
Berjongkok menjajarkan diri dengan Sania. Tangan Rika mencengkram kasar dagu Sania yang membuatnya meringis kesakitan.
"aw.. l-lepasin sakit!" Sania berusaha untuk melepaskan cengkraman, bukannya melepas tapi cengkraman Lea semakin erat.
"L-lepas"
"satu syarat. Keluarga lo hancur gimana?" Tanya Rika. "Gue gak akan kasar sama orang kalau dia gak mulai duluan. Lo! Lo udah gue kasih peringatan dari awal, jangan cari masalah sama gue atau lo yang bakal kena" Ucap Rika mencengkram lebih kuat dagu Sania.
Tak peduli dengan suara rahang Sania yang rusak, toh salah dia sendiri. Dia sendiri yang mulai.
Cekik aja cekik!
"L-lo ja-jangan main-main atau gue-"
"Gue apa? Mau lapor ke bokap lo ya? Lapor silahkan" Menghempaskan kasar dagu Sania.
"LAPOR! KENAPA DIEM HAH!" Teriak Rika.
Atmosfer di sana begitu berubah, keadaan makin memanas. Rika tak peduli nantinya akan terjadi apa-apa dengan dirinya. Kalau pun dia salah juga tak peduli.
"Kenapa diem huh! Lo punya mulut kan? Lo gak bisu kan?! Jawab kalau ditanya bukan diem aja, kenapa gak bisa lawan gue? Berdiri, katanya pinter mana? Gini doang lo brebek." Ucap Rika.
"Listen everyone!" Teriakan Rika yang menggema di setiap sudut.
"Buat lo semua yang ngerekam kejadian ini. Sampai gue tau siapa yang nyebarin vidio itu, gue pastiin lo cuma bisa hidup di dunia selama 24 jam dan berakhir 3 meter di bawah tanah!" Sarkas Rika.
Semuanya langsung menghentikan rekaman mereka dan cepat-cepat menghapusnya. Melihat wajah Rika yang berubah drastis membuat nafas mereka tercekat.
Rika berbalik meninggalkan temat itu, menatap jam sudah hampir setengah jam waktu Rika terbuang sia-sia untuk bocah biadap seperti ini!
Rika berjalan santai, menuju ke kantin. Dengan tampang tak berdosa, meninggalkan tempat itu.
Amel menatap Sania sekilas, senyum remeh terbit di wajah gadis yang berbeda dua tahun dengan Rika.
__ADS_1
Melangkah kan kaki menyusul Rika yang sudah berjalan jauh.
"Rik, kalau Sania lapor bokap nya gimana?" Tanya Amel, menyeruput jus alpukat nya.
Mereka sedang berada di kantin, kantin menjadi sepi ketika Rika datang dengan tampang datar tapi mematikan.
"Biarin gak peduli. Lagian ini waktu yang gue tunggu juga" Rika berucap santai, hidup gak usah buru-buru dibawa santai aja.
"Tuh foto kok pernah gue liat ya" Amel mengetuk dagunya dengan jari telunjuk, seakan-akan tengah berfikir.
"Dan kenapa anehnya, itu baju dan lekuk tubuhnya mirip sama lo n*ir" Ucap Amel kembali.
Rika mengangguk setuju, mengangkat bahu acuh. Gak peduli itu mirip apa gak, yang penting Rika gak pernah melakukan hal sekotor itu.
Se-brengseknya Rika paling mentok ke bar, cuma buat minum jus doang. Gak lebih, perlu di garis bawahi gak lebih.
Rika dan Amel memeng nakal dan sering melanggar aturan. Tapi, lebih parah Rika sih. Walaupun mereka berdua sering langgar dan nakal mereka sama sekali tak pernah meminum minuman beralkohol. Apalagi memakai obat-obatan.
"Mel"
"Laper buset, pesenin dong hehe" Dengan cengiran khas Rika, membuat Amel mendegus kesal, untung sayang.
"Tunggu sini"
"Enak bener punya kakak, andai gue punya pasti gue gak sendirian di rumah. Ada yang nemenin. Buat apa rumah gede-gede isinya kosong cih" Guman Rika.
Amel datang dengan semangkuk mie, Rika menerima nya. Baru beberapa suapan nama Rika terpanggil jelas di speaker. Rika mengeram kesal melemparkan sendok dan garpu yang membuat kuah mie tumpah.
Sial!
Gak ada gitu? Sehari doang Rika bahagia.
Bahagia susah banget buatnya, baru juga santai masalah satu datang, bahagia beberapa jam masalah baru datang lagi.
__ADS_1
Rika bangkit, dan menuju ke ruang dekan sekarang juga. Disusul Amel, sebelum itu dia menaruh uang dua lembar berwarna biru.
...…...
Matanya menatap lima orang yang berada di sana. Matanya menuju ke gadis yang menangis di dalam pelukan Bu Tia.
Melihat hal itu, Rika menilai drama yang dilakukan Sania. Hm nilai yang cocok dari 1-10 adalah 0 gak bakat dalam drama, tapi kenapa semua orang percaya. Bodoh!
"Silahkan duduk"
Adi selaku ayah dari Sania menatap tajam Rika, Rika yang ditatap tak kalah tajam menatap Adi Hamdan, pria paru baya yang hampir seumuran Rusdy.
"Kamu!" tunjuk Adi. "Pak saya tak mau tau anak ini harus terkena hukuman, dia sudah membuat anak saya menangis dan terluka! Kalau bisa keluarkan saja dia!" Desis Adi.
"Baik Pak Adi, bapak tenang terlebih dahulu. Kita dengarkan dulu apa yang terjadi. Rika sekarang kamu jelaskan nak"
Rika mengangguk, menjelaskan semuanya. Tapi, percuma! Percuma Rika menjelaskan semuanya, bahwa di sini banyak sekali yang mendukung Sania dibanding dirinya.
Hanya Amel ya Amel yang mendukung, tapi apa? Nihil semuanya tak berarti. Kedatangan Fita dan Fila menambah kubuh Sania lebih tinggi lagi. 7:2
Rika masih santai duduk dengan melipat kedua tangannya didepan dada. Matanya menatap tajam Sania yang tersenyum remeh kearahnya.
"Coba tanya anak anda, siapa yang memulai terlebih dahulu"
"Kamu! Anak saya gak akan melawan orang terlebih dahulu sebelum ada orang yang melakukannya."
Apa sebelum ada orang yang melakukannya? Omong kosong!
"Saya tak akan melakukannya jika tidak ada yang mulai, bapak sogok berapa mereka? Sampai membela anak bapak Adi terhormat" Rika menekan setiap katanya.
"Diam kamu! Kamu disini sebagian pelakunya kenapa malah anak saya yang kena! Kamu itu anak ingusan yang bisanya hanya memakai kekerasan"
Aish.. Harga diri Rika turun karena ucapan pak tua ini. Ayolah Rika tak bodoh, Rika tau kalau mereka disogok oleh Adi Hamdan.
__ADS_1
Sial! Sial! Sial!