Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
sɪᴀᴘᴀ ʏᴀɴɢ ᴀɴᴅᴀ ᴍᴀᴋsᴜᴅ?


__ADS_3

Beberapa menit kemudian mereka berdua sampai ke mall terbesar yang ada di kota Jakarta, Ardit memarkirkan mobil. Mereka berdua turun dsn Rika masih diam dari tadi dan itu membuat Ardit menghela nafas panjang.


Mereka masuk ke dalam dan mengelilingi mall, tapi itu tak membuat Rika menarik perhatiannya sekarang yang menarik perhatiannya gimana Rika berbicara soal buku itu? karena Rika merasa ceroboh untuk tidak bisa menjaga buku itu.


Ardit mengajak Rika ke resto Jepang, dan Rika hanya diam mengikuti kemana Ardit mau. Mereka berdua duduk dan memesan makanan, beberapa menit mereka masih menunggu dan lagi Rika masih belum mau menceritakan apa yang terjadi.


"Rik aku ke toilet sebentar ya" ucap Ardit dan dapat anggukan dari Rika.


Ardit pun pergi ke toilet sedangkan Rika menunggu di meja makan, tiba-tiba ada yang datang menghampiri Rika.


"ngapain lo di sini?" ucapnya.


Rika yang kenal dengan suara itu hanya mengangkat bahu dan acuh, dia lagi dia lagi.


"heh lo bisu atau apa?" tanya Sania lagi.


Lagi-lagi Rika tak menjawab, ternyata Sania menghiraukan ucapan Rika tadi di kantin, padahal baru beberapa jam, yap Sania tak peduli yang penting dendam tetap dendam.


"entar lo kesini sama om-om yak wah gila sih lo baru kemarin sama om-om sekarang sama abang-abang lagi, aduh kasian banget yang jadi korban lo, kalau gue sih mending cari aja yang lain" ejek Sania di akhiri dengan tawa mereka bertiga.


Tanpa mereka sadari Ardit melihat perlakuan Sania dan mendengarkan omongan Sania, dengan cepat Sania Ardit menghampiri Rika.


"siapa yang anda maksud abang-abang?" tanya Ardit.


Rika, Sania, Fita dan Fila langsung menoleh ke arah Ardit, semua terkejut apa lagi Rika.

__ADS_1


"semoga kak Ardit gak denger" batin Rika.


"Arditya Aldebaran?" ucap Sania.


"wah suatu kehormatan saya bisa ketemu dengan anda" ucap Sania menutupi kesalahan.


"iya, tapi saya bilang siapa yang anda maksud abang-abang?" tanya Ardit.


"saya tegaskan ke anda, jangan pernah menilai seseorang dari cover jadi jika anda melihat dari cover belum tentu dalamnya jelek" ucap Ardit.


"ta-" ucap Sania terpotong Ardit.


"dan jangan pernah menyalahkan seseorang dengan keburukannya, jika anda lebih buruk dari orang itu" ucap Ardit dengan tegas dan membuat Sani dan yang lain diam.


"ayo kita pergi" ucap Ardit lalu menarik tangan Rika.


"apa sih kelebihan tu cewek? sampai seorang Ardit belain dia, liat aja lo besok. Gue pastiin lo yang akan malu" guman Sania di akhiri senyum liciknya.


"lho kak terus pesanannya gimana?" tanya Rika.


"ya kita makan'' ucap Ardit.


"tau tapi makan dimana?" tanya Rika.


Ternyata Ardit membawa Rika keruang vip resto tersebut, sebelum Ardit menghampiri Rika, dia terlebih dahulu memanggil salah satu karyawan dan memesan satu ruang vip.

__ADS_1


Mereke berdua sampai ke depan ruang vip, mereka pun duduk. Ardit melihat pakaian Rika yang beda bukanya tadi pakai sweater?.


"Rik, kamu ganti baju?" tanya Ardit.


Deg.


"enggak udah dari tadi, sweater ku kena kopi tadi" ucap Rika.


"maaf" ucap Rika pelan tapi masih terdengar oleh Ardit.


"untuk apa?" tanya Ardit sambil mengerutkan dahi.


"buku yang kak Ardit kasih ke Rika rusak karena kena noda kopi" ucap Rika.


"terus kenapa?" tanya Ardit bingung.


"ya Rika kayak gak bisa jaga barang, padahal Rika tau itu buku mahal maaf ya kak" ucap Rika.


"udahlah gapapa, terus kenapa kok bisa kena kopi" ucap Ardit.


"mati gue, aduh kak Ardit pake tanya lagi gue jawab apa coba" batin Rika.


"i-itu Rika gak sengaja nyenggol jadi tumpah" ucap Rika dengan cepat.


What? pernyataan bodoh macam apa itu? ayolah Rik, berfikir yang lain.

__ADS_1


"Rik, kamu gak bisa bohong dari aku, ini kelakuan tiga anak tadi kan?" tanya Ardit tapi tak di jawab oleh Rika.


Ardit pun berpindah posisi yang awal di depan sekarang di samping Rika. Rika yang melihat Ardit berpindah semakin gugup, apa yang harus gue jelasin?.


__ADS_2