
"Ada apaan sih?" Tanya Amel.
Rika mengangkat bahu, dirinya juga tak tau sebenarnya dengan apa yang terjadi.
Hingga suara toa menggema di setiap sudut kampus.
"LIHATLAH! ANAK DONATUR DARI KAMPUS NUSA JAYA, SEKALIGUS PENYUMBANG PRESTASI MELAKUKAN HAL YANG TIDAK BAIK. INI YANG DIKATAKAN BAIK? APA YANG MAU DI CONTOH!" Suara itu menggema, begitu nyaring.
"Hai Rika" sapa Sania dengan tangan memegang toa.
"Lo ngapain sih? gak jelas sumpah!" Ucap Amel, kesal. Kesal karena kebisingan dan kesal karena semua anak memandang Rika rendah.
Hei kalian! Yang suka memandang rendah seseorang. Sudah baik kah diri kalian? Sudah benarkah diri kalian? Sampai seenak jidat memandang rendah orang.
Orang yang kalian anggap rendah belum tentu serendah yang kalian bicarakan, mungkin saja kalian yang lebih rendah!
"Tanya aja sama sahabat terbaik lo" Sania dengan nada mengejeknya. Tak lupa menakan kata sahabat.
Amel menatap Rika, Rika hanya menatap datar musuh bebuyutan sejak SMA. Bau-bau keributan udah ke cium nih. Hmm sepertinya akan ada sebuah masalah.
"Hah, lo ngapain sih? Gak jelas lo"
"Mending lo liat di mading aja deh, biar lo tau kelakuan buruk yang sahabat lo lakuin. Orang kaya kerjaannya open BO" Ejek Sania, menatap remeh Rika yang menatapnya datar.
__ADS_1
Amel yang sudah dilanda tingkat penasaran, berjalan menuju ke mading yang banyak sekali anak. Menerobos dan melihat trending topik apa kah yang terjadi?
Mata Amel membuat sempurna. Menatap kembali foto itu. Hah gimana-gimana! Amel gak salah liat kan? Atau matanya yang bermasalah.
"Gimana udah liat kelakuan sahabat lo yang satu ini, orang yang seharusnya memberikan teladan buat semua dan memberikan contoh yang baik malah merusak citra sekolah." Ucap Sania.
"Terus? gue peduli" Amel mengangkat salah satu alisnya. "Oh tentu tidak" lanjutnya.
Sania menatapnya kesal. "Gue bingung sama lo, lo di kasih pelet apa sama ini anak? Sampai-sampai lo bela dia? Kalau gue sih mending jauh-jauh ya daripada gue yang kena imbasnya."
"Itu kan lo bukan gue!" Sarkas Amel, yang membuat Sania terdiam sekejap.
Rika menulikan pendengaran, berjalan menghampiri mading. Menatap mading yang berisi fotonya dengan- om-om? Mulai dari mall hingga bar. Dirinya terkekeh, menggelengkan kepala pelan.
Hampir saja tawa Rika keluar, ini apa sih? Ini apa!
Merobek foto dan menatapnya lebih dekat. What the hell? Gak-gak mata Rika gak bermasalah kan.
Meremas foto itu dan membuangnya ke sembarang tempat. Menghampiri Amel dan membawanya pergi. Ngapain ngurus bocah yang gak ada otaknya kayak Sania?
Buang-buang waktu...
"Gimana Rik udah liat? Gak nyangka gue ternyata dibalik lo tawuran dan balapan. Jadi tukang BO? Ck, ck, ck" Ejek Sania dengan nada tingginya.
__ADS_1
Rika menghentikan langkahnya, jangan sampai lo emosi. Yang ada buang-buang waktu. Mending minggat.
"Udah Rik gak usah dengerin, nih pake" Memberikan earphone pada Rika. "Hm, thanks"
"Kedua tangan kita emang gak bisa buat nutup mulut mereka, tapi kedua tangan kita bisa buat tutup telinga kita dari omongan mereka" Ucap Amel. "Hidup mereka itu cuma ada dua, mengomentari hidup orang dan ikut campur masalah orang" sambung Amel.
Rika tersenyum, melirik sahabat satu-satunya yang selalu ada buatnya. Selalu memberikan solusi untuknya. Selalu melakukan apapun untuk Rika.
"Kelas" Rika dan Amel melangkah kan kembali jalan mereka. Sebelum kembali menuju tangga suara Sania terdengar membuat Rika menoleh dan menghampirinya.
"Lo itu gak pantes buat sekolah disini. Karena lo cocok untuk ke bar bukan ke kampus" cibir Sania, yang membuat semua anak tertawa.
Kening Rika berkerut, "gue kesini bukan buat cari ribut. Tapi gue kesini buat cari ilmu" Ucap Rika. "Dan lo tadi bilang apa? Gak pantes, terus yang pantes kayak siapa lo?!" tunjuk Rika.
"Iya, gue lebih pantes daripada lo! Lo itu cuma pembawa sial dalam hidup gue. Setelah ketemu lo, hidup gue berantakan."
Rika tertawa, apa sial? Bukannya dirinya yang sial untuk ketemu wanita ini? Wanita yang membuat Rika keluar masuk BK dan dekan. Oh ayolah jangan memutar balikan fakta yang sebenarnya.
"Itu takdir lo kali, yang ada itu Rika yang kena maslah gara-gara lo! Gara-gara kelakuan lo yang gak berguna sama sekali. Sampah!"
"Jaga mulut lo!" Teriak Sania yang menggema.
Rika tersenyum miring, "Lo atau Amel yang jaga mulut?"
__ADS_1