
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tetapi Rika dan Amel masih stay di cafe tanpa berpindah sedikit pun. Gelapnya malam semakin membuat cafe ramai.
"Udahlah Mel, ntaran aja. Percuma juga gue juga cuti,"
Amel berdecak, "lo mah kebiasaan."
Rika menenggak kan tubuhnya. "Biarin aja dulu, biar dia seneng-seneng dulu, nanti baru kita buka semuanya" senyum miring tercetak jelas pada bibir Arika Winata.
Amel meneguk Saliva nya, "terus tujuan lo selanjutnya?"
"Bikin hancur"
"Rik"
"Hm?"
"Gimana, lo sama Ardit?"
"Ya gitu," Rika menghela nafas kasar. "Pingin banget gue kabur dan pergi, pergi dari masalah yang ada."
"Lo ngomong apaan sih, kalau lo kabur dari masalah itu gak bakal selesaiin masalah Rik"
"Tapi gue capek Mel, masalah selalu bergilir, belum lagi masalah yang kemarin selesai. Sekarang datang lagi," Ucap Rika.
"Jalanin aja, kalau lo capek lo boleh istirahat tapi jangan nyerah" ucap Amel memberikan semangat. Yang hanya dibalas tawa hambar Rika.
"Eh tapi kayaknya bener deh" Ucap Amel.
Rika mengerutkan dahi bingung. "Bener paan?"
__ADS_1
"Bener, kalau ardit jodoh lo. Sekarang gini deh, kalian kan mau nikah satu minggu lagi. Mungkin aja ini cobaan dari yang di atas buat lo, katanya nyokap kalau mau nikah itu selalu aja ada masalah entah sepele atau yang berat kayak gini contohnya." ucap Amel.
"Akh ngapain sih lo bahas itu. Gue kan lagi berusaha buat lupain" kesal Rika.
"Udahlah lo berdua itu udah takdir, gak usah pakai acara lupain-lupain segala"
"Ck menyebalkan" decak Rika.
"Mel, gimana kalau gue kabur aja?" tanya Rika.
"Kenapa gak sekalian lo bunuh diri aja?" tanya Amel balik.
"Bunuh diri dosa gak sih?" tanya Rika kembali.
Keduanya sama-sama melemparkan pertanyaan.
"Gimana kalau lo coba" usul Amel.
"Kenapa gak lo aja, terus kalau lo selamat nih. Baru gue coba" ucap Amel yang dapat decakan sebal dari Rika.
"Udahlah woi gue mau pulang, capek gue"
Amel menatap jamnya, "Ah elah masih jam segini, kecepatan lo pulangnya. Ntaran aja, bantuin gue nih tinggal 2 map doang"
"Ogah, gue ngantuk." Tolak Rika.
Rika berfikir sekejap, "Ada balapan kagak?"
"Entar," Amel mengecek handphonenya. "Ada sih di jalan kelinci sana, lo mau balapan?" tanya Amel.
__ADS_1
Rika mengangguk "Hm, lo ikutan kagak?"
"Gue sih gas aja, tapi gue selesaikan berkas dulu, kalau gak gitu gue kena hukum lagi ama bokap. Maka dari itu gue mau lo bantuin gue, oke?" Amel memberikan map kepada Rika yang langsung dapat helaan kasar dari Rika.
Walaupun begitu dia membantu Amel mengerjakan hukumannya. Tak habis fikir dengan sahabatnya ini. Gimana gak kena hukuman orang pulang aja pagi-pagi.
...… ...
Di kediaman Aldebaran, Ardit sedang duduk santai sambil menyeruput teh nya sesekali. Membaca buku adalah hal yang sering dilakukan Ardit ketika tak ada kerjaan.
"Dit"
Ardit menoleh kebelakang, mendapatkan sang Bunda. "Ada apa Bun?" tanya Ardit dengan sopan.
"Ini usah malem, sana istirahat kamu harus ke Bandung besok pagi." perintah Veni.
"Iya Bun, bentar lagi Ardit istirahat. Ayah udah pulang?" Ardit menghampiri Veni dan menyuruhnya duduk.
"Lagi diperjalanan katanya, udah makan malam kan kamu?"
Ardit mengangguk sambil tersenyum. "Udah bunda, Ardit udah makan"
Veni bernafas lega, "Syukur kalau gitu, bunda gak mau kamu sampai lupa makan ya, bunda gak mau kamu kenapa-napa nantinya. Apalagi kamu mau nikah"
Veni begitu khawatir dengan putra semata wayangnya ini. Karena jika Ardit tak diingatkan bisa-bisa dia jatuh sakit, apalagi sudah menyangkut pekerjaan. Ardit akan lupa dengan makannya.
"Bunda tenang aja, Ardit gak akan lupa kok buat makan"
"Ya sudah, kamu istirahat ya, bunda ke bawah dulu takut Ayah kamu pulang. Jangan begadang"
__ADS_1
Ardit mengangguk, mengantar sang bunda hingga depan pintu. Setelah itu dirinya membereskan buku serta tak lupa mengembalikan gelas ke bawah.