
Menatap langit malam yang indah, ditemani bintang bintang yang bersinar terang. Manik mata coklat menatap pada satu titik bintang, dimana bintang itulah yang paling terang di antara yang lain.
Rika berharap, suatu saat nanti permasalahan nya akan segera selesai dan bisa seterang bintang itu. Kadang berharap ke manusia itu lebih sakit, karena kita tak tau. Bisa kapan saja manusia itu membuka dan menutup rahasia kita.
"Gue harap. Masalah yang gue alami akan segera selesai." batin Rika berdoa.
"Rika," namanya terpanggil dengan iringan nada yang lembut. Tanpa Rika menoleh, dirinya tau siapa sosok yang memanggil namanya barusan.
"Kok diluar? Gak dingin?" tanya Ardit. Berdiri tepat di samping Rika. Dia mendongak menatap langit malam yang dipenuhi bintang bintang yang bersinar terang.
"Lihat bintang yang paling terang gak?" tanya Rika.
Ardit mengangguk dan berkata. Lihat,"
"Gue selalu berdoa, agar gue bisa hidup seterang bintang. Kadang gue juga menghayal buat jadi benda mati, karena gue rasa lebih enakan jadi benda mati." tutur Rika.
"Kenapa gitu?" tanya Ardit sambil menatap wajah Rika dari samping.
"Gak tau. Enak aja gitu, mereka disayang, di rawat sepenuh hati, bahkan sampai di selimuti agar gak kedinginan," ujar Rika. "Gue juga bermimpi buat jadi bintang, supaya bisa menerangi bumi di malam hari, tapi nyatanya itu gak bakal mungkin terjadi," sambung Rika dengan nada bergetar.
"Namun nyatanya, benda mati kadang hanya sebagai hiasan, atau gak sebagai tempat pamer harta," Ardit menyahuti matanya tak lepas untuk menatap Rika.
"Terus apa bedanya sama manusia? Di permainkan layaknya boneka, diatur sesuka hati layaknya robot." desis Rika, menoleh ke samping menatap Ardit beberapa detik dan kembali menatap ke arah depan.
"Bukan gitu,"
"Lalu?"
"Kadang kita aja yang berpikir terlalu jauh, tanpa melihat sisi baik dari apa yang terjadi!" tegas Ardit. "Percaya atau gak, dibalik semua kejadian pasti akan ada sisi baik yang dapat kita ambil,"
__ADS_1
Tertawa sumbang Rika berkata. "Sisi baik? Dipaksa? Diatur semaunya? Apa sisi baiknya?" Rika bertanya dengan nada tak suka.
Ardit tersenyum paham. "Ada," jawab Ardit singkat. "Coba bayangin kalau kejadian itu gak terjadi. Mungkin kita gak bakal sampai ke titik ini"
Jleb
Rika terdiam, mulutnya menjadi kelu. Jawaban yang Ardit layangkan membuat otaknya berpikir dua kali. Mencerna baik-baik setiap kata demi kata yang Ardit ucap.
"Lagi ada masalah ya?" tanya Ardit dengan lembut, tangannya terulur untuk mengusap surai Rika. "Sini cerita, mungkin aja bisa kasih solusi" lanjut Ardit.
"Aku tau, kita emang baru kenal satu bulan. Tapi bukan berarti aku bakal diam jika istri aku dalam masalah," Ardit berharap bahwa Rika mau membagikan sedikit masalah nya pada dirinya. Meski hanya sepatah dua patah.
"Gue kadang bingung sama bokap. Kok bisa dia menilai anaknya tanpa tau masalah yang terjadi. Gue tau gue nakal, dan gue sadar itu. Tapi yang gue bingung, kenapa bokap selalu percaya sama orang lain dibanding anaknya sendiri?" Rika berkata dengan nada lirih.
Menghela napas sejenak, Rika kembali menceritakan keluh kesahnya. "Kalau boleh jujur, gue capek sama apa yang bokap dan nyokap minta. Menjadi sosok yang sempurna. Sempurna? Kata kata yang paling gue benci. Karena manusia hanya akan ada dua, baik dan munafik!" ungkap Rika, tanpanya sadar bahwa air mata yang Rika tahan sedari tadi menetes tanpa permisi.
Menarik Rika ke dalam dekapannya. "Nangis aja, jangan dipendam" bisik Ardit pada Rika.
"Gue capek, gue capek buat ngalah. Gue capek buat selalu nurut layaknya robot!" ungkap Rika. "Gue capek kak," ringis Rika.
"Gak ada orang tua yang memperlakukan anaknya layaknya robot. Mama dan Papa gak akan setega itu buat kamu. Mungkin aja mereka punya alasan untuk ini semua" Ardit mencoba memberi arahan yang tepat pada Rika.
Ardit tau dan Ardit dapat merasakan apa yang Rika rasakan, Pura-pura tegar di hadapan orang-orang, pantang menitihkan air mata.
Namun di balik semua, banyak sekali rintangan yang harus Rika lewati dan semua rintangan itu tak mudah baginya. Ditambah lagi, Rika termasuk sosok yang melakukan apa apa semuanya sendiri, bahkan masalah dan perasaan pun dia pendam dalam-dalam.
"Gue mau pergi dari sini," cetus Rika tiba-tiba.
"Kemana?"
__ADS_1
"Terserah, lo bisa bilang ke Papa dan Mama kalau lo ada kerjaan dadak. Atau gak bawa gue pergi," kata Rika. "Please bawa gue pergi dari sini, gue capek kak." ringis Rika.
"Ini udah malam Rika, besok aja ya?" bujuk Ardit.
Rika menggeleng tegas. "Sekarang, masih jam 8 kurang juga. Ayolah bawa gue pergi. Atau gak keluar deh," Rika masih mecoba memohon.
"Oke. Kita pergi!" putus Ardit.
Kali ini, Ardit akan menuruti semua permintaan Rika. Bukan untuk kabur loh ya, melainkan untuk menyenangkan Rika. Ardit tau dan paham dengan apa yang Rika rasakan. Sekarang Rika sudah menjadi tanggung jawab Ardit, yang artinya Ardit juga harus bertanggung jawab dengan kebahagiaan yang Rika ingin.
"Aku ke bawah dulu buat pamit ke Papa dan Mama, kamu ganti baju ya." suruh Ardit dan turun ke bawah, sampai di bawah ternyata ada Rusdy dan Santi yang masih santai di ruang keluarga.
Melihat Ardit datang, Rusdy menyuruh menantunya untuk duduk. "Duduk Dit," Rusdy mempersilakan Ardit untuk duduk
"Maaf Pa, Ma. Ardit mau izin buat bawa Rika ke apartemen. Yang gak jauh dari tempat kampus Rika," Ardit meminta ijin pada Santi dan Rusdy.
"Kok dadak banget," kaget Santi.
"Iya Ma, maaf harus malam malam gini. Ardit yang ajak Rika pindah, sekalian ngecek rumah yang bentar lagi mau jadi," jelas Ardit pada Santi.
"Udah Ma, biarkan saja Rika pergi. Dia udah jadi tanggung jawab Ardit. Jadi kemana pun Ardit pergi Rika juga harus ikut," tutur Rusdy memberikan pengertian.
"Kalau itu yang terbaik Mama ikut aja, tapi nanti jangan lupa buat mampir ke sini juga," ucap Santi membuat Ardit mengangguk.
"Pasti Ma," kata Ardit. "Ardit pamit ke atas, kayaknya Rika udah selesai siap-siap. Biar gak kemalaman," Ardit naik ke atas dengan segera menjemput Rika.
Di kamar Rika, gadis itu sangat senang sekali. Akhirnya bisa pindah juga, kalau ditanya sedih atau gak? Jawabannya sedih, sedih harus meninggalkan tempat ini.
Selesai mengemas seluruh pakaian, dan memasukkan beberapa buku kuliah ke dalam tas. Walaupun sering bolos, Rika tak akan pernah dengan pekerjaan rumahnya.
__ADS_1
Pintu kamar Rika terbuka, menampilkan Ardit di sana. Terlihat jika Rika sangat sangat senang. "Sudah selesai?" tanya Ardit pada Rika.
"Sudah," balas Rika singkat.