Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴋᴇɴʏᴀᴛᴀᴀɴ


__ADS_3

Bruk


Dengan nafas yang menggebu cewek itu menatap tajam kearah kaca, sialan! Kalau bukan di kantin sudah dia abisin tuh cewek sialan.


"Ehem.."


Deheman tersebut membuat cewek itu menatap kearah cermin.


"Apa?"


"Yang kerja sendiri eh kena sendiri. Kasihan" Ejek Sandra membuat Lidya menatapnya tajam.


"Lo yang kelamaan!"


"Gue gak kelamaan, lo yang buru-buru sayang. Jadi kena kan sekarang. Udah gue bilang berkali-kali kan, sabar kalau lo ingin semuanya berjalan mulus, tapi lo? Malah buru-buru. sekarang?"


Lidya! Dia, bekerja sama dengan Sandra, dirinya sangat benci bahkan sangat-sangat benci dengan Lea. Kenapa Lea sih yang banyak teman? kenapa Lea selalu jadi incaran buat yang lain? Kenapa Lea yang harus di dekati oleh Al kenapa?.


Di dalam kamar mandi, Lidya mencuci tangannya tiba-tiba seseorang menepuk pundak Lidya. Membuat Lidya menatap ke cermin.


"Hai Lidya" Sapa Sandra.


"Mau apa?" Tanya Lidya to the point.


"Santai dulu dong, gak usah buru-buru" Ucap Sandra.


"Gue gak ada waktu baut ladenin lo pada" Yang siap-siap ingin pergi tapi dihalangi oleh Angel.


"Eh tunggu, gue mau ajak lo kerja sama mau gak?"


"Apa?"


"Kita kerja sama buat jatuhin harga diri Lea gimana?" Tanya Sandra.


Lidya menggeleng tentu saja dirinya tak akan mau melakukan hal tersebut "Gak gue gak akan ngelakuin hal itu"


Sandra tertawa ringan "Udahlah Lid, gak usah sok baik di depan mereka, buka aja semuanya sama kita ya gak ngel?" Tanya Sandra.


Angel mengangguk "Iya kita tau kok lo benci kan sama Lea? Dan lo suka kan sama Al? Lo benci kan ngelihat Al begitu dekat dengan Lea?"


"Gak gue gak akan ngelakuin itu"


"Gak usah munafik deh, lo itu gak jauh beda sama kita. Gue juga suka sama Al, gimana kalau kita kerja sama buat rebut Al dan ya kalau lo menang lo bisa ambil dia sepuasnya"


"Dan kita buat juga harga diri Lea jatuh secara perlahan" Sambung Angel.


"Maksudnya?" Tanya Lidya yang kurang paham.


Sandra mendekatkan diri membisikkan sesuatu pada telinga Lidya. Lidya yang awalnya menolak mentah-mentah akhirnya dirinya termakan omongan Sandra dan Angel.


Sandra dan Angel begitu senang, ternyata mudah sekali membuat Lidya nurut.


"Nanti kita akan bermain secara halus, lo pura-pura aja kalau masih temenan sama mereka entar kita kasih kode dari jarak yang lumayan jauh"


"Gimana lo mau gak?" Tanya Angel.


"Oke deal"


Lidya memang sudah memikirkan ini dari awal, dirinya sangat benci bahkan sangat-sangat benci dengan Lea. Kenapa Lea sih yang banyak teman? kenapa Lea selalu jadi incaran buat yang lain? Kenapa Lea yang harus di sejati oleh Al kenapa?.


Sudah hampir dua minggu sejak kedatangan Lidya, dirinya sudah tak dianggap lagi seperti dulu. Lidya sudah tak seperti dulu lagi bagi mereka.


Mereka lebih memilih Lea ya Lea saja yang mereka banggakan, mereka gak mikir ada satu teman yang tak mereka anggap.


Tapi itu hanya ke salah pahaman, semuanya perhatian kok ke Lidya, tapi Lidya berfikir yang lain. Lidya iri dengan kedekatan Al dan Lea yang menurutnya bukan lagi seorang sahabat.


Ya emang bukan sahabat, mereka berdua sudah nikah secara agama dan hukum, hanya saja mereka menutupi karena mereka tak ingin membukanya terlebih dahulu untuk saat ini.


Lea dan yang lain belum menceritakan apa-apa pada Lidya, jadi Lidya belum tau ada hubungan apa antara Lea dan Al.


So? Ucapan Acha benar.


Lidya sang penghianat!


Lidya sang pembohong!


Lidya sang baik tapi licik!


Lidya sang pintar tapi bodoh!


Lidya sang peduli tapi...

__ADS_1


[Ada yang mau nambahin? Wkwkwk]


Kalau gak suka kenapa gak bilang dari awal? Kenapa takut gak punya temen? Atau takut di bully? Kasihan!.


Ucapan itu akan keluar dari mulut seorang Acha Rawles. Sudah dibilangin kalau Acha emosi keluar tuh kata-kata motivasi.


Sampai-sampai ngejleb di hati 😌


Tapi semuanya berubah ketika Lidya malah buru-buru, yang awalnya kerja sama, malah menjadi individual.


"Lo bodoh! Gue nyesel ajak kerja sama lo buat nyingkirin Lea"


Lidya tak kalah tajam menatap Sandra. "Lo pikir gue juga mau kerja sama, sama lo? Gak kali, lo kelamaan kalau lo kayak gini gimana lo mau ambil Al dan buang Lea bodoh!"


"Mulai sekarang, gue tarik. Kata-kata gue buat kerja sama, sama lo. Lebih baik gue singkirkan Lea dengan cara gue sendiri daripada kerja sama dengan lo yang gak berguna!" Ucap Lidya kembali.


"Oke, gue juga gak mau kerja sama dengan lo! Lo liat aja siapa nanti yang bakal kena sama Al terlebih dahulu. Lo atau gue"


"Terserah!"


"Et mau kemana?" Sandra dan Angel menghadang Lidya untuk keluar, Sandra ingin membalas Lidya dimana dia menuduh dirinya mengunci Lea.


"Minggir, lo halangi gue jalan"


"Maksud lo apa nuduh gue buat kunci Lea di dalam kamar mandi?"


"Nuduh lo? Oh Al udah nemu pelakunya?" Tanya Lidya dengan nada mengejek.


"Bangsat!"


"Kenapa marah?" Sambil mengusap pipi Sandra "Iya! Gue? Gue yang atas nama semuanya dengan nama lo! Kenapa? Gak Terima, lagian lo juga jadi orang bodoh banget! Gue terima kerja sama ini biar apa? Biar gue bisa atas namakan semua rencana ini dengan nama lo" Ucap Lidya.


Bisa dibilang adu domba? Ya itulah pokoknya, Lidya menerima kerja sama ini supaya bukan dirinya yang terkena kasus ini semua melainkan Sandra.


Licik? Memang! Bukan Lidya namanya kalau gak bisa ubah nama. Tapi jangan salah, bisa aja cepat atau lambat kebusukan itu akan ke bongkar.


"Licik banget ternyata" Batin Sandra.


"Udahlah Sandra lo itu orang terbodoh yang pernah gue ajak kerja sama, jadi jangan salah kalau gue gak mau Terima lo kerja sama. Mulai hari ini anggap kita gak pernah kenal, ngerti?"


"Najis juga gue kenal sama lo"


Lidya mendekat, "Tutup mulut lo dan jangan pernah bilang ke Al atau yang lain. Gue bisa aja mengubah semuanya dengan nama lo dan Angel, jadi jangan salahkan gue kalau lo yang kena semuanya" Ancam Lidya lalu meninggalkan Sandra dan Angel.


...…...


Setelah hampir setengah hari mereka berhadapan dengan huruf-huruf alfabet, akhirnya jam pulang datang juga.


Lea menata bukunya dan beberapa barangnya memasukkan kedalam tote bag berwarna hitam tersebut.


"Guys balik duluan ya!"


Acha mendongak "Berantem lagi?" Tanya Acha dan dapat anggukan dari Ghea.


Ghea sudah menceritakan kalau dirinya lagi ada sedikit masalah dengan keluarganya, Acha dan Lea faham mereka hanya bisa mendoakan agar semuanya selesai.


Danish? Bocah itu hanya mengangguk. Paham? Tentu tidak otaknya aja dongo gimana mau paham.


"Gue balik ya bye! Mau memimpikan Taehyung"


"Haluuuu lo ketinggian" Sindiran Acha.


Sumpah pen nampol.


"Kalau kenyataan?" Tanya Ghea sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Gak bakal"


"Kejadian nangis darah kau!"


"Dih, gamon aja sok-sokan!" Ejek Acha.


"Kalau ngomong nylekit sat!"


Acha menatap Ghea. "Peduli? Tentu tidak"


Lea hanya menggelengkan kepala melihat Acha dan Ghea yang akhir-akhir ini berantem, Danish dan Lea hanya sebagai tontonan.


"Udah sono katanya mau pulang!"


"Ngusir?"

__ADS_1


"Balik sono ke asal lo! Ganggu!"


"Lo pikir gue setan!" Delik Ghea tak Terima.


"Ngomong sendiri"


"Udahlah males gue, Dan ayo balik! Udah malem gak baik di sini banyak setan" Ghea langsung saja menarik Danish yang enak-enak bergelayut dengan mimpinya.


Dasar temen gak ada akhlak!


"Eh bocah, main tarik-tarik aja lo!" Ucap Danish dengan kesal.


"Eh ini masih siang Ghe! mana malem?" Tanya Danish polos.


"Ghea lo percaya sesat!"


"Sabar Ghea sabar! Orang sabar kuburannya lebar" Guman Ghea yang masih terdengar yang lain.


"Kuburan sempit bego! Kalau lebar noh stadium" Acha menimpali ucapan Ghea.


"Berisik, yok pulang. Bye!" Ghea menarik Danish keluar meninggalkan Acha dan Lea yang masih di kelas.


"Yuk balik!" Ajak Acha.


Belum mereka keluar kelas, Al sudah datang di depan kelas mereka, dengan muka datarnya yang menurut Acha songong banget minta di tabok!


"Eh ada misua! gue balik ya, nyokap udah di depan bye!"


"Ati-ati, di terjang Al" Bisikan Acha yang masih terdengar di telinga Al.


"Bacot!"


"Gue balik ya, dah!" Pamit Acha melambaikan tangan.


Lea mengangguk "Ati-ati" Melambaikan tangan kearah Acha.


"Pulang?" Al menarik tangan Lea dan menggenggamnya dengan lembut, sampai di parkiran Al memasangkan helm ke kepala Lea.


Mengulurkan tangan untuk Lea berpegangan, dirasa gadisnya aman Al menjalankan motor dengan kecepatan sedang, meninggalkan halaman sekolah.


Lea merasakan ada yang memeluknya dari belakang, menaruh dagu di atas pundak Lea. Al mengendus tengkuk Lea yang menjadi candu nya.


Dengan aroma Vanila yang membuatnya menjadi relaks.


"Al.. "


"Hm?"


"Mau makan apa?" Tanya Lea.


Membalikkan tubuh Lea agar menatapnya, mengangkat Lea di atas meja dapur, membuat tubuh Lea sejajar dengan dirinya.


Menatap mata Al yang tajam tapi begitu menenangkan hatinya "Mau makan apa?" Tanya Lea mengelus lembut rambut Al dengan sayang.


"Martabak manis" Al masih saja menatap mata iris mata Lea yang begitu cantik.


"Oke, mau buat sekarang?"


Al menggeleng. "Nanti. Udah maghrib kita shalat" Al menurunkan gadisnya dari meja menggandeng nya dan membawanya ke atas.


Sekarang mereka berdua sedang berkutat dengan dapur, Lea akan membuat martabak manis seperti kemarin dengan toping yang sama.


Al meminta rasa red velvet untung saja di dalam kulkas ada perasaan red velvet.


"Kasih garam sejumput aja" Ucap Lea.


Al mengangguk mengikuti ucapan dari sang istri. Setelah mengaduk semua dan semua bahan sudah selesai, menutupnya dengan plastik warp.


...…...


Maaf ya episode ini kebanyakan tentang lidya, Nana kesel sendiri tau makanya Nana buat khusus haha. Maaf guys kalau gak nyambung juga huhu, otak nana sampai sini doang :(


Gimana guys puasanya lancar gak?


See you next episode 🥰


...…...


...Lidya Putri...


__ADS_1


...Sandra Aderllyn...



__ADS_2