
Selesai melaksanakan sarapan pagi, Rika dan Ardit memilih untuk duduk santai di ruang tamu. Dengan alunan musik pop, keduanya asik dengan pekerjaan mereka. Rika yang mengerjakan tugas kampus dan Ardit yang sibuk dengan tugas kantor.
Baru saja ditinggal sehari, berkas-berkas ber tumpukan.
"Kak Ardit," panggil Rika. "Bisa anterin gue ke rumah Amel gak?" tanya Rika pada Amel.
"Bisa. Mau ngapain?"
"Mau ambil catatan, sekalian mau beli beberapa barang kebutuhan juga. Gue lihat di dapur stok nya menipis," jelas Rika.
Ardit baru sadar bahwa makanan sudah hampir habis. "Iya aku antar, jam sebelas tapi. Gak papa kan?"
Rika mengangguk lalu pamit ke atas. "Gak papa kok. Lanjut aja kerjanya, gue mau naik ke atas." Rika berdiri sambil merapikan remahan roti di bajunya.
...
Sesuai waktu yang dijanjikan, Ardit benar-benar mengantarkan Rika untuk pergi ke rumah Amel, serta mengantarkan gadis itu ke supermarket.
Rika sedang bersiap-siap, menganti pakaian tidurnya dengan pakaian santai. Melihat Ardit yang masuk ke dalam, membuat Rika sedikit mempercepat kegiatannya.
"Rumah Amel dimana?" tanya Ardit sambil mencari-cari sesuatu.
"Perumahan x" jawab Rika.
"Boleh. Dengan satu syarat," Ardit berkata dengan senyum jail nya, lelaki itu melangkah mendekati Rika mau tak mau, Rika harus mundur ke belakang. Hingga tubuhnya terbentur meja rias, yang membuat Rika terhenti.
"Kak Ardit m-mau ngapain?" tanya Rika dengan gugup, yakinlah jantung Rika tak baik-baik saja sekarang.
__ADS_1
"Terima dulu syarat nya," ujar Ardit.
Dengan cepat Rika mengangguk setuju. "Tapi apa dulu, gak usah ngadi-ngadi ya!" tunjuk Rika dengan jari telunjuk.
Ardit mengangguk pelan, tangannya menurunkan jari telunjuk Rika ke bawah. "Panggilan namanya di rubah ya," kata Ardit dengan pelan.
Kening Rika berkerut. Gadis itu menatap cukup lama sosok di depannya dengan mata yang mengartikan 'maksudnya?'
"Rubah? Maksudnya? Kan gue manggilnya kakak," Rika masih belum paham dan mengerti dengan apa yang Ardit lontarkan.
"Lo-gue nya di ganti aku-kamu. Masa iya suami istri manggil gue-lo, dirubah ya. Bisa kan?" tanya Ardit dengan nada lembut.
Rika meringis pelan. "Iya, gue-- eh aku usahakan," jawab Rika menyengir.
Ardit sedikit memundurkan langkahnya ke belakang. Memberikan Rika ruang untuk bernapas. Akhirnya, Rika bisa bernapas dengan normal.
Berdecak kesal. Rika memutar balikkan tubuhnya untuk menghadap meja rias. Tangannya kembali terulur untuk memegang dada. "Gila cepet banget! Kayaknya besok gue harus cek deh," gumamnya. Takut saja jika Rika terkena serangan jantung mendadak.
Tak ingin membuat Ardit menunggu, Rika sedikit mengoleskan wajahnya dengan make up. Di rasa sudah siap, Rika mengambil tas sling bag hitamnya dan tak lupa sepatu sneaker berwarna putih. Dan berjalan turun ke bawah.
Di bawah, Rika mendapatkan Ardit yang asik memainkan ponsel. Mendengar langkah kaki turun, Ardit segera mendongak dan tersenyum saat melihat Rika telah rapi.
"Yuk berangkat," ajak Rika.
Ardit berdiri, dan menggandeng Rika keluar apartemen. Memasuki lift keduanya turun ke lantai bawah. Sampai parkiran, Ardit terlebih dulu menyuruh Rika masuk ke dalam.
"Makasih," ujar Rika sambil tersenyum. Mengitari mobil, Ardit langsung menyalakan mesin dan meninggalkan apartemen.
__ADS_1
Tak perlu waktu lama, mobil Ardit sudah terparkir pas di depan rumah berlantai dua itu. Rumah Amel memang tak begitu besar, berbeda dengan Rika. Meski terlihat biasa saja dari luar, namun beda lagi yang di dalam.
"Gue--- aku masuk bentar," pamit Rika turun dari mobil.
"Amel!" pekik Rika saat melihat Amel yang siap-siap masuk ke dalam mobil.
Amel yang terasa terpanggil menoleh ke samping. "Rika," herannya. "Kok lo kesini?" bingungnya.
"Ngambil buku, mana buku catatannya?"
"Ya elah, gue kira apaan! Padahal mau gue antar ke rumah lo," Amel menggeledah tas miliknya lalu mengeluarkan buku catatan Rika pada sang pemilik.
Mengambil alih buku itu, Rika berkata. "Sekalian, lagian gue udah pindah."
"Hah pindah!" Amel menatap Rika tak percaya. "Pindah kemana? Bukannya lo masih di nih komplek? Kalo lo pindah, lo pindah kemana?" Amel tak tanggung-tanggung langsung mencecar Rika dengan berbagai pertanyaan.
"Satu-satu kek tanyanya!" sungut Rika. "Semalam gue pindah. Dan gue pindah deket kampus kok," sambung Rika.
"Oalah," sahut Amel singkat. "Sama sapa lo kesini?" tanya Amel pada Rika.
Rika mengkode dengan lirikan matanya ke arah belakang. Amel menatap kemana lirikan Rika tertuju. Dan langsung mengangguk paham.
"Lo kampus lagi kapan?" sepertinya Amel melupakan satu hal yang terjadi beberapa hari lalu. Setelah sadar, cewek itu menyengir. "Eh lupa. Lo kan cuti," ujar Amel dengan tawa garing nya.
Berdehem singkat. "Udah ya! Gue balik, semangat ngampus nya! Kalau ada berita gosip bilang ya ke gue," gurau Rika sambil memeluk Amel singkat.
Mengacungkan jempolnya, Amel mengangguk. "Tenang aja kalau itu. Serahkan sama gue,"
__ADS_1