
Masih ditempat yang sama. Semuanya telah bersiap-siap melaksanakan bagian mereka masing-masing.
"gimana situasi di sana Mel?" wajah Arko tampak sedikit gusar saat menghubungi Amel yang sudah masuk kedalam rumah dengan berpura-pura sebagai orang asing yang tak tau daerah sekitar.
"tenang aja, sejauh ini masih aman sih. Tapi gak tau lagi didalam gimana"
"oke-oke lu hati-hati jangan lupa selalu kasih kabar ke gue"
Setelah mengakhiri pembicaraan, Amel masuk kedalam dengan pakaian yang cukup sempurna dalam penyamarannya kali ini, sambil membawa tas yang cukup besar.
"permisi Mas"
"saya Siti, saya mau tanya katanya didekat sini ada penginapan? saya sudah muter beberapa kali tapi gak ketemu-ketemu tempatnya, apa mas-mas bisa bantu saya?"
Kedua orang tersebut saling pandang, dan memperhatikan Amel dengan seksama, mereka bingung dengan pertanyaan yang diberikan Amel.
Penginapan? sejak kapan? bahkan disini hanya rumah ini saja yang ada dan jauh dari pemukiman warga.
Kedua orang tersebut saling pandang satu sama lain sampai akhirnya, salah satu dari mereka membuka suara.
"mbaknya dari mana?"
"saya dari desa Mas, saya kesini mau ketemu sama sepupu saya tapi karena masih jauh saya putusin buat cari penginapan"
"oh penginapan agak jauh mbak dari sini kalau mbak mau biar saya antar aja kalau mbaknya gak keberatan, saya bisa bantu" ucap salah satu dari mereka dengan tatapan licik.
"benarkah? Ya Allah Alhamdullilah makasih mas sudah bantu. Tapi beneran masnya mau bantu saya? soalnya dari tadi saya sudah minta bantuan orang-orang gak ada yang tau"
Keduanya sama-sama diam dan memberi kode satu sama lain, tanpa mereka tau dari tadi Amel memperhatikan gerak-gerik mereka. Amel tau persis bahwa mereka berniat buruk terhadapnya dengan menawarkan diri.
pTapi justru itu akan menguntungkan baginya, karena tujuannya adalah menculik salah satu dari mereka. Akhirnya setelah menunggu jawaban cukup lama dari mereka, salah satu dari mereka pun mengantarkan Amel.
"lo aja yang anter gua mau jaga sini"
"mari mbak ikut saya, biar saya antar di penginapan dekat sini" ucap orang tersebut.
"tapi saya gak susahkan Mas nya kan?"
"gak apa, saya bisa bantu. Ayo jalan"
Orang tersebut berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Amel dengan waspada dia tau pasti orang didepannya berniat tak baik padanya.
__ADS_1
"Mel hati-hati" bisik Arko.
"sekarang lu masuk sama yang lain ke dalam biar ni orang gua yang ngurus"
Merasa telah berhasil menjebak korbannya, pria itu membawa Amel ketempat sepi dan berniat menodongkan pistol yang dia bawa sehari-hari. Namun dirinya tak tau bahwa sebenarnya dirinya lah yang masuk kedalam perangkap Amel.
"maaf Mas, saya lihat kenapa kok sepi ya? Mas nya beneran mau menolong saya?"
"iya mbak penginapannya ada di depan" ucap orang itu menunjukkan jalan yang sebenarnya jalanan buntu.
"gak ada orang sama sekali di dalem" bisik Arko tiba-tiba.
"gue udah ngira juga sih, ya udah sekarang lu culik salah satu dari mereka dan lu bawa kesini" bisik Amel.
Amel masih mengikuti pria tersebut, dan ketika ada kesempatan Amel langsung memukul pria tersebut dengan balok yang membuatnya terjatuh.
Brukk
"sial! kamu-" ucap pria tersebut dengan badan yang bergetar ketakutan karena pistol yang sebenarnya ada di dirinya berpindah tepat didepan keningnya.
"ya kenapa?"
"gue gak bakal bunuh lo kalau lo jawab pertanyaan gue, gimana?"
"yakin?"
"i-iya apa pertanyaannya?"
"cih badan doang gede, nyali ciut" guman Amel.
"oke, gue tanya dimana bos lo berada?"
"saya gak tau"
"gue tanya sekali lagi dimana bos lo berada?!"
"saya gak tau!"
Amel yang sudah tak tahan dengan emosinya pun langsung menghajar pria tersebut hingga terjungkal dan keluar darah disudut bibirnya.
Andai saja boleh bunuh orang Amel pasti akan membunuh tuh orang gak peduli dia bersalah atau gak.
__ADS_1
brukkk
"gue tanya dimana bos lo berada b*ngsat!"
"saya gak tau, mau kamu apa?"
"mau gue? masih tanya mau gue apa? gue mau lo kasih keberadaan bos lo, setelah itu lo bakal selamat dari gue!"
"tapi saya gak tau!"
"bener-bener lo ye bikin emosi lama-lama"
Amel ingin menghajar orang tersebut, tapi terhenti ketika seseorang menghampirinya. Ya Arko, Arko membawa salah satu anak buah yang menjaga di dalam rumah tua itu.
"duduk!" ucap Arko lalau mengikat mereka berdua bersama.
"gimana mau kasih tau?"
"boro-boro kasih tau, udah gua hajar juga gak mau kasih"
"lepasin! kalian mau apa? saya gak tau dimana keberadaan bos"
"yakin? mending lo berdua jujur atau gue panggil polisi buat tangkap kalian berdua! masih untung kalian selamat dan gak kayak teman kalian yang lain, yang sudah ketangkep. Gimana mau jujur atau gak? gampang aja sih tinggal kasih tau dimana keberadaan bos kalian setelah itu kalian bebas, gampang kan? gue gak mau pakai kekerasan buat lo pada, jadi jangan sampai buat gue hajar lo berdua!"
Diam, ya mereka berdua diam tak ada yang membuka suara itu berarti mereka berdua tau dimana keberadaan bos mereka?.
Sebenarnya gampang kok tinggal kasih tau terus mereka bisa lepas dan pastinya mereka gak akan ketangkap karena Amel dan Arko tak akan bercanda jika sudah begini.
"lama-lama, jawab tinggal jawab lho susah amat. Huft sorry sorry kalian lebih tua dari kita, tapi kami mohon kalian berdua kasih tau dimana keberadaan bos kalian kepada kami. Saya dan teman saya gak akan ngelaporin kalian berdua ke polisi, kita akan buktiin setelah kalian kasih tau keberadaannya"
"gak kita gak akan kasih tau dimana keberadaan bos berada"
"ck, lama-lama bikin emosi lo ya!" ucap Arko yang ingin menghajar mereka berdua tapi dihalangi oleh Amel.
"udah Ar, tenang dulu kalau kita pakai emosi mereka gak bakal pernah kasih tau. Jadi sekarang lo tenang emosi lo" bisik Amel.
Amel pun berfikir memutar cara, bagaimana orang berdua ini bisa kasih tau dimana letak orang yang telah membuat Rika celaka?.
"kalau gini terus terpaksa gue pakai cara satu-satunya dengan pakai kekuasaan gue kalau gak gini gue gak bakal selesai" batin Amel.
"kalian berdua gak tau kita siapa?"
__ADS_1
"gak tau"
"kalau ARIKA WINATA? kenal?"