Perjodohan Berakhir Cinta

Perjodohan Berakhir Cinta
ᴀᴄʜᴀ ᴅɪᴛᴇᴍʙᴀᴋ?


__ADS_3

Malam ini Lea meminta keluar, dirinya ingin jalan-jalan malam. Bosen di apartemen mulu. Tapi naik apa? Al keluar, masa iya pakai mobil, bisa kena marah sama Al.


"Bosen banget, Al mana lagi belum balik-balik juga. Gue telpon aja kali ya? Iya deh gue telpon, sekalian telpon Acha sama yang lain buat ajak keluar" Lea mengambil handphonenya, menekan ikon WhatsApp.


"Ck, Al kemana sih kebiasaan gak di jawab" Gerutu Lea, kesal.


"Gue telpon Acha aja deh" Mencari nomor Acha dan menelpon nya.


"Halo Le! Kenapa?" Tanya Acha dari sebrang.


"Keluar yuk, bosen gue" Ajak Lea.


"Gas-gas aja kalau gue, coba tanya yang lain. Eh Danish kagak bisa dah. Dia katanya tadi sore berangkat ke Bandung. Kalau Ghea kagak tau lagi. Coba lo hubungin"


"Oke, lo jemput ya. Gue males bawa mobil"


"Iya, gue yang bawa. Otw ke sana" Acha langsung mematikan panggilan.


...…...


Menunggu pesanan datang, sekarang mereka Lea dan Acha sudah berada di Cafe BOX. Hanya mereka berdua, Ghea tak bisa datang karena lagi ada acara dengan Papa nya, sedangkan Danish ke Bandung tadi sore.


Lea sedari tadi menatap wajah Acha yang terlihat gembira, mulai dari mobil hingga sampai Cafe muka Acha begitu berbeda. Seperti bukan Acha.


"Lo napa dah? Senyum-senyum bae, kek orgil tau gak" Ucap Lea dengan santai.


"Gak ada"


"Dih kagak ada, gue tau lo seneng gimana sedih gimana. Bagi kek, kan gue penasaran gitu lho" Lea tau gimana raut wajah sahabatnya tersebut, entah sedih, senang, kecewa dan masih banyak lagi.


"Gue... "


"Iya lo kenapa?" Tanya Lea yang penasaran.


"Gue di tembak sama Revan dong" Ucap Acha memegang kedua tangan Lea erat. Gak bisa dibayangin lagi seberapa besar kebahagiaan Acha.


Dari dulu, Acha memendam rasa sama Revan, dan hanya Lea saja yang tau. Sebenernya mau cerita ke yang lain. Tapi kalian tau sendiri gimana Ghea dan Danish.


Apalagi Danish mulutnya gak bisa di kontrol, asal ceplas-ceplos.


Lea tak percaya dengan ucapan Acha. "Serius?"


Acha mengangguk cepat. "iya lah, lo pikir gue kayak Ghea yang halunya tinggi bener. Sampai nikah sama Taehyung-Taehyung itu. Gue real kali"


"Cie yang sekian lama akhirnya jadian, gimana kok bisa lo ditembak sama Revan. Kan lo tau sendiri Revan anti sama yang namanya cewek kecuali kalau emang perlu pertolongan atau gak hal yang penting banget" Ucap Lea, benar.

__ADS_1


Revan sama dengan Al, anti dengan cewek kecuali dengan yang dia kenal. Karena mereka juga tak ingin menaruh lebih kepada mereka, takut sakit hati malah berabe urusannya.


Acha mengangkat bahu, dirinya juga bingung dengan Revan. Tapi setelah tau kemarin ternyata Revan perhatian, ya memang sudah terlihat kalau dekat banget dengan Revan Bakker.


Jangan salah, lebih baik cuek tapi perhatian dan penyayang. Daripada perhatian, sayang cuma karena gabut.


Lusa kemarin, tepat hari Rabu malam. Revan tiba-tiba menghubungi Acha yang sedang santi menonton film. Acha mencabik kesal, siapa sih malam-malam begini telpon?


Memencet pause, mengambil handphonenya kasar. Mata Acha terbelalak, mendapatkan nama Revan yang tertera di layar handphone miliknya.


Tumben, Revan hubungi malam-malam begini, bisanya kalau hubungi Acha pakai chat bukan panggilan.


Menggeser ikon hijau, Acha mengangkat panggilan Revan.


"Halo Van kenapa? Tumben lo telpon gue malam-malam gini"


"Gue di depan, buruan lo ganti gue tunggu dibawah"


Acha langsung mengubah posisinya duduk, bangkit berjalan menuju ke jendela menatap keluar. Benar saja, di sana sudah ada Revan. Revan menatap kearah jendela Acha lalu mengangkat tangan sebentar.


"Lha lo ngapain ke rumah gue?"


"Turun aja, jangan lupa ganti" Ucap Revan lalu memutuskan panggilan.


Acha menyetabilkan otaknya, gak salah denger kan. Apa Revan ingin mengajaknya jalan-jalan, atau mengajaknya dinner?


"Bun, Yah. Acha pamit ya"


"Sama yang didepan?" Tanya Lia -Bunda Acha.


Acha mengangguk, mengecup kedua tangan orang tuanya dan pamit keluar. Takut Revan nunggu lama kan gak enak.


Sekarang mereka berdua berada di taman, Acha bingung ngapain Revan bawa dia malam-malam ke taman. Tapi tamannya bagus juga sih.


"Lo mau ngomong Apa van?" Tanya Acha, melirik Revan sekilas.


Revan langsung berjongkok didepan Acha. "Gue suka sama lo, gue sayang sama lo dan gue ingin jaga lo" Ucap Revan.


Jantung Acha berdetak. Tapi seketika semuanya runtuh bahwa Revan hanya, pemanasan.


"Gue-"


"Gue cuma pemanasan doang, Kira-kira dia bakal terima gue gak ya?"


Sialan! Acha terbawa suasana.. Acha sadar diri! Ngaca dirumah mana mau Revan sama lo. Haha mana ada, ucapan Revan barusan membuatnya tersadar bahwa...

__ADS_1


Cintanya tak akan pernah terbalaskan.


"Pasti lah Terima lo kan ganteng, pinter, jago bela diri, jago basket" Ucap Acha menatap kearah lain. Sakit? Yalah!


"Ca"


"Apa?"


"Ca"


"Kenapa? Lo mau ajak gue malem-malem gini buat ini doang? Lo cuma ajak gue ke taman buat lo pemanasan doang? Cuma buat lo ungkapin rasa lo ke cewek yang lo suka?" Tanya Acha, tanpa sadar air matanya menetes. Namun dengan cepat Acha menghapusnya. Dirinya tak ingin cengeng di depan orang.


"Dengerin gue dulu"


"Dengerin apa? udahlah Van, gue mau balik. Lo hanya buang-buang waktu gue" Acha bangkit meninggalkan Revan.


Rasanya sakit, mendengarkan orang yang kita suka menyukai orang lain. Tapi apa boleh buat itu hak-nya itu pilihannya. Kita gak ada hak buat melarang apalagi membuatnya jatuh cinta kepada kita.


"Ca"


"Gue suka sama lo, gue mau jaga lo" Kalimat itu keluar dari mulut Revan.


Acha menoleh. Dirinya tersenyum miring. "Ngapain lo ungkapin ke gue? Lo mau bikin gue jatuh dengan harapan gue yang gak akan pernah terjadi. Terus lo tinggal gitu aja?"


"Lo ngomong apa sih Ca, gue serius"


"Ca tatap mata gue" Acha perlahan menatap mata Revan, dirinya langsung terhipnotis dengan retina mata yang begitu tajam tetapi menenangkan.


"Apa gue bohong? Gak kan, gue beneran suka sama lo. Sorry buat lo nangis, dan gue gak tau perasaan ini kapan datangnya. Tapi gue bersumpah, bahwa lo adalah wanita yang bakal gue jaga dan bakal gue rawat semmalu gue. Setelah Mama"


...…...


"Serius?" Acha. mengangguk. "Wauw impresif"


"Akhirnya temen gue gak jomblo haha, selamat Acha" Memeluk sahabatnya.


"Makasih Lea"


"Eh entar, kenapa gak langsung tunangan atau gak nikah gitu?"


"Gak, gue masih belum mau nikah muda. Gue masih mau lanjut kuliah gue"


"Ya sih gue paham. Btw selamat"


Mereka pun berbincang-bincang hingga akhirnya waktu begitu cepat, mereka berdua beranjak dari Cafe dan pulang.

__ADS_1


...…...


Spam lanjutnya kakak 🤍


__ADS_2