Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴘᴇɴᴀɴɢᴋᴀᴘᴀɴ sᴀɴɪᴀ


__ADS_3

Setelah menemukan semua bukti Rika menyalin semuanya foto, vidio rekan suara dan lainnya dalam satu flashdick.


"gila dong, gue gak nyangka lo Bobby gitu amat obsesinya ama lo sampai ngelakuin itu segala"


"lo pikir gue juga, gue kira cuma sampai situ doang dia ancamnya ternyata lebih dan lebih parah lagi"


"eh entar deh gue mau tanya sama lo, lo gak ceritain ini masalah ke tante Santi sama om Rusdy?"


"gak gue gak mau ngelibatin mereka ke masalah gue, udah cukup sih buat kemarin gue berantem sama mereka. Lagian ya gue sama kak Ardit juga udah janji kalau kita ada masalah kita selesain berdua kalau gak bisa ya udah kita minta bantuan yang lain''


"gila suami lo mah pengertian bener, apa daya gue yang jomblo"


"terus Arko lo anggep apaan?"


Amel yang mendapatkan pertanyaan tersebut tak bisa menutupi mukanya yang merah seperti kepiting rebus, Rika mah gak bisa di ajak serius! orang enak bahas ini masalah malah bahas yang lain.


"udah lah gue tau lo suka kan sama Arko percaya deh sama gue"


"idih sama cowok ngeselin itu? yang mukanya kayak triplek? ogah!"


"ohhhhh masa! ya lo liat aja nanti omongan gue pasti bakal terjadi"


"ck udah lah lo mah kalau lagi serius ngapa jadi becanda gini sih, udah-udah kembali ke topik"


Namun saat mereka mau melanjutkan obrolan handphone Rika berdering menandakan ada sebuah pesan. Rika yang mendapatkan pesan langsung membukanya dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"sapa?"


"orang yang neror gue suruh gue ke jalan x''

__ADS_1


"jam berapa emang?"


"jam 2 an sih"


"ya udah lo sekarang calling Ardit terus kita suruh dia kesana duluan nanti kita akhiran"


Rika pun langsung menelphon Ardit dan membicarakan rencananya, setelah selesai Rika dan Amel ke kampus. Waktu pulang pun tiba, Rika dan Amel bersiap-siap tapi kali ini berbeda Rika dan Amel memakai mobil mereka sendiri-sendiri. Rika menyuruh Ardit untuk mengirim mobil ke kampusnya.


Mereka berdua pun berangkat ke tempat yang di tujuan dengan jarak yang cukup aman. Lain halnya di tempat x dimana di sana sudah ada Ardit, Arko dan polisi yang sudah siap di tempat masing-masing. Tak berapa lama seseorang yang menyuruh Rika pun datang dan bersiap-siap melakukan rencananya.


Rika dan Amel akhirnya sampai dijalan x Rika berjalan terlebih dahulu dan masuk kedalam, sepi itulah yang Rika katakan ketika memasuki pekarangan. Maklum orang yang memberi pesan ke Rika menyuruhnya ke sebuah bangunan tua yang cukup jauh dari keramaian.


Rika menaiki satu persatu anak tangga sampai menuju ke lantai yang paling atas, di sana terlihat seseorang duduk di kursi dengan membelakangi Rika. Orang tersebut membuka jaket dan menatap Rika dengan senyuman liciknya.


''Sania!"


"to the point aja"


"astaga apa salahnya sih kita ngobrol santi dulu sebelum nyawa lo hilang hahaha"


"cih lo siapa? Tuhan? yang berhak buat ambil nyawa gue itu yang di atas bukan lo!"


Sania tak menghiraukan omongan Rika, dia malah menepuk tangannya menandakan sesuatu, yap dari belakang ada seseorang yang langsung mengikat tangan Rika dan menodongkan pisau tepat pada leher Rika.


"lo siapa?"


"hay baby masa gak kenal sama aku" ucapnya berbisik tepat di telinga Rika.


Rika yang mendengarkan itu mengidik ngeri, wah bener-bener Bobby udah obsesi tinggi sampai ngelakuin gini.

__ADS_1


"sialan! ni pisau gak bisa jauh dikit apa?" batin Rika.


"lepasin!"


"gue bilang lepasinnnn!"


"shutttt udah jangan buang energi lo buat teriak! gak guna juga mending lo diem aja gak usah banyak bacot!"


"mau lo apa sih San?"


"mau gue? lo mati dengan sengsara karena lo udah ambil semuanya dari gue!"


"lo gila! kalau lo mau lawan lawan satu-satu bukan kayak gini! sama aja lo pengecut!"


"terus? lo pikir gue bodoh! gue tau lo bawa seseorang kan?"


Semua yang bersembunyi pun keluar dimulai dengan Arko keluar terlebih dahulu dan di lanjut Ardit. Sania hanya tersenyum licik wah makin seru melihat Rika tewas di depan orang tersayang. Sania langsung memberikan kode ke Bobby untuk mendekatkan lagi pisau yang dia pegang. Pisau dan leher Rika berbeda 1 senti.


Namun itu tak berlangsung lama. Bruk! tanpa aba-aba apa-apa Amel langsung melemparkan balok ke Bobby yang membuatnya tersungkar dan melepaskan Rika ya walaupun pisau tadi memberikan goresan sedikit dileher Rika.


Satu persatu polisi datang, Sania yang melihat itu mencari cela untuk kabur tapi naas semuanya mengelilingi Sania dan Bobby. Rika sudah berada di dekat Ardit sambil memegangi lehernya yang terasa perih.


"lebih baik anda menyerahkan diri anda sekarang! jangan sampai kita melakukan hal yang lebih lagi" ucap Ardit dengan tegas.


"udah lah San! mending nyerahin diri aja dari pada nanti tambah parah lo nya"


Sania tak mendengarkan dia sedang memikirkan cara untuk lolos walaupun itu tak mungkin karena semuanya mengelilingi dirinya, dengan satu cara Sania menoleh ke belakang dan memutarkan badannya lalu menerobos dan berlari kencang, sedangkan Bobby yang ingin lari namun tertahan oleh salah satu polisi.


Terjadilah kejar-kejaran antara Sania dan pihak berwajib, dengan terpaksa polisi menembakan peluru yang langsung terkena kaki Sania yang membuatnya jatuh.

__ADS_1


__ADS_2