
Beberapa minggu kemudian.
Al dan Lea, sudah disibukan oleh tugas-tugas. Mulai dari praktek dan yang lain. Mereka berdua sibuk dengan tugas mereka. Sekarang Lea serta Danish sedang melakukan observasi.
Setelah menemukan semua, mereka berkumpul dengan yang lain. Yaitu Acha dan Ghea, yang sudah berada di taman.
"Gimana udah ketemu?"
"Udah"
Mereka berempat sama-sama berdiskusi, ya walaupun ada sedikit candaan dari Danish dan Ghea. Biar gak pusing katanya. Biar ada hiburan.
"Guys" panggil Ghea. "Kok gue jadi merinding gini sih" lanjutnya.
"Merinding kenapa?" Tanya Lea, bingung.
"Kok gue ngerasa, ada yang buntuti kita ya? Dari awal kita keluar sekolah sampai sekarang. Apa cuma perasaan gue doang?" Ghea menatap ketiga temannya.
Membuat semua menoleh kebelakang. Di taman memang tak banyak orang hanya sekitar 10 orang saja. Seketika bulu kuduk mereka berdiri.
Mata Lea tertuju pada orang ber-hoodie hitam, dengan masker hitam. Hanya menyisahkan bagian mata. Memincingkan mata, mencoba lebih fokus kembali.
Orang yang Lea tatap, mengangkat jari tengahnya dan pergi meninggalkan taman itu. Lea terdiam. Mencoba berfikir kembali, jangan bilang kalau mereka di-
Lamunannya tersadar ketika ketiga temannya menepuk pundak Lea, membuat Lea menatap mereka bertiga. "Kenapa?"
"Lo yang kenapa? Dipanggil juga kagak nyaut-nyaut lo kenapa sih?"
Lea menggeleng. Mencoba berfikir positif. Mungkin aja salah liat, ya mungkin saja salah liat. Gak mungkin, orang mana berani ada yang mendekat ke mereka.
Al sudah bilang, kalau secepatnya mereka akan diawasi anggota Alvarebos lainnya. Lagian ngapain juga mereka ngikutin Lea. Kurang kerjaan!
"Sama gue juga, balik aja yuk. Merinding gue lama-lama disini" Ajak Danish.
Semuanya mengangguk setuju, mereka membereskan semuanya dan berjalan meninggalkan taman.
Saat ingin menuju ke parkiran, badan Lea tertabrak oleh seseorang yang hampir saja membuat tubuh Lea terjungkal. Untung saja yang lain sigap memegang lengan Lea.
Orang itu diam sebentar dan meninggalkan mereka berempat tanpa sepatah kata.
"Heh jalan liat-liat dong!" Teriak Danish kesal.
"Tau tuh, gak bilang maaf lagi, lo gapapa Le?" Tanya Ghea.
Lea mengangguk, "Gue gapapa kok"
Mereka melanjutkan kembali menuju ke mobil untuk pulang. Hari ini mereka cukup lelah. Tanpa lama-lama Acha menjalankan mobil pergi.
__ADS_1
...…...
Di basecamp Alvarebos, semuanya sedang melakukan rapat dadakan. Yang artinya Al beberapa menit yang lalu menyuruh Jojo untuk memberi kabar kepada yang lainnya untuk berkumpul di basecamp.
Dengan cepat semuanya berkumpul, Al membahas tentang penangkapan Bara mereka tak tinggal diam. Apalagi Bara cukup pintar sekarang.
"Oke gue kumpulin kalian semua ke sini karena ada hal yang harus kita bahas. Sebelum itu, buat yang gak bisa dateng kali ini, biar nanti bakal dijelasin langsung sama Revan atau gak Jojo" Ucap Al, membuka keheningan.
"Gue gak mau basa-basi. Gue mau, kita perketat penjagaan. Bara kabur dari penjara, dan gue pastiin mereka akan membuat keributan di sini. Untuk itu penjagaan akan ditambah. Buat lo Ton, gue mau lo catat semuanya dan lo bagi" Ucap Al.
"Dan buat lo Jo, atur strategi dengan matang" Al menjelaskan semuanya. "Dan terakhir, gue mau, ada juga yang ngejaga Lea dari kejauhan. Gue tau, bara gak akan awasi kita doang, dia bakal awasi Lea serta yang lain"
"Maka dari itu, setiap hari ada tiga sampai lima orang buat jaga Lea. Ngerti?" Lanjut Al kembali.
"Ngerti bos!" Ucap semuanya serempak.
"Ada yang ditanya?"
"Gue mau tanya" Salah satu dari mereka berangkat tangan.
"Apa?"
"Buat penjagaan Lea itu kapan?" Tanya anak ber name tag Johan.
"Maunya hari ini tapi gue rasa, sekarang buat rapat. Dan ya. Besok, semuanya akan dimulai besok. Gak ada alasan buat apapun" Al berucap, setelah itu Al mempersilahkan semuanya untuk bubar. Ada yang main, ada yang makan ada yang balik.
"Kenapa jadi rumit gini dah? Emang bener-bener tuh bocah, dateng-dateng meresahkan" Al hanya mengangkat bahu acuh, dirinya menyambar softdrink yang ada di atas meja.
Kenapa gak selesai-selesai sih? Kenapa masalah selalu muncul tiba-tiba. Padahal mereka baru saja senang.
Berarti Tuhan sayang sama kita, karena Tuhan tau kita bisa lewati semuanya. Yang penting cuma berdoa dan berusaha.
...…...
Menutup pintu, Lea menaruh tas nya pada tempat biasa. Mengambil pakaian dan menuju ke kamar mandi. Tak lama dirinya keluar, Lea berjalan menuju ke meja rias. Duduk sambil mengeringkan rambut.
Tangan Lea mengambil tas tote bag nya, tangannya terulur mengambil handphone. Tapi tangannya malah mengambil sebuah kertas putih, membuat Lea berfikir.
Kertas apa?
Masa kertas observasi nya tadi?
Bukannya Lea sudah memberikan nya kepada Danish, dan tadi Danish memasukannya kedalam tas miliknya.
Perlahan Lea membuka kertas tersebut, jantungnya seketika berdetak dua kali lebih cepat. Tangannya bergetar, apa ini? Ini apa?
Die?
__ADS_1
Maksudnya?
Lea mencoba berfikir lebih jernih lagi, tapi- tak bisa. Pikirannya kembali pada kejadian taman, tadi ada seseorang yang menabraknya. Sebelum itu Lea mendapatkan orang yang tak jauh darinya sedang mengawasi mereka berempat.
Dan saat pulang orang yang menabraknya tak mengucapkan kata sepatah pun. Dan pergi begitu saja.
"Ini maksudnya apa sih? Jangan bilang gue diteror lagi? Gak-gak mungkin, lagian siapa yang neror gue? Gue gak punya musuh sama sekali" Ucap Lea.
Lamunannya tersadar, handphone nya berdering. Membuat Lea tersadar dan menatap nama kontak itu. Al, ya Al menelponnya dengan cepat Lea mengangkatnya. Sebelum itu dirinya mencoba tenaga terlebih dahulu.
"Halo Al?"
"Sayang"
"Iya Al kenapa?"
"Maaf ya Lea. Tadi anak-anak gak bisa jaga kalian, kita ada rapat dadakan yang gak bisa di tinggal gitu aja. Jadi hari ini mereka gak bisa jaga kamu sama yang lain. Semuanya akan dimulai besok"
Deg
"Ma-maksudnya anak-anak yang jaga hari ini, gak mantau aku gitu? Dan akan dimulai besok" tanya Lea, menahan gugupnya setengah mati.
"Hem, iya. Kamu sekarang ada dimana? Masih di taman atau udah pulang?" Tanya Al.
"Oh aku-aku di apartemen, udah pulang barusan"
"Ya udah, laporin aku ya kalau ada apa-apa. Jangan buka pintu kalau bukan aku yang pulang. Tunggu ya sebentar lagi aku pulang. See you babe"
"See you Al. Ati-ati, jangan ngebut!" Lea langsung mematikan panggilan. Dadanya bergemuruh, tangannya meremas kuat kertas itu.
"Ada apa sih sebenernya" Batin Lea bertanya-tanya.
Lea menidurkan diri pada kasur, pikirannya berkecamuk. Banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam pikirannya.
"Apa maksud tuh orang buat teror gue? Apa maksudnya coba? Please lah ya, gue bukan cenayang yang bisa baca pikiran. Apa sih tujuan mereka itu, kenapa gue lagi yang kena." Guman Lea.
"Mending gue belajar, besok ada ulangan geografi lagi. Dari pada gue mikirin hal yang gak berguna mending gue belajar aja" Lea melangkahkan kaki menuju meja belajar. Mengambil buku paket dan membacanya.
"Ayo dong Lea fokus!" Lea menyembunyikan kepalanya pada kedua tangan. Susah sekali buat fokus!
Kenapa harus inget itu sih?!
Hingga akhirnya Lea tertidur dengan kedua tangan sebagai bantal. Dirinya terlalu capek untuk hari ini.
...…...
Lho hayo, siapa yang teror Lea? Hayo lho apa yang bakal terjadi selanjutnya?
__ADS_1
Ikuti cerita Nana ya, semoga gak bosen. Huhu maaf ya kalau membosankan 🙏
Yeay akhirnya bisa sampai 200 episode 🤗