Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ʜɪʟᴀɴɢɴʏᴀ ᴀᴄʜᴀ ᴅᴀɴ ʟᴇᴀ


__ADS_3

..."Walaupun aku pergi jauh, percayalah hanya kamu yang ada di hatiku." - Alexa Louis...


...…...


Semuanya telah berkumpul di tengah-tengah lapangan untuk melakukan permainan kata. Yaitu diaman setiap kelompok harus menemukan kata-kata yang tersembunyi terus di susun menjadi satu kalimat.


Setiap kelompok terdiri atas 5-10 orang. Semuanya telah terbagi rata, kelompok Lea terdiri dari Lea, Ghea, Kevin, Angel, Lidya dan juga Sandra.


Al yang melihat Lea satu kelompok dengan Sandra membuat dirinya takut, takut hal dua bulan yang lalu terulang lagi pada Lea.


Dan Kevin, ya dia tau seberapa liciknya kevin apalagi masalah berantem waktu itu yang membuat Al emosi bisa-bisanya Kevin berbicara seperti itu di depannya secara terang-terangan.


"Lo mau kemana?" Tanya Revan menghalangi jalan Al.


"Lea!"


"Lo mau rubah? Lo tau kan ini bukan pilihan masing-masing. Kalau pun bisa dirubah atau gak pilih sendiri kenapa gak dari tadi? Toh itu juga ada Lidya sama Ghea tenang aja gak mungkin kali mereka apa-apa Lea"


Al hanya diam, omongan Revan benar juga. Gak mungkin Lidya dan Ghea akan buat celaka Lea. Tapi pikirannya terjerumus kepada Kevin dan Sandra.


"Semoga lo gapapa Le" Batin Al.


Game pun di mulai.


Karena ada waktu yang harus mereka gunakan sebaik-baiknya. Para panitia memberikan waktu sekitar 1 jam.


Takut kalau nanti kelamaan malah buat bahaya.


Semuanya mulai mencari, Lea mencari dari pohon satu ke yang lainnya. Begitu pun juga dengan yang lain.


Lidya mengajak untuk kearah timur, sedangkan Kevin mengajak kearah Barat. Terjadi pertengkaran diantara mereka berdua.


"Stop!" Teriak Ghea membuat mereka berdua berhenti berdebat.


"Berantem mulu lo pada, kalau mau berantem jangan disini. Waktunya ke buang buat lo pada"


"Udah-udah, kita ikutin tandanya aja" Usul Lea.


Mereka pun mengikuti tanda panah, berjalan sambil mencari kantung yang tergantung di pohon-pohon.


"Itu bukan?" Tanya Lea sambil menunjuk kantung berwarna hitam dengan senter.


Mengambil dan menemukan kata 'aku'. Semuanya memikirkan kata tersebut.


"Nanti kita pikirkan, sekarang cari lagi"


Semuanya mencari dari pohon satu ke pohon yang lainnya. Lain tempat, di tempat Al hatinya menjadi resah pikirannya masih tertuju pada Lea gadisnya.


"Al" Jojo menepuk pundak Al yang membuat dirinya sadar.


"Lo kenapa sih ngelamun mulu, kesambet tau rasa lo udah tau ini tempat kayak gini lo nya malah ngelamun. Mikirin siapa sih?"Tanya Jojo yang penasaran.


"Kepo!" Ucap Al dengan ketus.


"Gue balik"


"Lho, lho, lho main balik aja sih, ini belum selesai Al"


"Gue gak peduli, kalau lo pada mau lanjut, lanjut aja gue balik mau cari Lea" Al sudah merasakan hawa yang tak enak terjadi pada Lea.


Semalam dirinya susah untuk tidur, memikirkan tantang keadaan Lea. Apalagi dia merasa ada seseorang yang selalu mengintai mereka berdua. Bukan hanya Al dan Lea namun semua yang berdekatan dengan mereka.


Seperti waktu itu, di malam Al tak pulang saat sampai apartemen dirinya melihat seseorang berhoodie hitam sedang mengintai Lea dari jauh.


"Siapa lo!"


Orang tersebut dengan cepat berlari meninggalkan Al, Al dengan cepat mengejar dan menangkapnya. Ingin sekali membuka tudung yang menutupi wajahnya.


Kali ini dirinya kurang cepat laki-laki tersebut mengambil serbuk dari kantung yang dia bawa dan melemparkan ke wajah Al.


.


"Brengsek!" Umpat Al ketika matanya tersiram tanah.


Matanya mencari kemana orang itu berada. Shit! Al kelepasan, kenapa musuhnya begitu pintar. Pikirannya tertuju pada Kevin kembali. Tapi tak mungkin jika Kevin melawannya dan menerornya.


Kevin tak pernah melakukan itu, dia lebih melakukan melawan tanpa meneror.

__ADS_1


Ting


sebuah pesan yang masuk, membuat Al menatap. Meremas handphonenya hingga urat-urat pada lengan tangannya terlihat, rahangnya mengeras.


08956741xxxx


"Dia akan mati"


Kenapa musuhnya sangat sulit kali ini, untuk dirinya tak masalah, tapi ini? Menuju ke Lea, gadisnya. Inilah yang Al takutkan, kejadian dua tahun silam dimana sang bunda yang di teror oleh seseorang yang tak di kenal.


Untung sang bunda sudah terbiasa dengan teror seperti ini. Tau lah Rika gimana?.


Al dengan cepat kembali ke apartemen, meninggalkan tempat tersebut. Di balik pohon seseorang sedang melapor kejadian yang terjadi.


"Hampir tertangkap"


"Bodoh! Saya gak mau rencana saya hancur gara-gara kamu gak becus. Kamu tau kan apa yang akan terjadi kalau rencana ini gagal?" Ucapnya di sebrang.


"Siap bos"


"Lakukan, jangan sampai tertangkap"


"Baik bos"


Di tempat Acha, danish dan Acha saling ribut satu sama lain. Yang Acha meminta ke kiri mengikuti arah panah yang ada, Danish malah mengajaknya ke kanan padahal kanan memasuki jalur hutan yang nantinya buat orang susah keluar.


"Lo mau gak balik?"


"Ya gak!"


"Ya udah kiri berarti"


"Kan-" Dengan cepat Acha memotong ucapan Danish.


"Lo ngomong gue lakban tuh mulut" Ancam Acha.


Dengan cepat Danish menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Kasihan mulutnya kalau di lakban gak bisa teriak-teriak liat film.


Mau nonton apa nyanyi yel-yel?


Ghea dan Lea selalu berdua, Ghea mengajak ke kanan untuk mencari kantong kembali. Angel, Sandra Lidya dan Kevin ke arah kiri.


"Le"


"Apa?" Lea masih sibuk mencari kantong di setiap pohon satu ke yang lainnya, hingga tak sadar bahwa-


"Lea!"


"Apaan sih?" Ucap Lea sedikit kesal.


"Lea, ki-kita dimana?" Ucap Ghea dengan khawatir.


"Ya di puncak lah gimana sih!" Ini Ghea becanda apa gimana sih? udah tau juga lagi di puncak.


"Gak ini-ini bukan-"


Lea menoleh, menghampiri Ghea "Kenapa?"


"Lea, Lea kita dimana?" Ghea langsung memeluk Lea dengan takut.


"Lepas woi! gue gak bisa napas!" Lea berusaha melepaskan pelukan erat dari Ghea.


Kalau meluk gak main-main bro!


Lea menatap sekitar, kok bukan- sebentar jangan bilang kalau dirinya tersesat lagi?. Menatap sekitar. Benar! Mereka berdua terpisah, Lea menatap pohon-pohon yang menjulang tinggi ke atas, pohon tersebut tak seperti awal yang tak terlalu tinggi.


Panik gak?


Panik gak?


Panik lah masa gak!!!


"Lea hiks gue takut" Cicit Ghea yang mulai menangis.


"Lo jangan nangis dong, kita cari yang lain ya? Kita gak ke sesat kok kita cari jalan keluar sekarang ayo" Lea menggenggam tangan Ghea memberikan semangat bahwa mereka tak akan tersesat di dalam sini.


Namun, mulut dan hati berbeda, Lea berkata tersebut agar Ghea tak ketakutan. Padahal di dalam hatinya juga takut sendiri, apa mereka akan bisa keluar?

__ADS_1


Itulah kata-kata yang terngiang di kepala Lea.


"Lea takut" Ghea meremas tangan Lea. Memeluknya dari belakang.


Keadaan cukup sore, senter yang dia bawa dia simpan terlebih dahulu takut baterainya habis.


Lea dan Ghea sudah hampir satu jam berkeliling mencari tempat untuk keluar, tapi mereka sama sekali tak menemukan tempat itu. Ghea sudah menangis dari tadi.


Lea yang takut dengan gelap sudah tak bisa apa-apa menatap jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah pukul setengah lima sore, awan mulai mengelap.


Matahari sudah mulai tengelam membuat cahaya sedikit tak ada. Perlahan tapi pasti, matahari tenggelam meninggalkan awan gelap.


"Kita kok belum keluar? Udah satu jam juga kita keliling tapi kok gak keluar-keluar sih. Malah jalanan ini terus yang kita lewati" Gerutu Ghea.


Pikiran Lea tertuju pada omongan Al semalam, semua omongan Al berputar di kepalanya.


"Jangan pergi!"


"Aku mohon jangan jauh-jauh dari yang lain, jangan pernah ke pisah dan jangan pernah sendirian"


"Gak tau Le yang pasti kamu bakal celaka nantinya"


Apa semua ini pertanda?


Apa Al dan Lea tak akan pernah bersama?


Atau Lea akan pergi selama-lamanya untuk Al?


"Al apa ini pertanda buat kita, apa yang kamu omongin semalam sekarang benar, tapi aku mohon semua yang kamu omongin semalam gak terjadi"


"Aku dan Ghea pasti akan keluar, ya kita berdua akan bisa keluar dari tempat ini" Batin Lea kembali.


Mustahil!


Di tempat perkumpulan, kehilangan Lea dan Ghea sudah terdengar. Membuat semua nya kalang kabut. Al tak bisa diam, dia tak mungkin diam di sini.


Sedangkan gadisnya? Bersusah payah untuk cara keluar dari sini. Al menatap tajam Kevin, begitupun yang lain.


"Lea mana?"


"Gak tau" Ucap Kevin dengan nada pelan.


Bugh


Bugh


Bugh


Tiga pukulan mendarat ke muka Kevin, Kevin terjatuh dengan keadaan memegang mulutnya yang terluka akibat pukulan dari Al.


"Stop Al!"


"Lo nyuruh gue diam? Iya? Di saat Lea dan Ghea ada di dalam hutan sampai jam segini mereka belum datang! Lo nyuruh gue diam?" La menatap tajam Jojo.


"Bukan gitu Al kalau cara lo gini ini masalah gak bakal selesai. Kita cari caranya gimana bisa cari mereka! Bukan malah lo hajar anak orang"


Al tak menghiraukan ucapan Jojo, kembali menatap tajam Kevin yang dibantu oleh anak-anak untuk bangkit.


"Lo kan! Lo kan yang udah buat Lea dan Ghea tersesat di dalam. Jawab!" Teriak Al dengan muka yang merah menahan emosi.


Tangannya mengepal erat hingga uratnya terlihat, mata Al tajam, rahangnya mengeras.


"Ini rencana lo kan Lid" Acha berucap menatap tajam Lidya.


Semua menatap kearah Lidya dan Acha. "Ini bagian dari ulah lo kan? Setelah kemarin lo buat celaka Lea dan sekarang lo jebak mereka ke dalam hutan biar mereka gak bisa keluar! Iya kan! Ini rencana lo kan? Jawab!"


"Bukan gue!"


"Basi omongan lo, gue yakin ini semua ada sangkut pautnya sama lo. Gue tanya sekarang lo bawa mereka kemana?"


"Bukan gue yang ngelakuin!" Bantah Lidya dengan cepat.


...…...


Udah-udah-udah jangan emosi gak baik wkwkwk


maaf ya guys kalau gak nyambung, sampai situ doang mikirnya :v

__ADS_1


lanjut gak nih? Lea sama Ghea beneran ilang atau gak?


See you next episode!!! Yang puasa semangat guys


__ADS_2