Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴋᴇɴᴀᴘᴀ ᴛᴜʜᴀɴ ɢᴀᴋ ᴀᴅɪʟ?


__ADS_3

Rika terbangun ketika mendengarkan handphonenya yang berdering nyaring. Membuat Rika menyesuaikan terlebih dahulu cahaya lampu pada matanya.


Menatap jam yang bertengger pada dinding. Jam 6? Astaga Rika lupa menjalankan kewajibannya.


Tak menghiraukan panggilan, Rika langsung bangkit dan berlari menuju ke kamar mandi.


Tak berapa lama Rika selesai dengan ritual mandinya. Mengambil peralatan shalat Rika melaksanakan kewajibannya.


Mengambil handphonenya, menatap layar handphone.


4 panggilan tak terjawab dari Amel


"Kenapa nih bocah telpon gue, spam lagi," guman Rika, membuka chat Amel.


Amel


Lo dimana?


Ck, dijawab doang! woi lo dimana?


Jawab anj buruan, urgent nih!


Astaga adik gue, jahat banget, jawab woi! gak peduli pokoknya jam 7 gue tunggu di cafe BOX. See you 😘


"Gak jelas," cibir Rika, lalu mengecas handphonenya.


...…...


Rika telah siap dengan pakaiannya dengan kaos hitam oversize dan tak lupa celana joker abu-abu. Menatap jam yang sudah pukul tujuh dengan cepat Rika menyambar kunci dan turun kebawah.

__ADS_1


"Semoga kagak ada bokap, bisa kena sita ini motor," batin Rika, tak henti-hentinya berdoa.


Menghela nafas lega, Rika tak mendapatkan kedua orangtuanya di ruang keluarga, bahkan di meja makan mereka berdua tak terlihat.


"Non mau kemana?" pertanyaan itu membuat Rika terlonjak kaget.


"Eh Bi Ina," Rika menggaruk tengkuknya tak gatal. Aish mengapa dia seperti maling yang ketauan?


"Ini Bi, Rika mau keluar sebentar. Kalau Mama atau gak Papa tanya bilang aja Rika keluar ada urusan. Ya sudah Bi Rika pamit, assalamu'alaikum." Pamit Rika dan pergi.


"Waalaikumsalam."


Rika menjalankan motor dengan santai, sesekali menaikkan kecepatan. Hingga sampai di depan cafe BOX. Dimana cafe ini menjadi tempat Rika dan Amel kalau boring.


Mata Rika menatap ke penjuru cafe, hingga menemukan keberadaan orang yang dia cari. Amel, cewek itu sedang sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Sok sibuk lo," cibir Rika.


Rika langsung duduk di samping Amel, tangannya mengambil satu map dan membacanya.


"Gak usah usik kalau kagak mau bantuin," ucap Amel yang masih sibuk dengan laptopnya. Dengan cepat Rika melempar map itu, mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.


"Ada yang bisa saya bantu kak?" Tanya pelayan itu sambil memberikan menu.


"Mau hot coklat,"


"Baik kak silahkan ditunggu ya," pelayan itu pergi, tak berapa lama pesanan Rika datang.


"Ngapain lo manggil gue?" Tanya Rika setelah keheningan menyapa mereka.

__ADS_1


Rika menegakkan tubuhnya, menatap Rika. "Bantuin gue dong, kerjain ini. Harus kumpulin lusa, please boleh ya?"


"Ogah, gue usik. Makanya gue gak mau bantu," tolak Rika.


Setelah sekian lama Amel memohon Rika pun membantu, mereka berdua mengerjakan tugas Amel. Akhirnya setelah satu jam lebih mereka pun menyelesaikan semuanya. Tak semua hanya sebagian saja, tinggal dikit saja.


"Lagian lo aneh juga pulang jam 4 pagi, ngapain aja lo?" Tanya Rika, bingung.


"Gue ada urusan, sampai lupa pulang ya udah akhirnya kena," ucap Amel, malas.


"Mel"


"Apa?"


"Kenapa Tuhan gak adil sama gue? Kenapa disaat gue mau bahagia Tuhan selalu kasih masalah, kasih konflik ke gue. Kenapa gak ke yang lain." Lirih Rika.


Amel tersenyum simpul, tangannya terulur menepuk pundak Rika. "Karena Tuhan tau lo bisa, Tuhan kasih lo cobaan karena dia sayang sama lo. Mungkin aja kebahagiaan lo gak hari ini, mungkin aja besok atau gak lusa, kita gak tau apa yang terjadi kedepannya," jelas Amel.


"Gue tau lo putus aja Rik, tapi jangan sekarang. Sekarang gini deh lo liat kebelakang, liat seberapa jauh usaha lo sampai ke titik ini." Ucap Amel.


Rika menoleh kearah Amel. "Tapi Mel, gue gak bisa. Gue mau nyerah aja, gue gak bisa. Apalagi minggu depan gue udah nikah, gue ngerasa kedua orang tua gue ngerebut kebahagian gue,"


"Lo salah Rik, mungkin dengan gini. Dengan cara ini lo bahagia. Orang tua lo lakuin ini mungkin aja biar Ardit buat lo bahagia, karena mereka belum bisa buat lo bahagia," Amel, cewek itu berusaha menjelaskan kepada Rika.


"Ayolah jangan nyerah, liat perjuangan lo dari nol sampai sekarang. Sampai jadi Rika saat ini, jangan nyerah. Gue tau lo bisa," ucap Amel memberikan semangat.


Rika menggeleng pelan, keduanya sama-sama terdiam. Memikirkan pikiran mereka masing-masing.


"Udah gak usah dipikirin, gimana kalau kita bahas tentang kejahatan Sania. Kita cari beberapa bukti," usul Amel, mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


Rika menatap Amel datar, dia tau Amel mencoba mengalihkan topik. Menghela nafas kasar, mereka berdua mencoba mencari bukti.


__ADS_2