
Setelah mengecas, Rika menatap ke jam dinding sebentar lagi waktu ashar tiba Rika menyiapkan alat shalat, sebelum itu Rika mengambil baju yang untuk ganti.
Setelah mengambil pakaian Rika menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Menginjakkan kakinya pada lantai kamar mandi, baru satu langkah tubuh Rika tak seimbang yang membuat dirinya terjungkal ke depan.
Dug
"Aww.." Ringis Rika.
Mencoba berdiri, sambil memegangi dahinya yang terbentur lantai.
"Sialan pakai kepreset lagi, aduh perih banget" Guman Rika yang berjalan ke wastafel melihat apakah dahinya luka.
Benar saja, dahinya membiru walaupun tak banyak sedikit perih.
"haduh pakai kebentur lagi, udahlah luka ringan juga. Mending gue mandi nanti aja gue bersinnya" Ucap Rika yang langsung menutup pintu kamar mandi.
Membersihkan badannya, tak lupa keramas membuat Rika sedikit merelaksasi kepalannya. Selesai dengan mandinya Rika keluar kekamar mandi serta tak lupa wudhu.
Selesai itu Rika langsung memakai mukena dan melaksanakan shalat ashar selesai shalat dia tak langsung berdiri Rika berdzikir dan berdoa.
"ya Allah yang maha pengasih, hamba tau setiap masalah yang engkau kasih tak akan lebih dari batas hamba, hamba mohon kepadamu agar masalah ini cepat selesai walaupun sebentar agar hamba bisa bahagia, ya Allah jika memang perasaan hamba sudah ada untuk kak Ardit maka mudahkanlah untuk kita dan berikanlah hamba sedikit waktu untuk mengungkapkannya ya Allah" batin Rika.
__ADS_1
"ya Allah yang maha pengampun maafkanlah kesalahan Rika, maaf karena hamba sudah melawan perkataan suami hamba, hamba salah hamba tak mendengarkan ucapan suami hamba, hamba mohon maafkanlah hamba ya Allah, Aamiin" batin Rika tanpa sadar air matanya menetes.
Setelah shalat Rika melipat mukena dan menaruhnya ketempat semua. Mengobati luka yang ada di dahi setelah itu Rika kembali ke kasur dan kembali mengecek handphonenya.
Menyalakan handphonenya kembali, tangan Rika tak sengaja memencet pesan Bobby yang membuat Rika meneteskan air mata kembali.
"Ya Allah lindungi mama dan papa, berikan mereka perlindungan ya Allah" batin Rika.
Tanpa terasa waktu maghrib tiba akhirnya Rika mengambil wudhu dan melaksanakan shalat magrib, setelah shalat Rika menunggu di bawah, menunggu Ardit yang sebentar lagi akan pulang.
ceklek
Ardit masuk sambil menenteng tas kantornya, mereka berdua naik ke atas, Rika langsung menyiapkan pakaian untuk Ardit.
"Rik, kamu kenapa?"
"ma-maafin Rika kak, Rika gak nurut sama omongan kakak Rika gak dengerin apa omongan kakak" lirih Rika.
"Kamu kenapa Rik, ya udah kita duduk ya. Kita omongin baik-baik" Ucap Ardit mengajak Rika ke sofa.
"Ada apa? kenapa kamu minta maaf?" tanya Ardit.
"Maafin Rika, Rika udah ngebantah ucapan kak Ardit" ucap Rika sambil menunduk.
__ADS_1
"Maksudnya?"
Ardit tak paham sama apa yang dikatakan oleh Rika, ngebatah? ngelawan maksudnya?.
"R-Rika tadi ketemu sama Bobby, maafin Rika ya kak udah ngebantah ucapan kak Ardit. Rika emang istri yang gak baik buat kak Ardit"
Ardit menghela nafas perlahan menarik Rika ke dalam pelukannya mengelus lembut kepala Rika. Rika yang mendapatkan pelukan tersebut kembali menangis.
Betapa beruntungnya Rika mendapatkan suami seperti Rika. Tapi semuanya tertutup entah oleh keegoisan atau kegengsian dirinya.
Ardit melepaskan pelukan, memegang kedua bahu Rika "Rik, kakak gak marah kakak sedikit kecewa kenapa kamu gak nurut sama kakak"
"Maaf"
Ardit tersenyum "kamu, istri kakak yang artinya kamu tanggung jawab kakak, kamu istri yang berguna kakak gak nyesel buat nikahin kamu" Ucap Ardit.
Rika mengangguk sebagai jawabannya, mata Ardit tertuju pada dahi Rika yang membiru.
"Dahi kamu kenapa?"
"t-tadi gak sengaja kepleset di kamar mandi hehe" Ucap Rika dengan cengegesan.
"astaga, lain kali hati-hati. Sampai biru gini"
__ADS_1
"gapapa kok kak Rika kan kuat" ucap Rika.