereka berdua datang. Seketika juga amarah Rika menghilang entah kemana. Dengan khidmat Rika memakan mie ayam dengan tenang, tak lupa menuang sambal ke dalam mangkuk.
"Jangan banyak-banyak, nanti sakit perut!" tegur Ardit.
"Iya dikit doang nih," padahal sudah mau tiga sendok sendiri sambalnya.
Selanjutnya mereka kembali mengelilingi pasar malam. Sambil membeli beberapa makanan dan juga hiasan. Rika membeli lukisan bergambar wanita yang sedang menundukkan kepala.
Kata orang nya, gambar tersebut menceritakan gadis yang selalu sendiri, tak ada teman yang menemaninya. Ditambah lagi dengan dikurung di dalam rumah.
Sungguh hampir sama seperti nya.
Tanpa terasa jam sudah malam, sebagian orang juga sudah membubarkan diri untuk balik ke rumah. Hari ini Rika lumayan terhibur, meski harus ada adegan nangis dipertengahan.
Ardit tak kalah senang nya karena ia bisa menghibur Rika. Walaupun dengan hal yang sederhana, nyatanya berhasil membuat gadis itu senang dan gembira itu sudah membuat Ardit senang juga.
Lumayan juga, bisa sedikit melupakan sejenak masalah yang terjadi pada Rika.
"Udah malam, kita balik ya? Gak baik diluar malam-malam" ajak Ardit.
Mendesah pelan. "Yah kok gitu, kan masih mau keliling lagi. Bentar lagi boleh ya," mohon Rika ke Ardit.
"Bisa dilanjutkan besok Rik, sekarang kita balik. Udah malam. Udah mau tutup juga tempatnya," bujuk Ardit.
Dengan terpaksa Rika menuruti keinginan Ardit, meski dalam hati tak rela. Ah, mungkin karena Rika sudah lama tak ke tempat ini.
"Masih ada waktu besok buat ke tempat ini lagi," ujar Ardit.
Benar juga, besok masih ada waktu untuknya ke sini kembali. Mengajak Amel rasanya setu juga. Berjalan menuju parkiran, mereka akhirnya masuk ke dalam dan langsung menuju ke apartemen.
"Jauh gak apartemen nya?" tanya Rika basa-basi. Daripada diem doang di dalam.
__ADS_1
"Gak. Bentar lagi," jawab Ardit, membuat Rika Mengangguk-anggukkan kepala mengerti.